Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Bab 89


__ADS_3

" Aku tidak kekantor hari ini, pekerjaan bisa di atasi oleh Bayu. Kita bisa keluar bersama Tangguh dan Thavisa sampai lepas istirahat siang. Setelah itu aku kembali ke kantor, tutur Pak Satrio menjelaskan padaku.


" Aku ingin mengajakmu ke tempat wisata goa and zoo di ..........( menyebutkan nama kota ) pulangnya kita bisa makan siang di tempat soto kemarin, kau mau ? "


Aku tetap terdiam tak menjawab usul dari Pak Satrio. Tapi aku menyiapkan semua keperluan kita untuk berangkat, Mulai baju ganti untuk Tangguh dan Thavisa, tisu basah dan tisu kering, camilan Tangguh aku persiapkan semua. Netra Pak Satrio bergerak mengikuti arah langkahku.


" Kau mau.....?" tanya Pak Satrio berdiri dan mendekat padaku, aku menghindar karena tahu apa yang akan Pak Satrio lakukan. Pak Satrio tersenyum melihat kesigapanku menolak.


" Kau berhutang banyak padaku, aku minta ganti rugi padamu karena kau sudah menamparku dua kali. Aku akan membuat kau membayar sampai kelelahan dan jangan coba - caba minta aku menghentikan semua sebelum aku yang berkeinginan menghentikannya. "


Pak Satrio tersenyum, senyum kemenangan kemudian tertawa lebar melihatku dengan kegugupan yang aku punya. Setelahnya berjalan keluar kamar membawa Tangguh dalam gendongan.


" Bukan hanya kelelahan bahkan sampai kesakitan." ucap Pak Satrio tersenyum, sebelum menutup pintu melangkah keluar kamar.


..........


Tangguh dan Thavisa sudah rapi dan siap akan berangkat hanya menunggu Pak Satrio yang menerima sambungan telepon dari rekan kerja beliau. Sebuah mobil putih dengan cepat masuk ke halaman. Adrian terburu - buru lari masuk ke dalam rumah. Ku ikuti Adrian yang masuk rumah karena wajah dinginnya terlihat cemas.


" Pa......Pa.....," serunya memanggil Pak Satrio.


Pak Satrio memberi isyarat dengan tangan kalau masih berbicara serius dengan lawan bicara beliau melalui sambungan telepon. Adrian tampak panik tidak sabar menunggu Pak Satrio. Berjalan mondar - mandir sambil tak lepas memandang Pak Satrio.

__ADS_1


Bu Elly datang menghampiri Adrian,


" Sepertinya kau sangat panik ? Apa ada masalah ? tanya Bu Elly lembut pada Adrian.


" mama.....mama.......mama kecelakaan sekarang kritis," jawab Adrian terbata.


Pak Satrio langsung menoleh kearah Adrian karena mendengar Mbak Asri mengalami kecelakaan. Setelah berbicara untuk menutup telepon Pak Satrio mendekat dan berkata pada Adrian, " Kapan ? Dimana sekarang ? Ayo.....? Wajah Pak Satrio terlihat cemas dan bergegas akan pergi. Sesaat beliau memandang ke arahku yang menggendong Thavisa dan Menggandeng Tangguh berdiri di ambang pintu melihat semua. Langkah beliau terhenti kemudian berpaling ke arah Adrian yang ada dibelakangnya.


" Maafkan papa, Papa tidak bisa ikut. Papa sudah berjanji pada mama Arin tidak akan berhubungan lagi dengan mamamu apapun yang terjadi,"


Adrian mengarah dan memandang tajam padaku. Tidak berbicara padaku kembali mengarah pada Pak Satrio.


" Aku tahu papa sudah tidak mempunyai rasa cinta untuk mama, tapi aku yakin rasa kemanusiaan papa masih ada." ucap Adrian bergetar pada Pak Satrio.


" Bagi Adrian, mama adalah wanita yang paling malang yang Adrian temui secara nyata. Beliau harus mengikuti semua aturan di keluarga papa, saat beliau masih sangat belia. Mama berpindah dari satu pria ke pria yang lain karena berharap mendapatkan seseorang yang sangat mencintai mama. Maaf jika mama merasa, papa tidak mencintai mama dan lebih memilih berlebihan mencintai Oma," sedu sedan Adrian menggema di ruangan ini.


" Adrian ! jaga ucapanmu ! " seru Bu Elly pada Adrian.


Pak Satrio seperti kebingungan dengan keadaan ini, wajah beliau seperti cemas. Berkali - kali beliau menghela nafas dan menghembuskan dengan kasar. Seperti gusar memandangku yang menggendong Thavisa dan menggandeng Tangguh berganti, beralih lagi memandang kearah Adrian.


" Tidak ada yang salah dalam perceraian mama dan papa hanya kesalahpahaman besar saja penyebabnya. Papa sangat mencintai Oma Elly sebagai ibunda papa dan mama menginginkan papa mencintai mama melebihi dari segalanya. " Adrian terus menyuarakan hatinya.

__ADS_1


" Tapi, tidak ada maaf untuk peselingkuh," ujar Pak Satrio lantang.


" Mamamu berkali - kali berselingkuh dengan pria lain. Itu alasan papa menceraikan mamamu, dan kau tahu semuanya," suara Pak Satrio yang semula lantang menurun dan menurun.


Pak Satrio berusaha duduk di sofa dengan segala daya yang hilang. Entah kemana perginya lelaki dewasa berkharisma itu. Beliau lunglai dan seperti kebingungan. Bagai raja hutan yang kalah bertarung, butuh pegangan dan sandaran.


" Pergilah dulu, papa nanti menyusul. Ada keluarga papa yang harus papa jaga perasaannya," tutur Pak Satrio tertatih. Wajah beliau sangat pilu, netra beliau menerawang.


Aku tidak sanggup dengan keadaan ini. Aku memilih keluar dari situasi ini. berbalik ke arah taman, mengajak Tangguh berjalan agar tidak mendengar semuanya. Biarlah mereka menyelesaikan masalah mereka tanpa aku tahu dan tanpa aku dengar.


" Pa.......lihatlah Adrian dan Adry sebagai anak papa, kalau papa sudah sangat membenci mama," pinta Adrian masih jelas aku dengar dari luar. Adrian mendahuluiku berjalan kemudian berbalik dan berkata.


" Berbelas kasihlah kepada lawanmu yang sudah kalah. Tolong ijinkan papa menjenguk mama. " Ucap Adrian dengan sorot mata yang tajam dan nada bicara yang dingin. Tatapan mata kami saling beradu beberapa detik. Tersirat kebencian dan amarah dalam pandangan mata Adrian untukku. Adrian Berjongkok menyapa Tangguh, menciumnya berkali - kali dan berganti mengusap pipi Thavisa.


" Mereka tetap adik - adikku, akan kuperlakukan mereka seperti layaknya adik sedarah dan seibu bagiku." ucapnya, Kemudian Adrian kembali melangkah menuju mobil putih yang terparkir di halaman rumah ini.


Tak terucap untuk membalas semua perkataan Adrian. Biarlah semua apa yang aku dengar pagi ini akan terbang dibawa hembusan angin kencang di kota ini. Seperti Tangguh yang tetap ceria di pagi ini, tidak tahu apa yang terjadi. Aku ingin ceria dan menganggap tidak mendengar semuanya.


Aku pernah di posisi Mbak Asri sekarang. Bertaruh nyawa melahirkan Tangguh dan Thavisa tanpa kehadiran Pak Satrio menemani. Sakit.......tapi tetap harus aku jalani, tapi sekarang kenapa semua berbalik. Aku tidak akan pernah menghalangi atau mendorong Pak Satrio untuk membesuk Mbak Asri, biarlah semua beliau sendiri yang menentukan.


" Mama mik.....Mama mik......( mama minum...... mama minum ) ," suara Tangguh menarik - narik genggaman tangan kami dan memintaku untuk kembali karena dia kehausan. Aku berjalan kembali memasuki rumah ini. Tangguh yang tak mengerti apa - apa langsung berlari ke arah Pak Satrio yang sedang duduk di sofa sedang menunduk perih dan Bu Elly yang tampak sedang berbincang dengan Pak Satrio. Mereka semua serempak kaget menoleh ke arah kami, aku dan Tangguh yang datang dari arah pintu.

__ADS_1


Bersambung.............


Mohon dukungan like dan komentar sebagai tanda novel saya telah terbaca oleh pembaca yang baik hati............


__ADS_2