Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
bab 13


__ADS_3

Ada tiga puluh tujuh panggilan dan lima belas pesan masuk dari mas Ravi yang sengaja tidak aku buka dan malas membacanya. Terakhir kali aku membuka pesan Wastapp dari mas Ravi, mengajak aku bertemu sepulang kerja tidak aku balas. Aku berusaha untuk lari dari mas Ravi, apalagi setelah kami bertemu di rumah sakit lima hari yang lalu. Bertambah lagi masalahku dengan Henry. Aku tidak bisa konsentrasi dalam bekerja. Mengetik nominal - nominal angka saja keliru. Henry yang tidak pernah menegurku dalam pekerjaan sedikit meninggikan intonasi suaranya ketika memberi tahu ada bagian - bagian yang salah. Di kantor, Henry tetap bersikap profesional sebagai pemilik toko dan gudang dan aku sebagai karyawannya. Setelah kejadian di rumah sakit, kami seperti menjaga jarak kalaupun bergurau tidak seperti dulu lagi ada perasaan kikuk diantara kami.


Aku mengetik kembali pekerjaanku yang salah.


" Mbak Arin.........," suara Dita memanggilku.


" Iya Dit..........,"sambil mataku tetap ke arah komputer dan jari - jari tanganku memijit - mijit keyboard komputer.


" Mbak maaf, kalau aku lancang. Benar mbak Arin belum ada calon ?" pertanyaan Dita menghentikan ku dengan tiba - tiba.


Aku mengalihkan pandanganku ke arah Dita. Aku berusaha tersenyum walau getir.


" Iya Dit........… belum ketemu jodoh. Orangnya masih asik dirumah nonton bola sambil makan mie instan, jadi belum keluar rumah," aku berusaha memberikan jawaban yang sebenarnya untuk diriku sendiri.


Jawaban inilah yang selalu aku katakan pada diriku sendiri saat aku bertanya kapan aku dipertemukan dengan jodohku.


Dita tertawa lebar mendengar jawabanku.


" Aku serius mbak . Ada temannya om ku cari istri mbak,"


Aku hanya tersenyum dan melanjutkan pekerjaanku.


" Kalau mbak Arin mau aku kenalkan. Usianya memang sudah berumur mbak. Empat puluh delapan tahun.. statusnya duda dua anak. Saya jamin orangnya baik, dia gak mau pacaran minta langsung nikah"


" Kenapa bukan dengan kamu saja Dit ? aku balik bertanya pada Dita.

__ADS_1


" La mas Rian mau dikemanakan mbak," Dita menjawab meninggikan suaranya.


" Cuma kenalan saja kan ? tanyaku lagi pada Dita.


" Iya mbak cuma kenalan lanjut dan tidaknya terserah mbak Arin dan dia,"


Aku tidak begitu memperdulikan apa yang dikatakan Dita. laki - laki itu terlalu berumur menurutku. Rentang usia kami enam belas tahun.


....................


Acara pembukaan toko baru Henry di kota sebelah akan dilakukan hari ini, rencananya kami bertiga. aku, Henry dan Dita akan sama - sama berangkat. Karena pulang dari sana malam sampai toko tutup jam sembilan. Aku menitipkan Jhoji sepulang sekolah pada adikku.


Beberapa hari ini Henry memang sangat sibuk sekali mondar-mandir mempersiapkan toko barunya. Setelah pembelian ruko di pusat kota tersebut Henry sendiri yang memasok barang, menata interior dan rak - rak tempat ATK. Aku sendiri belum pernah kesana. Aku mendengar dari Dita yang dua kali ikut Henry ke sana. Ada tiga lantai di ruko tersebut lantai pertama untuk ATK dan lantai kedua untuk meja tulis, kursi berputar, lemari besi dan lain - lain. Sementara untuk lantai tiga digunakan untuk tempat peristirahatan Henry dan gudang. konsepnya tidak terlalu berbeda dengan toko induk di tempat kerja kami.


" Aku tidak mau berkhayal," jawabku singkat dengan melempar pandangan keluar kaca mobil.


Seandainya aku kemarin tidak mengiyakan untuk ikut, tentu aku sudah berada di rumah dengan Jhoji. Seandainya tadi Rian, pacar Dita tidak kecelakaan motor. Dita menangis maraung - raung seperti anak kecil, sehingga Henry memberinya ijin untuk tidak ikut. Tepat jam istirahat siang, disaat kami hendak berangkat. Kalau Dita tadi ikut, mungkin aku tidak berdua saja di mobil ini. Ketika tadi aku akan duduk di kursi belakang dengan santai Henry berkata kalau dia bukan supir melainkan majikan ku.


" Janji study S2 aku selesaikan dengan cepat dan cumlaude,"


kalau masalah study aku tidak akan meragukan Henry. Diusia dua puluh tahun sudah lulus S1. SMP dan SMA dia selesaikan dengan kelas akselerasi. Setelah lulus kuliah dia ingin fokus bekerja mengembangkan bisnis keluarga. Terbukti dengan usaha yang dia Pegang sekarang dia mampu membuka dua cabang baru dan sekarang cabang yang ketiga yang dia rintis. Di bidang pengembangan usaha kami tidak hanya ke alat - alat ATK saja dia sudah mengembangkan ke percetakan juga.


Sebenarnya orang tua Henry, Bu Merry dan Pak Winata juga mempunyai usaha lain lagi yaitu outlet makanan khas untuk oleh - oleh dan home industri di rumahnya.


Orang tua Henry mengharapkan Henry menjadi dosen seperti dua kakaknya. Dokter Dandy adalah seorang dokter dan juga dosen di universitas negeri di kota kami dan mengurus bisnis outlet makanan dengan orang tuanya. Sementara Dion selain mengurus showroom mobilnya dia juga dosen di universitas swasta terkenal. Hanya Henry yang belum menempuh study S2 dan tidak mau menjadi orang kantoran. " Aku malas terikat waktu kerja dan diperintah orang" begitu dia mengelak. Satu kekurangan dari tiga bersaudara tersebut, belum menikah.

__ADS_1


" Kenapa janji sama saya ? Seharusnya kau berjanji pada Bu Merry ?" aku kembali bertanya pada Henry.


" Mbak Arin kan pacar aku, " jawabnya tenang sambil menoleh sekilas ke arahku kemudian kembali melihat ke depan.


" Pacar ? Sejak kapan ?" tanyaku heran.


" Sejak ciuman kita pertama di rumah sakit,"


Henry tersenyum lebar seakan tidak merasa terbebani dengan kejadian tersebut. Sementara aku langsung salah tingkah dengan ucapannya.


" Oh dirumah sakit, a.....aku sudah lupa ciuman sepele itu"


"Ciuman sepele ? wajah kaget Henry tampak jelas terlihat sampai kerut - kerut di keningnya tergambar.


Aku sedikit terlontar dari dudukku karena Henry menghentikan mobil secara mendadak. Keras Henry memukul stir mobil kemudian melajukan dengan kencang. Tidak mendengarkan permintaanku untuk menurunkan laju mobilnya. Tidak ada pembicaraan diantara kami, bahkan ketika kami sampai di toko baru Henry.


Acara pembukaan toko Henry berjalan dengan lancar. Kami membuka toko selepas magrib kata Henry ini waktu yang tepat orang sudah pulang dari kantor dan anak - anak sekolah juga sudah bebas. Setelah toko tutup jam sembilan malam dilanjutkan makan tumpeng bersama dengan karyawan baru dan juga karyawan lama untuk mengawasi jalannya toko baru Henry. Acara makan bersama di adakan di lantai tiga ini pun juga sudah selesai. Para pegawai sudah pulang hanya ada aku, Henry. Pak Sapto dan pak Edy satpam toko yang berada di pos penjagaan.


" Ayo pulang ini sudah hampir jam dua belas malam," aku menghampiri Henry yang masih asik memainkan ponselnya.


" Pulang ? ........Pulang kata mbak. Masalah kita belum selesai. Masih banyak yang harus kita lakukan dan kerjakan disini," ketenangan Henry membuat aku gugup. Tangannya yang masih tetap memegang HP dan sorot mata yang masih tetap fokus pada layar HP membuat aku sedikit kepo apa yang dia lihat. Setelah melihat apa yang dilihat Henry. Aku sedikit menjauh darinya dan duduk di kursi dengan gemetar.


bersambung.................


mudah - mudah suka dengan novel pertama saya.

__ADS_1


__ADS_2