
" karena kau terlalu mencintai Asri, sehingga dia mudah mempermainkanmu," kurang lebih begitu yang aku dengar karena kurang begitu jelas Bu Elly berbicara dengan Pak Satrio. Pak Satrio dan Bu Elly menoleh ke arahku berbarengan seketika obrolan mereka terhenti. Pak Satrio menyambut Tangguh dan berusaha tersenyum karena Tangguh menyapa beliau.
" Papa....papa mik.......Guh.....mik...," seru Tangguh sambil menarik tangan Pak Satrio. Pak Satrio mengambil botol air kemasan di meja yang berada di depan sofa beliau. Membuka dan menuangkan di gelas kemudian membantu Tangguh minum air putih. Memandang ke arahku dengan netra yang sulit aku artikan. Seakan memohon agar aku bersedia menginjinkan untuk membesuk Mbak Asri.
" Kenapa mas tidak berangkat ?" Kalau mas memang berkeinginan untuk melihat Mbak Asri ? Bukankah Mbak Asri dalam keadaan kritis ? tanyaku pada Pak Satrio.
Pak Satrio terdiam masih tetap membantu Tangguh minum air putih, seakan aku tak berbicara sepatah katapun pada beliau. Diraihnya Tangguh untuk duduk dipangkuan beliau, bercanda dengan Tangguh seolah tidak terjadi apa - apa.
" Tidak......mama tidak ijinkan. Sekali Satrio kesana melihat Asri, dia merasa Satrio masih tetap mencintainya, biarkan saja," ucap Bu Elly ketus padaku.
" Tapi ma, aku merasa tidak nyaman dengan prasangka Adrian dan Adry. Mereka beranggapan Satrio tidak memperhatikan mama mereka," jawab Pak Satrio setengah memaksa pada Bu Elly.
" Kau selalu begitu, kemarin bilang Asri masih tanggung jawab mu karena belum resmi bercerai. Sekarang tidak nyaman dengan Adrian dan Adry. Mama tidak mau tahu, jangan lihat Asri." setelah berkata Bu Elly berlalu menuju halaman belakang rumah untuk meneruskan pekerjaan beliau.
" Tangguh, tolong tanyakan mamamu. Apa papa boleh menjenguk mama Asri di rumah sakit ?" tanya Pak Satrio berkata kepada Tangguh tapi dengan memandang ke arahku.
" Tangguh, tolong tanyakan lagi ke mamamu. Apa mamamu tidak marah karena papa melanggar janji ? Papa tidak mempunyai rasa pada mama Asri hanya merasa iba saja. Papa sangat mencintai mamamu dan kau juga adikmu Thavisa," tutur Pak Satrio lagi dengan berkali - kali menciumi wajah Tangguh dengan gemas.
" Mas.....saya tidak apa - apa. Mas pergi saja," ucapku pada Pak Satrio.
Beliau menghela nafas kasar.
" Kenapa harus ada yang selalu aku korbankan perasaannya ketika aku memilih bersama salah satu dari kalian." ucap Pak Satrio seperti melemah dalam ayunan suara beliau.
__ADS_1
" Aku akui ketika aku memiliki kalian berdua secara bersamaan. aku memang lebih mencintai Asri, hingga semua kehendaknya aku wujudkan. Termasuk menjauh darimu, Tapi aku sangat kecewa ketika mengetahui dia berselingkuh. Begitu besar aku mencintai Asri tapi kenapa dia bercerita pada Adrian dan Adry aku tidak pernah mencintai dia ?" cerita Pak Satrio penuh sesal dan geram menjadi satu.
" Jika kau memang benar mengijinkan aku menemui Asri, aku sangat berterima kasih. Kau bisa pegang janjiku, tidak akan ada hubungan lebih lanjut antara aku dan Asri. Aku hanya kasian melihat Adrian dan Adry."
Aku terdiam dan hanya tersenyum menatap Pak Satrio yang sayu memandangku.
" Tangguh dan Thavisa titipkan ke mama dulu, agar kita lekas berangkat." Ajak Pak Satrio berdiri dari tempat duduk dan Tangguh masih dalam gendongan beliau.
Bu Elly masygul melihat kami berangkat karena mematahkan perintah beliau secara terang - terangan.
," Ma...., percayalah pada Satrio. Tidak akan ada perhatian khusus Satrio pada Asri. " ucap Pak Satrio pada Bu Elly sebelum kami berangkat sambil menciumi Tangguh dan Thavisa berkali - kali.
..............
Pak Satrio menggandengku dengan erat. Seakan tidak mau lepas dari pegangan tangan yang diciptakan sendiri. Sesekali menoleh kearahku, seakan takut aku terjatuh atau lepas dari genggaman.
Adry menyambut dengan senyum ketika melihat kami datang.
" Mas Adrian di dalam menemani mama, hanya satu orang yang diijinkan masuk di ruang ICU. " kata Adry memberitahu kami. Adry bercerita pada kami, kalau Mbak Asri mengalami kecelakaan jam empat subuh tadi dan langsung menjalani operasi. Maaf aku tidak bisa bercerita lebih rinci yang dialami Mbak Asri dalam tulisan ini. Terlalu riskan bagiku menyebutkan bagian - bagian yang terdampak karena kecelakaan yang dialami Mbak Asri.
" Pa......apa papa tidak punya keinginan kembali rujuk dengan mama ? Mama sangat mencintai papa. Mama terlihat sangat putus asa, aku kasian melihat mama. Mama sampai berlutut meminta maaf pada kami, karena mama tidak bisa mencegah keluarga kita dari perceraian. " pinta Adry pada Pak Satrio. Adry yang selama ini acuh tak acuh terhadap masalah antara Pak Satrio dan Mbak Asri ikut bersuara.
" Adry kasian pada mama.......Mama merasa sangat kehilangan. Apa papa tidak bisa memaafkan mama sekali ini saja ? Tolong beri mama kesempatan agar kembali pada papa. Adry menjamin mama akan menjadi istri dan mama yang baik seperti dulu. " urai Adry lagi.
__ADS_1
" Papa tidak bisa. Adry.....jika kau kelak seusia papa pasti bisa memahami, keputusan yang papa ambil ini adalah keputusan yang berat tapi ini yang terbaik," jawab Pak Satrio tenang pada Adry.
," Mama Arin.....mama tidak keberatan kan papa kembali pada mama Asri ? tanya Adry padaku. Aku salah tingkah dengan pertanyaan Adry yang membuat aku tersudut. Pak Satrio menoleh cemas padaku.
," Semua kendali ada pada papamu, maaf mama tidak bisa membantu," jawabku berusaha diplomatis dan tersenyum pada Adry.
" Pa....apa papa tidak punya keinginan kita seperti dulu lagi ? Walau Sekarang papa punya keluarga lain, aku dan mas Adrian bisa menerimanya. Kami terbuka terhadap mama Arin, adik Tangguh dan adik Thavisa," rujuk Adry lagi.
" Asal keluarga kita kembali utuh dan bahagia seperti waktu Adry kecil," ucap Adry meluruh dan suara serak. Meluruhkan juga hatiku, aku iba melihatnya. Tapi bagaimana keadaanku dan anak - anakku nanti ? Sekarang saja Pak Satrio secara nyata lebih mengutamakan Mbak Asri. Aku terdiam dalam pikiranku sendiri.
"Kau sekarang sudah dewasa pasti kau tahu alasan papa menceraikan mamamu. Papa tidak bisa memaafkan mamamu karena acap kali berselingkuh dengan laki - laki lain." jelas Pak Satrio dengan suara melunak.
Pembicaraan kami terhenti, saat Adrian keluar dari ruangan ICU. Mata Adrian berkaca - kaca. Memandang kami seakan tidak menyangka akan datang.
" Mama melewati masa kritis. Sekarang sudah siuman, mungkin sebentar lagi akan berpindah tempat, keruangan kamar."cerita Adrian pada kami.
" Apa papa akan masuk dan melihat mama ?" Adrian langsung menodong Pak Satrio dengan kalimat pertanyaannya.
Pak Satrio menoleh padaku dengan cepat seolah meminta persetujuan padaku, aku anggukan kepalaku sebagai jawaban kalau aku mengijinkan Pak Satrio masuk ke ruangan ICU menemui Mbak Asri sendiri. Pak Satrio melangkah masuk ke ruangan ICU, sebelum membuka pintu untuk masuk, beliau berpaling pandangan ke arahku lagi. Seakan ragu dan takut kalau aku menjadikan ini sebuah alasan pertengkaran.
Bersambung......
Mudah-mudahan suka dan terus mengikuti novel saya. Tolong beri like dan komentar sebagai bahan masukan untuk Author.
__ADS_1