Haluan Hidupku

Haluan Hidupku
Rahasia


__ADS_3

Di like ya guys 😁


Di vote ya guys 😁


Di komen ya guys 😁


Happy reading 🤗


Terima kasih sudah mau membaca novel saya 🥰🥰🥰


💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐


"Terima kasih banyak kepada para penggemarku yang telah mendukungku sampai saat ini sehingga aku bisa berkarya untuk menghibur hati dan dinikmati oleh kalian semua. Mohon maaf sebelumnya karena aku ingin memberi tahu tentang diriku yang ingin off dari dunia tarik suara. Semua dukungan dan pemberian dari kalian selalu kuingat selamanya. Untuk penutup konser tunggal perdana dan terakhir ini, aku akan menyanyikan lagu favorit kalian yang berjudul pencuri hatiku," ucap Sarah sambil berdiri di tengah panggung.


Tak lama kemudian, intro lagu yang akan dinyanyikan oleh Sarah mengiringi para penari naik ke atas panggung sambil meliuk - liukan badan. Para penari mengelilingi Sarah sambil bergerak dengan indahnya.


"Sejak pertama kali ku jumpa kamu, ku langsung jatuh cinta. Walau hanya sebentar kita berjumpa. Tapi ku tak dapat membohongi hati nurani jika aku ingin selalu berjumpa dengan mu dan ingin memiliki dirimu. Ku tak mampu menghindari gejolak rasa cinta ini," ucap Lily yang menyanyikan sebagian lagunya.


Interlude lagu yang mengiringi Sarah maju ke depan panggung. Sarah mengedarkan pandangannya, lalu dia melihat Trisan yang tersenyum licik ke dirinya di bagian kelas VVIP bersama Mariana dengan ekspresi wajah yang tegang. Tiba - tiba tubuhnya Sarah gemetaran karena panik, seketika wajahnya langsung pias.


Apa yang akan dilakukan Pak Trisno terhadap keluargaku? Ya Allah semoga setelah konser ini tidak terjadi apa - apa.


Batin Sarah.


Sarah mengalihkan pandangannya, lalu menyanyikan lagu lagi, "Wahai sang pencuri hatiku, kamu telah mengusik relung hatiku. Sang pencuri hatiku, nama mu terpatri di sanubari ku."


Sarah melangkahkan kakinya ke sisi kanan panggung sambil menggerakkan tubuhnya dengan pelan yang diiringi oleh interlude lagu. Sekilas Sarah melihat raut wajah El di tribun VVIP sebelah kanan. El bersama Giselle. Giselle sedang bergelanyutan di lengan kanannya El. Sarah tersenyum bahagia ketika melihat El yang sedang bahagia bersama Giselle. Padahal sebenarnya El sangat bahagia karena bisa melihat Sarah lagi setelah beberapa bulan tak pernah bertemu setelah dia menjenguk umminya Sarah di Singapore.


Alhamdulillah, El sudah bahagia bersama Giselle.


Batin Sarah.


"Sangat bahagia hatiku rasanya tertusuk panah cinta. Namun rasa itu tak seindah realita. Kita harus berpisah karena waktu dan jarak yang memisahkan kita. Ow, lara dan hancur hati ku. Yang sedang dicumbu asmara cinta. Hilanglah selera. Hilanglah segala rasa."


Interlude lagu mengiringi Sarah berjalan pelan ke tempat semula sambil menerawang memikirkan Mariana. Berjalan menyusuri panggung bagian depan. Tanpa diduga Sarah terpeleset, untung salah satu penari dengan sigap langsung menompang Sarah agar Sarah tidak terjatuh. Para penonton melebarkan kedua matanya melihat adegan Sarah mau terjatuh.


"Terima kasih," bisik Sarah ke penari itu sambil berdiri.

__ADS_1


"Wahai sang pencuri hatiku, kamu telah mengusik relung hatiku. Sang pencuri hatiku, nama mu terpatri di sanubari ku."


Sarah melangkahkan kakinya ke tengah panggung sambil menggerakkan tubuhnya dengan pelan yang diiringi oleh interlude lagu. Seketika Sarah merasa mual. Dia memegang perutnya sambil berjalan ke tengah panggung. Keringat dingin keluar dari semua pori - pori kulitnya Sarah.


Ada apa dengan diriku? Aku harus menyelesaikan konser ini. Aku harus kuat.


Batin Sarah.


"Tak kuduga, kita bertemu jua hingga kita bersatu menjalin kasih. Kau selalu ada ketika aku berada di dalam keadaan duka. Kau selalu ada ketika aku berada di dalam keadaan suka. Dirimu selalu membuat ku nyaman berada di sisi mu. Hari - hari ku selalu bersama mu membuat hati ini sangat bahagia. Ku harap kita tidak berpisah lagi untuk selamanya."


Interlude lagu mengiringi para penari yang meliukkan tubuhnya sambil mengelilingi Sarah. Tubuhnya Sarah gemetaran menahan rasa mual. Sarah memejamkan kedua matanya karena penglihatannya sudah buram. Dengan sekuat tenaga Sarah melanjutkan penampilan terakhirnya.


"Wahai sang pencuri hatiku, kamu telah mengusik relung hatiku. Sang pencuri hatiku, nama mu terpatri di sanubari ku. Sang pencuri hatiku, nama mu terpatri di sanubari ku. Ah - a - a - a," ucap Sarah yang menyanyikan lirik bagian akhir lagunya.


Interlude lagu bagian akhir mengiringi para penari menggerakkan tubuhnya mengelilingi Sarah. Musik berhenti seketika para penari mengerumuni Sarah dengan berbagai gaya. Kemudian kembang api menyala di bagian depan panggung disertai dengan hamburan kertas kecil yang berwarna - warni. Suara riuh tepuk tangan dan standing applause dari seluruh penggemar Sarah menggema. Para penari beranjak berdiri lalu berdiri di samping kanan kiri Sarah. Lalu mereka membungkukkan badan secara serempak.


"Terima kasih atas dukungan dari kalian semua, tidak ada kalian, diriku hampa. Aku Sayang kalian. Mmmmuuuuaaaahhhh ...," ucap Sarah dengan ceria.


Semua lampu di panggung dimatikan. Sarah dan para penari berjalan ke belakang panggung. Sarah berjalan menuju ruang ganti sambil memegang perutnya dan menahan rasa mualnya. Sarah berjalan lemas menuju ruang ganti dengan pandangan mata yang ngebayang. Sarah menggeser pintu ruang ganti.


Semua orang yang berada di sana langsung mengerumuni Sarah. Antony melihat sekilas setangkai bunga mawar merah tak sengaja keinjak sama orang lain. Hatinya Antony kesal tapi dia tidak memperlihatkan rasa kesalnya karena dia lebih memprioritaskan kesehatan Sarah.


"Sarah kamu nggak kenapa - kenapa?" ucap Antony panik.


"Iya, aku hanya mual. Oh ya, apakah keamanan konser ini terjamin?" ucap Sarah lemas sambil menegakkan badannya.


"Iya, memangnya kenapa? Kenapa kamu mual?" ucap Antony bingung dan khawatir.


"Nggak tahu kenapa. Tadi aku melihat Pak Trisno bersama Mariana. Dari raut wajahnya Mariana, dia sedang tegang, seperti menahan sesuatu. Aku takut terjadi sesuatu sama Mariana A."


"Kamu tenang aja. Tidak terjadi sesuatu sama Mariana di konser ini. Aku sudah menyewa dua ratus ribu personil kepolisian, sebaiknya sekarang kamu ke rumah sakit, periksa perutmu," ucap Antony lembut.


"Tidak usah, cuma mual biasa. Biasanya habis makan hilang sendiri. Tapi aku yakin ada sesuatu dengan Mariana. Dia seperti sedang disakiti sama Pak Trisno A."


"Baiklah, aku pergi dulu ke ruang pengawasan. Kamu tunggu di sini ya."


"Iya A."

__ADS_1


"Sarah!" teriak Maimunah sambil berlari kecil menghampiri mereka.


Sontak Antony dan Sarah menoleh ke Maimunah, lalu Sarah berucap, "Ada apa Munah?"


"Para awak media udah ngga sabaran ingin wawancara Sarah," ucap Maimunah dengan nafas tersengal - sengal setelah menghentikan langkahnya di depan Sarah dan Antony.


"Di mana tempat wawancaranya?"


"Tapi kamu udah kecapekan, besok aja wawancaranya," protes Antony pelan.


"Besok aku sudah pergi ke Singapore A, pulang ke Indonesianya sehari sebelum acara lamaranku," ucap Sarah sambil menoleh ke Antony. "Di mana tempatnya?" lanjut Sarah.


"Di sana," ucap Maimunah sambil menunjuk sebuah pintu keluar dari ruang ganti.


"Ayo kita ke sana!" ajak Sarah. "A tolong ke ruang pengawasan, tolong perhatikan gerak - gerik Pak Trisno dan Mariana ya," lanjut Sarah sambil menoleh ke Antony.


"Keamanan sudah diurus sama pihak kepolisian, kamu jangan khawatir. Nanti aku ke sana setelah kamu selesai diwawancara."


"Baiklah."


Tak lama kemudian Antony, Sarah, Maimunah dan para bodyguardnya Sarah berjalan cepat menuju tempat wawancara. Mereka melewati beberapa para kru, penari dan bintang tamu. Sarah tersenyum sopan ketika berpas - pasan dengan orang lain. Salah satu bodyguardnya Sarah menekan handle pintu ke bawah. Mendorong pintu itu dengan pelan sehingga pintu terbuka.


Ketika Sarah, Maimunah, Antony dan para bodyguardnya Sarah keluar dari ruangan itu, cahaya flash dari kamera para awak media berhamburan mengenai wajahnya Sarah. Matanya Sarah sedikit menyipit karena silaunya cahaya flash tersebut mengelilingi Sarah. Antony, Sarah, Maimunah dan para bodyguardnya Sarah berdiri di depan pintu ruang ganti. Sarah mendengar suara kamera yang sedang sibuk mengambil gambar dengan cahaya flash yang bertebaran di mana - mana.


Dia yakin bisa menjawab semua pertanyaan dari para awak media dengan baik walaupun dirinya sedang mengalami rasa mual di perut dan kepikiran soal Mariana. Kemudian ada seorang berjalan pelan menghampiri Sarah sambil membawa mic. Sarah tersenyum sopan ketika wartawan itu berdiri di hadapannya.


"Selamat siang Sarah. Saya ingin bertanya. Kenapa anda berhenti dari dunia tarik suara? Apakah karena anda ingin menikah sehingga anda ingin fokus mengurus rumah tangga anda?" tanya wartawan yang sedang berdiri di depan Sarah, lalu wartawan itu mendekatkan mic itu ke Sarah.


"Bukan itu. Saya berhenti dari dunia tarik suara karena saya ingin fokus temani ibu kandung saya yang sedang berjuang melawan penyakitnya," jawab Sarah, lalu wartawan menjauhkan mic dari Sarah.


"Jadi anda sudah mengetahui siapa anda yang sebenarnya?" tanya wartawan itu, lalu dia menyodorkan mic ke depan mulutnya Sarah.


"Iya, saya anak bontot dari enam bersaudara," jawab Sarah, lalu wartawan itu menjauhkan mic dari mulutnya Sarah.


"Siapa nama anda yang sebenarnya?"


"Rahasia," jawab Sarah setelah wartawan itu mendekatkan mic ke depan mulutnya Sarah.

__ADS_1


__ADS_2