
Tidak terasa kurang dua Minggu lagi acara pernikahanku. Surat - surat untuk keperluan pernikahan sudah selesai aku urus tinggal menunggu hari H saja. Untuk acaranya aku menjahitkan kebaya putih dengan bahan yang aku cari sendiri di toko kain. Model kebaya aku pasrahkan ke temanku. Karena undangan hanya sedikit Pak RT dan Pak RW serta tetangga kanan kiri saja. Jadi untuk urusan makanan tidak terlalu merepotkan. Sementara untuk undangan di kantor hanya Dita dan Henry. Tanganku bergetar ketika aku menulis nama Henry di undangan yang tertera namaku dan Pak Satrio. Tidak terasa aku meneteskan air mataku. Mudah - mudahan ini jalan terbaik untuk kami. Sungguh aku juga tidak tahu apa yang akan aku lalui dengan Pak Satrio. Tapi aku berharap Henry bahagia. Henry bertemu dengan perempuan yang sebanding dengannya.
Perlahan aku buka ruangan Henry untuk meletakkan undangan pernikahanku. Ketika aku berbalik badan. Aku sangat terkejut tidak menyangka Henry ada di belakangku dan sedang memandangiku.
" Apa ini..........?"
Secepat kilat aku tarik kembali surat undangan pernikahanku yang berada di meja Henry. Tapi aku kalah cepat dengan Henry. Henry mengerutkan keningnya dengan membuka surat undangan tersebut. Mata Henry melihatku ke surat undangan, ke arahku lagi, ke surat undangan lagi. Aku hanya diam melihatnya. Ingin rasanya aku melangkah pergi tapi kenapa kaki ini terasa berat. Aku hanya mampu memandanginya. Henry menyipitkan kelopak matanya seakan ingin mengatakan sesuatu padaku. Sedetik kemudian Henry membaca
" Satrio Adi Penengah dan Arina Dwi Renata "
" Aku gak salah baca kan mbak ? Ini bukan lelucon kan mbak ?" sambil tertawa yang seolah dibuat - buat Henry bertanya. Netra Hitam pekatnya mengarah tajam padaku. Seakan ingin menikam walau bukan pisau atau belati. Seakan tidak percaya dengan apa yang barusan dia baca. Aku diam dalam takutku. Hanya mematung tak bisa aku gerakkan semua. Perlahan kemudian aku kuatkan kakiku untuk melangkah meninggalkan ruangan Henry. Hanya dengan beberapa langkah Henry mampu menggapai tanganku.
" Katakan benar apa tidak ? Aku pulang untuk memberi kejutan Mbak Arin. Kenapa sekarang jadi aku yang terkejut ? Oooohhhh bukan hanya terkejut tapi sangat terkejut,"
Tinggi ku yang tidak seberapa hanya sampai diatas perut Henry hanya bisa memandang lurus pada tubuh Henry. Kemeja biru bergaris putih di padu celana biru Dongker ini membuat Henry terkesan sangat dewasa. Aku alihkan pandanganku. Tidak jangan sampai aku tergoda lagi walaupun dia sangat tampan.
" Mbak............katakan kenapa Mbak Arin tega"
Guncangan kedua tangan Henry di lenganku membuyarkan apa yang aku pikirkan.
" Ya.........aku akan menikah, " hanya itu yang mampu aku ucapkan.
" Kenapa ? Karena aku jauh lebih muda ?
"Ya......."
" Kita beda keyakinan ?"
" Ya......"
"Kita beda status sosial ?"
__ADS_1
" ya....."
" Karena Mbak Arin mencintai aku ?"
" Ya...........t......tidak"
" Kalau Mbak Arin memang mencintai aku kenapa tega melakukan ini padaku ?"
Tidak ada jawaban dariku. Hanya air mata yang bisa aku berikan dan mudah - mudahan Henry tahu semua dengan apa yang aku pikirkan.
" Kita bicara di luar......" sambil menggandeng tanganku Henry melangkah keluar ruangan menuju tempat parkir. Seperti anak kecil yang mengikuti ayahnya, aku mengikuti Henry. Dengan langkah setengah berlari aku mengikuti karena kaki panjangnya melangkah sangat lebar dan tergesa - gesa. Bisa di bayangkan bagaimana aku harus mengikuti langkah panjangnya sementara Henry satu langkah aku dua langkah.
" Kita mau kemana ? kita harus kerja ! "
" Ini hari libur khusus buat Mbak Arin dan aku."
" Apa bisa ?"
Jiwa arogan dan jiwa berkuasa Henry kembali datang. Aku tidak melanjutkan pertanyaan ku untuk meredam suasana dan membiarkan Henry dengan pikirannya sendiri. Sepanjang perjalanan aku hanya melihat Henry mengemudikan mobil dengan serius. Tidak ada lagu yang biasa menemani. Biasanya Henry sangat suka mengemudikan mobil dengan mendengarkan lagu - lagu dari soundtrack drama seperti love 020. Dengan ceria dia menerjemahkan arti lagunya untukku. Henry memang menguasai bahasa Mandarin, Inggris dan Jepang.
Sesekali Henry menoleh ke arahku tanpa berkata apa - apa. Aku juga tidak tahu harus berkata apa pada Henry. Bukankah semua sudah jelas aku akan menikah dua Minggu lagi. Tidak ada yang perlu aku jelaskan untuknya. Semua permasalahan yang menjadi beban, bukankah tadi sudah terjawab. Untuk apa Henry mengajakku keluar ?
Henry mengeluarkan tangannya seolah ingin menangkap kelopak bunga tabebuya yang jatuh bertaburan karena terpaan angin. Aku tidak menyangka Henry membawaku ke taman ini lagi. Seperti Henry, aku juga sangat menyukai tempat ini. Kelopak bunga yang berjatuhan seperti membawa suasana lain di hatiku. Henry kembali menoleh ke arahku dengan senyum yang datar.
" Ayo turun ! Sekarang ada panen bunga mawar, tapi kita ke villa sebentar."
" Aku tunggu di luar saja."
" Takut ?"
" Tidak...."
__ADS_1
" Baguslah...." sambil mengangkat satu alisnya dan kemudian mengangkat bahunya Henry berjalan menuju Villa di tempat ini. Tetap saja aku selalu mengikutinya tanpa bicara apa - apa.
Kami duduk di ruangan sangat luas dengan ornamen klasik sangat bersih dan mewah.
Henry duduk setelah meminta pegawai membuatkan kami teh dan membawa makanan ringan.
" Kenapa Mbak Arin melakukan semua ini ? Apa Mbak Arin tidak percaya padaku ?" tanya Henry beruntun padaku.
" Sudah aku jelaskan ! Banyak pertimbanganku untuk menikah dengan pria lain."
" Jangan menyakiti aku seperti ini mbak ! Aku gak sanggup."
Tiba - tiba Henry mendekat dan memelukku. Ada butir - butir air mata yang jatuh membasahi rambutku. Semakin erat Henry memelukku semakin banyak pula butiran basah jatuh di kepalaku. Berkali kali Henry berkata, " Jangan menyakiti ku seperti ini mbak."
Aku tidak kuasa dengan suaranya yang semakin perlahan. Baru pertama kali dalam hidupku aku melihat laki - laki menangis tersedu seperti ini di depanku, dan itu karena aku.
" Kenapa disaat aku berjuang untuk kita, Mbak Arin pergi ? Apa usahaku kurang untuk Mbak Arin? Aku masih berjuang, kenapa Mbak Arin tega?"
Ya Tuhan air mataku juga tak kuat aku tahan. jatuh membasahi dada Henry. Aku hanya bisa menangis. Jujur jika aku boleh memilih jodohku. Aku ingin berjodoh dengan laki - laki yang sekarang ini memelukku dengan hangat. Pada dirinya aku menemukan tangan yang mengulurkan bantuan disaat aku terseret ombak. Tapi kenapa aku yang menenggelamkan di laut. Pantaskah aku disebut tidak bisa membalas kebaikannya dengan hatiku. Di dalam diri Henry aku tahu cinta tidak memandang umur dan status. Tapi kenapa aku bisa meninggalkannya dengan mudah ? Seandainya bisa diputar lagi aku ingin mengulang tidak menerima pinangan dari pak Satrio. Aku ingin dengan Henry menunggu keputusannya. Bukankah aku bisa menunggu mas Ravi selama tujuh tahun. Kenapa aku tidak bisa menunggu untuk Henry ?
" Aku tidak sanggup Mbak......Aku harus berbuat apa kalau Mbak Arin tidak denganku lagi. Batalkan pernikahan ini, demi kita Mbak ! "
" Ituu tidak mungkin. Tolong aku......Aku juga tidak ingin menikah, tapi ini jalan terbaik untuk kita,"
bersambung..................
Menurut author yang cocok jadi Henry adalah aktor Pan Zi Jian. Setiap pembaca boleh mempunyai pandangan sendiri.
__ADS_1