Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
bab 34


__ADS_3

Kami masih duduk di ruang keluarga melihat televisi bersama. Acara yang dilihat sesuai dengan keinginan Adry. Aku rasanya juga ingin tertawa. Walau sudah duduk di bangku SMA Adry lebih suka melihat Upin Ipin. Kenapa tidak dirumah ku atau dirumah ini yang dilihat sama ? Aku duduk bersebelahan dengan pak Satrio tanpa jarak. Tangan beliau merangkul pundak ku. Serasa aneh saja Aku duduk seperti ini. Tapi aku mencoba berdamai dengan situasi sekarang.


" Assalamualaikum........Mas Satrio "


Sebuah suara perempuan membuat kami semua menoleh ke arah pintu. Bisa langsung ku tebak, ketika melihatnya Itu pasti mbak Asri. Wajahnya cantik tingginya sekitar seratus enam puluhan dengan berat badan yang seimbang. Dress panjang berwarna soft dipadu rambut panjang ikal bergelombang yang di tata cantik. High heels yang dipakai sangat tinggi menambah kesan glamor pada dirinya. Sangat jauh berbeda dengan diriku. Jantungku semakin cepat berpacu, berdetak mengikuti irama bingungku. Aku ketakutan dan bingung dengan perasaanku sendiri. Aku kuatkan bagaimanapun aku tak ingin terlihat lemah.


" Mama........."


Suara Adrian dan Adry bersamaan sambil menyambut kehadiran mama mereka. Saling memeluk untuk melepas kerinduan anak dan bundanya. Pak Satrio berdiri di belakang mereka.


" Sayang kok gak telepon.........."


Sayang.........Pak Satrio didepan mataku memanggil perempuan lain dengan panggilan sayang. Aku ingin berontak tapi tak bisa. Kata sayang untuk panggilan yang bukan istri sahnya.......aaaaaahhhhhh aku lupa dia mantan istri sah beliau. Dia ibu dari anak - anak Pak Satrio, Adrian dan Adry. Sekarang masih berstatus istri siri beliau. Aku berusaha menenangkan diriku sendiri.


" Tadi aku telepon. Mas gak mau angkat"


" Apa kehadiranku, mengganggu acara kalian ?"


" Gak kok........... ," jawab Pak Satrio berusaha memberi kepastian pada mbak Asri.


Aku yang masih tetap duduk di sofa ini. Hanya melihatnya dengan tatapan antara ingin tetap disini atau lari ke kamar. Tanpa diminta mbak Asri langsung duduk di sofa diikuti oleh pak Satrio. Mereka duduk bersebelahan tanpa jeda. Membiarkan aku yang bingung keadaan ini.


" Mama kok lama gak kesini ?"


Adry bertanya sambil matanya terus melihat TV.


" Mama sibuk. Sekarang mama kan punya usaha butik. Banyak pesanan online"


" Hai.....ini Dik Arin ya..........?"

__ADS_1


" Iya mbak.....saya Arin,"


aku menyambut uluran tangannya. Mbak Asri yang sangat ceria dan bersahabat. Perasaan bingung masih menyelimuti hatiku. Ternyata seperti ini rasanya bertemu dengan istri lain dari suami.


" Mas aku haus nich.......,"


" Soft drink dingin kan ?"


" Iya sekalian buahnya,"


Pak Satrio melangkah ke arah kulkas melakukan permintaan dari Mbak Asri. Terjawab sudah kenapa ada banyak minuman soft drink kemasan di kulkas. Kemarin aku bertanya-tanya siapa yang minum ? Karena aku melihat Adrian tidak menyentuhnya. Dia lebih suka air putih dan coklat hangat. Adry juga tidak, dia lebih suka air putih dan susu. demikian pak Satrio, beliau lebih menyukai minum air putih dan kopi.


" Makasih ya mas, "suara manja keluar dari bibir merah mbak Asri.


Adrian menoleh ke arahku. Tatapan kami bertemu. Aku tersenyum. Kutunjukkan, aku kuat dengan yang aku hadapi. Dia juga membalas senyumanku. Apa dia berharap aku pingsan karena menderita ? Oh tidak anak mudah, tidak semudah itu. Sampai di detik ini. Aku sudah melalui banyak disakiti, jadi aku terbiasa. Ku puji diriku sendiri dalam hati.


Pak Satrio mengupas apel merah kemudian membaginya padaku dan mbak Asri. Mbak Asri yang bergelayut manja pada Pak Satrio tidak membuat ciut hatiku. Aku benar - benar harus kuat. Kalau boleh jujur, hatiku sebenarnya sakit........sakit sekali. Pak Satrio hanya menyodorkan buah padaku sementara beliau menyuapi mbak Asri.


tanya Adrian sambil berdiri mengajak mbk Asri.


"Mau......mama mau......," ceria dan tersenyum manis mbak Asri mengiyakan ajakan Adrian.


" Ma......kenapa mama tidak lepas high heels nya ?


"Ini di rumah ma........,"


Adrian cepat mengambil sandal yang ada di rak. Berjalan kearah mbk Asri. Berjongkok, kemudian dengan telaten Adrian melepaskan sepatu dan menggantinya dengan sandal. Adrian berdiri dan mengacak rambut mbk Asri. Sungguh pemandangan yang membuat aku iri. Keluarga ini sangat mencintai mbak Asri. Aku seperti orang ketiga disini. Aku merasa terasing berada diantara mereka. Aku merasa sendiri walau bersama mereka. Tapi aku harus kuat walau tidak kuat. Perlombaan tanpa juri ini melelahkan aku. Aku seperti atlet lari yang tanpa start dan finish. Berpacu dengan pikiranku sendiri. Beradu dengan perasaan tak ingin terlihat lemah. Aku tidak ingin kalah walau tidak tahu finishing nya sampai kapan dan dimana.


Adrian berjalan dengan menggandeng tangan mbak Asri. Duduk sangat dekat. Mbak Asri dengan manja menyandarkan kepalanya di lengan Adrian dengan kedua tangan memeluk lengan Adrian. Sementara aku dan Pak Satrio masih tetap duduk di sofa. Kupasan apel yang Pak Satrio berikan padaku terasa pahit dan getir. Seakan lambung ku tidak bisa menerima. Apel ini tidak mau beranjak dari esofagus ku. Agak lama Adrian memainkan musik yang aku tak tahu judulnya.

__ADS_1


" Aaaahhhh mama lupa....,"


" Mas Satrio aku punya hadiah untuk mas,"


Mbak Asri menoleh ke arah pak Satrio.


" Oya.....apa........?" tanya Pak Satrio berbunga. Wajahnya bersemangat mendengar Mbak Asri membawakan hadiah. Seperti anak kecil yang gembira ketika ayah bundanya pulang membawa oleh - oleh.


" Jangan disini, dikamar saja yuk,"


Mbak Asri berjalan menuju Pak Satrio. Menarik tangan beliau. Berusaha mengajak Pak Satrio untuk berdiri dari duduknya dan mengikuti keinginannya. Aku hanya diam melihat mereka. Ada perasaan cemburu yang terselip di hatiku. Tersenyum dalam kegetiran terselubung bahagia. Berusaha terlihat ceria melihat mereka. Sulit sekali menelan saliva ku di tenggorokan. Sulit sekali berusaha tersenyum dalam rasa iri yang menjadi selimut.


" Dik Arin ayo ikut.......,"


Pak Satrio berpaling ke arahku. Menatap tapi aku hindari dengan melihat mbak Asri.


" Aku disini saja mas........"jawabku berusaha untuk tenang......setenang mungkin.


Suara yang aku buat seolah aku tidak apa - apa ternyata tidak berhasil. Suaraku parau dengan getaran amarah yang aku tahan.


Adry yang masih setia melihat kartun kesukaannya tidak perduli dengan keadaan ini. Sementara Adrian tanpa basa basi langsung menatap kearahku . Sorot mata dingin dan tajamnya sulit aku artikan. Apa makna dari tatapannya. Tangannya berhenti memijit tuts tuts piano. Badannya berpaling ke arahku serta memandangku tanpa berkedip. Tidak memperdulikan orang tuanya yang sudah menutup pintu kamarnya. Aku tidak tahu isi hatinya. Apa Adrian menatapku karena merasa senang ? Tapi sorot matanya............. Walau terasa dingin dan tajam. Seakan mengatakan kalau ada rasa iba dan simpati padaku.


Sementara badanku seperti seakan menerima respon ketakutan, kegelisahan dari otakku. Saraf - saraf motorik ku lemas tidak berfungsi. Aku lemas, aku letih, aku lelah. Aku tidak berdaya. Aku mengaku kalah dengan perlombaan ini. Aku tidak mampu bertahan. Aku tertatih dalam diam. Aku hanya mampu menjadi yang terkalahkan. aku bukan pemenangnya. Aku kalah dengan sikap manja mbak Asri. Aku kalah dengan kecantikan mbak Asri. Aku iri dengan posisinya di keluarga ini. Aku tersudut dengan sendirinya karena keadaan ini. Dan yang lebih kalah, aku tidak bisa berjuang untuk diriku sendiri. Aku kalah dengan lemahku sendiri. Aku kalah dengan pikiranku sendiri. Aku kalah dengan tidak bisa menjaga badanku untuk tetap kuat. Bayangan hitam dan gelap kembali di pelupuk mataku. Aku sandarkan tubuhku di sofa ini. Berusaha bertahan untuk tetap seimbang walau sudah tak mampu lagi.


Ya Allah aku tidak kuat melihatnya..........


Ini bukan hanya gosip atau rumor atau bahan ghibah. Tapi dengan mata kepalaku sendiri aku melihat mereka masuk ke kamar dan menutup pintu. Aku istri sah dari suamiku Pak Satrio. Walau beliau tidak pernah mencintaiku. Tapi tetap aku istri sah beliau. Kenapa begitu tega melakukannya dengan tidak memperdulikan perasaan sakit hatiku ? Kenapa beliau tidak mau menolak keinginan mbak Asri dan tetap duduk bersamaku ?


Bersambung.....................

__ADS_1


Jangan lupa untuk selalu tersenyum walau dalam hati terasa sakit.


__ADS_2