Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Bab 111


__ADS_3

Bu Elly menyiapkan menu makanan yang akan aku bawa untuk Pak Satrio. Sementara aku bermain dengan Tangguh dan Thavisa.


" Pagi Oma Elly....." suara familiar terdengar menyapa Bu Elly.


" Tian ! cucu Oma," sapa Bu Elly berjalan ke arah pintu menyambut Tian yang datang langsung masuk ke ruang keluarga dari arah taman.


" Hai Arina....... ," sapanya padaku dengan tersenyum manis. " Hai sayang...." sapanya lagi pada Tangguh dan Thavisa yang berada dalam pangkuan Mbak Puji.


" Kalian saling kenal ? " Bu Elly bertanya seperti keheranan.


" Iya Oma kebetulan dulu teman SMP," jawab Tian dengan tetap memandangku yang sedang bermain dengan Tangguh dan Thavisa.


" Apa kau juga tahu kalau Arin istri Satrio ? "


" Iya Oma, Tian baru tahu kemarin. "


" Kau sudah lama tidak ke sini. Ada satu tahun ? " tanya Bu Elly.


Tian menganggat bahunya dan berkata," mungkin lebih Oma, Tian sibuk. " Jawab Tian


" Mama, tidak bisa ke sini. Mama mau pesan batik lima belas helai buat acara arisan." kata Tian pada Bu Elly.


" Tumben biasanya juga pesannya lewat telepon," timpal Bu Elly. Kemasan kotak makan yang beliau siapkan sudah selesai. Bu Elly berjalan ke ruang keluarga dengan membawa kotak makan untuk Pak Satrio.


" Mau kirim makanan buat Om Satrio ? " tanya Tian pada Bu Elly.


" Iya tadi Om Satrio meminta Arin untuk mengantarnya. Dia tidak bisa pulang untuk makan siang.


" Oma ambilkan katalog untuk kain batiknya atau kau memilih yang sudah tersedia ? " tanya Bu Elly pada Tian.


*. *. *.


" Om Satrio produktif juga ya buat anak tiap tahun ada terus," canda Tian sambil tersenyum padaku.


Aku hanya diam dengan candaan Tian. Suasana yang menurutku agak canggung berdua saja dengan Tian di mobil ini membuat aku semakin merasa tak nyaman dengan candaan Tian.


" Aku tidak menyangka seleramu Om - Om. Suami orang lagi," ucap Tian kali ini dengan nada serius dan tatapan mata tetap mengarah ke depan.


" Tian, sudah aku jelaskan aku tidak merebut Pak Satrio dari siapapun."


" Aku kasian padamu Arina, apa kau yakin mereka benar-benar bercerai walau sudah mendapatkan akta cerai ? "


" Tian, aku melihat sendiri surat cerai mereka," jawabku kesal.


" Aku tetap kasihan padamu Arina, kau menikahi lelaki yang salah. Om Satrio tak kan pernah bisa lepas dari Tante Asri,"

__ADS_1


" Tian.......,"


" Aku akui Om Satrio tipe lelaki setia bukan hanya setia, tapi mau diperbudak oleh wanita yang dicintainya. Apa Om Satrio juga seperti itu padamu ? tanya Tian.


Sebuah pertanyaan yang mampu memporak porandakan pikiranku yang percaya sepenuhnya pada Pak Satrio. Sampai di detik ini Pak Satrio masih sibuk dengan apapun yang berkaitan dengan Mbak Asri. Apa benar yang dikatakan Tian ? Tidak ......tidak mungkin ? Pak Satrio sudah berjanji padaku akan menjaga rumah tangga kami. Aku menghela nafas mencoba mengabaikan apa yang dikatakan Tian Padaku.


" Tian tolong, jangan menceritakan yang buruk tentang suamiku. Aku yakin Pak Satrio baik padaku dan anak - anakku.


Beberapa menit yang lalu sebelum naik mobil Tian.


" Rin....bukankah lebih baik kau ikut Tian saja daripada menunggu jemputan Pak Sumadi ! Bukankah kalian satu tujuan ? " tanya Bu Elly padaku.


" Oh....iya Oma saya bersedia mengantar Arina. Kami memang satu tujuan. Oma jangan khawatir Tian akan jaga Arina. "


Dan sekarang kembali aku mengalami perdebatan dengan Tian dengan topik Pak Satrio dan Mbak Asri.


" Arina, dulu aku menaruh simpati padamu karena kau berjuang untuk ekonomi keluargamu. Sekarang kita bertemu lagi kau berjuang untuk rumah tanggamu. Arina, aku tidak bermaksud apa - apa. Aku tulus sebagai seorang yang simpati padamu, selayaknya sahabat padamu. Maaf jika perkataanku kasar padamu, yah beginilah aku." ucap Tian panjang dengan penjelasannya.


"Tian........"


" Iya.........Kau menangis ? "


" Bagaimana jika semua yang kau katakan benar ? Apa yang akan terjadi padaku dan anak - anakku ? Semua hidupku tergantung pada Pak Satrio. Keluargaku sangat senang aku menikah dan berkeluarga dengan beliau. Setidaknya aku mengangkat derajat keluargaku. Secara ekonomi..........Aku tidak bekerja, bagaimana aku menghidupi diriku sendiri dan anak - anakku. Satu - satunya jalanku adalah bertahan dengan Pak Satrio. " air mataku tercurah dengan bebasnya seperti air terjun yang deras karena terisi penuh dengan tampungan air hujan


" Arina......maaf kalau aku membuatmu menangis. "


" Arina.....aku seorang yang suka berganti pasangan. Tapi aku kasihan ketika melihatmu diperlakukan seperti ini. Apa karena aku mengenalmu sejak kau berjalan dengan dua tas plastik besar penuh dengan daganganmu ?"


Aku tersenyum tipis mendengar pengakuan Tian. Ya aku tahu sosok Tian, dari dulu memang suka menolong pada siapapun. Perempuan pasti akan salah sangka Tian punya perhatian khusus padanya jika Tian menolongnya. Karena perhatian dan apa yang dilakukan Tian melebihi dari pacar. Dulu aku mendengar Tian seperti itu, walau bukan dari kalangan kami yang mendapat pertolongan Tian. Mungkin hanya aku dari kalangan kelas bawah yang kebetulan mendapat perhatian dan pertolongan Tian.


" Tian......,"


" Iya Arina......aku mendengarmu,"


" Aku benar-benar bergantung pada Pak Satrio. Jika aku lari dari Pak Satrio, apa ada yang bisa menerima aku bekerja ? Dari mana aku menghidupi anak - anakku ? Aku tidak ingin lari sendiri. Aku tidak punya rumah sebagai tujuanku. Rumah yang aku tepati sudah di beli Pak Satrio dan hanya hibah padaku. Jika aku lari atau mengajukan cerai pada Pak Satrio hak hibah padaku akan dibatalkan. "


" Arina.....ah kenapa kau berhenti bekerja ?


" Sekarang yang bisa aku lakukan. Aku berharap semua yang dikatakan Pak Satrio benar, Beliau ingin memulai dari awal denganku membina rumah tangga denganku."


" Aku hanya ingin percaya pada Pak Satrio saja. Aku yakin Pak Satrio tidak tega menyakiti aku dan anak - anakku. " harapku lirih kuutarakan pada Tian.


Tian hanya memandangiku tak mampu berkata apa - apa. Matanya bergerak - gerak lincah seolah ingin berteriak tapi tertahan.


" Arina.....aku.....ah.....aku....bagaimana aku jelaskan padamu. " kata Tian bingung dan seperti salah tingkah padaku.

__ADS_1


" Tian......,"


" Arina.....aku dengan gadis yang aku kencani, aku anggap barter yang saling menguntungkan. Mereka membutuhkan aku sebagai jalan mencapai apa yang mereka inginkan, membeli tas branded, baju bermerk dan aku membutuhkan mereka untuk kesenanganku. Ketika aku merasa bosan ya sudah..... selesai, bukankah kami sudah sama - sama diuntungkan. Kau bisa berpikiran seperti itu jika kau mau,"


" Tapi Tian aku tidak membutuhkan tas Branded dan baju bermerk ? "


" Ampun..... ( Tian menghela nafas kasar ) ya itu hanya kiasan Arina. Kau bisa meminta apa saja dari Om Satrio."


" Iya aku sudah melakukannya,"


" Bagus....kau minta apa ? "


" Tadi aku minta beli kolak ronde, kemarin minta lodeh rebung. Pak Satrio membelikan walau kesusahan membelinya.


" Arinaaaaaaaaaa meminta yang lebih dari itu......," pekik Tian sambil menggelengkan kepala.


" Aku meminta makanan yang banyak ? "


" Bukan ! Uang belanjamu berapa satu bulan ? "


Aku menggeleng, iya aku baru ingat Pak Satrio tidak pernah memberi aku uang belanja atau memberiku uang pegangan untuk jajan. Kalau aku ingin aku hanya meminta pada Pak Satrio. Bahkan yang kemarin aku menyuruh Pak Sapto membeli nasi pecel aku meminta uang dari Bu Elly.


" Kau tidak diberi uang belanja ? "tanya Tian memaksa.


" Tidak.....,"


" Minta ! Nanti kau antar bekal makan siang ini sambil minta uang belanja pada Om Satrio ! "


" Bagaimana bilangnya Tian.....aku tidak enak dan malu ?


" Arinaaaaaaaa ...........Kau rayu kalau perlu kau beri ciuman bahkan lebih juga bisa, kau ajak bercinta Om Satrio. Disela - sela bercinta kau bilang, kau butuh uang belanja tiap bulan," jawab Tian tanpa beban dan tanpa sadar lawan bicaranya perempuan.


" Aku melakukan itu......? Kau pikir aku wanita murahan ? " jawabku tidak terima usul Tian.


" Wanita murahan bagaimana ? Kau melakukan dengan suamimu. Kau mau keduluan Tante Asri yang meminta uang bulanan ? "


" Ta.....ta......tapi Tian bagaimana kalau aku tidak bisa melakukannya ? Aku tidak pernah memulai ....... Tian aku malu padamu,"


" Itu usahamu ! " perintah Tian dengan meninggikan suara.


Mobil Tian masuk di area parkir gedung ini. Perasaanku semakin tidak karuan dan jantungku berdegup kencang.


" Jangan panik....lakukan apa yang aku sarankan tadi, semua tergantung usahamu. Laki - laki seperti Om Satrio itu akan tunduk dengan wanita yang bisa menguasainya dalam hal......kau tahu sendiri," ucap Tian tidak melanjutkan penjelasannya.


Bersambung.............

__ADS_1


__ADS_2