
Kelelahan yang sangat berlebihan Pak Satrio tampilkan lewat wajah beliau saat pulang malam ini. Mengenal dan lebih dekat dengan Pak Satrio membuat aku semakin merasa kasihan pada beliau. Hidup beliau benar - benar tercurahkan untuk pekerjaan, tidak ada waktu untuk bersantai bagi Pak Satrio. Beliau tak memiliki medsos seperti kebanyakan orang. Tidak sempat melihat acara televisi seperti orang lain. Waktu yang hanya terbatas beliau habiskan untuk bermain dengan Tangguh dan Thavisa.
Sekarang aku mengerti kenapa hampir walau tidak selalu beliau memintaku untuk datang mengantarkan makan siang. Karena diwaktu itulah beliau ada kesempatan berbincang dan membahas masalah denganku. Karena tak jarang beliau pulang larut dan aku sudah tertidur. Hidupnya benar - benar seperti kata pepatah time is money.
Harus aku mengerti kehidupan Pak Satrio yang syarat akan godaan. Kadang kala pertemuan yang sering diadakan di cafe, hotel dan tempat - tempat lain membuatnya bisa melihat semua yang ada dalam sisi indah duniawi.
Beliau benar - benar ingin menciptakan kehidupannya yang nyaris sempurna, walau sempat terpuruk dengan perceraiannya kemarin. Hidupnya benar - benar bersinergi antara karir, rumah tangga, bermain dengan anak - anaknya dan kehidupan ( maaf ) seksualnya. Aku akui Pak Satrio adalah pria mapan dewasa. Tapi semua harus ditebus dengan kehilangan banyak waktu untuk bersantai.
Untuk kepentingannya sendiripun seperti membeli baju, sepatu dan lain - lain tak jarang Pak Satrio meminta Bayu atau aku yang membelikan dan memilihkan untuk beliau. Pak Satrio hanya memilih dari katalog yang tersedia dan yang lainnya semua dia pasrahkan pada Bayu.
Seperti malam ini Pak Satrio datang jam setengah sebelas malam dengan membawa satu stel tuxedo masih dengan pembungkusnya.
" Hai sayang belum tidur ? " sapa Pak Satrio yang melihatku belum tertidur dengan mencium puncak kepalaku
" Saya menunggu mas. " jawabku menatap wajah Pak Satrio.
" Aku membawakanmu nasi goreng kau mau ?
" Iya mas,"
" Tangguh dan Thavisa ?
" Barusan Tangguh bangun mencari mas kemudian tidur lagi karena kecapekan menangis."
" Maaf.....hari ini, aku sangat sibuk."
" Iya saya mengerti mas. Tapi apa mas lupa kalau hari ini jadwal kontrol ke dokter kandungan ? "
" Aaahhh ya aku benar-benar lupa. Padahal tadi sudah ada dipikiranku untuk menggantikan jadwal tapi .....maaf dik Rin. Apa kau marah ?
" Ya ......sangat."
" Katakan aku harus berbuat apa agar rasa marahmu hilang ?"
" Saya mau disuapi mas makan nasi goreng ! "
" Dengan senang hati ," jawab Pak Satrio membuka bungkusan nasi goreng seafood kesukaanku.
" Bagaimana kata dokter Rita soal kandunganmu ? "
__ADS_1
" Baik tapi mas harus lebih rajin bekerja sekarang untuk bayi kita ! "
" Owh itu pasti,"
" Apa mas sudah menyiapkan nama untuk jagoan baru kita ? "
" Bayi kita cowok ? "
Aku mengangguk kemudian tersenyum dan berkata lirih di telinga Pak Satrio," dan cewek."
Sebenarnya aku mengetahui kalau bayi yang aku kandung adalah kembar laki - laki dan perempuan sejak usia kandunganku menginjak enam belas minggu, tapi karena keadaan Pak Satrio masih sibuk dengan masalah mbak Asri aku tidak ingin moments ini tidak berkesan.
Pak Satrio tersentak kaget.
" Dua........kembar ? laki - laki dan perempuan ? Benarkah ? tanyanya dengan nada tinggi.
" Owh sayang terima kasih banyak sudah memberiku banyak kebahagiaan. " seru Pak Satrio dengan memelukku erat.
" Mas.....saya mau lagi nasi gorengnya ! "
" Tapi aku cuma membeli sebungkus,"
" Tapi saya ingin lagi ! "
Lama aku menunggu Pak Satrio yang keluar mencari nasi goreng untukku, mataku sudah lelah dan tidak kuat menahan kantuk.
* * * * * * *
" Sayang bangun sekarang sudah jam setengah lima pagi," ucap Pak Satrio dengan mencium keningku.
" Apa nasi gorengnya sudah dapat ? tanyaku pada Pak Satrio.
" Ini sudah pagi, nasi gorengnya sudah habis ku makan. Tadi malam kau tidak mau memakannya katamu kau mengantuk dan menyuruhku untuk makan."
" Benar seperti itu, tapi aku menunggu mas untuk makan nasi goreng. "
" Ya nanti aku bawakan nasi goreng dari Denpasar. " Jawab Pak Satrio sambil merapikan tuxedo yang beliau pakai. Rapi sekali tuxedo warna navy cocok untuk Pak Satrio yang memiliki kulit putih kemerahan.
" Mas mau ke Bali ? "
__ADS_1
" Ya ada rapat di sana jam delapan pagi. Aku ikut penerbangan jam enam pagi. Mungkin aku pulang agak larut, kau tidurlah dulu jangan menungguku. " jawab Pak Satrio.
" Ke Bali hanya untuk rapat dan setelahnya mas kembali lagi ke sini,"
" Aku harus giat bekerja sayang, empat bulan lagi ada tujuh rekening dan satu kartu kredit yang bukan milikku tapi harus ku transfer. Oh ya aku lupa satu lagi tunjangan untuk dia, karena dia belum menikah lagi. ( Yang dimaksud adalah Mbak Asri. )
Aku mengijinkan Pak Satrio tetap memberikan tunjangan bulanan untuk Mbak Asri walau sudah bukan kewajiban Pak Satrio. Tapi dengan syarat setelah Mbak Asri menikah lagi baik menikah secara agama saja atau menikah resmi tunjangan akan dihentikan. Tunjangan yang diberikan Mbak Asri menurutku tergolong fantastis lima kali gaji UMR di kota ini.
" Tujuh ? Kenapa banyak sekali ? " tanyaku menggoda Pak Satrio dengan tersenyum.
Pak Satrio menganggat bahunya dengan tersenyum.
" Itu karena mas suka memaksa, akibatnya mas tanggung sendiri. "
" Setelah ini kau harus mengikuti program pemerintah sayang. Ikut KB ! Nanti kalau aku yang ikut vasektomi, kau juga yang marah tidak percaya padaku. Karena dalam hati dan pikiranmu tiga puluh persen mencintaiku sisanya rasa cemburu dan curiga yang berlebihan," ucap Pak Satrio dengan tersenyum.
" Iya mas benar, karena mas terlalu tampan untuk tidak dicemburui. Apalagi menggunakan baju resmi seperti ini, cocok untuk mencari sugar baby baru. Bayu memang pandai memilih baju untuk mas,"
" Kenapa tidak sekalian kau curigai Bayu ? Bukankah aku lebih banyak menghabiskan waktuku dengan Bayu hemmmm ," goda Pak Satrio kemudian mencium keningku berkali - kali.
" Aku berangkat sayang," pamit Pak Satrio.
" Tangguh dan Thavisa sudah mandi dan rapi, ayolah kau bangun ! " perintahnya lagi sebelum meninggalkan kamar ini.
Seperti biasa Pak Satrio menyempatkan waktunya bermain dengan Tangguh dan Thavisa terlebih dahulu sebelum berangkat kerja.
Hari - hariku kulalui dengan indah dengan suami dan anak - anakku. Masalah - masalah yang kemarin datang menghampiri ternyata semakin menguatkan perasaan cintaku pada beliau.
Nada dering berbunyi dari handphone milikku, Pak Satrio menoleh ke arahku kemudian ke arah handphone tertera nama Sebastian disana.
" Pelajaran apalagi yang akan kau dapat dari Sebastian ? " tanya Pak Satrio setengah mengolok - olok padaku.
" Yang pasti membuat mas semakin mencintaiku," jawabku tersenyum manja pada Pak Satrio.
" Iya tidak masalah bagiku selama kau tetap mencintaiku dan menjaga rumah tangga kita. Aku percaya padamu dan Sebastian, kalian adalah sahabat yang tidak terpisahkan." ucap beliau sebelum naik ke mobil untuk berangkat bekerja.
" Sayang.....jaga mama yah.....," pamitnya lagi dengan mengusap lembut perutku yang sudah terlihat besar karena ada dua junior Satrio disana.
Aku tersenyum dengan tingkah Pak Satrio. Pak Satrio yang diawal pernikahan aku kenal dengan sekarang sangat jauh berbeda. Aku sangat bersyukur dengan pernikahan yang aku jalani. Bagiku sudah lengkap kebahagiaan yang aku rasakan, keluarga, anak - anak dan memiliki suami seperti Pak Satrio.
__ADS_1
Pembaca yang baik terima kasih sudah membaca novel Author sampai saat ini. Jangan lupa memberi like dan komentar untuk Author.
Pembaca yang baik masih ada satu bab spesial untuk besuk.