Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Bab 112


__ADS_3

" Apa masalahnya sudah selesai ? " Sapaku pada Pak Satrio ketika memasuki ruangan Pak Satrio.


Pak Satrio tersenyum padaku. Wajahnya datar terlihat lelah, tapi berusaha terlihat baik - baik saja. Sorot Netranya tidak bisa menipuku kalau keadaan tidak baik - baik saja. Pak Satrio menyambutku berdiri dari kursi tempat duduknya, mencium keningku dan puncak kepalaku.


" Iya....ada beberapa lagi yang harus aku selesaikan dengan Asri," jawab Pak Satrio dengan halus padaku


" Masalah apa mas ? "


" Balik nama dan masalah penggantiku," Jawab Pak Satrio.


" Aku percaya mas. Saya harap mas bisa memegang janji mas pada saya," jawabku pelan.


Aku berusaha mendekat pada Pak Satrio sehingga wajah kami saling beradu. Pak Satrio tersenyum lebar dan bertanya, " Apa ini yang diajarkan Sebastian ?"


Aku salah tingkah dengan pertanyaan Pak Satrio yang sudah bisa menebak apa yang akan aku lakukan.


," Mas tahu ? " tanyaku gugup pada Pak Satrio.


" Mama telepon kalau kau bersama Sebastian datang kemari," jawab Pak Satrio santai kemudian bertanya kembali padaku," Kau lebih percaya Sebastian dari pada suamimu ? "


" Iya.....karena mas setiap hari masih bertemu dengan Mbak Asri," jawabku tegas dengan menatap netra beliau dengan tajam.


Pak Satrio tersenyum tipis padaku kemudian menghela nafas. Berdiri dari duduk yang sedianya berada di sampingku, kemudian berjongkok di depanku yang duduk di kursi sehingga kami saling berhadapan. Tangan Pak Satrio meraih tanganku mengusapnya dengan lembut dan menciumnya sangat lama.

__ADS_1


" Karena aku mencintaimu dan anak- anak kita," ucapnya lembut, menjijitkan badannya untuk mencapai keningku. Aku mengerutkan keningku dan memundurkan kepalaku tanda tidak mengerti maksud beliau.


" Memang harus bertemu Asri jika ingin masalahnya cepat selesai," ucapnya lagi dengan tersenyum manis padaku. Kali ini Pak Satrio duduk di sebelahku mencondongkan badannya mengarah padaku.


" Mas masih mencintai mbak Asri kan ? "


" Tidak. Aku sudah mati rasa meskipun setiap hari bertemu dengannya."


" Jika sudah tidak mencintai mbak Asri dan sudah membencinya kenapa masih bertemu setiap hari dan terang - terangan di depan umum,"


" Kalau bertemu secara sembunyi - sembunyi itu namanya selingkuh, jika bertemu secara terang-terangan berarti ada masalah." Selorohnya dengan tetap tersenyum padaku. Kali ini tangannya mengusap lembut rambutku.


" Bukankah secara tersirat sudah aku katakan padamu. Aku harus bertanggung jawab dengan masalah yang Asri lakukan di perusahaan ini, dan aku sudah mengatakan aku meminta maaf padamu karena perceraianku dengan Asri masih bermasalah," urai Pak Satrio padaku.


" Sayang...... Sudahlah aku takut masalah ini akan mempengaruhi kesehatanmu. Kau sedang mengandung anakku, aku tidak ingin terjadi sesuatu pada kehamilanmu. " jawab Pak Satrio.


" Mas .....saya istri mas. Saya juga ingin tahu masalah yang mas hadapi, seberat apapun itu saya juga ingin tahu. Tidak akan saya biarkan Mas menanggungnya sendiri. Bukankah kita suami istri ? "


Pak Satrio kembali mencium keningku berkali - kali dan memulai ceritanya padaku. " Asri memakai namaku dan masih mengaku istriku mendatangi beberapa rival mitra kami untuk menjadi pemasok media tanaman dan bahan baku lainnya. Dia memberikan janji atas namaku akan menggunakan jasa mereka . Beberapa produsen menangih janji pada perusahaan ini, disitulah masalah baru terkuak. Ketika aku meminta untuk dikembalikan semua hadiah yang sudah di berikan, Asri menolak memberikan kembali. Dia berkata akan mengembalikan semua asal aku sendiri yang datang kerumahnya atau aku memberikan sahamku lima persen padanya serta kenaikan tunjangan tiap bulan. Aku menolak semua tawaran Asri, sebagai konsekwensinya aku harus mengembalikan sejumlah uang yang sudah di berikan beberapa produsen tersebut senilai ........ ( menyebutkan sejumlah uang dengan nilai fantastis ), agar masalah tidak melebar. Produsen tersebut mengancam jika tidak ada pengembalian dan ganti rugi akan dimeja hijaukan atas tuntutan penipuan. Bukankah itu akan berpengaruh pada nama baik perusahaan dan saham perusahaan, juga namaku sebagai pebisnis."


" Kenapa mas tidak cerita padaku kalau masalahnya serumit ini ? "


" Sudah aku katakan, karena aku mencintaimu. Aku tidak ingin kau terbebani dengan masalahku. "

__ADS_1


" Sekarang apa masalahnya sudah selesai ? "


" Ya...... ketika kemarin kau datang kemari. Di hari itu kami mengadakan perjanjian dihadapan pihak yang berwenang dan pengacara. Jika Asri melakukan penipuan seperti ini lagi, aku tidak mau bertanggung jawab. Semua yang dilakukan Asri, murni dari Asri sendiri tidak ada kaitannya denganku lagi. Dan aku berhak menuntutnya sebagai tindakan pencemaran nama baik,"


Aku memeluk suamiku dengan erat seolah enggan melepasnya. Pak Satrio menyambut pelukan dariku, memelukku juga dengan erat dan mencium puncak kepalaku.


" Kenapa mas harus berjuang sendiri ? Bukanlah saya istri mas ? Maafkan saya mas. Saya yang berburuk sangka pada mas. Apakah itu berkaitan dengan Mas Satrio mengajak Mbak Asri di acara Family Gathering dan mas sering menemani Mbak Asri di rumah sakit ? tanyaku beruntun pada Pak Satrio.


" Itu masalah lain lagi ? " jawabnya dengan melepaskan pelukannya padaku berganti dengan memandangku tanpa berkedip dan sorot netra yang lembut.


" Masalah lain ? "


" Asri berkali - kali memintaku untuk membagi saham perusahaan yang aku pegang, rumah dan aset ruko di kawasan ............. atas nama Adrian dan Adry. Dengan alasan aku memiliki saham dan aset tersebut selama menikah dengannya. aku menolak karena aku sudah membayar semua uang mut ' ah dan tiap bulan aku sudah memberikan uang tunjangan padanya. Aku memintanya dengan baik - baik agar masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan saja. " Pak Satrio menghela nafas kasar berhenti bercerita kemudian berdiri. Menuangkan air dalam gelas untuk beliau minum.


" Apa karena itu mas sering menemui Mbak Asri termasuk juga di acara Family Gathering dan di rumah sakit ? "


" Ya ..... aku tidak pernah ikut acara seperti itu, aku turuti Asri karena dia berkata akan membicarakan dan menyelesaikan di acara tersebut. Aku sangat bodoh datang ke acara itu bukan pembicaraan yang aku dapatkan tapi seperti yang diceritakan Sebastian. Sepulang dari acara Family Gathering kami bertengkar hebat, Asri tetap dengan keinginannya membawa kasus ini ke pengadilan dengan tuntutan perdata padaku."


" Apa masih berlanjut masalahnya ?"


" Besuk digelar sidang pertama tuntutan Asri padaku." jawab Pak Satrio lirih padaku. " Bukan masalah pembagian aset atau yang lainnya, tapi nama baik yang aku pikirkan. Apa kata rekan, mitra dan rivalku. Masalah seperti ini sampai di meja hijaukan, seolah aku tidak bijak dalam mengendalikan semua. Asri benar - benar ingin menjatuhkan nama baikku di kalangan dunia bisnis. Apa yang aku lakukan padanya seperti sia - sia saja. Dia meminta penambahan uang tunjangan selama dia sakit, sudah aku beri dua kali lipat karena aku berharap dia mau berbaik hati tidak membawa masalah ini di muka umum. Ternyata aku salah.........Dia benar - benar licik dan tidak terkendali keserakahannya atas harta," sambung Pak Satrio lagi. Suaranya walau lirih tapi penuh penekanan.


Bersambung..............

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca novel saya. Mohon like dan komentar."


__ADS_2