
Assalamualaikum Wr Wb
Selamat membaca novel saya. Tolong beri like, vote dan komentarnya.
*
*
*
*
Pak Satrio meraih HP yang ada di nakas sebelah ranjang di kamarku.
" Papa.....kenapa papa keluar kota disaat mama sangat membutuhkan papa untuk semangatnya ? Pa...... tolong bantu mama untuk sembuh demi kami, aku dan Adry ! " Suara Adrian terdengar keras melalui sambungan telepon milik Pak Satrio.
" Apa papa sengaja agar mama cemburu dan melukai spikis mama ?" serang Adrian lagi.
" Sabar dulu nak..... Kenapa kau tuduh papa dengan alasan yang belum tentu kebenarannya ? Papa disini kerja, bukan bersenang - senang." jawab Pak Satrio juga dengan nada yang sedikit keras.
" Apa tidak bisa ditunda ? Mama sangat membutuhkan papa disampingnya untuk semangat ! " Seru Adrian kembali melontarkan suara yang keras pada Pak Satrio.
Aku berdiri, jujur aku tidak ingin mendengar pertikaian kalimat antara Pak Satrio dan Adrian. Aku tidak mau sakit hati, karena salah satu penyebab pertikaian ini karena aku. Pak Satrio menggapai tubuhku untuk dipeluknya dari belakang. Mencium puncak kepalaku dan memberi isyarat agar aku tetap di kamar ini.
" Adrian ! Perlu papa luruskan dalam masalah ini. Kau dan Adry tetap anak - anak papa, tetap tanggung jawab papa. Tetapi kalau mama Asri itu bukan tanggung jawab papa lagi, tidak mungkin perhatian papa sama ketika kami masih suami istri. Papa punya istri, punya keluarga yang harus papa jaga perasaannya, " nasehat Pak Satrio.
__ADS_1
" Papa tetap akan mengunjungi mama Asri selama masa penyembuhan dengan ijin mama Arin. Nak......jika kau sudah seumuran papa, kau pasti bisa memahami langkah yang papa ambil ini adalah langkah terbaik. "
" Sikap papa berubah pada mama setelah papa menikah lagi dengan perempuan itu ( yang dimaksud adalah aku.). Dulu papa sangat mencintai mama apapun kesalahan mama." protes Adrian berapi pada Pak Satrio
" Nak......Adrian ! Papa berubah bukan karena papa menikah lagi, tapi karena kesabaran papa sudah melampaui batas maksimal menghadapi perselingkuhan mamamu."
" Bukankah sekarang situasinya berbeda ? mama sakit ! Mama butuh semangat dari papa. Bagaimanapun mama wanita yang melahirkan kami, anak - anak papa. Wanita yang sudah menemani papa lebih dari dua puluh tahun," tegas dan lantang suara Adrian pada Pak Satrio.
" Itu pandangan salahmu ! Kami bukan suami istri lagi. Papa bersedia membiayai pengobatan mamamu, tapi tidak mungkin papa menemani mamamu sepanjang hari. Apalagi, papa sudah mempunyai istri. Papa harus menjaga perasaan istri papa. " jelas Pak Satrio pada Adrian kali ini dengan suara yang lembut.
" Jika kau menilai papa terlalu mencintai Oma Elly dari pada mamamu. Lihatlah dirimu sendiri ! Kau tetap membela mamamu, walau dia melakukan kesalahan-kesalahan besar. Pikirkan itu ! Jika kau kelak sudah menikah. Apa kau bisa adil antara mamamu dan istrimu ? Bersikaplah realistis ! Jika kau seperti ini terus kasihan wanita yang akan menjadi istrimu kelak," nasehat Pak Satrio yang panjang untuk Adrian.
Tak terdengar balasan suara dari Adrian menjawab atau membantah nasehat dari Pak Satrio. Mereka saling terdiam dalam hitungan detik bahkan melewati beberapa menit. Tanpa kata, tanpa suara tapi sambungan tetap berlangsung. Terdengar lirih suara Adrian menahan tangis, kemudian menutup telepon.
" Apa kau tersakiti dengan kalimat Adrian ?" tanya Pak Satrio yang masih berusaha memelukku lagi.
" Saya takut mas terlalu keras pada Adrian, dia masih labil mas, belum dewasa," usulku pada Pak Satrio.
" Adrian sudah dua puluh tahun lebih. Dia sudah harus dewasa dengan keadaannya sekarang. Dia harus bisa membedakan salah dan benar, walaupun yang berbuat salah adalah mama kandungnya sendiri. "
" Saya khawatir mas. Sikap dan pandangan Adrian dan Adry akan berubah pada mas dan saya. Aku takut Adrian dan Adry akan membenci mas. " ku utarakan kecemasanku pada Pak Satrio.
" Darah lebih kental dari air, aku tahu Adrian dan Adry sekarang membenciku. Tapi aku yakin berlangsungnya hari berlalu, dia akan memahami situasi ini, kalau aku bukan lagi suami mamanya. Kami sudah bercerai, dan aku sudah memiliki keluarga lagi, tetap ada batasan yang harus kami hormati, " tukas Pak Satrio yang melepaskan aku dari pelukannya dan kembali beranjak di peraduan.
" Aku benar - benar lelah hari ini. Aku ingin istirahat lebih lama," ucap Pak Satrio membenarkan posisi badannya kemudian memejamkan netra hitam miliknya.
__ADS_1
" Apa mas tidak lapar ? Mas melewatkan makan malam ? " tanyaku sambil menyelimuti beliau.
Pak Satrio menggeleng pelan kemudian menjawab pertanyaanku," Tidak, maaf aku tidak lapar. Kau makanlah dulu, aku ingin menenangkan diriku dengan tidur."
Ku tinggalkan kamar ini, agar beliau bisa dengan mudah beristirahat. Selain itu rasa lapar menyerangku tanpa kendali.
Entahlah selera makanku semakin meninggi sejak kehamilanku yang ketiga. Tadi selepas magrib aku sudah makan malam, dan ini makan malam ke dua kalinya. Aku siapkan untuk diriku sendiri karena bapak tadi sudah makan dan Pak Satrio enggan untuk makan malam. Aku ingin makan lahap dengan menu yang menurutku menggugah selera makanku. Sambal kacang dengan terong bakar dan lele goreng, yang tadi ku beli sepulang dari lahan Pak Satrio.
Aku hendak bersiap, tapi keinginan makan bersama dengan Pak Satrio kembali muncul. Ku arahkan kakiku menuju kamar untuk melihat Pak Satrio. Beliau masih tetap dengan posisi yang sama, terlentang dengan tangan bersiku menutupi kening beliau. Aku mendekat pada beliau tanpa menimbulkan suara. Ada butir - butir bening dari sudut netra beliau, walau dalam keadaan terpejam. Kemudian menghembuskan nafas dengan keras. Ku balikkan badan, tangan Pak Satrio meraih tanganku dan berkata," Dik Rin aku harap tidak ada prasangka dalam hatimu. Sungguh perasaan cintaku pada Asri sudah pupus bahkan sudah mati. Aku hanya memikirkan Adrian dan Adry saja, kasian mereka harus berjuang melawan sakit hati karena perceraian orang tuanya," Pak Satrio bergerak duduk dan menuntunku dengan tangannya agar aku duduk di samping beliau.
"Sungguh aku kasian pada Adrian dan Adry, karena perceraian kami mereka menjadi pribadi yang lain, sering marah dan perasaan mereka mudah terluka dengan hal kecil," sesal Pak Satrio.
" Apa sebaiknya kita pulang ke .......( menyebut kota asal Pak Satrio.) "
" Kita sudah berjanji akan datang di acara makan malam besuk, tidak baik mengingkari janji, walau terlihat sepele," nasehat Pak Satrio.
" Adrian dan Adry ? "
" Mereka harus belajar menerima kenyataan kalau aku dan mamanya sudah bercerai, dan kami tidak sama seperti dulu. Apa aku terlalu egois menceraikan Asri yang terlalu sering menyelingkuhi aku ? Aku sudah maksimal berusaha bisa memaafkan Asri, tapi tidak bisa diulang dan berulang kelakuannya hingga aku memutuskan menceraikan Asri. Semua itu sudah aku bicarakan dengan Adrian dan Adry," cerita Pak Satrio padaku.
" Apa kau ingin aku temani makan malam ?" tanya Pak Satrio sambil berdiri.
" Iya mas.......," jawabku.
Bersambung......
__ADS_1