
Hari ini, hari ketiga aku dirumah sakit. Menurut dokter yang merawat ibu. Ibu harus operasi karena sudah tidak bisa dengan jalan dirawat. Esofagus ibu sudah tidak bisa bekerja dengan optimal. Sehingga makanan yang diterima ibu tidak bisa sampai ke lambung. Kami hanya bisa pasrah dan menuruti perintah dokter. Kami yakin dokter mempunyai analis cara yang terbaik untuk para pasiennya. Tetapi jika melihat ibuku sekarang, sepertinya sudah sehat. Bisa tertawa dan seperti orang yang tidak sakit apa- apa. Kalau soal makan masih tetap, Ibu tidak bisa makan sama sekali hanya berupa bubur halus dan yugort saja.
Diaat - saat seperti ini, aku juga tidak tahu apa yang membawa bapak ingat pada kami. Ingat pada ibuku ? Wanita yang telah dinikahinya lebih dari tiga puluh depan tahun. Beliau datang mendampingi ibu selama dirumah sakit. Jika aku melihat beliau, ayahku. Aku juga kasian wajahnya yang sudah menua terlihat jelas dengan keriput - keriput di wajahnya. Beliau juga terlihat kurang begitu sehat. Aku ingin memeluknya tapi ada rasa keegoan yang tinggi. Seakan ingin kukuh agar aku tidak bergerak memeluk beliau, ayahku.
Ibu tersenyum pada bapak, demikian juga bapak. Mereka saling memandang satu sama lain. Aku hanya melihat beliau berdua dengan perasaan haru. Pada akhirnya aku yang memilih keluar ruangan membiarkan orang tuaku saling berbicara tanpa ada siapapun, hanya mereka berdua. Saling melepaskan cerita yang selama ini mereka pendam, saling memaafkan, saling menuntaskan permasalahan mereka. Terdengar Isak tangis dari ibu. Aku menengadahkan wajahku berharap tidak ada air mata yang jatuh tapi ternyata salah, air mataku jatuh. Ada rasa benci yang mendalam seandainya ibu menikah dengan laki - laki yang baik, laki - laki yang mencintai ibu, laki - laki yang bertanggung jawab penuh pada ibu. Mungkin ibu akan hidup bahagia.
Aku menghela nafas panjang. Berharap kelak jika aku berumah tangga, kehidupanku jauh lebih baik. Aku tidak ingin mengalami apa yang sudah dialami oleh ibu dan kakak perempuanku. Selama pernikahan mereka tidak pernah bahagia. Tidak pernah merasakan sesungguhnya tentang sebuah pernikahan.
Pagi ini ibu bangun dengan wajah yang sangat manis. Beliau tersenyum dan bertanya, " Rin, adikmu mana ? "
" Belum datang bu, mungkin sebentar lagi," jawabku pelan
" kamu sudah sarapan ?" tanya beliau lagi padaku.
"Sudah Bu. Barusan Henry mengantar sarapanku dan bapak," jawabku dengan menatap ibu dengan lembut.
"Rin..............bu kepingin makan sama ikan lele,"
tiba - tiba ibu mengejutkan aku dengan permintaannya yang menurutku sedikit tidak masuk akal karena keadaan ibu.
Aku berusaha menenangkan ibu dengan permintaan aneh beliau. " Ibu.....Tapikan ibu tidak bisa makan makanan yang bertekstur kasar ? Nanti kalau sudah sembuh, Arin belikan ya. Sekarang ditahan dulu,"
" Tapi......ibu kepingin Rin, nanti belikan ya," rajuk ibuku lagi.
__ADS_1
Aku berpura - pura menyetujuinya dengan menganggukkan kepalaku. Didalam hati, aku hanya berfikir bagaimana ibu bisa makan ? Selama ini ibu makan bubur dan yugort saja. Aku tidak merespon permintaan ibu dan berusaha mengabaikannya. Sebenarnya bisa saja aku langsung membeli di kantin rumah sakit atau lewat gofood. Aku takut berakibat fatal, jadi aku hanya berpura - pura saja mengiyakan permintaan ibuku.
" Assalamualaikum.......," adik dan kakakku memberi salam ketika memasuki ruangan rawat ibu.
" Waalaikumsalam," jawabku dan ibu yang juga bersamaan.
ibu memandang sayup pada kakak dan adikku serta memberi isyarat pada adik dan kakakku untuk mendekat. Dengan langkah perlahan adik dan kakakku segera mendekat pada ibuku mencondongkan wajah mereka pada ibuku yang tengah berbaring.
" Kamu kok datang ? Siapa yang jaga anak - anakmu ?" tanya ibu pada adik dan kakakku.
Mereka berdua hanya saling menoleh tidak mengerti maksud pertanyaan dari ibuku. Sebelum mereka menjawab. Ibu lebih dulu berkata sambil menggenggam tangan kakak dan adikku.
" Kalian pulang saja jaga anak - anak kalian, sekalian bersih - bersih rumah. Disini sudah ada Arin yang menjagaku."
" Baiklah jangan lama - lama ya terus pulang bersih - bersih rumah," suara ibu melemah dan memejamkan netra beliau
Hari ini jam sepuluh. Ibu dijadwalkan masuk ruang operasi. Ada perasaan cemas di hatiku. Tapi aku kuatkan agar tidak terlihat oleh ibuku. Selesai sholat subuh aku mengaji seperti biasa. Ibuku masih terlihat pulas dengan tidurnya. Tiba - tiba ibu demam sangat tinggi sampai menggigil. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku menyelimuti ibu dengan selimut yang disediakan rumah sakit.
" Rin, peluk ibu nak......." pinta ibu. Netra ibu nanar menatap redup padaku.
Dengan cekatan aku memeluk ibuku. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada ibuku. Beliau seperti sesak nafas sambil berkata lirih, " Rin, ibu sudah tidak kerasan, ibu kepingin pulang."
" ibu, kita pulang setelah ibu sehat. Hari ini menjalani operasi ibu operasi. Arin yakin setelah ibu operasi, ibu akan sehat dan kita pulang."
__ADS_1
Air mataku jatuh melihat apa yang yang dirasakan ibu. Mungkin ibuku sudah lelah dengan sakitnya. Mungkin ibu sudah tidak sanggup lagi dengan apa yang beliau rasakan. Mungkin ibuku pasrah dengan apa yang beliau derita sehingga ingin pulang dan berdiam dirumah saja.
Aku segera memanggil dokter jaga untuk meminta bantuannya. Berkali - kali ibu di pacu jantung. Ternyata Allah sudah berkehendak lain. Hari ini adalah hari terakhir ibu. Serasa duniaku hilang tidak ada cahaya lagi. Aku menangis tersedu - sedu di samping ibuku.
Ada perasaan kecewa dalam diriku. Aku belum puas merawat ibuku. Ibuku masih terlalu mudah, masih belum genap enam puluh tahun. Aku belum siap dengan semua ini ya Allah. Air mataku tidak terbendung lagi, aku menangis seperti anak kecil yang menjerit - jerit histeris. Dan yang paling membuat aku sangat sedih, keinginan ibuku yang terakhir tidak aku wujudkan. Ibu ingin makan dengan lauk ikan lele. Ya Allah anak macam apa aku ini ? Keinginan ibuku yang tidak seberapa saja tidak mau aku lakukan. Tidak terasa aku memukul - mukul dadaku sendiri. Menyesal kenapa tadi malam tidak langsung melakukan apa yang ibu inginkan. Bukankah aku dengan mudah berjalan ke kantin rumah sakit ?
Seandainya aku tahu itu permintaan ibuku yang terakhir. Keinginan beliau untuk makan yang mungkin membuat beliau senang. Aku terus merutuki diriku sendiri.
Selama perjalan pulang aku terus merangkul ibuku. Ya Allah di depanku ini adalah wanita yang sudah melahirkan aku. Wanita yang sudah memberikan asi beliau padaku. Wanita yang sudah rela tidak tidur dikala aku sakit. Wanita yang seumur hidupnya bekerja keras untuk anak - anaknya. Wanita yang selalu mendoakan aku setiap saat. Wanita yang selalu berpuasa dikala aku ujian. Wanita yang selalu bernyanyi dikala menidurkan aku
Wanita yang selalu tidak makan terlebih dahulu, sebelum kami anak - anaknya yang makan. Wanita yang selalu berkata " ada uang kok" ketika kami meminta uang untuk kebutuhan sekolah. Wanita yang selalu tersenyum pada kami, tapi menangis dikala kami tidur pulas dimalam hari. Wanita yang selama tahun pernikahannya tidak pernah senang. Berilah tempat yang terbaik untuk ibuku ya Allah.
Selesai pemakaman ibu. Aku memberi kabar pada mas Ravi.
Aku
( Assalamualaikum.....)
( Mas Ravi, Maafkan kalau ibuku ada salah kata dan perbuatan. Ibu sudah dipanggil dan tenang di sisi Allah )
lama tidak dibalas oleh mas Ravi. Aku tidak memperdulikannya, karena aku hanya memberinya kabar. Aku tidak keluar kamar, karena kesedihanku yang mendalam dengan meninggalnya ibuku. Kedua Kakakku, adik dan ayahku yang menemui tamu yang melayat
bersambung............
__ADS_1