Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
bab 37


__ADS_3

Selesai sarapan pagi aku langsung berangkat ke rumah Bu Elly mertuaku. Diantar pak Sumadi sopir pribadi pak Satrio. Aku duduk dengan memperbaiki syal yang diberikan Adrian. Rumah bu Elly lumayan agak jauh dari rumah pak Satrio. Mobil kami memasuki rumah yang tampak kokoh dari depan dengan pilar - pilar yang besar. Memang baru kali ini aku berkunjung ke rumah mertuaku. Dulu setelah menikah, Bu Elly yang berkunjung ke rumah pak Satrio. Rumah kuno seperti peninggalan Belanda ini masih tetap terlihat kokoh dan bersih. Aku masuk dan disambut hangat oleh Bu Elly, ibu mertuaku.


Teh hangat yang beliau berikan padaku terasa memberikan kesegaran lain di kerongkonganku. Kue kering di meja yang di tata rapi di piring dihias dengan tissue makan mempercantik kue ini. Disebelahnya lagi ada lapis legit atau spekuk berjajar rapi dengan ornamen garis - garisnya. Warna coklat yang mendominasi membuat aku ingin segera mengambil untuk merasakannya.


" Iya ayo diambil. Ibu sampai lupa gak nawarin,"


" Ini ibu buat sendiri lo,"


" Iya ibu.....,"


jawabku malu - malu karena ketahuan mengambil kue spekuk tanpa permisi.


" Dulu Satrio sampai sakit karena ingin menikah dengan Asri"


" Karena itu bapak dan ibu mengizinkan,"


" Asri dulunya OB di kantor property bapak"


" Gak lulus SMP, kurang apa coba kami mengangkat derajatnya sampai menjadi nyonya di keluarga kami,"


" Kami mengajarkan banyak hal. Kursus masak, menjahit, desainer, kepribadian, bahasa Inggris. bahasa Belanda dan bahasa Perancis. Ikut kejar paket sampai lulus S1. Agar bisa sejajar dengan keluarga kami,"


Aku baru tahu ternyata ayah dari pak Satrio masih keturunan Eropa. Tepatnya kakek pak Satrio. Saudara - saudaranya masih banyak di sana. Demikian Bu Elly tapi keterbalikan dari pak Hardi. Mungkin karena itulah wajah pak Satrio dan putra - putranya masih terlihat seperti wajah Eropa.


Aku hanya mendengarkan ibu menceritakan semua dari awal sampai pada akhirnya Pak Satrio harus bercerai dengan mbak Asri. Mereka bercerai karena terpaksa. Bapak dan ibu Pak Satrio malu dengan perbuatan menantunya yang sudah dua kali ketahuan selingkuh dari Pak Satrio.


" Ibu yang sakit melihat anak semata wayang ibu dikhianati terus,"


" Satrio mau menceraikan Asri karena ibu yang memaksanya,"


" Ibu katakan pada mas mu ( yang dimaksud adalah pak Satrio ). Pilih ibu apa istrinya ?"


Diam sesaat.

__ADS_1


Ibu menangis tersedu-sedu. Aku berdiri dan bangkit untuk memeluk ibu. Aku merasa iba dengan beliau. Ibu mana yang akan tega putra satu - satunya dibuat sengsara oleh istrinya sendiri.


" Kami sudah menerima Asri dan keluarganya"


" Membantu Asri membuatkan rumah untuk orang tuanya"


" Menyekolahkan Asri dan ke empat adik - adiknya"


" Kurang baik apa keluarga kami pada keluarga Asri"


Kembali ibu Elly terisak dengan semua ceritanya. Sapu tangan berwarna ungu muda bergambar bunga tulip dengan sulaman handmade ini menjadi basah karena air mata beliau.


" Ibu senang sekarang. Satrio sudah menikah dengan perempuan lain"


" Sebelum menikah denganmu Satrio beberapa kali meminta ibu untuk mengizinkan dia menikah lagi dengan Asri"


" Tentu saja ibu tolak. Ibu tidak akan mengizinkan anak ibu disakiti lagi"


" Ibu titip Satrio ya nak......,"


" Tolong jangan di sakiti........,"


" Tolong jangan dikhianati.....," mohon beliau padaku.


Aku tersenyum manis pada beliau, tapi getir di dalam. Apa tidak terbalik ? Bukankah pak Satrio yang selama ini menyakitiku ? Yang mengkhianatiku ? Kami sama - sama mempunyai orang yang kami cintai. Tetapi aku tidak seperti pak Satrio yang terang - terangan mengatakan tidak akan pernah bisa mencintai aku. Tidak akan pernah bisa menggantikan posisi mbk Asri di hati beliau.


Aku pulang dari rumah Bu Elly setelah makan siang. Semur daging dan kentang sangat lezat. Bumbunya terasa khas di lidahku. Beliau mengatakan semur daging dan tempe bacem adalah makanan kesukaan pak Satrio. Beliau juga membawakan untuk pak Satrio. Rantang berbahan aluminium khas jaman dulu terisi penuh dengan nasi, tempe bacem, semur daging dan buah - buahan.


Aku jadi teringat masa kecilku. Ketika akan lebaran selalu bertukar makanan dengan tetangga menggunakan rantang seperti ini. Menunggu untuk di beri uang setelah mengantar makanan dirumah tetangga. Masa kecilku yang indah.


Rumah tampak sepi ketika aku datang. Aku meletakkan rantang dari ibu di dapur. Berjalan menuju kamarku. Suara leguhan dan jeritan terdengar jelas dari kamar Pak Satrio. Pintu yang agak terbuka, membuat aku melihat semuanya........semuanya.........Pak Satrio dan mbak Asri............


Air mataku langsung berjatuhan. Mereka menyadari dengan kehadiranku bersamaan menoleh ke arahku. Secepat aku mampu. Aku berlari keluar rumah. Aku tidak tahu harus berbuat apa yang ada di pikiranku hanya satu, aku pulang ke rumahku sendiri. Aku pulang ke kota asalku. Kemarin aku mengaku kalah tapi tetap stay di tempatku. Tetapi kali ini aku tidak sanggup lagi. Aku pulang dengan semua rasa sakit hatiku. Aku pulang dengan rasa kecewa dan dendam yang berkobar, menyesak di dadaku. Tidak.......... aku bukan Arin yang seperti dulu yang hanya mampu menangis ketika dikhianati mas Ravi. Aku harus berjuang untuk diriku sendiri.

__ADS_1


" Pak tolong antar saya ke terminal," pintaku pada pak Sumadi yang masih membersihkan mobil dengan kain lap nya.


" Kok terburu - buru bu ?"


" Apa bapak tahu ?"


" Sudah........"


Setelah membuka pintu aku masuk ke mobil. Pak Satrio mengejarku dari belakang.


" Dik Arin.....jangan pulang dulu....,"


" Aku bisa jelaskan,"


Aku hanya menangis berusaha melepaskan tangan pak Satrio yang mencoba menahanku untuk pulang. Adrian yang baru masuk halaman dengan motornya melihat bingung pada kami. Tapi tak berbuat apa - apa hanya berlalu begitu saja ketika melihat mbak Asri juga keluar dari rumah.


" Mas .....Saya sudah g kuat. Saya mau pulang,"


" Tolong biarkan saya pulang,"


" Tolong.........,"


" Baiklah aku tidak bisa memaksa,"


" Pak, antar dik Rin sampai rumahnya,"


Pak Satrio menutup pintu mobil. Tanpa menoleh aku menyandarkan kepala di sandaran kursi. Cukup sudah penderitaan ku karena beliau. Jika tadi malam mungkin beliau bisa membuat alasan, tapi tidak untuk hari ini. Aku memejamkan mataku dengan air mata yang masih mengalir dengan derasnya. Tidak bisa aku melukiskan betapa sakit dan terlukanya aku, melihat mereka berdua. Aku memang bukan wanita yang dicintai Pak Satrio, tapi tidakkah mereka melakukannya di belakangku saja. Ketika aku tidak ada di sini. Tidak bisakah Pak Satrio, ketika di depanku seolah hanya aku saja wanitanya. Apa itu terlalu sulit buat mereka. Apa mereka sengaja membuat aku terluka dan mundur dari pernikahan ini ? Yaaaaaa......tidak usah diminta aku akan mundur. Aku akan mundur dari lingkaran ini. Aku lelah bertahan dengan kaki yang rapuh.


Aku hanya ingin bahagia dengan pernikahan ini. Mencoba melupakan laki - laki yang aku cintai. Tetapi kenyataan berkata lain. kembali aku terombang - ambing oleh nasibku sendiri. Begitu sulitkah mencari laki - laki yang mencintai aku dengan tulus dan mau menikahiku ? Aku hanya ingin menikah, memiliki anak dan hidup tenang dengan pasanganku. Apakah terlalu berlebihan yang aku impikan ? apakah tidak ada di bumi ini seorang laki - laki yang tulus menawarkan uluran tangan untukku ? Tanpa memberi pengharapan saja seperti mas Ravi. Tanpa terhalang perbedaan seperti Henry. Tanpa mencintai wanita lain seperti Pak Satrio. Aku juga perempuan sama seperti mereka. Aku juga tercipta dari tulang rusuk laki - laki. Kenapa aku tidak bertemu dengan laki - laki yang kehilangan tulang rusuknya karena aku ?


Suara panggilan telepon berkali - kali aku biarkan begitu saja. kemudian Pak Sumadi menerima telepon dari Pak Satrio yang menyarankan untuk beristirahat dan makan malam. Aku hanya membiarkan saja tanpa berkomentar apa - apa. Enggan mulutku untuk menerima makanan sekarang. Walau demikian aku tetap meminta pak Sumadi untuk berhenti beristirahat makan malam dan sholat.


bersambung......

__ADS_1


__ADS_2