
" Sebaiknya mas temui Mbak Asri, bukankah mas sudah berjanji menemuinya ? Tidak baik melanggar janji," usulku pada Pak Satrio. Pak Satrio hanya mendiamkan saja sambil melihat HP tanpa menjawab.
" Kau ini bagaimana ? Suamimu mau bertemu perempuan lain malah kau ijinkan. Apa kau tidak cemburu ? ," Pak Satrio balik bertanya keheranan padaku.
,' Bukan mas.....bukankah mas sudah berjanji, itu saja tidak lebih,"
" Tapi aku berjanji ketika jadi suaminya, sekarang sudah cerai. Jadi aku tidak punya kewajiban lagi. Anak - anak ikut denganku, uang cerai sudah aku beri. Apalagi ? Dia mungkin berpikir aku masih bisa dipermainkan seperti kemarin - kemarin. "
" Bukankah mas berjanji akan makan siang bersama untuk perpisahan ?"
" Iyaa baiklah aku terima usulanmu. Aku akan temui dia, karena kau yang meminta bukan Mauku," jawab Pak Satrio, sambil melihat pesan Wastapp dari Mbak Asri dan membalasnya.
( ya tunggu sebentar, aku jalan )
" Ayoo .....," ajak Pak Satrio menarik tanganku untuk berdiri.
" Saya disini mas, tidak ikut,"
" Ya sudah tidak jadi.....," Pak Satrio kembali duduk di sampingku.
" Kenapa ?"
" Aku tidak ingin ada masalah lagi denganmu karena Asri," jawab beliau sambil menatapku tajam.
" Tapi......aku ingin bersama Tangguh dan Thavisa,"
" Bukankah kita menginap disini, setelah ketemu Asri kita ke sini lagi,"
" Ayolah.....biar cepat usang masalahnya. Aku lelah berkaitan dengan dia,"
Pak Satrio mendekati Bu Elly yang tetap menggendong Thavisa walaupun Thavisa tertidur lelap.
__ADS_1
Ingin rasanya aku menegur Bu Elly agar tidak memanjakan Thavisa yang selalu beliau gendong terus. Tangguh terbiasa mandiri, terus terang aku jarang menggendong Tangguh setiap harinya, selain karena aku hamil, aku juga tidak ingin memanjakan Tangguh. Jika ingin tidur aku hanya memeluk dan memberikan pijatan - pijatan lembut. Aku juga menginginkan Thavisa seperti Tangguh, tidak terlalu sering di gendong.
Usia Bu Elly yang sudah berada di penghujung enam puluhan masih terlihat sehat dan bugar. Aku juga baru tahu jarak usia Pak Satrio dan Bu Elly terpaut enam belas tahun. Bu Elly menikah muda dan selisih dua tahun lebih muda dari Pak Hardian.
" Ma, Saya dan Dik Arin keluar sebentar ada kepentingan," Pamit Pak Satrio pada Bu Elly.
" Bukankah kalian akan menginap disini ? Bik Ipa sudah menyiapkan kamar kalian. "
" Sebentar ma....hanya menemui Asri. Sedari tadi, dia terus saja menggangguku dengan menelepon karena aku sudah berjanji akan menemuinya,"
" Itu karena kau mudah untuk diganggu dan kau tidak tegas pada Asri," sahut Bu Elly dingin dan ketus pada Pak Satrio.
" Saya sudah mengabaikan, tidak mau tahu. Tapi Dik Arin mengijinkan untuk bertemu,"
" Perempuan macam apa istrimu itu ? mendorong suaminya ke perempuan lain," gerutu Bu Elly, netra beliau mengarah padaku. Aku memalingkan pandangan dengan menunduk daripada harus bertatapan pandangan dengan Bu Elly.
Pak Satrio meraih tanganku untuk di genggam dan melangkah keluar rumah. Aku berpamitan dan setengah membungkukkan badan tanda permisi ijin lewat di depan Bu Elly. Beliau hanya mengangguk pelan. Aku menghela nafas panjang setelah berhasil lewat didepan beliau, mungkin melebihi takut ketika bertemu dengan pelajaran matematika ketika aku SD dulu.
Cafe yang dimaksud Mbak Asri adalah cafe bernuansa klasik Eropa. Terlihat sangat mewah, Aku memandang diriku sendiri.
" Kau sudah cantik dengan baju itu," sahut Pak Satrio menyemangati.
Kami, aku dan Pak Satrio melangkah bersamaan. Pak Satrio menuntunku untuk mengaitkan tanganku di lengan beliau. Mbak Asri melambaikan tangan ketika melihat kami. Wajahnya yang semula ceria berganti meredup ketika melihat aku berada di samping Pak Satrio.
Mbak Asri tampak cantik dengan bodycon dress berwarna merah maron yang membungkusnya dengan ketat sehingga lekuk - lekuk tubuhnya terlihat jelas. Rambutnya panjang dibiarkan tergerai indah. Kaca mata berwarna coklat menambah kesan glamor pada dirinya. Hatiku langsung menciut melihatnya yang berbanding terbalik denganku. Saat ini, tubuhku tak beraturan karena habis melahirkan dan belum kembali normal, masih banyak lemak disana sini. Rasanya aku ingin kabur melihat Mbak Asri yang bagaikan siang dan malam denganku.
Pak Satrio menarik satu kursi untukku agar aku bisa duduk berhadapan dengan Mbak Asri, setelahnya beliau juga duduk berhadapan dengan kursi kosong.
," Kenapa mas mengajak dia, bukankah ini untuk kita berdua saja,"
" Maaf Asri, aku lebih suka seperti ini ketika bertemu denganmu. Agar istriku tidak salah paham pada kita," Jawaban dingin Pak Satrio pada Mbak Asri membuat aku kaget. Tidak menerka saja, kisah cinta mereka harus berakhir dengan perceraian dan saling membenci. Sungguh di luar skenarioku selama ini.
__ADS_1
" Bukankah mas tahu, dia pelakor bagiku," jawab Mbak Asri ketus pada Pak Satrio. Aku terbelalak mendengar ucapan Mbak Asri yang mengatakan aku pelakor baginya.
Pelakor.....? bukankah Mbak Asri yang tetap menjadi duri di pernikahanku dengan Pak Satrio ? . Ingin rasanya aku katakan semua itu pada Mbak Asri tapi aku hanya tersenyum
Flash black.
" Aku ingin, kau menemaniku bertemu dengan Asri, aku sungguh tidak ingin membuat kesalahan yang sama. Aku ingin terlepas dari dia dan semua tipu dayanya," gerutu Pak Satrio. Beliau memandang padaku sekilas kemudian kembali fokus pada kemudi.
," Apa mas Satrio masih mencintai Mbak Asri ? "
" bohong apa jujur ? " Pak Satrio berbalik tanya padaku.
Aku menoleh pada beliau yang sedang tersenyum padaku karena aku bingung dengan pertanyaan beliau. Aku mengerutkan kening tanda aku tidak mengerti maksud kalimat beliau
" Kami sudah lama bersama, mulai hubungan kami ditentang oleh mama sampai mama merestui kami, mempunyai Adrian dan Adry. Dia seorang wanita yang sangat aku cintai, Sampai suatu hari mama memintaku untuk menceraikannya karena Dia berkali - kali selingkuh di belakangku. Aku masih tetap mencintainya karena aku tidak melihatnya sendiri. Aku terpaksa menceraikan Asri karena mama sakit, beliau tidak mau makan dan minum obat kalau aku tidak menceraikan Asri. ," Netra Pak Satrio berkilat karena menahan Air mata. Cerita beliau terhenti sejenak karena ada panggilan telepon dari mitra kerja beliau.
" Untuk melupakan Asri, terus terang aku belum mampu, tapi rasa cintaku pada Asri sudah tertutupi oleh rasa sakit hatiku, rasa kecewaku padanya. Aku sangat setia padanya, karena aku anggap sebuah pernikahan itu sakral. Aku tidak pernah main perempuan walau di sekitarku banyak yang seperti itu, karena aku menganggap itu kunci kehancuran. Sampai suatu hari aku melihat sendiri, dia tidur dengan kaki - laki lain di kamar dan ranjang kami," suara Pak Satrio bergetar. Suara beliau pilu mengiris. Dada beliau naik turun menahan amarah dan sesak yang mendera.
" Kau tidak ingat itu rumah peninggalan mama dan papa yang dibangun dengan susah payah, sudah aku hancurkan. Aku merombak semua barang yang ada di kamar termasuk semua kunci pintu yang ada di rumah, karena Asri memiliki semua. Apalagi setelah dia membobol brankas, aku semakin sadar yang dia butuhkan dariku hanya uang untuk bersenang-senang dengan kekasihnya. "
" Aku terkadang tidak habis berpikir, dia perempuan bagaimana bisa, tidak bisa hidup hanya dengan satu kaki - laki ? " Pak Satrio memukul kecil kemudi mobil.
" Yang aku minta darimu, saat kita bertemu dengan Asri. Diam saja kalau dia memancing emosimu. Aku sudah hafal sifatnya, dia pasti ingin kau terpancing dan membuat kita bertengkar. "
" Aku tahu, aku terlambat untuk memulainya lagi, tapi tidak ada salahnya bukan ? Aku ingin memulai segalanya dari awal denganmu, membina rumah tangga sesuai harapanku." tangan kiri Pak Satrio meraih tanganku. Menggenggam dan mencium berkali - kali.
" Kita lupakan masa lalu, Kita membuka dan menulis di buku baru yang lebih cantik dari buku sebelumnya. "
Aku benar-benar terharu dengan ucapan Pak Satrio. Mudah-mudahan ini bukan hanya janji yang beliau berikan, tapi benar - benar ingin memulai semuanya kembali dari awal. "
" Berjanjilah......kau akan mengendalikan emosimu. Aku yakin dia akan bercerita masa lalu kami padamu, entah kapan. Bisa juga hari ini atau hari lain. Tapi aku yakin, dia pasti melakukannya untuk mengacaukan hubungan kita."
__ADS_1
" Iya.....mas," suaraku lirih menjawab. Jantungku semakin kencang ketika mobil memasuki area parkir cafe ini. Apa yang akan Mbak Asri ceritakan padaku ?
Flash off