Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
bab 23


__ADS_3

" Apa dia ada ? Apa dia tumbuh ? Mbak Arin tidak menghilangkan dia kan ? tanya Henry dengan terus memelukku.


Aku hanya menggelengkan kepalaku, tetap menangis Henry berkata lirih padaku. Menyandarkan dagunya pada puncak kepalaku. Tangannya terus memelukku tidak memberi rongga padaku untuk melawan. Aku juga membiarkan diriku dalam pelukan hangat Henry. Tubuh kecilku seakan merasa tenang dalam dekapannya. Jiwa kosong ini seperti terasa penuh dengan ........aaaaaahhhhhh tidak bisa aku lukiskan dengan kata - kata saat aku berada dalam pelukan Henry.


" Seandainya dia ada, pasti kita tidak seperti ini. Mbak Arin tidak berbuat menghilangkan dia kan ?"


" tidak.........tidak akan. Aku juga menginginkan dia ada. Ternyata dia tidak hadir untuk kita."


Henry terdiam kemudian berkali - kali Henry mencium puncak kepalaku. mungkinkah Henry juga merasakan apa yang aku rasakan ? Hangat di dalam hati ketika kami berpelukan seperti ini ? Mungkinkah Henry juga merasakan betapa tidak ingin melepaskan pelukan ini ? Dengan tangannya Henry menengadahkan wajahku. senyuman paksaan dia berikan padaku, tapi senyuman itu mampu membawa aku pada suatu kenyataan bahwa kehidupan ini tidak semudah kita tersenyum ikhlas pada orang lain. Senyuman itu menunjukkan Henry akan kuat dengan semua kenyataan.


" Aku mencintaimu Mbak. Aku sangat mencintaimu Mbak."


Sebuah perasaan yang membuat aku melayang Henry berikan padaku. Mampu mengubah segalanya hanya dalam hitungan detik. Tubuh kerasnya dengan lembut menuntunku untuk menyerah dan berkata " ya" pada setiap sentuhan yang Henry berikan padaku. Ternyata aku tidak hanya lemah dalam pelajaran matematika saja ketika aku sekolah dulu. Aku juga sangat lemah menghadapi laki - laki yang sekarang ini bersamaku. Biarlah aku tanggalkan sejenak norma dan moral yang aku pegang. Saat ini aku hanya ingin bersama dengan Henry menyatukan semua yang ada dalam hati kami. Jika cinta memang tidak mengenal logika. Kenapa aku mencintainya ? Memberikan segalanya tapi harus menikahi pria lain ? Bukankah aku melakukan pernikahan dengan pria lain berdasarkan logika karena kami tidak bisa bersama ?


Biarlah hanya aku dan Tuhan yang tahu tentang amal ibadah dan dosaku. Aku tahu, dan sangat tahu kalau ini sebuah dosa. Tapi tidak bolehkah aku bersama dengan orang yang aku cintai walau dalam keadaan yang berbeda. walau dalam hati kecilku tetap menangisi semua yang aku lakukan. Tapi, aku sangat bahagia melakukan semuanya dengan Henry. Seperti seorang anak kecil yang senang dan gelisah ketika menerbangkan layang - layangnya di udara. Seandainya yang kami lakukan adalah sebuah ibadah. Hatiku pasti lebih senang dari yang aku rasakan sekarang. Tidak ada rasa cemas, gelisah dan takut akan dosa yang tetap mengiringi kami. . Yah........ aku akan tetap mengingatnya walau ini sebuah dosa. Aku akan mengenangnya dan menganggap ini semua sisi lain dari kehidupanku. Biarlah akan menjadi cerita indah yang tetap aku simpan sampai kapanpun.


Ku biarkan laki - laki ini memilikiku seutuhnya sebelum suamiku. Kali ini bukan hanya Henry yang menginginkannya secara terbuka, Tapi aku juga menginginkannya bahkan mungkin melebihi yang Henry inginkan. Saat ini yang aku rasakan dan mungkin Henry juga rasakan tidak ada batasan usia untuk kami.Tidak ada kesenjangan sosial sebagai pembatas kami. Semuanya kami curahkan disini, rindu, cinta dan dendam kami, karena harus menghadapi realita yang berbanding terbalik dengan apa yang ada dalam pikiran kami.


" Aku juga mencintaimu Henry," aku menatap netra Henry sangat dalam berusaha mencari keteduhan, mencari perlindungan. Henry memandangiku beberapa saat kemudian tersenyum sangat manis. Mungkin senyum yang paling manis yang Henry berikan untukku. kemudian mencium keningku dengan lama dan lembut sekali.


Tidak dibenarkan juga oleh siapapun apa yang aku lakukan dengan Henry sekarang. Tapi tidak bolehkah aku membuat pembelaan. Tak bolehkah aku memiliki alasanku sendiri. Tak bolehkan aku bersama dengan Henry sesaat saja sebelum aku berlalu pergi dari kehidupannya menikah dengan pria lain. Tak bolehkah aku menjadi diriku sendiri walau aku tahu ada norma yang mengikat. Salahkan saja aku yang kurang paham tentang cinta dan pengorbanannya. Salahkan saja aku yang menganggap remeh dosa yang akan aku tanggung. Salahkan saja aku yang tak tahu menjaga diri dan jiwaku karena beralasan melakukan semua demi cinta. Salahkan saja aku yang terlalu mencinta tapi tak berpikir masa depanku apa yang menanti......duka.......disakiti......diinjak......dihina.....oleh laki - laki yang akan menjadi suamiku kelak. Ya Tuhan semua aku pasrahkan padamu. Engkau maha tahu apa yang ada dalam hatiku. Apa yang aku damba, apa yang aku harap.


Kami duduk di sebuah cafetaria setelah pulang dari taman milik Henry. Selepas melihat matahari terbenam. Kami menelusuri sepanjang jalan yang penuh dengan pohon tabebuya. Meninggalkan semua di sana kemudian kembali ke kehidupan kami seperti semula. Aku dengan rencana pernikahanku. Henry yang akan melanjutkan studinya di luar negeri.


Seperti biasanya Henry selalu memesan sup kepiting asparagus kesukaannya. Aku hanya memesan salad buah dan jus alpukat kesukaanku. Makan malam ini begitu lain seakan sebagai ucapan perpisahan pada hubungan kami. Bunga mawar putih tiga tangkai yang sengaja Henry ambil tadi untukku begitu cantik dalam genggamanku. Tak mau aku lepas bahkan mungkin sampai layu akan tetap aku simpan sebagai kenangan indah dan pahit dalam hidupku.


" Kenapa hanya acara akad nikah saja ?"

__ADS_1


" Pak Satrio memintanya seperti itu padaku."


" Pernikahan tetap pernikahan walau cuma sebuah upacara," sambil menulis nominal dalam cek Henry berkata lagi dengan memandangiku.


,"Belilah apa yang mbak butuhkan. Tapi jangan sprei untuk ranjang pengantin Mbak Arin. Itu sangat melukaiku,"


" Jangan saya tidak bisa menerimanya."


" Aku lebih tidak bisa melihat pernikahan Mbak Arin cuma akad saja."


" Pak Satrio yang meminta katanya ini sudah yang kedua."


" Tapi, inikan pernikahan pertama Mbak Arin ? "


" Aku tidak mau ada masalah dengan pak Satrio. Kata beliau tidak enak dengan anak - anaknya dan mantan istrinya, "


" Aku juga tidak tahu," jawabku lesu.


Aku tidak tahu apa benar yang dikatakan Henry bagaimanapun ini pernikahanku yang pertama kenapa tidak ada acara yang lebih dari sekedar yang pak Satrio kehendaki ?


Tanpa aku sadari Henry bicara agak meninggikan suaranya.


" Sebentar....... sebentar, kata Mbak Arin ......tidak enak sama anak - anak dan mantan istrinya. Jadi mbak menikah dengan duda dan sudah punya anak ? Mbak Arin meninggalkan aku demi dia ?"


" Henry, sudahlah........hanya dia harapanku sekarang"


" Aku tidak yakin dengan hidup mbak Arin,"

__ADS_1


" Aku juga tidak tahu, tapi kata Dita dia orangnya baik,"


" Jadi Mbak Arin kenal dari Dita."


" Iya teman om nya."


" Teman om nya berarti ........"


" Iya jarak usia kami enam belas tahun."


" Jadi Mbak Arin lebih memilih dia dari pada aku yang masih muda ? " Henry terperanjat setalah ku ceritakan tentang pak Satrio. Tangannya kembali memberikan cek yang sudah dia tulis nominalnya. Tarikan nafas panjang Henry jelas terdengar olehku, dihembuskannya dengan kasar seolah - olah ingin menghentakkan tangannya di meja. kemudian mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Kembali, aku hanya bisa melihatnya dan melihatnya tanpa tahu apa yang harus aku lakukan.


" Kalau itu memang keputusan Mbak Arin menikah dengan dia. Jujur, aku tidak akan datang di acara pernikahan Mbak Arin Aku tidak sanggup. Tapi menikahlah dengan baik jangan seperti ini,"


Aku hanya diam dan memandangi wajah Henry, hanya itu yang mampu aku lakukan. Aku tidak tahu apa yang ada dalam benak Henry aku hanya melihat bola mata yang bergerak dengan tajam dan kadang kala Henry menyipitkan kelopak matanya tanpa tersenyum.


Kembali aku tolak cek pemberian Henry. Aku merasa tak enak hati dengan semua. Yang ada dalam pikiranku mungkin tidak sama dengan yang Henry pikirkankan. Aku tidak menjual diriku dengan cek ini.


" Pak Satrio sudah memberi satu juta untuk acara kami. Jadi tidak baik kalau melebihi uang dari yang beliau berikan. Beliau mau acara sederhana"


" Apa satu juta..........? Mbak Arin.........ini ada yang tidak beres sama calon suami Mbak Arin ! "


" Henry .....sudahlah........aku ..........." tidak sanggup aku meneruskan kata - kataku.


Benarkah ini semua ? Atau hanya perasaanku saja kalau Pak Satrio .......................... Ya Allah semua yang akan terjadi padaku atas kehendak Mu, hamba yakin hamba kuat.


bersambung...............

__ADS_1


__ADS_2