Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Bab 100


__ADS_3

" Ternyata sainganku anak ingusan," seru Pak Satrio sambil meletakkan posisi untuk istirahat malam.


Wajah beliau cerah hanya untuk menggodaku. Tampak senyum lebar menghiasi bibir beliau. Selama perjalanan pulang kami tidak membahas Henry. Pak Satrio lebih banyak bercerita tentang masa kecil dan remajanya.


" Mungkin dia masih di beri uang saku sama papanya ?" tanyanya lagi dengan pandangan tersenyum melihatku.


" Ahhhhhhh saya ngantuk, mau istirahat.......," ucapku tidak menghiraukan ucapan Pak Satrio.


" Marah....? Marah..... tidak terima mantannya diperolok ? suara renyah keluar dari bibir Pak Satrio.


" Kau masih mencintainya ?" kali ini dengan suara serius dan dingin. Tatapan netra yang mampu menghujam hingga ke nadi walau tanpa belati.


Aku menoleh ke arah Pak Satrio dengan wajah masam. Pak Satrio mengubah wajah dinginnya menjadi ceria dengan tawa kecil dari bibir beliau sambil mengacak rambutku.


" Aku akan memaksamu mencintaiku, dan terbiasa dengan kehadiranku. Aku yakin dari paksaan dan terbiasa akan ada rasa cinta untukku. Apalagi ada Tangguh, Thavisa dan bayi kita. Aku yakin kau akan sulit meninggalkan aku." nada bicara yang datar tapi tatapan netra beliau menghipnotis untuk semua kendali atas diriku.


" Yang harus kau tahu, aku tidak pernah terpaksa mencintaimu karena tali pernikahan atau karena ada Tangguh dan Thavisa. Perasaan ini halus mengalir deras hingga aku tidak ingin berpisah darimu. Aku tidak ingin dikhianatimu karena rasa memilikimu sangat tinggi." sambungnya lagi kali ini dengan badan mengarah padaku. Aku berpaling enggan beradu pandang dengan netra hitam pekat milik Pak Satrio.


" Aku pernah gagal dalam rumah tangga dan denganmu aku tidak ingin gagal lagi. Aku pernah dikhianati dan merasakan sakitnya diselingkuhi, karena itu aku tidak ingin kau atau aku merasakan bagaimana rasanya sakit di khianati." terus saja beliau bersuara sambil memelukku dari belakang.


Sejujurnya aku perduli pada Beliau tapi rasa malu masih ada. Apalagi pokok bahasan yang menjadi topik adalah hal semacam ini. Canggung bagiku untuk diutarakan, berbeda dengan beliau yang selalu terbuka dalam urusan perasaan.


" Kau tahu apa yang paling berat dalam perceraian ?" tanya beliau tetap dengan memainkan pucuk - pucuk rambutku.


" Emmmmmm ? tanyaku balik bertanya tanpa mengucapkan kata. Seolah benar sedang mengantuk berat.


" Sulit percaya untuk hubungan baru, Ketika aku tahu dikhianati, aku juga berpandangan negatif dengan hubungan kita. Saat ini aku berusaha membuka hati dan berusaha percaya pada hubungan kita,"


" Butuh beberapa minggu untuk menahan dada yang sesak karena kecewa. Menahan amarah tak terkendali yang selalu ada di dalam hati," cerita Pak Satrio dengan semakin erat memelukku dan mencium puncak kepalaku.


" Bukankah kalau laki - laki dalam berhubungan lebih banyak pakai logika ?" tanyaku karena beranggapan selama ini laki - laki memakai logika daripada perasaan.

__ADS_1


" Omong kosong ! banyak yang lebih parah dari aku, ketika mereka mengalami kegagalan dalam hubungan percintaan, menjadi dingin acuh pada wanita, atau sebaliknya menjadi pemain," jawab Pak Satrio lugas.


" Baik laki - laki atau perempuan sama saja kalau sudah gagal dalam masalah percintaan hatinya akan patah bahkan hancur, kecuali kalau ada lain," urai beliau lagi.


" Contohnya mas ? " tanyaku langsung tanpa berpikir panjang.


" Kau memperolokku ? "


" Tidak hanya.........aaaahhhh saya ngantuk saya membutuhkan istirahat secepatnya karena besuk pagi kita harus berangkat pagi," elakku agar tidak memperpanjang pembahasan ini.


...........................


" Henry........," seruku terkejut ketika membuka pintu rumahku mendapati sosok Henry yang berdiri dengan membawa buah tangan.


" Mbak Arin kenapa masih ada disini ? Bukankah sudah balik ke ......... ( menyebut kota asal Pak Satrio. )" tanya Henry yang juga terkejut ketika aku yang membuka pintu untuknya.


" owh .......Pak Satrio tadi terburu - buru ke lahan, jadi pulangnya diundur." jawabku dengan mempersilahkan Henry masuk ke rumah.


" Bapak masih istirahat, beliau datang jam enam pagi, Jhoji masih tukar pakaian. Apa yang kau bawa ?"


" Sarapan pagi untuk kami, maaf Mbak Arin gak kehitung aku kira sudah pulang, " jawab Henry sambil mengeluarkan tiga nasi bungkus.


" Nasi apa ? Aku ingin, aku masih lapar ? wajahku langsung memelas mendengar Henry membawa nasi bungkus.


" Nasi pecel lauk dendeng sapi. Mau ? "


" Sangat mau," jawabku langsung membuka bungkusan tanpa perduli nasi tersebut milik siapa.


Henry tertawa lirih melihat tingkahku yang seperti seseorang kelaparan, kemudian berkata," Apa Mbak Arin sangat lapar dan belum sarapan ?"


" Tadi sudah sarapan roti bakar dan susu hangat, tapi masih lapar," jawabku memelas sambil memandang wajah Henry tanpa malu dan canggung. Henry tak berhenti menatapku yang sedang sarapan dengan lahapnya.

__ADS_1


" Apa mau tambah lagi ? Akan aku pesankan secara online ? "


" Iya......oh....maksudku tidak perlu aku sudah kenyang," jawabku


" Om Henry......," Sapa Jhoji datang langsung duduk diantara kami. " Aku tambah sate manis, Om tidak lupa kan ?" tanya Jhoji pada Henry.


Aku terbelalak kaget melihat keakraban mereka. Kenapa begitu dekat ? Oh ya kenapa Henry pagi - pagi Henry sudah datang membawa sarapan untuk bapak dan Jhoji ? Pertanyaan itu yang berkembang di pikiranku saat ini.


" Tidak.....tidak lupa. Om belikan lima. Dua untuk sarapan dan tiga untuk bekal makan siangmu," jawab Henry sambil menunjukkan bungkusan lain dalam plastik.


" Sejak kapan kalian akrab seperti om dan keponakan ? Sejak kapan kau sering kemari ? Apalagi membawa sarapan seperti ini ? " tanyaku keheranan.


" Sejak tante ke ( menyebut nama kota asal Pak Satrio ) untuk menemui Om Satrio. Om Henry pagi sudah kesini dan mengurus semuanya. Makan, uang sakuku, membersihkan rumah, Bahkan kemarin ada kostum basket baru, Om Henry yang membayar," jawab Jhoji panjang dan jelas tanpa merasa ada beban dihatinya.


Aku semakin terbelalak saja, dan sulit menelan makananku yang sudah ku kunyah dengan halus.


" Jhoji......Kenapa tidak minta tante ? Tante masih ada uang. Ada Om Satrio yang sudah menawarkan bantuan untuk Jhoji ! " seruku pada Jhoji.


" Maaf Tante.......Tapi aku takut dengan Om Satrio wajahnya selalu dingin dan tampak galak," jawab Jhoji pelan.


" Jangan marahi Jhoji Mbak, aku yang salah. " sela Henry yang ikut terlibat dalam perbincangan antara aku dan Jhoji.


" Apa sepeda gunung dan piano digital itu kamu yang belikan ?" tanyaku pada Henry dengan nada yang setengah tinggi.


" Mbak......aku beli dari uang tabunganku, mbak jangan salah sangka. Jhoji tidak memintanya, aku yang membelikan dengan suka rela," jawab Henry dengan sabar. Dia semakin menyamankan posisi duduknya dan bersandar di sandaran kursi ruang tamu. ( Di rumahku tidak ada sekat antara ruang tamu dan ruang makan. Diantara ruang makan dan ruang tamu ada televisi tabung yang di depannya di beri kasur lantai untuk menonton televisi. )


" Tapi..... itu berlebihan," ucapku pada Henry.


" Tante dan Om, Jhoji berangkat dulu. Silahkan dilanjut pertengkarannya. Maaf Jhoji gak bisa jadi wasit karena sudah setengah tujuh pagi waktunya Jhoji berangkat sekolah," pamit Jhoji dengan tersenyum dan mengerlingkan mata pada Henry. Aku membelalakkan mata semakin bulat pada Henry ketika Henry membalas kerlingan mata Jhoji.


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2