Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Bab 97


__ADS_3

Wajah kelelahan terlihat jelas dalam diri Pak Satrio, selepas magrib beliau langsung rehat hingga melewatkan jadwal makan malam. Bagaimana tidak kelelahan, hampir separuh dihari ini dilewati dengan naik angkot bersamaku. Dan separuh lagi beliau bekerja serius dengan rekan setimnya di kantor lahan beliau.


Flash black


" Aku mau rehat sejenak, hari ini aku sangat capek," pamit Pak Satrio sebelum merebahkan dirinya di ranjang kamar kami.


" Apa mas marah karena aku mengajak mas berkeliling naik angkot ?" tanyaku merasa tidak nyaman karena Pak Satrio terlihat kelelahan.


" Tidak.....hanya aku tidak pernah naik angkot sebelumnya, jadi ini pengalaman baru untukku," jawab Pak Satrio sedikit gugup padaku.


" Jangan dimasukkan ke hati, sekarang ini kita masih dalam proses pengenalan dan penyesuaian. Aku harap kita saling bersabar menghadapi sikap dan kebiasaan masing-masing. Kau mau kan melakukan itu ? untuk rumah tangga kita. Untuk kebahagiaan kita dan anak - anak kita,"


Pak Satrio mencium keningku, kemudian merebahkan badan sambil memelukku.


Flash off


Berkali - kali telepon Pak Satrio bergetar tanda panggilan masuk. Dari Adrian dan kadang berganti Adry. Sengaja tidak ku terima, karena aku merasa Handphone milik pribadi, walau aku istri beliau aku tidak berhak menerima panggilan untuk beliau.


Ku tekan nomor milik Adry, sengaja aku pilih milik Adry karena aku merasa kurang nyaman dengan Adrian. Sikapnya yang selalu dingin membuat aku ragu untuk meneleponnya.


" Halo ma.....Apa papa ada ? Dari tadi kami menelepon papa tdk dihiraukan," kata Adry.


" Papa sedang rehat, apa ada pesan ? nanti mama Arin sampaikan," ujarku pada Adry.


Terdengar suara handphone berpindah tangan. Kali ini bukan Adry yang berbicara tapi Adrian.

__ADS_1


" Apa kau tak punya hati ? Mama kami sedang dalam perawatan tapi kau dan papa pergi. Apa hatimu terbuat dari batu ? hilang rasa kemanusiaannya ? Aku sudah memintamu baik - baik agar kau berbelas kasih pada lawan yang sudah kalah. Tapi kau mengacuhkannya !'


" Adrian bukan.....mama .....,"


" Kau memang sengaja kan menjauhkan papa dari kami ? Menjauhkan papa dari mamaku ? Potong Adrian menyerangku dengan semua kalimat cepatnya.


Aku tak kuasa dengan tuduhan Adrian. Dalam hati kecilku tak ada sedikitpun untuk menjauhkan Adrian dan Adry dari Pak Satrio. Kalau tentang Mbak Asri aku hanya melarang Pak Satrio berlebihan memperhatikan Mbak Asri. Aku menyetujui semua biaya perawatan mbak Asri ditanggung Pak Satrio, yang aku tidak setuju Pak Satrio selalu menjaga dari pagi , siang dan malam menemani mbak Asri. Apa aku salah ?


" Kau ternyata tampak senyum di muka saja tapi dibelakang kami, kau menikam kami dengan mengambil papa sepenuhnya untukmu dan adik - adik," suara panggilan langsung terputus dari pihak Adrian.


Begitukah pandangan mereka terhadapku selama ini ? Aku hanya seorang wanita yang merusak kebahagiaan mama mereka dan keluarga mereka ? Bukankah selama ini aku yang diacuhkan Pak Satrio ? Ketika aku dua kali hamil dan melahirkan, aku tidak pernah merasakan dekat dengan Pak Satrio. Bahkan semua biaya aku sendiri yang mengusahakan. Hanya sebentar ketika aku hamil Thavisa tapi kemudian secara sepihak Pak Satrio meninggalkan aku tanpa memperdulikan aku dan anak - anakku. Bukankah Pak Satrio dekat denganku baru dua bulanan ini ? Itupun karena beliau kecewa dengan Mbak Asri. Aku menahan tangisku sendiri, dalam diam karena tak ingin Pak Satrio tahu tentang semuanya. Sungguh aku tak ingin semua kacau dan semakin memanas karena aduanku pada Pak Satrio. Aku keluar dari kamar dan juga keluar ke halaman untuk mencari udara segar dan agar aku bebas menangis tanpa diketahui Pak Satrio.


" Mbak Arin.....kenapa menangis ?" tanya Henry tiba - tiba datang padaku dari arah jalan. Aku baru sadar mobil di depan rumahku adalah mobil Henry.


" Henry kenapa datang kemari ? Cepatlah pulang ! pintaku pada Henry. Aku kebingungan dengan kedatangan Henry yang tiba - tiba. Khawatir Pak Satrio bangun dan melihat kami.


" Henry tolong, pulanglah. Aku hanya kangen dengan ibuku," jawabku dengan memandang Henry.


" Itu karena Mbak Arin bersedih. Aku sengaja lewat depan rumah Mbak Arin, Aku dari beli masakan. Mau ? tanya Henry seolah tidak perduli ada Pak Satrio di dalam rumahku.


" Henry tolong.... pulanglah ! Bantu aku untuk tenang dalam hidupku ! Seruku dengan suara bercampur tangis.


" Mbak Arin tenang aku memang mencintai Mbak Arin tapi rasa ingin mengejar Mbak Arin sudah pupus," 12,,,


" Ya.... baiklah aku pulang, sebentar lagi aku telepon. " jawab Henry tenang melangkah keluar halaman menuju mobilnya yang terparkir di sebrang jalan.

__ADS_1


Henry masih memandangku ketika dia bergerak melajukan mobilnya. Tangisku semakin memecah, aku benar - benar merasa sendiri sekarang. Apalagi Tangguh dan Thavisa tidak ada dalam dekapanku. Pada siapa aku harus bersandar sekarang ? Aku merasa terluka dengan kalimat - kalimat yang Adrian berikan padaku. Tidak menyangka Adrian yang sangat pendiam menjadi sembilu ketika berbicara.


Air mataku mengalir seperti semesta yang mengamuk dengan badai dan petirnya jatuh ke bumi. Sesak terasa di dadaku, dan tangis yang masih berlangsung. Tak bolehkan aku merasa senang sebentar saja ?


" Dik Rin.....kenapa di luar ? Udaranya dingin. Lekaslah masuk ! " nasehat Pak Satrio padaku.


" Kau menangis ? tanya Pak Satrio terlihat tersentak melihatku menangis bagai curah hujan. Beliau menuntunku masuk ke dalam sampai kamar kami. Terus saja menuntunku hingga kami duduk di sisi ranjang saling bersebelahan tanpa jeda. Tangisku semakin merajai walau tanpa suara tapi tubuhku tergetar karena tangis.


" Apa kau sangat mencintainya hingga menangis seperti ini ? tanya Pak Satrio lembut padaku.


Aku membelalakkan mataku hendak menentang apa yang ada dalam pikiran beliau. Bukan karena Henry aku menangis seperti ini. Bukan karena aku mempunyai perasaan cinta pada Henry, aku menangis seperti ini.


" Aku akan membuatmu bahagia dalam rumah tangga kita. Jika kita bahagia kau akan lupa jika pernah mencintai dia," nasehat Pak Satrio.


" Hentikan tangisanmu ! kasian bayi dalam kandunganmu nanti ikut menangis. " nasehat lembut Pak Satrio padaku.


" Aku berjanji, membuatmu melupakannya dengan cara membahagiakanmu. Ayo kita buka lembaran baru meninggalkan masa lalu untuk kebahagiaan kita, rumah tangga kita," sambung Pak Satrio sambil mencium puncak kepalaku.


" Dik, Rin aku sungguh berharap banyak padamu, pada rumah tangga kita. Aku pernah gagal berumah tangga, anak - anak menjadi korban dari pertengkaran kami, dari perceraian kami. Aku berjanji akan membahagiakanmu dan anak - anak kita. Sungguh rumah tanggaku yang kemarin jadi pembelajaran bagi kita," suara jelas terdengar dari Pak Satrio seolah bagai sebuah maklumat yang harus kami jalankan dan kami patuhi.


Pak Satrio menoleh kearah handphone miliknya yang bergetar karena panggilan dari Adrian.


Bersambung.................


Mohon like, vote dan komentarnya.

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca novel saya.


__ADS_2