
Aku bangun untuk sholat subuh setelahnya aku melangkahkan kakiku ke dapur. Mencoba melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Senyuman dan membungkukkan badan seorang ibu separuh baya dengan daster batik. Aku membalas senyuman beliau, dapat aku terka beliau pasti bik Ina asisten rumah Pak Satrio, karena selama perjalanan pak Satrio mengenalkan satu persatu penghuni di rumahnya agar mempermudah aku beradaptasi.
Aku ingin sekali membangunkan pak Satrio. Tapi aku tidak yakin apa beliau mau jika aku datangi kamarnya setelah kejadian tadi malam. Aku mengurungkan niatku dan tetap di dapur dengan bik Ina.
" Kalau untuk sarapan pagi, di sini tidak repot Bu......Hanya mas Adry yang agak rewel soal makanan, kalau mas Adrian dan bapak tidak pilih - pilih."
" Iya bik......"
Aku membantu bik Ina menyiapkan menata roti dan berbagai selai di meja makan. Sesaat pemuda yang tadi malam, masuk ke dapur mengambil minum kemudian berlalu tanpa menoleh, tanpa berkata ke arahku. Aku terdiam saja melihatnya yang tidak merespon dengan kehadiranku di dapur ini.
" Itu Mas Adrian......orangnya memang pendiam jarang ngomong."
" Iya bik........Apa dia suka main biola ?"
" Iya hampir tiap malam dia selalu bermain musik."
" Oh....."
Tapi kenapa tidak ada respon atau sekedar menyapaku......bukankah dia yang semalam membantuku berjalan ke kamar ? Memakaikan piyamanya padaku ? Aku berusaha tenang dengan pikiranku sendiri.
" Kalau Mas Adry orangnya rame bu......kalau ngomong suka ceplas - ceplos kebalikan dari Mas Adrian "
" Oh......, " aku hanya manggut-manggut saja mendengarkan celotehan bik Ina.
Agak bersamaan Pemuda yang bernama Adrian duduk di meja makan kemudian pemuda berseragam putih abu abu juga mengikutinya. Aku melihat Pak Satrio keluar dari kamarnya dengan kemeja coklat dan celana hitam berjalan ke arah meja makan.
" Dik Rin......Ayo duduk sini ! " Sapa pak Satrio begitu melihatku.
Aku berjalan menuju arah beliau. Pak Satrio memberikan ciuman di keningku, aku gugup dengan situasi ini karena aku belum mengenal Adrian dan Adry.
__ADS_1
" Kok gak basah rambutnya ? tadi malam kan malam pertama papa jadi pengantin tua,"
" Adry........."
Pak Satrio menoleh dan membelalakkan matanya pada Adry seakan ingin berkata lebih lanjut tapi ditahan oleh beliau.
" Ini mama baru kalian, mama Arin." Pak Satrio memperkenalkan diriku pada Adrian dan Adry.
" Sudah tahu dari foto yang kemarin papa kirim," jawab Adry ketus.
" Aku kira mama muda itu, muda sekali sebaya aku............ternyata perempuan sudah berumur," seloroh Adry
" Adry......jaga bicaramu.....! "
Aku hanya diam sambil menunduk mendengarkan perdebatan antara ayah dan anak di depanku.
" Papa kalah donk sama mama. Mama saja dapat cowok yang seusia Mas Adrian. Gak bisa milih ?"
" Adry........."
" Aku berangkat.......nanti aku pulang sore." pamit Adrian sambil berdiri kemudian mencium punggung tangan pak Satrio. Tapi tetap mengabaikan keberadaanku yang duduk berhadapan dengannya. Jangankan menoleh ke arahku melirikpun tidak dia lakukan, benar - benar menganggap aku tidak ada.
"Nanti pulang kampus, langsung ke kantor ! " perintah Pak Satrio pada Adrian tanpa menjawab perintah dari pak Satrio Adrian berlalu.
" Aku juga berangkat, selera makan jadi hilang lihat pengantin tua," Adry juga berpamitan setelah Adrian.
" Cium tangan mama Arin ! " perintah pak Satrio. Ogah - ogahan Adry melakukan mencium punggung tanganku.
" Uang bensin donk........." pinta Adry dengan santai padaku. Aku terkejut dengan permintaannya, hendak kulangkahkan kaki ke kamar mengambil uang untuk Adry, tapi di cegah oleh pak Satrio.
__ADS_1
" Kemarin papa sudah transfer kan ? Kurang ?" tanya Pak Satrio menyipitkan netranya.
" Gak.......cukup kok, hanya iseng aja punya mama baru, " Selorohnya tertawa kecil memandang ke arahku dan Pak Satrio.
Aku terdiam, Adry sebenarnya pemuda yang ceria tak ada niatan buruk dalam hatinya. Begitu yang aku lihat hanya saja sikapnya yang ceplas-ceplos membuat aku harus senam jantung pagi hari ini.
Aku mengemasi piring sarapan pagi ini. Pak Satrio memelukku dari belakang dengan mencium puncak kepalaku berkali - kali. Jika aku gambarkan dengan kata - kata. Pak Satrio berwajah tampan dengan kulit putih kemerahan. Tinggi badannya di bawah Henry sedikit, kira - kita seratus delapan puluhan.
" Maafkan Adrian dan Adry ya........Mereka sebenarnya anak - anak yang baik kok," jelas Pak Satrio menenangkan aku yang terdiam melihat mereka.
Aku hanya mengangguk - anggukan kepalaku dengan perlahan dan berusaha keluar dari pelukan Pak Satrio. Aku masih belum bisa menerima apa yang beliau sampaikan tadi malam. Walau aku jujur tidak menginginkannya tapi sebagai wanita aku merasa sakit. Aku dibiarkan, ditinggal dalam keadaan yang ahhhhh.....aku malu untuk mengatakannya lagi.
Dari cerita bik Ina aku tahu banyak dengan cerita Pak Satrio dan mantan istrinya. Sebenarnya aku tidak kepo sekali dengan apa yang terjadi antara Pak Satrio dan mantan istrinya. Tapi kenapa aku mendengar kan juga apa yang bik Ina ceritakan. Bik Ina sudah lama ikut Pak Satrio sejak Pak Satrio belum menikah dengan Mbak Asri mantan istrinya.
" Bu Asri itu dulu orang gak punya. Menikah sama bapak umur lima belas tahun. Di sekolahkan bahkan sampai kuliah, katanya dulu ikut kejar paket B dan C gitu yang saya tahu buk. Punya anak mas Adrian ya masih kecil, umur tujuh belas tahun," cerita Bik Ina.
" Apa Mbak Asri kuliah di ............... ?"
" lya Bu Arin kok tahu ?"
Aku hanya tersenyum pada bik Ina yang balik bertanya padaku. Aku hanya menebak saja karena mas Ravi berkata dia berteman dengan Mbak Asri.
" Pak Satrio membuatkan usaha untuk Bu Asri. Ya sampai itu, Bu Asri selingkuh dengan pegawainya. "
" Ibu tidak tahu.......Bu Asri masih suka menginap disini lo.....tapi Oak Hardian dan Bu Elly tidak tahu......Waaaaah kalau tahu......bakal perang dunia Bu........"
Aku tidak merespon apa yang barusan di bicarakan bik Ina, tapi dalam hatiku langsung menyambungkan apa yang dikatakan mas Ravi. Ternyata apa yang dikatakan mas Ravi benar, mereka masih saling berhubungan. Mas Ravi hanya menyampaikan apa yang dia tahu bukan untuk menghalangiku menikah dengan pak Satrio. Tanpa berkata lagi aku langsung menuju kamar yang bik Ina katakan. Kalau Mbak Asri menginap disini, tetap tidur di kamarnya yang dulu. Tentu kamar yang dimaksud adalah kamar Pak Satrio, bersebelahan dengan kamar yang aku tempati.
Entahlah aku tidak tahu anggapan orang bagaimana dengan tindakanku. Anggaplah aku lancang atau tidak sopan karena masuk tanpa permisi. Perlahan aku buka kamar ini ku langkahkan kakiku masuk dengan perlahan. Aku sangat terkejut dengan isi kamar ini. Seperti masih ada pemiliknya sepasang suami istri yang hidup bahagia. Ada banyak foto menghiasi dinding kamar ini. Mulai dari foto pernikahan, foto Pak Satrio dan tentu saja Mbak Asri dengan menggendong bayi. Aku mengira itu bayi Adrian karena disebelahnya ada juga foto keluarga Pak Satrio dan Mbak Asri dengan bocah laki - laki dan bayi dalam gendongan Pak Satrio. Alat make up yang masih lengkap berjajar rapi di meja rias. Baju - baju, sepatu dan tas yang tetap tertata rapi di lemari kaca jelas terlihat. Tanpa aku sadari, aku menangis.
__ADS_1
Aku keluar dari kamar ini dan menuju kamarku. Aku luapkan dengan menangis sejadi - jadinya. Kenapa harus ada pernikahan denganku ? Jika mereka masih saling berhubungan. Kenapa harus melibatkan aku dalam masalah mereka ? Aku salah apa hingga harus berada di tengah - tengah mereka ? Apa mereka masih saling mencintai ? Tapi kenapa pak Satrio menikah denganku ? Tak bisa aku jawab semua pertanyaan yang aku buat sendiri. Aku hanya bisa menangis melihat semua. Apa yang harus aku lakukan jika benar - benar mereka masih saling mencintai dan tetap berhubungan ?
Bersambung,...................