Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
bab 11


__ADS_3

" Kelihatannya tidak lancar acara kemarin mbak ? Itu mata masih bengkak ? tanya Henry dengan duduk di bangku depan mejaku.


Mungkin terlihat jelas dari raut wajahku dan mataku yang bengkak karena menangis. Aku hanya menengadahkan wajahku dan menyuguhkan senyuman datar padanya, tidak ada jawaban yang aku berikan.


" Jangan lupa mbak nanti istirahat siang kita ke rumah sakit. Tolong Mbak Arin membawa sample ATK nya ! " perintah Henry padaku.


Aku mengangguk pelan tanda mengerti perintah Henry padaku. Tadi malam Henry memang memberi pesan padaku tentang gol kerjasamanya dengan rumah sakit swasta di kota ini. Perlengkapan kantor non medis akan disuplai dari toko kami. Henry juga meminta agar tidak membawa motor karena pulang dari rumah sakit kami berencana melihat kelima cabang toko Henry yang lain. Aku hanya memberi emoticon jempol sebagai jawaban setuju.


" Ini untuk menghilangkan stres," Henry menyodorkan coklat padaku, kemudian beranjak dari duduknya


" La, Ko Henry curang kenapa cuma Mbak Arin yang dibelikan coklat, aku tidak," teriak Dita melihat Henry memberikan coklat padaku. Tanpa merasa bersalah, Dita langsung saja mengambil coklat di mejaku.


" Kamu sudah gendut Dit, diet. Nanti tidak laku - laku, jadi perawan tua tidak ada yang mau,"


" Biarin Ko Henry juga Lom punya pacar," sahut Dita dengan ceria.


Tetap aku dalam diam ku, berpura - pura menulis di buku pengeluaran ATK kemarin dari gudang yang masuk ke toko. Ada sesuatu yang mengganggu di benakku. Gurauan Henry dan Dita sangat mengena di hatiku, ya perawan tua tidak ada yang mau. Kembali aku teringat mas Ravi yang sudah tega padaku. Aku sekarang dalam posisi itu, perawan tua yang tidak ada yang mau. Usiaku sudah tiga puluh dua tahun. Wajahku juga tidak cantik, aku pendek, jauh dari kategori gadis cantik.


Seharusnya aku tidak membuang waktuku tujuh tahun untuk mas Ravi yang ujung - ujungnya aku ditinggal juga.

__ADS_1


Henry dan Dita berbarengan menoleh ke arahku karena tidak terasa aku menangis dengan mengeluarkan suara.


" Mbak Arin.........," berdua mereka mendekatiku.


" Iya perawan tua tidak akan laku, dikhianati juga," kataku dengan suara pelan.


" Sabar Mbak....." kata Dita. Sementara Henry hanya memandangku dengan wajah yang merasa bersalah karena gurauannya. Sejenak Dita dan Henry terdiam hanya aku yang menangis dengan suara yang keras......keras sekali. Puas rasanya aku menangis meraung seperti anak kecil. Dita perlahan mendekatiku dan memelukku, sementara Henry berlalu dari ruangan ini. Mungkin tidak tahan dengan suara isak tangis ku yang sangat nyaring. Aku sendiri tidak perduli pak Ahmad, pak Nurdin, pak Kamil dan banyak lagi pegawai gudang untuk angkat - angkat barang itu melihatku. Yang terpenting bagiku aku melampiaskan rasa sesak ku yang aku tahan mulai kemarin sejak mas Ravi bercerita kalau dia sudah menikah.


.................


Aku dan Henry sudah ada di kantin rumah sakit sejak sepuluh menit yang lalu, menunggu kepala tata usaha rumah sakit ini karena masih ada rapat. Henry sedikit bicara padaku dan terkesan kaku. Mungkin karena dia masih merasa bersalah karena gurauannya dengan Dita tadi pagi. Kami makan siang dengan menu yang tersedia di kantin ini. Aku tidak begitu selera untuk makan, tanpa banyak bicara Henry mengambilkan sup di piringku.


Henry yang aku kenal adalah seorang pekerja keras. Sejak dia lulus kuliah dua tahun lalu orang tuanya langsung memberinya tugas mengurus usaha toko ATK nya. Kakak tertua mereka Dandy, seorang dokter. Sementara kakak laki - laki nomor dua Dion. Dion mengurus showroom jual beli mobil. Mengapa aku sangat tahu dengan keluarga Henry karena aku bekerja di keluarga Henry lebih dari sepuluh tahun sejak aku lulus kuliah. Sulit mencari pekerjaan walau aku lulusan S1. Aku memang tidak pernah tahu dengan Henry. karena selama aku kerja, Henry sekolah di luar kota dan tinggal di asrama laki - laki kemudian dia melanjutkan kuliah di ibu kota.


" I...i....iya aku makan " jawabku sedikit gugup. Walau usiaku sepuluh tahun lebih tua darinya, aku tidak bisa menolak aura pemimpinnya yang begitu kuat.


Aku makan pelan dan menunduk tidak berani menatap Henry. Sebuah suara yang sangat akrab ditelinga ku terdengar dengan jelas.


" Hanin, sayang......steak disini tidak ada, makan yang ada saja ya,"

__ADS_1


Suara yang begitu lembut dan terkesan sangat menyayangi perempuan bernama Hanin. Aku menoleh ternyata benar. Mas Ravi juga ada disini di kantin ini duduk di jarak dua meja makan dariku.


" Gak mau, aku mau makan steak, bayinya minta steak mas" merajuknya manja pada mas Ravi.


Ya Allah pukulan keras yang tak kasat mata untukku. Aku berusaha menahan air mataku untuk tidak jatuh karena melihat pemandangan suami istri yang nota bene pasangan baru di depan mataku ini. Aku menengadahkan wajahku dan langsung berjalan cepat ke arah toilet. Ketika aku menggeser kursi untuk berdiri, sengaja aku kuatkan suaranya agar mas Ravi mendengarnya dan menoleh padaku yang memang samar dengan pohon hiasan di kantin ini. Sekilas aku melihat mas Ravi terkejut tapi dengan cepat dan mudah mas Ravi menguasai keadaan.


" Hai Pak Henry dan mbak Arin "


sapanya berusaha menutupi keterkejutannya melihat aku dan Henry ada di kantin ini juga.


" Pak Ravi," sambut Henry berjalan kemudian berjabat tangan dengan Mas Ravi dan istrinya. Sengaja aku menghindar untuk tidak berjabat tangan dengan mas Ravi dan Hanin istrinya. Aku mengasihani diriku sendiri karena tidak ingin merasa terluka dan cemburu.


Tidak sampai di kamar toilet aku duduk di bawah wastafel dengan berjongkok menunduk dan menangis. Aku lemas sekali, tidak kuat dengan apa yang aku lihat. Semua badanku gemetaran tanganku pun tidak bisa menggenggam karena gemetar. Aku tidak tahu berapa lama aku terdiam menangis disini.


" Biarkan saya masuk. Istri saya di dalam sudah hampir dua puluh menit belum keluar," suara Henry begitu keras, tidak tahu berbicara dengan siapa.


Aku mencoba menggerakkan kepalaku yang tertunduk tapi tidak bisa, semuanya terasa kaku bagiku. Aku mendengar langkah kaki ke arahku. Henry langsung menggendongku dan segera berlari ke sebuah ruangan yang aku tidak tahu ruangan apa. Dalam gendongan Henry aku merasa sangat lemas sekali, pandanganku sedikit gelap samar.......samar......kemudian hanya bayangan.....bayangan saja. Walau aku masih dengan jelas dapat mendengar suara Henry yang berteriak meminta tolong kepada orang - orang untuk memberi jalan pada kami.


bersambung.................

__ADS_1


__ADS_2