
Pagi ini aku bangun dengan mata bengkak, karena menangis semalaman. Aku mengambil air wudhu untuk sholat subuh. Selesai sholat aku berdoa dan mengaji untuk ibuku. Kembali aku teringat akan ibuku. Air mataku menetes dengan iringan doa doaku. Dadaku sesak sekali, mungkin inilah yang dikatakan sakit tidak berdarah, luka yang tidak kasat mata. Aku merasa benar - benar sendirian sekarang. Biasanya ada ibu yang selalu membangunkan aku, ketika sepertiga malam ku dan subuh ku datang. Selalu ada ibu yang menemani aku, ketika tugas - tugas kantor aku bawa pulang untuk ku kerjakan sampai larut malam. Ada ibuku yang selalu membuatkan aku teh hangat, ketika aku datang kerja dalam keadaan basah kuyup karena kehujanan. Ada ibuku yang selalu tersenyum saat wajahku kalut. Ingin rasanya aku ikut ibu saja. Rasanya aku benar - benar kehilangan, hammpa terasa dalam hidupku.
Ku lipat mukena putihku dengan agak terburu - buru. Bunyi notif tanda pesan wa masuk. Ya aku memang menunggu pesan dari mas Ravi. Mulai dari kemarin setelah aku mengabari kalau ibu sudah tiada.
Mas Ravi.
( Aku ikut berbelah sungkawa yang sedalam - dalamnya dengan meninggalnya ibu. Mudah - mudahan beliau ditempatkan disisiNya. )
Aku sedikit terhibur dengan balasan pesan dari mas Ravi. Benar kata ibuku, aku tidak akan sanggup sendirian disaat kondisi seperti ini. Beruntung aku masih memiliki mas Ravi, yang mampu menguatkan aku. Mas Ravi yang mampu tetap membuat aku tegar. Mas Ravi yang menemani aku disaat aku kehilangan ibu. Masih ada sedikit harapan untukku agar tetap bertahan hidup. Sekarang, aku hanya mampu menyandarkan kepalaku pada mas Ravi saja karena ibu sudah tidak menemaniku. Hanya mas Ravi harapanku satu - satunya.
Aku memainkan jari - jariku membalas pesan wa dari mas Ravi
Aku
( Iya mas terima kasih banyak sudah menguatkan aku )
( Terima kasih banyak sudah mau bertemu dengan ibuku disaat - saat terakhir hidup beliau. )
Mas Ravi.
( Maafkan aku Arin )
( Aku tidak bisa di sisimu saat seperti ini. Jaga kesehatan ya Rin jangan sampai sakit dan capek, karena menangis juga butuh tenaga yang banyak. )
Aku tersenyum dengan candaan mas Ravi yang berusaha menghiburku. Benar juga kata mas Ravi menangis juga membutuhkan kekuatan fisik.
Aku
__ADS_1
( Aku tidak apa - apa mas. Mas Ravi kan juga sedang merawat ibu. Mas baik - baik ya di sana. salam buat ibu dan keluarga mas. )
Tidak ada jawaban..............
Tanganku masih tetap memegang HP sambil menunggu jawaban dari mas Ravi. Aku melihat foto - foto ibu di galeri HP ku. Tidak terasa air mataku jatuh lagi semakin deras. Aku meringkuk seperti bayi dalam kandungan memeluk HP dengan layar bergambar foto ibuku. Aku menangis tanpa suara hanya air mata yang tidak henti - hentinya keluar dari sudut kelopak mataku. Tidak terasa sudah berapa menit aku tertidur dalam posisi seperti janin dalam kandungan. Sekarang sudah menunjukan pukul enam lebih tiga puluh menit. Aku melihat aplikasi Wastapp mungkin ada jawaban dari mas Ravi, ternyata belum dijawab. Dengan menghela nafas panjang aku berdiri dari tempat sholat menuju ke ruang tengah di mana ada kakak- kakakku dan adikku.
Di ruangan ini walau ada dua kakakku dan adikku ternyata membuat aku semakin sendiri. Mereka duduk dengan pasangan masing - masing. Ya Allah, kenapa aku sangat sakit melihat mereka. Aku juga ingin seperti mereka meratapi ibu dalam pelukan orang yang mereka cintai. Meratapi ibu dengan pasangan mereka. Tidak kuat aku melihat mereka. Aku putuskan kembali masuk ke kamarku. Membaringkan badanku yang lelah karena pikiran. Aku merasakan kelelahan pikiran ternyata jauh membuat kita lemah dan lemas daripada kelelahan fisik. Kembali aku meraih hp yang tadi aku letakkan di nakas sebelum aku keluar dari kamar.
Aku
( Mas Ravi.......... )
( Mas mau kan menemani aku disaat aku dalam keadaan sulit seperti ini ? )
( Aku benar - benar membutuhkan mas ada di sampingku. )
Kembali aku menghela nafas panjang dan menghembuskan nya secara perlahan mencoba melonggarkan bebas sesak dan penuh di dada. Ya Allah kenapa aku membayangkan hal seperti ini ? Kenapa timbul perasaan ingin menikah yang merontah - rontah seperti ini ? Apa karena aku merasa ingin seperti kakak dan adikku ? Selama ini tidak terbersit dalam pikiranku tentang pernikahan dengan mas Ravi ? Aku memang berusaha menghilangkannya. Aku sudah cukup bahagia dengan mas Ravi walau tidak pernah sedikitpun mas Ravi membahas masalah seserius ini denganku.
Mas Ravi
( Arina........maaf, kalau aku tidak bisa menemanimu disaat seperti ini dan mungkin tidak akan sama seperti sebelum sekarang. )
Mas Ravi membalas pesan Wastapp ku dengan kalimat yang terlalu sulit aku mengerti. Aku tidak mengerti maksud mas Ravi dengan kalimat. " Tidak akan sama seperti sebelum sekarang."
Aku
( Mas.....tolong jelaskan maksud mas. Tolong jangan menggunakan kalimat seperti itu denganku aku tidak faham. )
__ADS_1
Mas Ravi
( Arin...... maaf aku tidak bisa seperti Ravi yang kau kenal karena ibuku. )
Aku
( Mas Ravi apa maksud mas ? )
( Tolong jelaskan ? )
Aku sangat tidak mengerti dengan pesan - pesan dari mas Ravi. Aku berusaha sabar menunggu jawaban dari mas Ravi. Ternyata hati ini dan organ tanganku tidak seperti itu, sangat bertolak belakang. Antara hati dan pikiranku tidak sama. Aku menelepon mas Ravi. Belum terjawab sampai panggilan ke dua aku mengulangi lagi ke panggilan yang ke tiga.....
" Iya saya Ravi, maaf saya jelaskan kalau sudah di kantor saja. " ucap Mas Ravi menerima panggilan telepon dariku.
Kalimat aneh apa lagi yang keluar dari mulut mas Ravi. Aku bingung dan berusaha menghubungi mas Ravi kembali, teleponnya tidak aktif.
Ya Allah ada apa dengan mas Ravi. ? Kenapa nada bicaranya sangat formal seperti berbicara dengan klien saja. ?
Sampai malam hari ketika acara pembacaan surat Yasin untuk ibu usai. Mas Ravi tidak membalas pesanku atau menghubungiku. Pikiranku bertambah lagi. Aku masih meratapi kepergian ibuku sekarang mulai tumbuh cabang baru memikirkan mas Ravi. Aku takut mas Ravi ada masalah dengan kantornya atau dengan keluarganya. Berusaha dalam hatiku menenangkan diriku sendiri. Berusaha memahami mas Ravi mungkin tadi dalam kondisi yang seharusnya tidak aku hubungi.
Mas Ravi
( Arin, maafkan aku tapi percayalah aku akan tetap menjagamu sampai kapanpun seperti janjiku pada ibumu.)
Pesan wa dari mas Ravi aku baca berulang - ulang setelah menunggu hampir dua belas jam. Aku alihkan pandanganku ke jam dinding kamar sekarang jam setengah dua dini hari. Mas Ravi baru membalas pesanku. Aku tidak bisa berkata apa - apa lagi kecuali helaan nafas panjang dan aku hembuskan perlahan sebagai jawabannya. Aku ingin menenangkan diriku, dengan bersimpuh merendah dalam sepertiga malam ku. Aku mengambil air wudhu untuk mencurahkan semua pada Allah. Aku yakin akan tenang setelah aku sholat.
bersambung........
__ADS_1
mohon like dan vote nya