Haluan Hidupku

Haluan Hidupku
Kafe Ini


__ADS_3

"Ke mana sich si Njar?" celoteh Sarah sambil mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya untuk mencari sosoknya Zarkasih.


"Udeh setengah jam kite tunggu di sini," celetuk Maimunah yang ikutan celingak - celinguk mencari sosoknya Zarkasih.


"Macam pula si Njar, masa parkir mobil lama banget," gerutu Meira yang ikutan mencari Zarkasih.


"Eh, itu si Markonah bukan ya?" celetuk Maimunah sambil memperhatikan Mariana bersama seorang pria tua.


Sarah dan Meira mengikuti arah matanya Maimunah. Mereka melihat Mariana sedang bergandeng mesra dengan seorang pria tua. Mereka sekarang berada di sebuah kafe yang terkenal di Jakarta. Mariana dan pria tua itu berjalan masuk ke dalam kafe itu.


"Ngapain si Markonah ke mari bareng kakek - kakek? Bukannya dia pacarnya si Ricky? Kok sekarang malah pergi sama kakek - kakek, segala pakai mesra - mesraan?" celoteh Maimunah sambil memperhatikan gerak - gerik Mariana yang sedang berjalan mesra sama seorang pria tua.


"Macam pula si Markonah! Kayaknya dia simpanan om - om," samber Meira.


"Itu tidak mungkin," ucap Sarah.


"Gimana kalau kite membuktikan dugaan Mei?" ide Maimunah.


"Ya udah, kita ke sana aja!" ajak Meira sambil memperhatikan Mariana sedang duduk di meja makan yang jaraknya hanya tiga meter dari mereka.


"Tapi siapa yang jagain meja ini?" tanya Sarah.


"Aku aja, kalian ke sana," ucap Meira.


"Ya udah, ayo kita ke sana!" ajak Maimunah.


Tak lama kemudian, Maimunah dan Sarah beranjak berdiri. Mereka melangkahkan kakinya menghampiri Mariana. Mereka mendengar suara Mariana yang begitu menggoda. Rayuan demi rayuan yang terucap dari mulutnya Mariana telah meluluhkan hati pria tua itu.


"Beb, nanti kita jadi liburan ke Eropa?" ucap Mariana lembut.


"Jadi dong sayangku," ucap pria itu.


Jadi benar dugaan si Meira.


Batin Sarah.


Sarah menepuk pundak kanannya Mariana hingga membuat Mariana menoleh, lalu Sarah berucap, "Mar, apa yang telah kamu lakukan di sini? Jadi benar, kamu itu simpanan om - om?"


"Siapa kamu? Main nuduh aja!" ucap Mariana kesal sambil memalingkan wajahnya.


"Aku kakak kamu!" ucap Sarah kesal karena nggak dianggap.


Mariana menepis tangan kirinya Sarah, lalu beranjak berdiri dan berucap, "Beb, kita pergi dari sini! Ada orang gila ngaku sebagai kakakku."


"Eh bacot elu dijaga dong Markonah!" ucap Maimunah marah yang membuat Sarah memegang tangan kirinya Maimunah supaya bisa menahan kemarahan Maimunah.


"Ayo Beb," ucap Mariana dengan nada suara yang manja.


Tak lama kemudian, pria tua itu beranjak berdiri. Mariana dan pria tua itu keluar dari meja makan. Mariana langsung menggandeng tangan kanannya pria tua itu. Tanpa basa - basi, mereka melengos pergi melewati Maimunah dan Sarah. Maimunah mendengus kesal. Sarah menarik tangan kanannya Maimunah, lalu mengajaknya ke meja makan mereka.


"Kenapa sich elu selalu begitu?" ucap Maimunah kesal.


"Aku tidak mau ada keributan di sini. Ingat kita ke sini untuk mencari pekerjaan bukan untuk berkelahi."


"Kenapa kau cemberut aja kayak ikan cucut?" ucap Meira sambil melihat Maimunah menduduki tubuhnya.


"Gimana kaga sebel!? Si Markonah seenak udelnya kaga ngakuin si Sarah sebagai mpoknya!" ucap Maimunah.


"Benarkah?" tanya Meira sambil menoleh ke Sarah.


"Iya," jawab Sarah.


"Sorry yak, elu - elu pade nunggu gw kelamaan," ucap Zarkasih yang tiba - tiba nongol di antara mereka.

__ADS_1


"Bujug buneng elu yak Njar, kebangetan banget! Kite udeh nungguin elu ampe lumutan!" ucap Maimunah marah.


"Lah kenape elu Munah? Main nyerocos aja?" ucap Zarkasih sambil menduduki tubuhnya.


"Kau ke mana aja?" tanya Meira.


"Tadi aku ke bagian kantor kafe ini, mau ngomong sama manajernya. Manajernya kafe ini, saudaranya teman gw."


"Terus ketemu sama manajer kafe ini?" tanya Sarah antusias.


"Belum, dia udah pulang. Kita telat datang ke sininya. Tapi ada kabar yang menggembirakan."


"Apa itu?" ucap Meira penasaran.


"Anak owner kafe ini akan datang ke sini."


"Siapa ownernya?" tanya Sarah.


"Bu Clara."


"Nama anaknya siapa?" tanya Meira kepo.


"Kalau itu gw kaga tahu dah," jawab Zarkasih. "Menurut kalian gimana kafenya?"


"Bagus," jawab Sarah.


"Cakep dah," jawab Maimunah.


"Rancak Bana," jawab Meira.


"Semoga kita bisa ngisi live musik di kafe ini," ucap Sarah.


"Aamiin," ucap mereka kompak.


"Permisi," ucap salah satu pramusaji kafe.


"Ini pesanannya," ucap pelayan itu.


"Siapa yang udah pesan makanan?" tanya Zarkasih sambil menatap Sarah, Meira dan Maimunah secara bergantian, namun mereka hanya menggelengkan kepalanya.


"Maaf, sebenarnya ini pesanan meja nomor lima belas, tapi karena orangnya pergi sebelum makanan ini matang dan orang itu meminta kami untuk memberikan pesanannya ke meja ini. Semua pesanannya sudah dibayar," ucap pelayan itu.


"Wah, ada makanan gratis nich," ucap Maimunah senang.


"Pasti yang tadi pesan itu ... Mariana sama Om itu," gumam Sarah.


"Aku juga punya pendapat seperti itu," ujar Meira.


"Ya udah, tolong taruh di meja ya Mbak," ucap Zarkasih ramah, lalu orang itu menaruh beberapa makanan di atas meja mereka satu - persatu.


"Mariana tadi ke sini?" tanya Zarkasih sedikit kaget ketika pelayan itu selesai menaruh makanan.


"Iyak, dia ke mari ame Om - Om," celetuk Maimunah ketika pelayan itu pergi sambil membawa trolly makanan.


"Sama Om - Om?" ucap Zarkasih sedikit tidak percaya.


"Iya."


"Om - om itu siapanya?" tanya Zarkasih kepo.


"Pacarnya," celetuk Maimunah.


"Pacarnya Mariana pan Ricky?" ucap Zarkasih.

__ADS_1


"Dia itu simpanan om - om alias sugar baby," celetuk Meira.


"Hussshhh, nggak usah bahas Mariana, lebih baik kita makan makanannya," ucap Sarah serius.


"Benar apa yang dikatakan Sarah," samber Zarkasih sambil mengambil piring yang berisi satu potong cheese cake.


"Selamat sore teman - teman," ucap El ramah sambil melihat Sarah yang sedang mengambil satu piring kue red velvet.


"Eh, ada Bang El yang gantengnya kaga ketolongan, makan Bang El," ucap Maimunah semangat.


"Iya, makasih, aku sudah makan," ucap El sambil duduk di samping kirinya Sarah.


"Ngapain elu ke mari?" tanya Zarkasih sinis.


"Tadi pas di pintu, aku lihat kalian lagi di sini, jadinya aku mau ikut gabung sama kalian," ucap El sopan.


"Elu kemasukan jin iprit Njar? Lihat El jutek banget," celetuk Maimunah.


"Kau suka ke kafe ini El?" ucap Meira.


"Iya, hampir tiap hari ke sini."


"Berarti kamu pelanggan kafe ini dong," samber Maimunah.


"Permisi Tuan Muda," ucap salah satu karyawan kafe dengan sopan.


El menoleh ke karyawan itu, lalu berucap, "Iya ada apa San?"


"Ini laporan keuangan kafe ini Tuan," ucap karyawan itu sambil memberikan holder hitam ke El.


"Terima kasih ya San," ucap El sambil menerima holder itu.


"Sama - sama Tuan, saya pamit pulang dulu ya Tuan Muda."


"Iya, hati - hati di jalan ya," ucap El ramah, lalu karyawan itu melangkahkan kakinya menuju pintu kafe.


"Wow! Hebat banget Bang El, masih muda sudah punya kafe sebagus ini," puji Maimunah semangat.


"Biasa aj kali Munah," celetuk Zarkasih. "Dia itu anak pemilik kafe ini, pemilik kafe ini adalah Bu Clara," ucap Zarkasih datar.


"Pantesan mobilnya Bang El bagus banget, ternyata anak pemilik kafe ini," samber Maimunah.


"By the way, kalian ke sini mau ngelamar sebagai band di kafe ini?"


"Pasti elu tahu dari Indra ya?" tanya Zarkasih datar.


"Iya, kamu temannya Indri ya?" tanya El sambil menoleh ke Zarkasih.


"Iya, teman kuliah."


"Kebetulan sekali kafe ini sedang membutuhkan band untuk mengisi live musik di kafe ini. Kapan kalian bisa test vokalnya?" ucap El serius.


"Sekarang aja," celetuk Meira semangat.


"Eh tunggu dulu, gw kaga bawa gitar, alat musik elu pan kecil jadi bisa dibawa ke mana - mana. Bagaimana kalau besok aja?" ucap Maimunah sambil menoleh ke Meira.


"Besok aku nggak bisa, dari pagi sampai siang bantuin Nyak, setelah itu ngajar," ucap Sarah.


"Yang nyanyi siapa?" tanya El.


"Sarah."


"Ya udah, kalian nggak usah test vokal. Aku jamin kalian bisa main band di sini. Mulai main bandnya hari jum'at ya."

__ADS_1


"Makasih banyak ya El," ucap Meira senang.


"Iya, sama - sama. Selamat bekerja di kafe ini."


__ADS_2