
" Asri masih dalam pengawasan dokter ma.....kemungkinan ada kelanjutan perawatan untuk pemulihan agar Asri bisa berjalan kembali," cerita Pak Satrio pada Bu Elly ketika kami makan malam bersama.
" Pasti kau yang membiayai semua pengobatannya ? " tanya Bu Elly geram.
" Apalagi alasanmu kali ini ? Karena ibu kandung Adrian dan Adry ? Bu Elly semakin tidak bisa menahan emosi bertanya kepada Pak Satrio.
" Ma......aku sudah meminta ijin pada Dik Arin, dia memperbolehkan aku membiayai Asri sampai sembuh." jawab Pak Satrio sambil menggenggam tanganku.
" Selalu saja terus seperti ini, nanti saudaranya sakit kau tanggung biayanya. Sampai hewan peliharaannya kalau sakit mungkin juga kau tanggung," celoteh Bu Elly dengan nada yang menunjukkan ketidaksukaan atas tindakan Pak Satrio.
" Ma sudahlah.... bagaimanapun Asri wanita yang melahirkan Adrian dan Adry, cucu mama," ucap Pak Satrio menenangkan Bu Elly.
" Nah.....kan belum lima menit mama bilang, alasannya karena mama kandung Adrian dan Adry,"
" Mamamu ada benarnya nak, tidak baik seperti itu, karena sudah bukan tanggung jawab mu lagi. Walaupun uangmu lebih dari cukup untuk membiayai Asri. Lebih baik kau fokus pada keluargamu. Adrian dan Adry memang tanggung jawab mu, tapi lihat Tangguh dan Thavisa yang masih banyak membutuhkan biaya, perhatian dan kasih sayangmu," tutur Pak Hardian pada Pak Satrio.
" Mama setuju dengan nasehat papamu. Sehari sebelum surat cerai turun kau masih sibuk mengantar Asri membelikan tas.......( menyebut merk tas ternama ), mama masih bisa terima. Kali ini mama tidak setuju." usul Bu Elly.
Kami, aku dan Pak Satrio saling berpandangan beradu mata. Pak Satrio mungkin merasa tidak nyaman denganku karena cerita Bu Elly tentang pembelian tas bermerk tersebut. Terus terang aku terkejut, sebegitu respect Pak Satrio dengan Mbak Asri, walau sudah pengajuan cerai tapi tetap saja segala permintaannya beliau wujudkan. Pak Satrio seperti salah tingkah dengan cerita Bu Elly. Tidak mampu mengeluarkan kata sebagai pembelaan, hanya berkali - kali melirik atau menoleh padaku dengan kegundahan di wajah dewasa beliau.
.....................
" Mas masih mencintai mbak Asri walau sudah bercerai. Hanya caranya saja yang berbeda untuk menunjukkan perasaan mas," tegurku pada Pak Satrio. Pak Satrio yang hendak merebahkan badan untuk istirahat malam kembali duduk di sandaran ranjang kamar ini.
" Kenapa diperpanjang masalahnya, bukankah itu terjadi sebelum surat cerai turun ?" tanya Pak Satrio memelas.
" Bukankah kita sudah sepakat setiap ada masalah harus sudah selesai sebelum kita istirahat ? Jadi ketika sudah di tempat tidur, kita bisa tidur dengan nyaman tanpa ada kendala." nasehat Pak Satrio mengingatkan aku tentang kesepakatan kami, beberapa waktu yang lalu.
" Bukankah mas seharian ini sibuk. Sibuk kerja dan sibuk mengurus Mbak Asri ? "
" Bukankah aku sudah meminta ijin padamu tentang Asri ? Dan kau mengijinkan. Apalagi yang dipermasalahkan ? "
" Aku mengijinkan tapi tidak berlebihan hanya sebatas menjenguk saja tidak lebih. Kenapa harus menunggu sepanjang pagi dan siang ?"
" Bukankah tadi pagi, kau bilang aku boleh tinggal lebih lama dan kau pulang dulu ? " tanya Pak Satrio seakan membalikkan semua padaku.
Aku tadi memang pulang dulu karena ada Thavisa yang membutuhkan aku. dan mengijinkan pak Satrio lebih lama untuk tinggal menunggu Mbak Asri.
__ADS_1
flash black.
Suara panggilan telepon berbunyi di handphoneku, dari ibu mertuaku.
" Rin cepatlah pulang, kasian Thavisa menangis, tidak ada persiapan ASI di kulkas."
Aaaaah ya ........tadi karena terburu - buru aku sampai lupa tidak memompa ASI untuk persediaan Thavisa.
" Iyaa Bu sebentar lagi kami pulang," jawabku kemudian menutup telepon. Pak Satrio, Adrian dan Adry menoleh padaku.
" Apa kita pulang sekarang ? tanya Pak Satrio padaku.
Tatapan Adrian dan Adry seolah tidak suka dengan keadaan ini dan berpikir seolah aku sengaja melakukan ini. Mbak Asri baru saja sampai di kamar inap setelah keluar dari ruangan ICU. Wajahnya lemah walau sudah kembali dari siuman. Pandangannya tidak mau lepas dari Pak Satrio, seolah berharap agar Pak Satrio mau mendekat padanya.
" Mas disini saja dulu menunggu Mbak Asri, aku pulang dulu, kasian Tangguh dan Thavisa," jawabku.
" Ayo kita pulang saja, Asri sudah membaik. " ajak Pak Satrio padaku.
" Pa.......kasian mama, beliau baru siuman. Mungkin masih membutuhkan papa. " ucap Adrian pada Pak Satrio.
" Pa......tolong, mama masih membutuhkan papa untuk semangatnya. " Adrian kembali memberi alasan agar Pak Satrio tetap tinggal menunggu Mbak Asri. Pak Satrio mengarah pandangan padaku.
" Aku bisa naik taksi atau bemo mas. Mas tunggu mbak Asri dulu,"
" Iyaa baiklah aku tunggu Asri barang sejenak saja. seusai kesadarannya benar - benar pulih aku pulang," jawab Pak Satrio padaku.
" Aku antar keluar ?" tanya Pak Satrio lagi padaku. Aku hanya menggeleng pelan.
" Iyaa baiklah, hati - hati di jalan. Ketika sampai rumah langsung beri kabar, agar aku tidak cemas. Kau tidak pernah keluar sendiri selama di .....( menyebut nama kota tempat kami tinggal )."
Aku melangkah menuju pembaringan Mbak Asri dan mengusap lembut tangan Mbak Asri.
" Lekas sembuh ya Mbak, ada Adrian dan Adry yang selalu berharap Mbak Asri sehat," ucapku pada Mbak Asri sebelum aku pulang. Pak Satrio mencium keningku berkali - kali, seolah enggan melepas aku pulang sendiri.
flash off.
" Saya tidak memberi ijin untuk waktu yang lama, hanya sebentar," jawabku dengan intonasi yang dingin pada Pak Satrio.
__ADS_1
" Apa kau marah ? "
" Iyaa sangat,"
" Iyaa baiklah aku tak akan melihat Asri lagi. Aku tidak ingin menyulut pertengkaran diantara kita. Mungkin sebaiknya aku harus lebih fokus pada kalian saja, tanpa melibatkan Asri." urai Pak Satrio meyakinkan aku.
" Tapi bagaimana kalau Asri, atau Adrian atau Adry menghiba menginginkan aku datang melihat Asri selama masa pengobatan ini ? "
" Bolehkah aku egois sedikit ? " tanyaku ragu pada Pak Satrio.
" Mas sudah terlalu masuk dalam kehidupan mbak Asri, sehingga Mbak Asri sangat tergantung pada mas, walau sekarang mas dan Mbak Asri sudah bercerai. Sebisa mungkin mas menghindar apapun alasannya,"
" Iyaa baiklah apapun maumu aku ikuti, untuk kebaikan rumah tangga kita," jawab Pak Satrio lembut.
" Benarkah cerita ibu tentang pembelian tas itu ?" tanyaku pada Pak Satrio tiba - tiba teringat cerita ibu ketika kami makan malam bersama.
Pak Satrio tidak menjawab hanya terus memandangi wajahku saja seakan ingin memohon maaf lewat tatapan netra beliau.
" Benarkah......? dan foto yang mbak Asri kirim padaku, apakah juga dihari itu ? " tanyaku mendesak Pak Satrio untuk menjawab.
" Iyaa benar," jawab Pak Satrio dengan nada Pasrah padaku.
" Asri yang memintanya, dia bilang masih kewajibanku karena surat cerai belum turun, dan aku memang belum mengucapkan talak padanya walau aku mengajukan gugatan cerai. Ketika surat turun aku mengucapkan talak tiga padanya. Karena itu, aku sudah tidak mau berurusan lagi dengannya," argument Pak Satrio membela diri.
Aku sudah siap dengan jawaban yang akan pak Satrio sampaikan padaku. Tapi tetap saja sakit menggores di hatiku. Bodoh, lugu, atau terlalu cinta Pak Satrio pada Mbak Asri ? Aku diam tidak membalas kalimat Pak Satrio sebagai umpan balik cerita beliau. Aku merebahkan diri untuk tidur. Aku lelah dengan sekelumit kisah dihari ini. Aku ingin tidur dengan nyenyak sambil memimpikan ibuku.
" Apa kau tidak senang kalau aku jujur ? " tanya Pak Satrio padaku.
" Mas kira sendiri saja ? " jawabku lelah memalingkan badan membelakangi pak Satrio yang masih duduk bersandar di sandaran ranjang ini.
Pak Satrio bergerak lebih dekat padaku dan memelukku dari belakang.
" Jangan menghindar ! " perintah Pak Satrio lembut padaku.
Dan tentu saja itu yang terjadi karena Pak Satrio yang memulainya..........................
Bersambung...........
__ADS_1