Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Episode Spesial 2


__ADS_3

" Aku makan siang diluar sayang ! Aku janji akan makan siang dengan Adrian dan Adry di resto........... Kau mau bergabung ? tutur Pak Satrio sebelum berangkat dengan memeluk dan mencium puncak kepalaku.


Pak Satrio mungkin menjaga perasaanku. Sejak Mbak Asri terkena musibah kecelakaan, Mbak Asri menetap dirumah yang ditempati Adrian dan Adry tentu saja untuk memudahkan pengawasan dan perawatan Adryan dan Adry terhadap mama mereka. Pak Satrio tidak pernah berkunjung ke rumah itu. Jika ingin bertemu Adrian dan Adry, selalu mengajak mereka makan bersama diluar atau saat mereka berolah raga bersama. Jujur, aku tidak pernah ikut saat Pak Satrio bertemu Adrian dan Adry karena aku takut akan terasa canggung bila ada kehadiranku diantara mereka.


" Tidak mas, hari ini saya membantu ibu, ada pesanan kain batik yang harus di packing dan dikirim," tolakku halus pada Pak Satrio.


" Apa ada yang salah denganku ? Wajahmu kenapa cemberut ? Apa kau marah ? tanya Pak Satrio mensejajarkan wajahnya dengan wajahku. Badannya di bungkukkan dan dicondongkan padaku sehingga kami beradu dalam tatapan yang tidak bisa aku hindari.


" Sayang ! jangan membuat aku merasa bersalah. Lihat kau menangis ! Apa aku salah ? " tanya Pak Satrio lagi dengan gundah padaku.


" Aku iri melihat mas berangkat bekerja ke kantor setiap hari. Aku juga ingin bekerja di kantor seperti dulu. Apa aku tidak boleh bekerja dan menjadi ibu rumah tangga saja ? Apa mas tidak malu mempunyai istri bukan wanita pekerja dan punya karir bagus ? tanyaku merajuk pada Pak Satrio.


" Hai .....sayang dengar ! seru Pak Satrio dengan menuntunku duduk di sofa kamar ini.


" Apa kau menyesal menikah denganku ? Laki - laki yang tidak mengijinkan kau berkerja ? Aku lebih suka kau dirumah merawat anak - anak kita dengan baik, menurutku itu sudah pekerjaan yang sangat mulia."


Aku masih cemberut. Sejujurnya aku juga ingin bekerja, rasanya lebih bangga bisa menghasilkan uang sendiri tanpa meminta suami. Rasanya lebih berkesan jika kita membeli sesuatu dengan uang kita sendiri.


" Aku mengijinkan kau bekerja tapi dirumah, seperti membantu usaha mama. Bukankah itu suatu pekerjaan? Kau bisa bekerja dan tetap mengurus anak - anak. Jangan punya pandangan bekerja harus dikantor sayang. Bekerja itu menghasilkan uang dari sektor apa saja. "


" Lihat aku sayang ! Aku selalu membutuhkanmu ada di sisiku. Kalau aku keluar kota, bukankah aku selalu memintamu untuk ikut ? Kecuali hanya untuk sehari, aku bisa berangkat sendiri."


" Tapi apa mas tidak malu melihat istri mas hanya memakai daster tiap hari ? "


" Tidak ! Bukankah kau juga penuh dengan kegiatan ? kursus memasak. Sekolah kepribadian, Kursus Bahasa Inggris ? Apa kegiatanmu masih kurang ? Ketika berangkat untuk semua itu kau tidak memakai daster kan ? Pakai dress panjang, pakai jubah, pakai celana panjang dan kemeja ? " tutur Pak Satrio dengan lemah lembut padaku.

__ADS_1


" Aaah satu lagi, aku lebih suka kau pakai daster saja ketika dirumah. Karena lebih praktis, ketika aku ingin tidak perlu ribet membuka kancing baju yang terlalu banyak," kata Pak Satrio dengan mimik melucu untuk membuat aku tersenyum dan memencet hidungku.


" Mas Satrio .....," seruku


" Bukankah memang seperti itu ? " tanyanya lagi. "


" Sayang ! Kau bisa mengembangkan usaha mama lebih dari sekarang ini. Batik tangan itu sulit lo dan prospeknya juga bagus. Aku akan bicara dengan papa untuk membuatkan outlet untukmu dan aku akan jadi donatur terbesar untukmu. Bukankah manajemen mama masih manual dan tradisional dalam pengembangannya ? Sekarang tugasmu mengembangkan agar lebih dikenal bukan hanya sebagai produk home industri saja ! "


Jiwa bisnis Pak Satrio keluar dengan ide - idenya lengkap dengan menemu teorinya. Aku hanya mengangguk saja mengiyakan apa yang dikatakan Pak Satrio.


" bla.....bla...bla..... Mengerti yang aku maksud ? Kau pahamkan apa yang tadi aku jelaskan ?" tanya Pak Satrio dan hanya kata itu yang masuk dalam otakku.


" Iya paham, saya mengerti ," jawabku walau tidak mengerti maksud dan tujuannya. Sambil berharap tidak diperintahkan menjelaskan ulang oleh Pak Satrio karena terlalu berbelit.


" Iya aku akan pulang, beri aku waktu lima puluh menit. Mudah-mudahan aku sudah sampai rumah. Aku akan menghubungi dokter Indra, kau persiapkan Thavisa dan dirimu sendiri," jawab Pak Satrio setelah menerima teleponku yang memberitahu bahwa Thavisa panas dan belum juga mau turun suhu panas ditubuhnya.


" Bagaimana dengan acara makan siang mas Satrio dengan Adrian dan Adry ? Bukankah setengah jam lagi waktunya istirahat ? " tanyaku merasa tidak enak karena menghalangi pertemuan ayah dan anaknya.


" Tidak apa-apa sayang ! Kami bisa makan siang besuk, sekarang yang terpenting Thavisa," jawab Pak Satrio tegas.


Selama perjalanan ke rumah sakit Thavisa tidak mau lepas dari gendongan Pak Satrio. Walau Pak Satrio memiliki waktu sedikit untuk berinteraksi dan bermain dengan Tangguh dan Thavisa. Mereka lebih memilih dalam gendongan Pak Satrio daripada dalam gendonganku, mungkin karena rasa kangen dan rasa sayang Pak Satrio yang mereka rasakan.


Pak Satrio duduk dan memeluk Thavisa dengan hangat di sampingku. Sementara Pak Sumadi mengemudikan dengan hati - hati.


" Pa.........Pa.....," panggil Thavisa semakin menenggelamkan kepalanya pada dekapan Pak Satrio.

__ADS_1


" Iya sayang........ini papa nak. Ini papa yang gendong adik Thavisa," sahut Pak Satrio semakin mendekap dan mencium Thavisa dengan lembut.


* * * * * *


" Alhamdulillah syukurlah dokter, kalau hanya karena akan tumbuh gigi." ucap Pak Satrio sambil menjabat dokter Indra dengan tersenyum.


" Iya Pak Satrio, adik Thavisa tidak ada masalah kesehatan yang berarti hanya karena akan tumbuh gigi saja. " Sambut dokter Indra menjawab Pak Satrio.


" Kau sudah makan siang ? " tanya Pak Satrio ketika kami akan melewati cafetaria rumah sakit ini.


Aku hanya menggeleng pelan sambil mengikuti Pak Satrio dari belakang yang menggendong Thavisa.


" Kita makan dulu sayang, tadi pagi kau sarapan juga tidak begitu banyak," usul Pak Satrio sambil melangkahkan kaki menuju cafetaria. Aku hanya mengikuti Pak Satrio melangkah tanpa menoleh sekitar.


" Sayang ! Bukankah itu Henry ? tanya Pak Satrio ketika mencari tempat duduk yang cocok untuk kami.


Jantungku seketika berdetak dengan cepat melebihi dari biasanya. tubuhku yang sudah letih terasa semakin lemas. Pandanganku seketika kosong dan hampa. Tanganku langsung berkeringat dingin dan itu terjadi dalam hitungan detik. Bukan karena rasa cintaku pada Henry yang membuat keadaanku seperti ini, tapi rasa takut yang berlebihan tentang apa yang akan terjadi padaku karena pertemuan tidak sengaja ini.


" Kita duduk bergabung dengan Henry ? tampaknya dia sendirian dan sedang memikirkan sesuatu. " ajak Pak Satrio sambil menuntunku kearah tempat duduk Henry.


Langkah kakiku berat untuk melangkah, karena ketakutan yang menjalar. Aku sudah bahagia seperti ini, aku tidak ingin bertengkar lagi dengan Pak Satrio.


Bersambung......


Vote, komentar dan like tetap menjadi harapan author untuk kemajuan author menulis.

__ADS_1


__ADS_2