Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Bab 64


__ADS_3

Aku mencoba membersihkan luka Henry dengan alat medis seadanya yang aku bawa dari Kantor. Mencabut pecahan - pecahan gelas yang tampak oleh mata.


" Aaaah pelan yang besar saja, yang kecil - kecil biar nakes yang menangani. " pinta Henry setengah merengek. Seolah lupa apa yang barusan dia lakukan.


" Mbak Arin mencabut pecahan kaca, malah hatiku yang tercabut," gurau Henry meredakan suasana tegang.


" Henry kau masih bisa gurau dalam keadaan seperti ini ? " Henry semakin tertawa melihatku yang panik karena lukanya.


" Mbak....tolong telepon mama. Batalkan pinjaman Mbak Arin. Aku yang akan menanggung semua. Mbak Arin gak usah cemas," pinta Henry melunak.


Pada akhirnya aku yang harus mengalah dan memenuhi keinginan Henry. Menelepon Bu Merry membatalkan pinjamanku.


" Arin......kamu benar gak jadi pinjam ? Kalau kau jual perhiasan apa tidak merasa sayang ?" tanya Bu Merry yang keheranan dalam waktu belum dua jam aku sudah membatalkan pinjamanku pada beliau.


" Bilang ke Dita, kau pinjam uang pribadiku bukan uang kantor. Kau bisa mengembalikan kapan saja kalau ada uang. Kau sebaya dengan Dandy, kau sudah seperti anakku," bujuk Bu Merry.


Suara keras di HP juga terdengar oleh Henry. Henry sesekali melirik tapi tetap fokus mengemudikan mobilnya walau dengan tangan satu. Tangan yang terkena pecahan gelas tetap menggenggam.


" Maaf Bu Merry saya sudah merepotkan keluarga ibu,"


" Rin, kalau perlu sesuatu bilang jangan sungkan. "


" Iya ibu baik." jawabku kemudian menutup sambungan telepon.


" Begitu lebih baik. Aku yang menanggung semua biaya Mbak Arin." ungkap Henry ketika melihat aku memasukkan kembali HP dalam tas kerjaku.


" Henry jangan keras kepala seperti ini. Aku tidak nyaman dengan keadaan ini."


" Aku yang sakit hati melihat kehidupan Mbak Arin seperti ini. Hampir tiga tahun aku menahan semuanya. Belajar tidak menelepon Mbak Arin walau ingin berbicara. Berusaha tidak menemui Mbak Arin walau ingin bertemu. Aku menghormati pernikahan Mbak Arin, aku tidak ingin merusak kebahagiaan Mbak Arin. Aku pikir Mbak sudah hidup senang, tercukupi finansial. Aaaaahhhh," gerutu Henry seperti ada banyak penyesalan dalam hatinya. Kecewa yang tak dapat dia sembunyikan terlihat jelas di wajahnya.


" Kenapa Mbak harus hidup seperti ini ? Kenapa tidak cerai saja ? Kenapa harus menunggu dalam hubungan yang tidak pasti ? Masih banyak waktu kalau Mbak Arin mau bahagia. " tandas Henry padaku.


" Menunggumu juga hubungan yang tidak pasti," ucapku lirih.

__ADS_1


" Kalau Mbak Arin mau menunggu, mungkin kita sekarang sudah bersama. Dan yang ada dalam perut Mbak Arin adalah anakku, bukan milik orang lain."


Aku berdiam membiarkan Henry mengeluarkan semua apa yang ada dalam hatinya. Suaranya bergemuruh bagai hujan badai dengan kilat dan cahaya. Matanya bergerak - gerak lincah memandang ke depan, melirik ke arahku, sesekali wajahnya berpaling ke arah kaca mobil melihat keluar.


" Henry sudahlah.....Aku tidak ingin membahas masa lalu. Sekarang semua sudah terjadi. Suatu hari nanti kau akan bertemu dengan gadis yang sesuai denganmu dan yang lebih baik dariku," hatiku bergetar mengucapkan kalimat itu. Kalimat yang seharusnya aku ucapkan hampir tiga tahun yang lalu.


" Zaman sekarang hidup sendiri sudah lazim terjadi,"


" Henry tidak baik bilang seperti itu. Mamamu pasti ingin melihat kau menikah, mempunyai keturunan dan hidup bahagia,"


" Apa aku bisa bertemu dengan perempuan seperti Mbak Arin ?" Kembali aku terdiam dengan pertanyaan Henry.


" Henry .....kita mau kemana ? " tanyaku pada Henry mengalihkan pembicaraan kami.


" Tentu saja ke Rumah Sakit. Apa Mbak kepingin jalan - jalan denganku ?"


" Kenapa mengajakku ?"


" Kalau aku pingsan di jalan, Mbak bisa minta bantuan ke orang sekitar. " jawaban Henry yang selalu asal menjawab, kali ini ada benarnya juga.


Kami menuju IGD rumah sakit ini. Para tenaga medis dengan cepat menangani tangan Henry yang terluka, masih ada pecahan gelas yang menusuk masuk ke tangannya.


" Mas nya kuat sekali nahan sakit," ujar salah satu perawat yang menangani Henry.


" Biasa sakit hati nurse, jadi sakit seperti ini gak terasa," jawabnya sambil tersenyum menutupi rasa sakitnya. Mata Henry melirik ke arahku yang duduk di sebelah ranjang IGD tempat Henry di rawat.


" He....he....Masnya bisa saja," ucap perawat tadi.


Suara notif panggilan masuk di HP Henry berbunyi. Henry berusaha meraihnya dan menerima panggilan tersebut.


" Tidak apa - apa Ma....Aku hanya terjatuh saja dan terkena gelas. Mama tidak usah panik," ucap Henry menerangkan. Jelas sekali Henry berbicara dengan Bu Merry, ibunya.


Sesaat kemudian Dokter Dandy datang dengan tergesa-gesa. "Kau sungguh tidak apa - apa ? " tanya Dokter Dandy pada Henry yang masih dalam penanganan dokter jaga IGD.

__ADS_1


" Aku sehat Ko ," jawab Henry pada kakaknya.


" Setelah ini pulang, istirahat !" perintah Dokter Dandy pada Henry.


" Ko Dandy juga harus pulang, bukankah besuk ko Dandy menikah ? jawab Henry asal


" Aku kerja Henry, ini kewajiban." tegas Dokter Dandy


" Aku juga melakukan kewajibanku. Aku mau konsultasi tentang Mbak Arin. Apa bisa melahirkan disini ? " Bukankah Dokter Niken juga praktek disini ? cetus Henry sambil menoleh padaku.


Aku langsung mencegah Henry memberi isyarat dengan tanganku.


" Henry tidak. Aku sudah janji dengan dokter Niken bukan di rumah sakit ini. Tapi di rumah sakit ......... "


Kenapa Dokter Dandy tidak kaget dengan perkataan Henry ? Apa Dokter Dandy mengetahui semua tentang aku dan Henry ?


" Kalau di rumah sakit tersebut sudah terjadwal sebaiknya tetap disana. Kalau pindah kelas mungkin bisa," jelas Dokter Dandy pada Henry.


" Ok aku dan Mbak Arin ke sana saja. Ko Dandy tolong urus biaya administrasiku. " ucap Henry setelah tindakan medis selesai dilakukan.


" Henry.....tolong, biar aku yang mengurusnya sendiri," selaku diantara pembicaraan kakak beradik ini.


" Mbak Arin diam ! " Seru Henry sambil memberikan telunjuk nya di bibirku yang akan mengatakan kalimat lagi.


" Henry.....kau banyak mengeluarkan darah, sebaiknya istirahat ! " Kali ini perintah Dokter Dandy dengan suara yang merendah kepada Henry.


"Akan aku urus semuanya dengan Dokter Niken. Kamu bisa tenang dan istirahat."


" Sungguh..? Ko Dandy mau mengurusnya untukku ? tanya Henry. Sikapnya sangat berbeda, Henry terlihat sangat manja dan dimanjakan oleh Dokter Dandy. Berbeda ketika berdua saja denganku.


" Kapan jadwal operasinya ? "


" Dua hari lagi," jawabku bersamaan dengan Henry. Kami saling berpandangan karena memberi jawaban secara bersamaan.

__ADS_1


" Berarti besuk malam sudah stay di rumah sakit ? Nanti akan saya bicarakan lebih lanjut dengan Dokter Niken. Mbak Arin, tolong temani Henry pulang. " saran Dokter Dandy halus padaku.


Bersambung........


__ADS_2