
Flash black
Ketika Aku SMP
Setiap hari kami, Mbak Ayunda, Mas Taufik, Aku dan adikku selalu tidur malam dan bangun sangat pagi membantu ibu membuat berbagai macam makanan untuk di jual. Banyak yang ibu jual, mulai pisang goreng, tahu isi, tahu bakso, Mei goreng dan nasi goreng, kami bahu membahu membuatnya. Masa kecil dan remajaku untuk bekerja membantu ekonomi keluargaku. Untuk kami makan, untuk kami sekolah dan untuk biaya hidup kami. Walau kami dari keluarga tidak mampu, ibu ingin anak - anak ibu tetap sekolah. Dagangan ibu, selalu kami antar ke warung atau kami titipkan ke kantin sekolah yang kami kenal. Tak terkecuali tempatku sekolah. Aku sekolah di SMP negeri di kotaku. Letaknya di dekat alun - alun kota. Jarak dari rumahku ke tempat sekolahku sekitar satu setengah kilometer. Aku dan saudara - saudaraku selalu jalan kaki ke tempat kami sekolah, hanya kakak pertamaku yang naik angkot karena jaraknya terlalu jauh.
Hari itu, hari dimana aku menangis sedih karena kue dan nasi bungkus yang aku bawa tidak ada yang laku sama sekali karena kami pulang lebih awal tanpa melalui istirahat. Hari itu, hari pertama Tian menyapaku.
Tian sebenarnya anak yang biasa saja tidak terlalu mencolok diantara yang lain. Dia bukan bintang kelas, dia bukan pemain basket yang disanjung, dia bukan pengurus OSIS yang jadi incaran cewek - cewek di sekolahku. Bahkan Tian yang selalu membuat onar. Aku ingat dua kali orang tua Tian dipanggil guru BK karena kelakuan Tian yang kelewatan. Mengemposi ban sepeda motor milik guru kami dan menendang bola sampai kaca di ruang guru pecah berantakan. Berbanding terbalik dengan Demian saudara kembarnya. Hanya saja teman - teman Tian dari kalangan tertentu saja. Dia tidak mau bergaul dengan kami anak dari kalangan biasa. Dia tidak mau menyapa kami yang bukan siapa - siapa di sekolah ini. Bukan dari kalangan atas, bukan dari bintang kelas, bukan yang memiliki wajah tampan dan cantik. Dan aku tidak memiliki semua kriteria diatas.
" Kau menangis ? " Sapa Tian yang tiba - tiba menghampiriku di depan kantin milik Bu Ahmad. Aku hanya menggeleng pelan karena menutupi wajahku dengan kedua tanganku.
" Hei..... kenapa kau menangis ? Bu Ahmad kenapa Arina menangis ? tanya Tian berteriak pada Bu Ahmad.
Aku menangis dan terkejut, ternyata anak yang bernama Dirgantara Sebastian, tahu juga namaku Arina. Aku kira selama ini dia tidak pernah perduli aku siapa dan kelas berapa ? Karena kami selama tiga tahun menjadi teman satu kelas dari kelas tujuh sampai kelas sembilan tidak pernah bertegur sapa.
" Oh mungkin karena jualannya tidak ada yang laku mas Dirga, Disini maupun di tempat Bu Maliki. Bukankah sekarang pulang pagi ? Jadi belum ada yang beli - beli," jawab Bu Ahmad.
" Ah gitu saja nangis aku kira kenapa ? " ucapnya ketus.
" Kalau tidak laku hari ini, aku tidak bisa bayar uang kas untuk besuk dan tidak bisa beli bahan untuk modal besuk," ucapku lirih. Aku membuka kedua tangan yang menutupi wajahku, membawa tas plastik berisi gorengan ibuku kemudian melangkah pergi meninggalkan Tian. Tian terdiam kemudian mengejarku.
" Hei......Arina sebentar. Sini aku beli semua," kata Tian sambil mengambil paksa kantong plastik yang aku bawa. Aku terperangah melihat Tian dia memberikan uang dua ratus ribu padaku.
" Dirga ini terlalu banyak."
" Ambil saja kembaliannya," jawab Dirga sambil berlalu.
__ADS_1
" Dirga........" seruku
Dirga menoleh
" Tian, panggil aku Tian. Aku lebih suka di panggil Tian," ucapnya sambil menyimbolkan tembak dengan tangannya dan mengerlingkan mata kirinya padaku.
"Iya.... Terima kasih banyak Tian," seruku pada Tian hari itu.
Setelah hari itu tidak ada yang istimewa, seperti biasa Tian tidak pernah menyapaku dan aku juga tidak berani menyapanya terlebih dahulu.
Pernah sekali, saat aku duduk sendiri dan Dirga lewat dengan teman - temannya. Dia menoleh ke arahku dengan mengerlingkan mata kiri dan kanannya secara bergantian. Itu interaksi kedua aku dengan Tian.
Diwaktu mendekati akhir ujian aku baru tahu ternyata Tian yang selalu membeli kue atau nasi bungkus yang aku bawa ketika tidak habis. Saat Tian membayar pada Bu Ahmad aku berada di belakangnya.
" Dirga........," panggilku
" Tian, panggil aku Tian."
Tian tidak menjawab langsung berlari sebelum memberikan kerlingan mata kanan dan kirinya padaku. Itu kali ketiga kami berkomunikasi.
Keempat kalinya kami berkomunikasi, ketika ada acara foto bersama selesai perpisahan. Aku foto dengan dua sahabatku. Novi dan Ika, Tian langsung menghampiriku dan berkata," Ikutan donk, numpang foto." Aku tidak menjawab karena kru yang mengambil foto sudah bersiap memfoto. Sampai sekarangpun aku lupa dimana foto itu aku simpan. Terakhir kali aku mendengar kabar tentang Tian, dia melanjutkan sekolah di kota asalnya. Aku juga tidak pernah bergabung dengan Watsapp group alumni SMP seangkatan denganku.
Selesai perpisahan kami bertukar kado. Entah bagaimana aku bertukar kado dengan Tian. Aku membuat bungkus pensil dengan rajutan yang aku buat sendiri. Berbentuk bulat sebagai pakaian pensil. Ketika aku membuka kado dari Tian ada agenda kecil dengan sampul foto Tian . Aku membuka agenda tersebut ada kata - kata untukku.
Arina......Besuk pasti kita ketemu kalau sudah jadi orang sukses.
Flash off.
__ADS_1
" Ya aku pernah mendengar kalau Om Satrio dan Tante Asri sempat bercerai tapi mereka rujuk kembali karena saling mencintai," ucap Tian ikut merasakan sedih yang aku rasakan.
" Arina.......apa sebaiknya kau harus bertanya lagi kejelasan hubungan mereka ? "
Aku menggeleng pelan dan berdiri lagi. Sekali lagi Tian menghalangi.
" Arina tanggal ........ saat kami mengadakan Family Gathering. Om Satrio masih hadir dengan tante Asri. Maaf aku tidak ingin membuatmu sakit hati. Tapi ketika permainan untuk pasangan dan mereka mendapatkan permainan. Mereka sangat mesra, bahkan saling berciuman. Ketika kami membesuk Tante Asri di rumah sakit, Om Satrio tetap mesra dengan Tante Asri. Menyuapi, membasuh tubuhnya untuk bertukar pakaian. ....."
" Tian cukup.......jangan kau teruskan," pintaku pada Tian dengan memotong cerita Tian.
Tapi dalam hatiku aku berpikir. Bukankah hari itu sebelum Mbak Asri kecelakaan ? Ketika Pak Satrio pulang malam dan ijin padaku mampir ke rumah Adrian dan Adry. Kemudian dini harinya Mbak Asri mengalami kecelakaan ? "
" Arina.......aku bercerita seperti ini karena kita pernah menjadi teman ketika SMP dulu."
" Tian......tapi kita bukan teman dekat. Kita bahkan tidak pernah bertegur sapa." jawabku sambil melangkah keluar dari ruangan milik Tian.
" Arina.....kau mau kemana ? "
" Pulang. Aku tidak percaya semua ceritamu. Mereka sudah bercerai, Pak Satrio tidak mungkin berbuat sekeji itu padaku."
Klik.........aku membuka pintu dan..............
Bersambung............
Yuk kita pelajari karakter tokoh Arina dalam novel Author.
Tokoh Arina yang Author gambarkan sebenarnya penderita penyakit Serangan Panik bahkan mungkin gangguan kecemasan dan juga menderita stress pasca trauma. Ada banyak yang menyebabkan Tokoh Arina menjadi seperti ini. Dari kecil tokoh Arina adalah korban bullying karena faktor ekonomi, tersisih dari lingkungan sosial baik di sekolah maupun di lingkungan rumahnya mengakibatkan dia menjadi pribadi yang insecure. Setelah dewasa ada beberapa trauma yang harus Arina alami secara bertubi - tubi. Mulai dari kehilangan ibu, seseorang yang Arina cintai. Ditinggal menikah oleh pacarnya Ravi. Sehingga rasa Trauma yang berlebihan hinggap dalam diri Arina. Menjadikan Arina seorang yang apatis dan mudah putus asa dalam segala hal. Tidak percaya pada hubungannya dengan Henry, sebelum diperjuangkan. Arina memilih zona aman lebih dahulu. Bahkan membiarkan tindakan - tindakan yang dilakukan suaminya ( yang mungkin menurut pembaca berlebihan ) karena rasa apatisnya. Tidak percaya pada hidupnya, masa depannya. Arina mulai bangkit ketika menyadari ada seseorang yang membuat dia merasa dibutuhkan, yaitu anak - anak Arina sendiri. Sikap suaminya yang sudah mulai berubah dan menunjukkan sangat mencintai Arina. Keinginan untuk hidup Arina mulai bangkit. Tanpa kita sadari ada banyak orang - orang seperti Arina bahkan mungkin kita sendiri. Tanpa bantuan dari lingkungan dan orang - orang terdekat kita. Selamanya kita tidak akan keluar dari lumpur yang bernama Trauma dan sikap apatis terhadap masa depan.
__ADS_1
Jika kita ulas lebih banyak sebenarnya ada banyak tokoh yang bisa dibahas dari sisi karakter dan sebab akibatnya dari sisi psikologis.
Mohon like, komentar dan dukungannya.