
," Habis.....rambut Bu Asri. Habis tidak beraturan, di sini pendek," kata Bik Ina memegang kepala sebelah kiri. " Disini hampir habis, " terusnya sambil memegang kelapa sebelah kanan. " Bu Asri teriak - teriak minta tolong. Bapak juga teriak - teriak marah mengumpat pada Bu Asri. Sampai tetangga banyak yang datang." lanjut Bik Ina lagi setelah terjeda karena dia minum air putih satu gelas penuh.
," Besuknya Bu Asri kabur dari rumah bawa bekal banyak,"
," Bawa makanan ? " tanyaku
," Bukan.....habis buka brankas bapak," celetuk Bik Ina setengah berbisik dan menoleh ke kanan dan ke kiri.
Bik Ina seandainya jadi jurnalis mungkin sangat cocok. Gaya bicara dan bahasanya sangat lugas bisa menggiring opini pendengarnya. Dan bisa membawa pendengarnya membayangkan apa yang terjadi. Mungkin Bik Ina biasa bertukar cerita dengan para ART penghuni kompleks disini. Aku tidak begitu perduli berapa banyak yang diambil Mbak Asri aku hanya ingin tahu kelanjutan cerita dari Bik Ina. Sampai dimana akhir cerita sehingga kamar Pak Satrio dekorasinya berubah total yang semula selalu bermotif bunga, sekarang tampak jelas sekali kamar milik seorang pria.
," Apa sudah lama ?"
," Waktu ibu melahirkan dik Thavisa. Karena itu bapak menyuruh Mas Adrian ke rumah ibu,"
" Owh......hampir dua bulan ,"
," Iya.....Bu. Bapak langsung menyuruh orang merenovasi kamarnya. Semua baju, tas, sepatu milik Bu Asri, kalau tidak dibuang mungkin di simpan di gudang. Saya juga kurang tahu kalau soal itu," ungkap Bik Ina penuh penyesalan karena tentang barang milik Mbak Asri dia ketinggalan berita.
," Kata Bu Elly, bapak langsung mengajukan gugatan cerai. "
Glek.......aku menelan salivaku sendiri.
Cerai ?
Benarkah Pak Satrio melakukan gugatan cerai pada Mbak Asri ?
Apa perasaan beliau sudah berubah ?
Atau hanya menuruti emosi beliau saja ?
__ADS_1
" Apa Adrian dan Adry diam saja ? mama mereka diperlakukan seperti itu ?" tanyaku keheranan. Tidak mungkin mereka tidak protes karena mama mereka diperlakukan dengan kasar.
" Ibu kan tahu mas Adrian pendiam. Dia tidak mau komentar tentang mama papanya. Hanya diam dan memainkan piano atau biola tiap malam. Mas Adrian tidak membahas kejadian itu dengan bapak. Mas Adrian juga menurut ketika disuruh Pak Satrio menemui Bu Arin. Pak Satrio bilang, temani mama Arin melahirkan. Sekarang !" cerita Bik Ina dengan mimik seperti seorang penyiar televisi yang menyiarkan berita langsung di TKP.
" Kalau Adry bagaimana ? " tanyaku yang juga ingin tahu sikap Adry.
Adrian dan Adry sangat menyayangi Mbak Asri. Aku hanya ingin tahu apa Adrian dan Adry menerima mamanya diperlakukan kasar oleh papa mereka ? Apa mereka tidak sakit hati mama mereka dipermalukan seperti itu ? Pantas saja ketika aku melahirkan dulu Adrian berkata, " Dia akan membantu mamanya walau di dalam lumpur sekalipun." Mungkin perasaannya masih kacau waktu itu.
" Kalau Mas Adry hanya berkata sambil asal bu. Kenapa Bik Ina tidak telepon aku ? Aku juga ingin lihat siaran langsung,"
," Bapak sampai sekarang suka marah - marah gak jelas. Apalagi waktu pulang dari rumah ibu, Siang bapak datang langsung menggebrak meja. Meminta saya membuatkan Omelette, tapi menolak untuk makan karena terlalu asin."
Aku hanya diam mendengarkan cerita dan pertanyaan Bik Ina karena aku tahu apa alasan marah Pak Satrio. Apa Pak Satrio masih terbawa emosi ketika ke rumahku ? Apalagi mendapati aku menginap di Villa Henry. Itukah sebabnya beliau menghukumku dengan cara yang menurutku aneh. Mengurungku beberapa hari di kamar beliau. Aku merinding dan ketakutan mengingat cerita Bik Ina yang mengatakan Pak Satrio tega memotong rambut Mbak Asri.
" Oya Bu.....Kenapa bapak bawa Dik Tangguh dan dik Thavisa ke sini ? Apa ibu mau pindah ke sini juga ? "
Pembicaraan kami terhenti karena mendengar deru mobil Pak Satrio masuk di halaman. Aku langsung bergegas keluar. Bukankah Pak Satrio mengatakan akan membawa Tangguh dan Thavisa ?
Flash black
" Aku ingin bertemu Tangguh dan Thavisa mas ? " pintaku berulang - ulang pada Pak Satrio ketika hendak berangkat.
" Tunggu aku pulang, aku akan membawa Tangguh dan Thavisa padamu," jawab Pak Satrio sambil menuju ke kamar. Aku mengikuti beliau dari belakang.
" Bukankah kalau ke lahan akan sangat lama ? Mas, Pasti akan memeriksa satu persatu tanaman tebu, kakao dan....... ,"
Lahan Pak Satrio berada di kota sebelah, jika beliau kesana akan memakan waktu sekitar satu setengah jam perjalanan.
" Aku tidak ke lahan. Aku akan keluar sebentar," ucap beliau memotong kalimatku.
__ADS_1
" Tidak bolehkah aku ke rumah ibu sendirian saja ? Aku ingin segera bertemu dengan Tangguh dan Thavisa. "
" Apa kau ingin jadi daging cincang ? Ke rumah ibu sendirian ? Pikiran itu. Kau sudah membuat luka anak kesayangan mereka. Akan ada badai besar kalau kau sendirian. Bajumu pasti akan compang camping kena amukan badai. Tunggulah......., aku hanya sebentar tidak lama. "
" Tapi mas.....,"
," Sudahlah. Aku tidak ingin kau dan ibu ribut dan terlihat oleh Tangguh. Sudah cukup Adrian dan Adry yang menjadi korban kekerasan secara Psikis dalam rumah tanggaku. Aku ingin Tangguh dan Thavisa hidup dalam suasana bahagia karena melihat orang tuanya juga bahagia,"
Otakku masih berpikir keras dengan maksud dari ucapan beliau. Apa maksudnya ingin melihat Tangguh dan Thavisa hidup bahagia karena melihat orang tuanya bahagia ? Tak berani berharap terlalu tinggi. Aku alihkan pikiranku dan bertanya lagi pada beliau
" Apa aku boleh tahu mas akan kemana ? Apa sangat penting ? "
Dalam hati aku berfikir keras. Apa Pak Satrio akan menemui Mbak Asri ? Kenapa beliau membatalkan pergi ke lahan ? Dari tadi pagi Pak Satrio sibuk dengan HP beliau. Apa mereka, Pak Satrio dan Mbak Asri akan bertemu ?
" Aku akan bertemu seseorang, atau bahkan dua orang atau bahkan lebih, " jawab beliau padaku. Wajah beliau yang tersenyum cerah membuat aku semakin yakin, beliau pasti akan bertemu Mbak Asri.
" Mau ikut ?" tanya beliau, yang aku kira beliau tahu apa yang aku pikirkan.
Aku menggeleng dan berkata terbata - bata, " Tidak mas, saya dirumah saja. Tapi saya minta mas cepat pulang."
Flash Off
" Dimana Tangguh dan Thavisa mas ?" tanyaku keheranan. Melihat ke dalam mobil beliau. Pak Satrio hanya sendirian, tidak ada Tangguh dan Thavisa.
" Mereka masih tidur ketika aku mampir ke rumah ibu," Jawab Pak Satrio dengan mengeluarkan beberapa map dalam tas beliau.
Ada map bertuliskan depan logo notaris dan ada beberapa lagi di bawahnya yang tidak dapat aku baca logo depannya. Beliau memilah Map yang beliau keluarkan dari tas beliau kemudian menyodorkan map padaku. Map Akta Cerai dari pengadilan agama. Aku menerimanya dengan tangan yang gemetar. Benarkah ini akta Cerai Pak Satrio dan Mbak Asri ?
Bersambung.......
__ADS_1