
Suasana Cafe yang asri dan indah ini. Tidak mampu menawarkan kehangatan padaku karena cerita mas Ravi. Mas Ravi masih saja berusaha menyakinkan aku dengan mengulang - ulang ceritanya. Dimulai keluarganya berhutang budi pada keluarga wanita yang bernama Hanin dan sekarang menjadi istrinya. Kenapa mas Ravi harus menikah dengan Hanin ? Hanin hamil dengan kekasihnya tetapi kekasihnya meninggal sebelum sempat melangsungkan pernikahan. Keluarga Hanin yang harus menutup aib dengan jalan satu - satunya menikah dengan mas Ravi. Perjanjian perceraian ketika anak dari Hanin lahir. Aku hanya diam saja berusaha mengendalikan emosiku, rasa remuk redam ku. Aku mengalihkan pandanganku menatap bunga mawar yang helai demi helai kelopak bunganya lepas karena tertiup angin. Sekarang hanya meninggalkan batang bunganya saja. Ya Allah itulah gambaran diriku sekarang. Aku melewati masa mekar ku dengan laki - laki yang sekarang berada di depanku. Sampai bunga yang seharusnya dipetik saat cantik- cantiknya sekarang sudah habis masa mekarnya, masa harumnya, masa berseminya . Sekarang aku seperti itu, bunga mawar yang hanya tinggal batang bunga saja. Siapa yang akan mengambil ? Siapa yang akan memetik disaat mekarnya sudah habis karena waktu, karena usia ?
" Sudah cukup, pulang rawat istri mas dengan baik ! " pintaku pada mas Ravi
Aku berusaha menatap mas Ravi dengan linangan air mata. Biarlah dia tahu aku sangat kecewa. Biarlah dia tahu aku sangat tersakiti. Biarlah dia tahu aku berusaha berdiri sendiri. Biarlah dia tahu aku berusaha tegar dengan semua. Biarlah dia tahu aku tidak ingin bersamanya lagi. Aku menatapnya sangat dalam berusaha menembus netra mas Ravi yang berwarna coklat terang sehingga terlihat dengan jelas garis - garis kornea matanya. Wajahku jelas terlihat di kornea matanya. Netra Mas Ravi seakan ingin menyakinkan aku atau hanya berbohong padaku tidak dapat aku simpulkan. Hanya tatapan mata yang kosong seakan lelah dengan semua.
" Rin, bukankah kamu berjanji akan memahami keadaanku, apapun yang terjadi ? Aku memintamu membuktikan semua itu ! " suara pelan Mas Ravi bergetar meminta apa yang sudah aku janjikan padanya.
" Aku tidak akan berjanji kalau keadaannya seperti ini, " jawabku dengan ketus dan tetap menatap netra mas Ravi.
Demikian juga mas Ravi terus saja menatapku dengan wajah memelas, dia berkata.
" Tidak...... aku tidak mau kita pisah. Kita tetap jalan seperti biasanya. Masalah Hanin, aku anggap sebagai ujian kita. Kita tidak selingkuh Rin, Hanin yang orang ketiga diantara kita. Kalau kita kuat, kita tetap bisa bersama." suara Mas Ravi yang pelan tapi penuh penekanan tetap tak mampu membuat aku berkata iya pada keinginan Mas Ravi. Karena aku sudah tidak percaya padanya. Tidak akan pernah percaya lagi.
" Sudah puas mas berbicara ? Kalau sudah puas, tolong tinggalkan aku. Aku mau sendirian dulu," aku meminta dengan penuh harap pada mas Ravi agar mengerti diriku.
Mas Ravi hanya terdiam tidak bergerak sedikitpun, walau aku memintanya pulang berkali - kali. Seakan - akan menganggap permintaanku untuk pulang, hanya seperti permintaan anak kecil yang tidak ada faedahnya.
Aku merubah posisi dudukku dari duduk bersila, duduk dengan berjongkok memeluk kedua kakiku sendiri. Menenggelamkan wajahku diantara kedua kakiku. Aku menangis sejadi - jadinya tidak perduli orang melihat kearah ku. Rasanya aku ingin berteriak mengadu pada Tuhan. Bagaimana tujuh tahunku yang sia - sia ? Bagaimana tujuh tahunku yang seperti hilang begitu saja ? Seandainya bisa. Tolong, kembalikan tujuh tahunku yang terbuang percuma. Tujuh tahun yang sia - sia, aku menunggu laki - laki di depanku.
Mas Ravi bergeser mencoba mensejajarkan duduknya denganku. Aku dengan reflek bergeser menjauh darinya ada perasaan enggan ada di dekatnya. Laki - laki yang dengan mudahnya membuat alibi demi keluarg, demi balas budi, demi menutupi aib keluarga. Apa sekarang masih ada cerita semacam Siti Nurbaya ?
" Pergi....... pergi........aku tidak ingin di dekatmu," tanpa menoleh kearah mas Ravi, aku memberi isyarat dengan tanganku.
" Tidak Rin, aku tetap disini sampai kamu tenang. Selesaikan dulu menangis mu, agar kamu bisa melepas amarahmu, lalu kita pulang," Mas Ravi masih berusaha membujukku dengan dengan sabar.
" Aku mau disini. Sana pulang jaga istrimu" suaraku parau dalam pintaku pada mas Ravi.
Mas Ravi langsung berseru dan meninggikan ada suaranya, " Jangan bawa orang lain dalam masalah kita."
" Orang lain bagaimana ? Dia istrimu, bukan orang lain," seolah tak mau kalah aku juga meninggikan suaraku.
" Istri sementara...... hanya satu tahun," suaranya mulai melunak dan berusaha membelai rambutku
__ADS_1
Aku tepis tangannya dengan kedua tanganku
" Tetap saja istrimu, toh kalian sudah punya buku nikah."
" Ya.... tapi setahun lagi ganti buku cerai," elaknya seperti berusaha melucu agar aku bisa tersenyum.
" Tetap saja kalian pernah menikah. Apa kalian begitu saja melewati malam pertama ? Aku tidak tahu kenapa pertanyaan itu yang keluar.
Ya malam pertama bukankah sangat identik dengan pernikahan. Bodohnya aku seharusnya tidak perlu aku tanyakan jawaban yang sudah aku ketahui.
Mas Ravi terkejut dengan pertanyaan ku. seketika tanpa menunggu hitungan detik langsung menjawab apa yang aku tanyakan.
" Rin, aku hanya menjalankan kewajibanku. Itupun karena Hanin yang memintanya bukan aku yang mulai,"
" Oh jadi istrimu yang meminta dan Mas Ravi dengan suka rela melakukan," semakin aku menggebu dengan keinginan tahuku.
" Rin, sudahlah tidak usah dibahas masalah itu aku tambah pusing," pinta Mas Ravi sambil menyandarkan kepalanya di Gazebo. Mas Ravi seolah lelah dengan pertengkaran ini.
" Aku yang tambah pusing, bukan Mas Ravi,"
Mas Ravi bukan milikku lagi. Aku masih berharapan Mas Ravi hanya menikah tidak lebih, walau aku sangat kecewa. Aku berharap mas Ravi bukan milik Hanin seutuhnya, tapi semuanya harus aku telan. Mas Ravi sudah milik Hanin seutuhnya, tidak ada lagi yang tersisa untukku. Aku mengharap mas Ravi tetap suci untukku dan aku sangat bodoh berharap seperti itu pada laki - laki di sampingku
" Rin, tolong mengerti aku, Aku laki - laki normal. Rin, tolong jangan dipermasalahkan. Sudah cukup aku menikah dengan perempuan yang tidak aku cintai dan mengandung anak yang bukan milikku, " pintanya dengan mata sayu menatapku.
" Bilang seperti itu pada istrimu ! bukan padaku. Menikah dengan perempuan yang tidak mas cintai, tapi bisa mas Ravi tidur dengannya ? Pulanglah ! istri mas Ravi menunggu untuk malam kedua ketiga keempat..... pulanglah !
mataku berkobar - kobar menatap kearah netra Mas Ravi.
Mas Ravi menatapku.
" Rin, jangan cemburu seperti itu, aku tidak kuat melihatmu seperti ini," seru Mas Ravi dengan tatapan sayu dan iba melihatku.
" Ya aku cemburu.....sangat......"
__ADS_1
Aku beranjak dari dudukku. Meraih tas di sebelahku dan berjalan seolah-olah tidak ada mas Ravi duduk disini. Aku melewatinya begitu saja. Berjalan cepat menuju motorku yang terparkir rapi dengan motor - motor lainnya. Mas Ravi mengikuti aku dari belakang dengan langkahnya mencoba berjalan di sebelahku. Tanpa sengaja mas Ravi menyenggol lenganku. Aku yang seperti anak kecil ketika bermusuhan langsung membersihkan dengan mengibas - ngibaskan tanganku di lenganku yang tadi tanpa sengaja tersenggol mas Ravi.
" Aku tidak mau bersentuhan dengan laki - laki yang sudah berkhianat." seruku karena enggan bersentuhan dengan Mas Ravi.
" Rin, kau........"
Mas Ravi menarik ku memegang kedua lenganku dengan kedua tangannya. Merasa kami diperhatikan mas Ravi melepas pegangannya.
" Kalau tidak ramai orang aku sudah mencium mu," celetuknya sambil berjalan lagi di sampingku.
" Cium saja istrimu sampai puas ! "
Puas rasanya kalimat itu terlontar dari mulutku. Bukan sebagai perintah tapi sebagai umpatan.
" Rin......." Mas Ravi menghela nafas berusaha menahan amarahnya padaku.
" Aku masih gadis walau sudah berumur. Aku akan mencari yang masih perjaka juga untuk memulainya. Bukan dengan suami orang," kembali aku sengaja membuat marah mas Ravi.
" Rin........ jangan membuat aku cemburu," Wajah mas Ravi seakan berkata dia tak ingin disalahkan dalam masalah ini.
Aku tidak menghiraukan apa yang mas Ravi katakan. Begitu sampai di motor aku naik dan menghidupkan motor matic ku
" Rin..... kamu yakin untuk pulang ? Aku tahu kamu pasti sakit," Mas Ravi berusaha menahan ku dengan memegang kemudi motorku.
" Lepas atau aku pulang naik angkot ! Apa mas Ravi mau ambil motor ini lagi ? Ambil saja ! " Dengan kasar aku berkata pada mas Ravi dan turun dari motor.
Mas Ravi meraih tanganku dan berucap,
" Tidak....bukan itu maksudku. Ayo kalau mau pulang, aku kawal dari belakang."
" Terserah mas......aku tidak memintanya," sambil mengangkat bahu dan pergi begitu saja aku melajukan motorku.
Ya Allah...... terima kasih sudah membuat aku tegar sampai saat ini. Agak lama terlihat mobil mas Ravi di belakangku mengekor terus sampai aku di depan rumah. Aku tidak menoleh padanya ketika aku masuk ke dalam halaman rumahku. Aku parkir begitu saja di halaman dan berharap mas Ravi segera pergi.
__ADS_1
bersambung...............