
Gerakan tangan yang mengelus rambutku dan mendaratkan ciuman bibir di keningku membuat aku terusik dari tidurku. Mataku sedikit berat untuk kubuka tapi terbelalak begitu aku sadar siapa yang melakukannya. Henry menyuguhkan senyuman termanisnya. Dia sudah duduk di pinggir ranjangku. Menghadapkan tubuhnya padaku dengan membungkukkan badannya agar dekat denganku. Aku ingin sekali menggeserkan badanku, tapi rasa sakit dan remuk yang melanda tubuh dan tulang ku begitu besar. Sulit bagiku untuk bergerak apalagi tangan Henry mengurungku di kanan dan kiri. Aku berusaha menutupi wajahku dengan bad cover tapi di tahan oleh tubuh Henry. Sebuah ciuman kembali dia berikan padaku begitu lembut menyapa bibirku. Aku menolak tubuh Henry dengan kedua tanganku. Tapi Henry juga yang harus sadar karena tidak berada di situasi yang dia inginkan. Akhirnya, mau tidak mau Henry menghentikan ciumannya.
" Bagaimana kamu bisa masuk ?" tanyaku heran.
" Tentu saja melalui pintu," Henry menegakkan badannya kembali tapi tetap duduk ditepi ranjang ku, dengan kaki di silangkan kearah dalam.
" Bapak sudah mengijinkan aku masuk dan merawat mbak Arin," jawabnya dengan menyeringai penuh kemenangan.
" Tentu saja boleh, bukan karena ingin tapi takut kamu pecat sebagai waker di gudang mu,"
" Ya kalau begitu, beliau tahu mencari kerja itu sulit"
" Kau......kau angkuh. Menggunakan kekuasaan mu untuk bisa masuk ke rumahku"
" Yaaaaah begitulah ternyata menggunakan kekuasaan ku untuk bisa masuk ke kamar mbak Arin, menyenangkan juga," Henry mengangkat satu alis kanannya kemudian mengangkat kedua bahunya seolah - olah menyatakan memang seharusnya begitu.
" itu tidak lucu.........Aaaaah," aku berusaha memukulnya dengan tanganku tapi rasa memar di dadaku, rasa sakitnya sampai ke lengan - lenganku membuat aku terhenti dan kembali menurunkannya.
" Kenapa......?"
" Sakit........."
" Yang mana ?"
" Tidak perlu tahu."
" Benar tidak boleh tahu ? Atau aku cari tahu sendiri ?"
" Jangan....... sudah cukup aku berdosa besar kemarin "
" Bukan kemarin, tepatnya dini hari tadi. Mana yang sakit ?".
Reflek aku menutupi dadaku, berharap dia tidak melakukan hal itu lagi padaku.
" Biarkan aku melihatnya"
__ADS_1
" Tidak......jangan"
"sssssstttttt," cepat Henry mengibaskan tanganku yang menghalanginya membuka baju tidurku.
" Apa sangat sakit ? Terlihat memar - memar. Apa tadi aku sangat kasar ?' Henry melihat bagian dadaku dengan sangat teliti. Tentu saja aku kebingungan dengan keadaan ini. Ibu......tolong aku, aku tidak ingin melakukan lagi. Sudah cukup yang kemarin.
Henry mengancingkan kembali baju tidurku. kemudian berdiri. Kemeja dan celana putihnya membuat dia begitu tampan dan gagah. Terus terang aku kagum dengan ketampanannya. Aku memandanginya tidak berkedip.
" Ya....... ya......aku tahu. Aku sangat tampan dan menyenangkan. Tapi jangan memandang seperti itu. Nanti aku lagi yang disalahkan.....Padahal mbak Arin yang memancing keadaan." Henry tersenyum.
Aku mengedip - ngedipkan mataku dan memalingkan wajahku tanpa berkata apa - apa karena sadar Henry tahu aku memandangi kagum padanya.
" Aku akan berkonsultasi ke dokter meminta obat dan resep untuk mbak Arin,"
" Jangan ke dokter Dandy, aku malu," gusar ku karena khawatir Henry bertanya pada Dokter Dandy.
Henry tidak menjawab. memberikan ciuman di keningku dan keluar dari kamar.
Beberapa saat Henry kembali datang dengan membawa salep dan kapsul untuk aku minum. Henry juga membawa beberapa kotak makanan cepat saji.
" Tentu saja menggunakan sedikit kekuasaanku dan kolega," jawab Henry memberikan sindiran halus karena tahu aku akan berkata seperti itu padanya.
Jujur, sebenarnya aku terharu dengan sikap dewasa Henry diusianya yang masih dua puluh dua tahun dia mengerti keadaan dan situasi yang dihadapi. Henry mengajak makan bapak dan Jhoji setelah menyuapiku dan membantuku minum obat.
Henry, pemuda yang biasanya aku lihat hanya berkutat dengan pekerjaan - pekerjaannya, ternyata seseorang yang sangat peduli. Henry yang aku tahu, tidak pernah ke dunia luar. dunianya hanya pekerjaan dan pekerjaan tapi juga memiliki jiwa pemberontak. Orang tuanya menginginkan dia mempelajari ilmu IPA seperti kedua kakaknya tapi dengan tegas dia menolak dan masuk IPS ketika SMA. Orang tuanya menginginkan dia masuk fakultas geografi menjadi seorang sarjana dengan keahlian kartografi. Sekali lagi dia menolak dan mengambil ekonomi bisnis. Dia juga menolak untuk melanjutkan study ke S2 dengan alasan lebih menantang dunia kerja daripada dunia perkuliahan.
Henry biasa dididik dengan mengutamakan ibadah. pendidikan dan kesehatan. Keluarganya memiliki toleransi yang sangat tinggi kepada kami karyawannya. Tapi kali ini, dia akan melakukan pemberontakan yang besar di keluarganya karena aku.
kejadian tadi pagi, tentu akan membuat keluarganya terpukul karena Henry juga dikenal rajin beribadah.
" Perlu aku bantu....?. Tampaknya mbak Arin sangat kesulitan sekali," Henry datang tiba - tiba tanpa mengetuk pintu langsung masuk begitu saja.
" Ketuk pintu sebelum masuk kamar orang," bentak ku pada Henry karena kaget.
Aku dalam keadaan yang seharusnya tidak boleh terlihat olehnya. Dia mengangkat bahunya dan berbalik arah menuju pintu. Mengetuk pintu tanpa keluar dari kamarku.
__ADS_1
" Sudah.....," dengan mimik melucu dia menghampiriku. Reflek aku menutup kembali bajuku. Begitu juga Henry dengan gerakan cepat dia mengambil tube di tanganku dan menuangkan sedikit salep anti septik ditangannya. Wajahnya biasa saja ketika mengolesi salep padaku.
" Selesai, Apa harus jadi suami istri kalau keadaanya darurat seperti ini ? Kalau begitu dokter menikah berapa kali kalau pasiennya perempuan ?"
" Itu memang pekerjaannya," kilahku dengan nada tinggi.
Henry membantuku berbaring dan menyelimutiku dengan bad cover.
" Besuk sebelum ke gudang aku ke sini dulu antar makanan,"
" Tidak perlu. Aku sudah minta tolong adikku memasak untuk besuk,"
" Aku tidak suka di bantah, Batalkan. Besuk aku bawakan sarapan pagi dan siang. Makan malam, aku antar setelah pulang kerja"
" I..... i........ iya baik," lagi - lagi aku tidak bisa melawan aura kepemimpinannya yang begitu kuat.
Bukankah seharusnya aku bisa melawannya. Henry lebih muda dariku tapi kenapa aku begitu patuh padanya.
Henry mendekat padaku dengan duduk di sisi ranjang menggenggam tanganku. "Kalau malaikat kecil itu harus ada biarkan saja. Jangan berbuat untuk menghilangkannya. aku sudah siap menjadi seorang ayah dan suami"
Aku terharu dengan kata - katanya sehingga tidak bisa berkata apa - apa, selain mengangguk. Henry mengusap air mataku dengan menggesekkan pipinya.
" Aku sungguh mencintai Mbak Arin, dari awal kita bertemu dua tahun lalu. Mungkin ini jalan kita dipertemukan dan disatukan,"
Kami berpelukan, air mataku jatuh. Benarkah laki - laki muda dan tampan ini mencintaiku ?
perasaanku bimbang.
" Bapak tidak menghalangi kalian untuk bersama, hanya khawatir saja. Nak Henry sangat jauh bagi keluarga kita," saran bapak ketika kami berdua saja di kamar. Henry sudah pulang dua jam yang lalu.
" Iyaa pak aku mengerti," jawabku sambil menunduk.
Benar kata bapak, aku terlalu tinggi menggapai. Sakitnya tidak tertahan bila nanti aku jatuh. Aku sudah jatuh satu kali dengan mas Ravi. Aku tidak ingin jatuh lagi untuk kedua kalinya dengan harapan - harapan palsu. Sudah cukup air mataku keluar untuk laki - laki. Aku ingin tersenyum, aku tidak ingin menangis lagi.
Aku teringat Dita ingin mengenalkan seorang laki - laki padaku. Aku mengambil ponselku dan mengirimkan pesan padanya kalau aku menerima perkenalannya. Dita langsung membalas pesan Wastappku dengan emoticon jempol, Bunga, dan cinta.
__ADS_1
bersambung..............