
Memasuki toko perhiasan milik tantenya El yang bernama Michelle di mall daerah Menteng setelah pintu otomatis toko tertutup. Sarah menyusuri toko itu, sambil melihat - lihat dengan tatapan mata yang takjub. Baru pertama kali dia mengunjungi sebuah toko perhiasan. Dia terpukau melihat jejeran perhiasan berlian yang di pajang di dalam beberapa etalase. Sedangkan El menghampiri tantenya yang sedang merentangkan dua tangannya, lalu memeluk dirinya.
"Selamat malam my Son," ucap Michelle sambil memeluk erat Rafael.
"Baik Tante," ucap El sambil membalas pelukan tantenya.
"Mana pacarmu?" tanya Michelle sambil melepaskan pelukannya.
El juga melepaskan pelukannya, lalu menoleh ke Sarah dan berucap, "Sarah sini!"
Sarah menoleh ke El dan Michelle. Sarah kaget melihat kalung salib yang berada di lehernya Michelle tapi dia tidak ingin mempermasalahkan soal itu, yang penting dia bersikap baik kepada semua orang. Sarah melangkahkan kakinya menghampiri El dan Michelle. Tersenyum sopan sambil menganggukkan kepalanya, lalu menyalim tangan kanannya Michelle. Michelle suka dengan Sarah yang memiliki sopan santun. El memeluk erat pinggang rampingnya Sarah.
"Bagaimana Tante, cantik kan pacarku?"
"Cantik banget, perkenalkan saya Michelle, panggil aja Tante," ucap Michelle ramah.
"Baik Tante," ucap Sarah sopan.
"Benar apa yang dikatakan oleh kedua Papimu bahwa pacarmu sekarang cantik luar dalam," puji Michelle.
"Terima kasih Tante atas pujiannya," ucap Sarah sopan.
"Iya dong, siapa dulu pacarnya," ucap El berjumawa.
"Oh ya kalian tinggal pilih, mau yang mana?" ucap Michelle.
"Baik Tante," ucap Sarah lembut.
"Maaf ya, Tante harus pulang dulu," ucap Michelle sambil menatap El dan Sarah secara bergantian.
"Masalah pembayaran bagaimana Tante?" tanya El.
"Untuk pacarmu gratis."
"Terima kasih banyak Tanteku yang paling baik sedunia," ucap El, lalu mencium pipi kanan kirinya Michelle secara bergantian.
"Yang udah, kalian pilih aja ya. Bye."
"Bye Tante," ucap Sarah dan El kompak.
Tak lama kemudian Michelle melangkahkan kakinya menuju ke pintu toko itu. Melewati pintu otomatis, lalu menghilang di antara kerumunan orang. Sarah melepaskan tangan kanannya El, lalu melanjutkan lagi pencariannya. Berjalan menghampiri etalase kalung berlian. Sarah terkesima melihat kalung - kalung yang berkilau. El menghampiri Sarah, lalu memeluk pinggang rampingnya Sarah lagi.
"Kamu mau yang mana?" tanya El lembut.
Sebenarnya aku suka yang itu. Pasti harganya sangat mahal. Aku yakin pasti beli cincin berlian untukku di sini. Aku nggak ingin El selalu memberikan barang yang sangat mahal kepadaku.
Batin Sarah.
"Aku nggak mau," ucap Sarah serius.
"Benaran kamu nggak mau?" ucap El sambil mukanya menengok ke wajahnya Sarah.
"Iya."
"Terus kamu mau kalau yang bagaimana?" tanya El bingung.
__ADS_1
"Yang biasa aja, yang terbuat dari bebatuan, seperti batu kecubung atau apalah," ucap Sarah sambil melepaskan tangan kirinya El.
Tak lama kemudian Sarah melangkahkan kakinya menghampiri salah satu pegawai toko yang sedang tersenyum sopan ke dirinya, lalu berucap, "Mbak ada kalung yang terbuat dari bebatuan?"
"Ada Nona, mari ikut saya," ucap pegawai itu sopan.
Tak lama kemudian Sarah dan pegawai itu melangkahkan kakinya ke sebuah etalase berbagai macam kalung yang terbuat dari bebatuan. Aneka warna yang indah terpajang di dalam etalase. Sarah sangat menyukai keindahan aneka kalung yang sedang dipajang di dalam etalase.
"Semua kalung itu terbuat dari bebatuan daerah Martapura," ucap pegawai itu sopan.
"Kamu mau yang mana?" tanya El yang mengalihkan perhatian Sarah.
Sarah menoleh ke El, lalu berucap, "Aku suka kalung yang berwarna hitam.
"Mbak tolong bungkusi kalung yang warna hitam," ucap El sopan ke pegawai itu, lalu pegawai itu menuruti ucapan El.
"El, kamu beli cincin berlian untukku di sini ya?" tanya Sarah.
"Iya, kamu suka modelnya?" ucap El lembut sambil menoleh ke Sarah.
"Iya. Pasti harganya sangat mahal."
"Nggak juga."
"Ini Nona," ucap pegawai itu sambil memberikan paper bag berlogo toko perhiasan itu ke Sarah.
"Terima kasih ya Mbak," ucap Sarah sopan sambil menerima paper bag itu.
"Sama - sama Nona," ucap pegawai itu.
"Ayo kita beli tas!" ajak El.
"Iya."
Tak lama kemudian El menggenggam erat telapak tangan kanannya Sarah. Mereka melangkahkan kakinya menuju ke pintu toko. Melewati pintu otomatis, lalu keluar toko itu. Belok ke kiri, lalu menyusuri koridor beberapa toko dengan hati yang bahagia, bahkan El merasakan kebahagiaan yang amat luar biasa.
"Copet!!" pekik seorang wanita.
Sarah melihat seorang pemuda sedang berlari cepat melewati beberapa pengunjung. Sontak Sarah melepaskan genggaman tangannya El yang membuat El menggelengkan kepalanya. Sarah langsung berlari kencang mengejar copet itu. Mau tak mau El ikut mengejar copet itu Mereka berlari kencang mengejar copet itu. Para pengunjung melihat kejadian itu.
Sarah langsung menendang kaki kirinya copet itu hingga copet itu kesakitan dan jatuh ke lantai koridor. El langsung menarik kedua tangan copet itu ke belakang sehingga copet itu menjatuhkan tas milik wanita yang tadi kecopetan. Wanita itu berlari bersama seorang satpam menghampiri mereka. Satpam itu langsung memborgol kedua tangan copet itu, lalu membantu copet itu berdiri. Wanita itu langsung mengambil tasnya yang tergeletak di atas lantai koridor.
"Tolong Bapak dan Ibu ikut saya ke ruang keamanan," ucap satpam itu sopan.
"Baik Pak," ucap Sarah dan El serentak.
Tak lama kemudian mereka mengikuti langkahnya satpam. Menelusuri lantai koridor lantai empat mall itu. El menggenggam erat tangan kanannya Sarah. Tak sengaja El melihat wanita itu yang sedang mendekatkan sebuah smartphone ke telinga kanannya. Seorang wanita yang memiliki wajah blasteran. El mengalihkan pandangannya ke depan.
"Hallo sayang, nyusul aku ke ruang keamanan mall ini ya," ucap manja wanita itu.
"Di mana sayangku?"
"Aku nggak tahu, kamu tanya aja ke satpam."
"Kok kamu bisa dibawa ke sana?"
__ADS_1
"Tadi aku dicopet, untung ada orang yang baik hati nolong aku," ucap manja wanita itu sambil mengikuti langkahnya satpam yang berbelok kiri, lalu menyusuri sebuah lorong.
"Ya udah, kamu tunggu aja aku di sana, aku langsung ke sana sekarang."
"Ok sayangku," ucap manja wanita itu sambil masuk ke dalam sebuah ruangan.
"Silakan duduk dulu Pak Bu, saya mau amankan orang ini dulu," ucap satpam itu setelah mereka melewati pintu ruang keamanan.
Sarah dan El duduk di sofa panjang. Sedangkan wanita itu duduk di sofa single. Wanita itu mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Sebuah ruangan yang cukup nyaman. Sarah melepaskan genggaman tangannya El karena risih. Sarah berdiri, lalu berjalan mendekati wanita itu. El menghembuskan nafasnya dengan kesal, lalu mengambil smartphone miliknya di kantong celananya. Menyentuh beberapa ikon untuk melihat berita saham perusahaan. Wanita itu menoleh ke Sarah yang sedang tersenyum sopan ke dirinya ketika Sarah berdiri di depannya. Wanita itu membalas senyuman Sarah.
Sarah mengulurkan tangan kanannya ke wanita itu, lalu berkata dengan sopan, "Perkenalkan, nama saya Sarah."
"Nama saya Cindy," ucap wanita itu sambil mengulurkan tangan kanannya ke Sarah, lalu mereka berjabat tangan. "Kalau yang cowok itu namanya siapa?" tanya Cindy sambil melepaskan tangan kanannya setelah berjabat tangan.
"Namanya El," ucap Sarah sambil menurunkan tangan kanannya.
Cindy berdiri dari sofa, lalu berucap, "Terima kasih ya Jeng sudah menolongku."
"Iya sama - sama Bu," ucap Sarah sopan.
"Aduh jangan panggil saya Ibu, ketuaan. Panggil aja Jeng Cindy," ucap Cindy ramah.
"Iya Jeng Cindy."
"Hallo sayang kamu tidak kenapa - kenapa?" ucap seorang pria sambil mendekati Cindy.
Cindy menoleh ke pria itu, lalu berucap, "Aku baik - baik aja. Untung ada Jeng Sarah dan pacarnya yang menolongku."
"Terima kasih banyak ya Jeng Sarah," ucap pria itu ramah dan sopan sambil menoleh ke Sarah.
"Sama - sama Pak," ucap Sarah sopan.
"Di mana pacarnya?" ucap pria itu.
"Itu di sana, yang sedang duduk di sofa panjang," ucap Sarah sopan.
Pria itu menoleh ke El, lalu berkata, "Pak El?"
El langsung mendongakkan kepalanya. Dia terkejut melihat salah satu investor perusahaan yang sedang dia kelola. El langsung berdiri, lalu menaruhnya di tempat semula. Berjalan menghampiri pria itu. Tersenyum sopan sambil mengulurkan tangan kanannya ke pria itu. Pria itu membalas uluran tangan kanannya El, lalu mereka berjabat tangan.
"Apa kabar Pak Ferdy?" tanya El sopan.
"Walah, ternyata kalian saling mengenal," ucap Cindy ramah.
"Iya. Kabarku baik," ucap Ferdy sambil melepaskan tangannya.
"Kalian kenal di mana?"
"Dia salah satu investor perusahaan yang aku kelola," ucap El sopan.
"Dia ini anaknya Tuan Rogen Say," ucap Ferdy ramah.
"Ooo, ternyata kamu toh anaknya Tuan Rogen. Ya ampun, dunia sempit sekali," ucap Cindy ramah sambil memegang bahu kirinya Ferdy.
"Kalian sudah lama pacaran?" ucap Ferdy basa - basi.
__ADS_1
"Lumayan lama," ucap El sopan.
"Semoga hubungan kalian abadi."