
" Aku akan ke ..........( menyebut nama kota asalku ) untuk beberapa hari ? Apa kau mau ikut ? Kita bisa jenguk bapak dan saudara - saudaramu ? Dan bisa melihat Jhoji." kalimat pemberitahuan Pak Satrio membuat aku senang. Walau cutiku kurang satu minggu lagi tapi aku sudah kangen dengan kota kelahiranku.
" Nanti aku berangkat selepas senja, jadi bersiaplah kalau kau mau ikut. Aku mungkin bermalam disana dua atau tiga hari saja.' ucap Pak Satrio memberitahu.
" Iyaaa saya ikut mas," jawabku dengan senang.
" Tapi kau harus ikut lagi.....( menyebut kota kami tinggal ). Cuti mu masih ada satu mingguan lagi kan ? Sayang kalau kau terburu - buru pulang lebih awal,"
" Iyaa....aku ikut mas lagi kemari," jawabku lagi dengan tersenyum.
" Iyaa bersiaplah aku menjemputmu. Apa Tangguh dan Thavisa ikut serta," tanya Pak Satrio padaku.
" Tidak mas, kasian nanti lelah biarkan dengan ibu saja," jawabku dengan menggeleng pelan.
Pak Satrio terbelalak tidak percaya dengan yang aku ucapkan. " sungguh.....kau membiarkan Tangguh dan Thavisa bersama ibu," tanya Pak Satrio
" Emmmm. Bukankah kita hanya dua atau tiga hari saja ? " Aku balik bertanya kepada pak Satrio.
" Iyaa paling lama tiga hari," jawab Pak Satrio sambil mencium keningku. Karena bersiap akan berangkat ke tempat kerja.
.....................
" Dik Arin bangun..... Ayo bersiap. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat. " ajak Pak Satrio membangunkan aku dari tidur.
Aku sangat kelelahan karena perjalanan. Semula kami akan berangkat sesuai jadwal, tapi karena Pak Satrio masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan dan tidak bisa ditunda kami berangkat jam satu dini hari tadi, dan kami tiba saat matahari sudah menampakkan senyum cantiknya. Aku sudah meminta untuk menunda saja keberangkatan, tapi Pak Satrio menolak dengan alasan sudah membuat janji dengan relasi beliau.
" Aku sudah menyiapkan sarapan, kau pergilah mandi ! Perintah Pak Satrio padaku.
" Bapak kok belum kelihatan mas, apa beliau keluar ? tanyaku pada Pak Satrio ketika melihat keadaan rumah yang sepi. Selama aku di......( kota tempat tinggal Pak Satrio ), Jhoji tinggal bersama adikku Arsita.
" Bapak barusan keluar, " jawab Pak Satrio tenang.
" Kita mau kemana mas ? Ke lahan ? Kok tumben mengajakku ? " tanyaku keheranan.
" Iyaa .....," jawabnya lagi dengan tenang.
............
" Mas.....mau mengurus surat - surat lagi ? tanyaku pada Pak Satrio yang menghentikan mobil di depan kantor notaris dan PPAT.
" Iyaa....kita lihat saja nanti," jawab Pak Satrio seolah acuh tak acuh dengan pertanyaanku.
__ADS_1
Aku memasuki ruangan kantor notaris dan PPAT, betapa kagetnya aku disana sudah ada bapak, Mbak Ayunda dan suaminya, Adikku Arsita dan suaminya serta kakak laki - lakiku.
" Kenapa semua berkumpul disini mas ?" tanyaku keheranan sambil berjalan ke arah keluargaku yang duduk di kursi dalam ruangan ini.
" Kita lihat saja apa kehendak mereka," jawab Pak Satrio sambil tersenyum dan memandang ke arahku. Aku semakin bingung dengan arti senyum Pak Satrio padaku.
" Selamat pagi Pak Satrio, bagaimana perjalanan Bapak ? " tanya seorang pria seperti sudah akrab dengan Pak Satrio.
" Baik Pak Satria, lancar. Apa semuanya sudah siap ? Tanya Pak Satrio pada seseorang yang bernama sama dengan beliau, hanya perbedaan pengucapan saja. Pak Satrio berakhiran O dan pria tersebut berakhiran A.
" Ya bisa kita mulai sekarang," jawab Pak Satria mengajak kami melangkah ke ruangan dimana ada keluargaku.
Keluargaku menyambut kami dengan tersenyum. Pak Satrio masih berbicara serius dengan Pejabat PPAT Pak Satria.
" Ada masalah apa kita semua berkumpul disini ? Bahkan Mas Taufik sampai datang dari luar pulau ? tanyaku pada saudara - saudaraku keheranan.
" Apa suamimu belum memberi tahu ? Mbak Ayunda balik bertanya setengah berbisik padaku.
" masalah apa ? " tanyaku lagi.
" Pak Satrio membeli rumah peninggalan ibu ( rumah yang aku tempati saat ini dengan bapak, Jhoji dan anak - anakku. ) untukmu," jawab Mbak Ayunda padaku.
" He.....itu tidak mungkin." ucapku tetap tidak percaya dengan pemberitahuan Mbak Ayunda.
Pak Satrio dan pejabat PPAT datang ke ruangan kami. Pak Satrio duduk bersebelahan denganku. Tangan beliau menggenggam erat tanganku.
Pejabat PPAT memberi penjelasan pada kami, karena tanah dan rumah yang kami tempati adalah tanah hibah milik ibu dari pemberian orang tua ibu ( kakek dan nenek dari pihak ibuku ) jadi pembagian tanah dan rumah hanya untuk anak - anak ibu saja kami berempat. Rumah tersebut dibeli oleh Pak Satrio atas namaku. Aku terharu dengan kejutan dari Pak Satrio. Selama Pejabat PPAT memberi penjelasan pada kami. Pak Satrio tak henti - hentinya tersenyum dan sesekali menoleh padaku.
" Apa kau suka dengan kejutanku ? tanya beliau padaku setengah berbisik di telingaku
" Sangat.....Kenapa tidak bilang lebih awal," tanyaku
" Kalau bilang, namanya bukan kejutan." jawab beliau santai dan tersenyum.
" Aku punya permintaan untukmu. Bagaimana kalau uang hasil penjualan tanah untukmu kau berikan pada bapak saja ? Bukankah kau sudah mendapatkan rumah dariku ? tanya Pak Satrio.
" Iyaa saya setuju dengan usul mas," jawabku tanpa berpikir panjang. Bagiku memiliki rumah tersebut tanpa mengeluarkan uang sepeserpun sudah hadiah terbesar yang aku terima.
Segala sesuatu yang berkaitan dengan penjualan tanah, pembagian dan pembuatan sertifikat tanah sudah selesai dibicarakan dengan baik di pagi ini, di hari ini.
" Ini hadiah untukmu karena sudah melahirkan Tangguh dan Thavisa untukku." ucap Pak Satrio saat kami sudah berdua saja di mobil dan dalam perjalan ke lahan milik Pak Satrio.
__ADS_1
" Saat aku datang ke sini, aku bisa singgah dirumah kita sendiri. Kau, Tangguh dan Thavisa akan menyambutku dengan tersenyum," ujar Pak Satrio.
" Sengaja aku membeli rumah itu untukmu, karena aku yakin ada banyak kenangan disana. Ketika aku menghubungi saudara - saudaramu mereka setuju kalau aku membelinya untukmu. Kami sudah sepakat untuk bertemu hari ini. Bapak juga setuju dengan usulku untuk membeli rumah itu." cerita Pak Satrio tapi tetap fokus pada jalan karena mengemudi.
" Kapan mas menghubungi bapak dan saudara - saudaraku ? tanyaku heran.
" Beberapa hari yang lalu, kami masih menunggu kakakmu datang dari luar pulau," jawab Pak Satrio.
" Apa tidak terlalu berlebihan ? Jujur saya senang tapi saya takut berlebihan saja. "
" Aku ingin membuat kau senang, itu saja tujuanku. Aku juga merasa tidak nyaman kalau aku menginap disana tapi bukan aku pemilik rumahnya ? jawab Pak Satrio tegas.
" Apa mas juga seperti ini terhadap Mbak Asri ? Pertanyaan bodoh dan kepo ku keluar lagi dan lugas tertutur lewat kalimat tanya yang aku lontarkan pada Pak Satrio.
Pak Satrio menghela nafas panjang. Tidak menjawab pertanyaan dariku. Beliau mengigit bibit bawah beliau sendiri. Kami saling terdiam untuk waktu yang lama selama perjalan ini. Dari pusat kota ke lahan milik Pak Satrio membutuhkan waktu sekitar 1 jam perjalan. Kami memasuki area perkantoran dengan ornamen Belanda.
Beberapa Orang menyambut kami, aku kurang begitu tahu siapa mereka. Mungkin para staf administrasi kantor disini. Karena aku baru pertama kali kemari.
Aku berkeliling mengitari kantor yang lumayan besar ini, karena bangunannya peninggalan Belanda. Di belakang bangunan ada beberapa bangunan lagi ketika aku lihat ada banyak karyawan yang memilah - milah daun tembakau.
" Apa kau mau masuk kedalam untuk melihat ?" tanya Pak Satrio tiba - tiba bertanya padaku dari belakang.
" Tidak .....saya lelah ingin duduk saja di kantor. Tapi saya suka bau khas tembakau," jawabku.
" Ada ruang istirahat milikku. Kau bisa istirahat disana, sementara aku masih harus menyelesaikan beberapa hal disini,"
" Mas.....saya lapar pintaku tiba - tiba pada Pak Satrio,"
" Sebentar lagi ada banyak penjual bakso karena waktu istirahat makan siang. Biasanya para pekerja membeli secara beramai - ramai. Baksonya enak, aku juga suka membeli,"
" Mas makan bakso disini ? Bakso kaki lima dengan gerobak ? tanyaku tidak percaya. Karena yang aku tahu Pak Satrio makan selalu rumah makan atau di restoran yang terlihat bersih dan ........
" ha.....ha....apa kau pikir aku juga tidak pernah makan di kali lima ? aku juga sering makan di angkringan." jawab Pak Satrio dengan tertawa.
" Benarkah.....saya tidak pernah tahu ?" tanyaku....
" Kau ingin makan di angkringan juga ? " tanya Pak Satrio.
" Iya......nanti malam ? tanyaku bersemangat.
" Siap akan aku antar, kemanapun kau mau," jawab Pak Satrio tersenyum menggodaku.
__ADS_1
Bersambung..........