
Flash black
Beberapa hari yang lalu aku berbincang dan berdiskusi dengan Bu Elly di belakang rumah, saat Bu Elly mengajariku membatik.
" Nak Arin.........Tolong pikirkan ! Jika kau tetap disana dan suamimu disini. Itu sama saja memberi peluang pada Asri atau perempuan - perempuan lain untuk bisa singgah dan berdiam di hati Satrio suamimu."
" Kalau ku beralasan karena tidak terbiasa berdiam diri, Mama sudah menyediakan usaha untukmu. Kau bisa meneruskan usaha mama dengan " Griya Batik " yang mama kelola."
" Berpikirlah sebaik mungkin. Tangguh dan Thavisa akan lebih berbahagia jika orang tua mereka berkumpul dan berbagi kasih sayang dengan mereka. Jangan kau egois untuk urusanmu sendiri dan lupa dengan masa depan anak - anakmu. "
" Iya ma Arin pertimbangkan usul mama. " jawabku.
" Besuk harus sudah ada jawaban untuk mama, ini demi masa depan rumah tangga kalian dan anak - anak kalian," tegas Bu Elly padaku.
Setelah mengalami pergolakan hati, berdebat dengan hati dan keinginanku sendiri. Aku memutuskan untuk berhenti bekerja dan ikut Pak Satrio disini, di kota ini. Ditempat kerja aku juga merasa tidak nyaman karena akan bertemu Henry setiap hari. Tentu akan membuat aku sulit melupakan apa yang terjadi diantara kami. Keputusanku sudah final, aku akan mengikuti Pak Satrio. Aku menelepon keluargaku untuk menyampaikan keputusanku ikut Pak Satrio. Mereka menyerahkan semua keputusan padaku karena aku yang menjalani semua. Kami bertiga menangis bersama tidak menyangka saja, pada akhirnya aku harus pindah keluar kota mengikuti suami.
Flash off
" Sebaiknya bapak juga berhenti dari pekerjaan, sudah saatnya bapak istirahat menikmati masa senja dengan bersenda gurau saja dengan cucu - cucu bapak." usul Pak Satrio pada bapak saat kami sarapan bersama.
Bapak hanya berdiam seakan berpikir tentang usulan yang diberikan Pak Satrio untuk beliau. Sementara Jhoji mendengarkan pembicaraan kami.
" Bapak tidak perlu risau, untuk bulanan saya akan kirim. Bukankah saya akan sering kemari ? Bisa juga Dik Arin ikut ketika saya ada pekerjaan di ......( menyebut kota asalku )." saran Pak Satrio.
Aku dan bapak sama kagetnya mendengar ucapan Pak Satrio. Bahkan Pak Satrio tidak pernah membahas masalah ini lebih dulu padaku.
" Apa kau mau ikut Tante dan Om pindah ke .........( menyebut nama kota tempat tinggal Pak Satrio. ) " tanya Pak Satrio pada Jhoji keponakanku.
" Tidak Om, Jhoji di sini saja menemani Mbah Kung. Jhoji sekarang sudah besar, sudah kelas delapan jadi bisa jaga Mbah Kung," jawab Jhoji tegas.
Aku tersenyum bangga pada Jhoji keponakanku. Tidak terasa sekarang dia sudah tumbuh menjadi pemuda tanggung yang tampan dan tinggi.
__ADS_1
" Rumah Om dan Tante akan selalu terbuka untukmu, jika kau berkeinginan melanjutkan study di sana," ucap Pak Satrio pada Jhoji dengan lembut.
" Kau jangan khawatir meskipun tantemu tidak lagi bekerja Om yang akan membiayai sekolahmu. Jangan malu untuk minta uang saku sama Om Satrio," sambung Pak Satrio lagi.
" Iya Om terima kasih banyak," jawab Jhoji sambil terus menyantap makanan yang dibuat oleh Pak Satrio.
" Kita perlu seseorang untuk membantu bapak setiap hari, seperti membersihkan rumah, memasak dan lainnya. Apa kau punya pandangan untuk itu ? " tanya Pak Satrio padaku.
" Tidak usah mas, ada Arsita yang setiap hari kemari menengok bapak," jawabku keheranan. Apa yang sedang Pak Satrio pikirkan sampai hal yang terkecil di rumah ini beliau persiapkan dengan baik.
" Tidak nyaman nyonya......itu sangat membebani dik Asrita," jawab Pak Satrio
" Iya baiklah nanti aku hubungi Dik Arsita untuk mencari orang yang mau membantu di rumah ini," jawabku pendek.
...................
" Kau benar - benar tidak ingin aku temani ke kantormu untuk memberikan surat pengunduran dirimu ?" tanya Pak Satrio ketika berhenti di area parkir toko Henry.
" Iya baiklah yang penting bukan minta antar mantan pacarmu," jawab Pak Satrio tegang sambil memandangku.
" Apa karena kau akan mengantarkan surat padanya, aku tak boleh ikut ? Apa ada acara semacam.......( diam dan berpikir sejenak ) bercumbu untuk perpisahan ? " tanya Pak Satrio dengan suara parau dan tetap memandangku.
" Apa ada wanita yang sedang hamil bercumbu dengan pria lain ? " tanya ku kesal
" Jadi kalau kau tak hamil, benar - benar akan melakukannya ?" tanya Pak Satrio tegang dengan suara rendahnya yang menggema.
" Jika kau lakukan itu, aku akan membuat kau menyesal seumur hidupmu," ancam Pak Satrio padaku.
Pak Satrio seakan tidak perduli kami diarea parkir tempat orang berlalu lalang untuk melintas parkir atau keluar dari area parkir ini. Tubuh Pak Satrio sudah sigap ke arahku. Tangannya mengepal menarik kerah bajuku.
" Sudah aku katakan, jangan sekali - kali berkhianat padaku walau hanya untuk berkelakar," ucap Pak Satrio dengan melepas kembali cengkraman di kerah bajuku.
__ADS_1
" Saya tidak pernah berkhianat seperti dugaan anda, bapak. Saya tahu membatasi diri dan dia juga menghormati saya, karena saya sudah menikah dengan anda," jawabku ketus pada Pak Satrio.
Darahku seperti langsung mendidih ketika Pak Satrio tidak percaya ketulusan dan kesetiaan yang aku berikan pada beliau. Compang camping, dan jatuh bangun aku berpacu dengan rasaku sendiri tapi tidak mendapat tanggapan yang baik dari beliau. Yang ada hanya terkaan - terkaan negatif dari sudut pandang beliau saja padaku. Sungguh pengorbanan yang sia - sia bagiku.
" Aku percaya padamu dalam segala hal, kecuali yang satu ini. Kau tidak pernah bisa setia padaku, seperti yang sudah berlaku di hari itu. Kau tidak pernah tahu bagaimana perasaanku melewati malam dengan membayangkan kau bercumbu dengan dia, sementara Tangguh dan Thavisa menangis mengharap kehadiranmu." Urai Pak Satrio dengan netra yang berkilat - kilat memandang padaku.
" Bagaimana dengan mas sendiri ? Mas juga melakukannya dibelakangku dengan Mbak Asri ?" tanyaku bergetar dengan suaraku yang terbata - bata.
" Kami suami istri bukan hubungan tanpa status sepertimu," jawab Pak Satrio dingin dan tegang.
" Tidak terjadi apa - apa antara saya dan dia malam itu. Terserah kalau anda tidak percaya pada saya, dengan cara apalagi harus saya yakinkan anda, bapak ! seruku berujar pada Pak Satrio
" Aaaahh.....aku selalu membayangkan bagian - bagian mana yang dia kuasai sehingga mampu membawamu diatas ranjangnya," kata - kata Pak Satrio semakin membuat aku sakit hati, seperti sebuah hinaan yang berkepanjangan dan cercaan yang lebih mengarah pada tuduhan.
" Kalau saya tidak mengijinkan mas ikut akan membuat mas tidak percaya pada saya, baiklah mas bisa turun dan antarkan sendiri surat ini tanpa saya."
" Ya.......aku memang tidak percaya padamu, aku cemburu padamu ! " ucap Pak Satrio dengan tegang. Dengan cepat jok kursi mobil yang aku duduki di modekan untuk rebahan, kemudian Pak Satrio mendaratkan bibirnya diatas bibirku. Tidak perduli kami berada di mana, seperti hilang kesadaran memaksaku untuk menerima perlakuannya. Beberapa saat Pak Satrio mengangkat wajah tegang dan dingin, nafasnya memburu tak beraturan.
" Kau.....kenapa tidak menyambutku ? Kenapa menolak ?" suara tanya dengan parau ditujukan padaku.
Aku berpaling dari pandangan Pak Satrio, " Kita di area parkir mas," ucapku lirih.
" Aku tidak perduli, kita suami istri." bentaknya keras sambil menyisir rambutnya kebelakang dengan jari jari tangannya sendiri.
" Aaaaaaah........ Kenapa aku sangat tidak berlogika ketika berhadapan denganmu," gerutu Pak Satrio memperbaiki posisi dudukku dan merapikan baju milikku kemudian merapikan milik Pak Satrio sendiri.
" Turunlah.....aku tunggu disini ! " perintah Pak Satrio dengan datar dan mencium keningku.
Bersambung................
Like dan komentar adalah hadiah yang indah dari pembaca untuk Author. Terima kasih sudah membaca novel Author.
__ADS_1