Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
bab 10


__ADS_3

Sampai di kamar aku meletakkan begitu saja tasku di nakas. Bergegas aku kembali ke ruang tamu, mengintip dari balik tirai melihat apa mas Ravi masih ada di seberang jalan. Aku menyunggingkan senyum ku begitu melihat mas Ravi masih ada di sana dengan kaca mobil yang terbuka, mas Ravi masih memandang ke arah rumahku. Jalan di depan rumah memang tidak terlalu lebar tapi cukup untuk mobil lalu lalang berpapasan. Langsung ku tutup tirai begitu tahu mas Ravi melihatku. dia tersenyum dan mengangguk kemudian melajukan mobilnya dengan perlahan.


Ku hempaskan dengan kasar tubuhku sendiri sehingga sedikit terpental di ranjang kesayanganku. Ada rasa marah yang harus aku telan. Sekarang aku benar - benar sendiri tanpa ibu, dan tanpa mas Ravi. Aku menangis dengan memeluk guling.


" Te....... Jojhi mau makan dari tadi siang belum makan," suara permintaan Jojhi membuat aku harus bergegas bangkit dari rebahan ku untuk menangis. Bukankah masih ada Jojhi keponakanku yang menemani ?


" sini.......," ajakku dengan memberi isyarat tangan agar Jojhi segera datang padaku.


" Tante nangis ya.....ingat uty ?"


" iya Tante ingat Uty...." jawabku pelan


" Jojhi mau makan apa ?"


" nasi goreng te....."


Aku mengangguk menandakan setuju. Dirumah ini hanya ada aku dan Jojhi tapi setelah ibu meninggal ayah kembali kerumah ini. Aku tidak terlalu akrab dengan beliau ayahku, tapi tetap dia ayahku. Aku juga tidak tahu apa alasannya kenapa beliau kembali ke rumah ini ? Aku juga enggan bertanya. Aku tidak mau mencampuri urusan ayah, kewajibanku sebagai anak merawat beliau dengan kasih sayang.

__ADS_1


Setelah membuatkan nasi goreng sekalian untuk kami bertiga, kami makan malam dengan berbincang. Menanyakan tadi disekolah bagaimana ? Jojhi beli kue apa saja ? Jojhi, dari kecil memang, semua kebutuhannya aku yang menanggung, dia sudah seperti anakku sendiri.


Keadaan ekonomi, kakak perempuanku setelah suaminya menikah lagi memang sangat kerepotan. Kami, aku dan adikku bahu membahu membantu kakak semampu kami. Sebenarnya kakakku juga bekerja menjaga toko kelontong di pasar dan dibayar harian sebesar dua puluh ribu. Kakak masih harus membiayai dua putra kembarnya dan suaminya yang karena sakit memilih kembali pada kakakku. Dua laki - laki dalam hidupku yang aku kenal selama ini memilih pulang ke kami ketika keadaan mereka sudah tidak berharta, sedang dalam keadaan sakit. Dan yang membuat aku merasa heran juga kenapa kami menerima mereka dengan ikhlas ?


Kami menerima ayah karena bagaimanapun beliau ayah kami. Dan kakakku menerima suaminya karena kakak berkata, " bagaimanpun mas Arya bapak kandungnya anak - anak aku tidak bisa membiarkannya."


Sewaktu ibu masih ada, kakak sering menangis pada ibuku dan selalu bercerita tentang suaminya. Aku hanya mendengarkan saja tanpa mengerti maksud dari kalimat yang ibu petuahkan pada Mbak Ayunda.


" Ayunda, tidak kuat Bu......Ayunda diselingkuhi di depan mata. Ayunda mau cerai saja. Mas Arya tidak pernah pulang, tidak pernah memberi uang belanja dan kebutuhan anak - anak," cerita Mbak Ayunda sambil menangis tersedu dalam pelukan ibuku.


Dari cerita inilah aku memantapkan hatiku tetap bekerja sampai kapanpun ketika aku sudah menikah kelak. Karena aku tidak mau mengalami apa yang dialami oleh Mbak Ayunda kakakku.


" Ayun, cari kerja apa saja yang penting halal. sekarang sudah ada anak - anak, kasian. Aasalah suami pasrahkan pada Allah. Ibu yakin pasti akan ada jalan keluar, kita tidak mungkin puasa terus pasti hari raya akan datang," nasehat ibu ketika itu masih tetap terngiang dibenak dan pikiranku.


Sekarang apakah sama permasalahannya denganku ? Apa aku harus mengganggap semua yang terjadi padaku dan Ravi bagian dari hidupku yang harus aku terima ? Tapi aku bukan istrinya ? Mungkin aku hanya wanita yang mengisi kekosongan saja selama tujuh tahun ini ? Atau mungkin aku hanya dijadikan wanita nominasi saja dan mas Ravi memilih yang terbaik untuk dijadikan istrinya ? Kenapa aku begitu lugu selama tujuh tahun ini ? Kenapa aku juga tidak mencari laki - laki lain selain mas Ravi ? Kenapa aku begitu polosnya aku hanya percaya pada mas Ravi yang memang tidak pernah menjanjikan apa - apa padaku ?


Di masalah ini, siapa yang salah aku atau mas Ravi ? Tujuh tahun aku repley kisah ku dengan mas Ravi. Benar mas Ravi tidak pernah menjanjikan pernikahan padaku. Apa aku hanya dianggap teman saja selama ini ? Apa aku yang terlalu berharap suatu saat mas Ravi akan mengajak aku menikah ?

__ADS_1


Sekarang akhir dari semuanya, jawaban dari semuanya. Mungkin ini yang terbaik untukku dan mas Ravi. Aku memang harus berpisah dengan mas Ravi. Mas Ravi dengan keluarga barunya, dan aku.........Aku harus tetap melanjutkan hidupku.


Tapi kenapa aku tidak ikhlas ? Aku masih berat meninggalkan mas Ravi, walau aku kecewa dengan pernikahan mas Ravi. Aku masih mencintainya, aku masih tetap berharap bisa di dekat mas Ravi. Kalau tadi aku menolak mas Ravi, karena aku shock saja dengan berita pernikahan mas Ravi yang mendadak. Sekarang..........., aku kembali merindukan mas Ravi, aku kembali ingin duduk bersama satu bangku dengannya.


Aku melirik HP yang ada di sebelahku, berharap mas Ravi menghubungiku aku tidak perduli dengan wanita yang bernama Hanin lagi. Mau jadi istrinya, mau hamil mas Ravi tetap milikku.


Mungkin mas Ravi merasakan apa yang aku rasakan, mas Ravi mengirimkan pesan Wastapp padaku.


Mas Ravi


( Rin....., aku tahu kamu masih mencintai aku. Aku tahu kamu cuma butuh beberapa jam untuk bisa menerima keadaanku sekarang.)


Mas Ravi


( Rin......., besuk pulang kerja ketemu ya. )


Aku membaca lewat notif Watsapp. Perasaan hatiku bangkit lagi untuk menolaknya. Begitu percaya diri mas Ravi yang mengatakan aku mau menerima, dengan mudah aku akan kembali padanya setelah dia menikah, tidur bersama dengan istrinya. Aku biarkan saja pesan Watsapp dari Mas Ravi tanpa membuka di aplikasi Wastapp, agar terlihat natural aku belum membukanya. Sementara hati ini bergejolak antara akan membalas atau tidak pesan dari mas Ravi. Aku mencoba mengalihkan pikiranku aku ingat aku belum sholat isya'. Berlama - lama aku mengambil air wudhu dikamar mandi karena aku masih menangis, aku tidak ingin ayah dan Jojhi tahu aku menangis. Setelah puas menangis aku keluar dan melakukan kewajibanku.

__ADS_1


Jojhi sudah pulas dalam tidurnya wajahnya tersenyum mungkin dia bermimpi indah. Melihat Jojhi seperti itu ada perasaan ingin aku menjadi anak - anak kembali dimana hanya mengerjakan PR dan menghafal menjadi beban terberat mereka. Saat seperti ini aku ingat ibuku, seandainya ibu masih ada aku ingin mengadu pada ibuku. Ibu anakmu ini kangen ibu, kangeeeeeeeeen, kangeeeeeeeeen sekali.


bersambung.........


__ADS_2