
Nada panggilan dari HP ku berbunyi untuk ke empat kalinya. Tidak bermaksud aku terima karena sudah tahu dari siapa. Kubiarkan saja walau sedikit berisik. Aku masih di pembaringan bersama Tangguh anakku. Merebahkan badan karena aktivitas yang melelahkan sepanjang hari ini. Barang - barang ATK datang hari ini. Dua truk besar penuh dengan barang - barang toko milik keluarga Henry. Sehari ini aku lembur mencocokkan barang yang aku terima dengan nota pembayaran. Malam ini aku ingin tidur nyenyak dengan Tangguh. Ku matikan HP ketika tidak bernada lagi. Aku ingin bebas dari beban karena Pak Satrio.
flash black
Tanda garis dua tertera jelas di test pack yang aku pegang. Keadaan yang sudah aku terka dari awal. Bukan suatu kesalahan jika aku hamil, karena mempunyai suami. Tapi suatu hal yang salah jika aku tidak menghalanginya sedari awal. Bukan karena apa Tangguh masih berusia lima bulan. Tapi tetap saja aku terjang. Entahlah suatu keinginan atau apa. Dari aku mempunyai keinginan untuk menikah, aku berharap mempunyai tiga atau dua anak yang lahir dari rahimku sendiri. Hanya dengan Pak Satrio aku memperoleh kesempatan untuk bisa mengandung dan melahirkan, karena Pak Satrio suamiku. Aku keluar dari kamar mandi dan bergegas berpakaian. Mengantarkan Jhoji keponakanku ke sekolah dan mengantar Tangguh ke rumah adikku. Tidak ingin apa - apa dalam hatiku sebagai ibu yang sedang hamil muda. Jadwal hari ini sangat padat Ko Dion kemarin sudah memberitahu kami pegawainya kalau hari ini ada barang yang datang. Ku melajukan motor matic ini dengan kecepatan standar. Memarkirkan motor bersebelahan dengan motor milik Dita yang sudah berjajar rapi.
Jam setelah istirahat siang tetiba rasa mual dan pening datang begitu saja tanpa diundang. Aku langsung ke kamar mandi diikuti oleh Dita yang juga panik melihatku.
" Mbak Arin gak apa - apa ? " tanya Dita yang tetap mengikutiku dari belakang. " Mbak Arin pucat Lo..... Mbak Arin sakit ?" ulang Dita yang terus bertanya. Tangannya langsung memijit pundak dan punggung ku. " Mbak.......? Mbak Arin hamil ? Dita langsung bisa menebak tanpa berpikir panjang. " Aduh mbak kasihan Tangguh masih kecil. Apa Om Satrio tahu mbak Arin hamil ?" Aku memberi isyarat ke Dita dengan tanganku. Dita terdiam berbicara tapi dengan tangan yang terus memijit pundak dan punggungku.
" Dit..... aku bisa minta tolong ? "
" Iya mbak..... Mbak Arin ngidam apa ? Aku carikan, " sahut Dita semangat dengan pertanyaanku. Aku tersenyum tipis pada Dita yang tetap memandangiku dengan rasa takjub karena mengetahui aku hamil lagi saat Tangguh masih kecil.
" Jangan cerita ke Om Rudi dan istri beliau kalau aku hamil. Aku tidak ingin Pak Satrio tahu aku hamil." pintaku atau mungkin sebuah perintah untuk Dita. Dita membelalakkan matanya di barengi mengerutkan keningnya seakan tidak yakin dengan apa yang aku ucapkan barusan.
"Mbak.......!"
" Aku tidak mau Pak Satrio tahu aku hamil. Kami sepakat tidak ada komunikasi lagi sampai beliau sendiri yang mengajukan permohonan cerai. "
__ADS_1
" Cerai....? Mbak Arin mau cerai dengan Om Satrio ? Kenapa ?"
Aku dan Dita berjalan ke arah sofa tamu di kantor ini. Tangan Dita tetap saja sigap memegang lenganku dari belakang. Menuntun dengan sabar aku melangkah dan membantuku duduk di kursi.
" Mbak Arin sungguh mau cerai ? Tidak kasihan Tangguh, apalagi sekarang Mbak Arin hamil ?" Dita masih belum yakin sehingga berulang bertanya kenapa aku ingin bercerai.
" Pak Satrio ingin menikah lagi dengan mantan istri beliau," terangku pendek pada Dita.
Dita terbelalak tidak percaya dengan ucapan pemberitahuanku. Sedikit dan secara garis besar aku bercerita pada Dita sebab dan faktor aku ingin bercerai dengan Pak Satrio. Selama aku bercerita Dita menunjukkan wajah yang sedih dan menyesal. Dua tangan Dita menggenggam tanganku, seolah ingin memberi energi semangat. Tatapan mata kami beradu, saling menggenang air mata di pelupuk tapi tertahan.
" Seandainya aku tidak mengenalkan Om Satrio sama Mbak Arin, mungkin sekarang Mbak Arin hidup berbahagia dengan pria lain yang mencintai Mbak," Ucap Dita sambil terus menatapku dengan luapan hamparan rasa iba yang menyayat. Pilu yang aku rasakan seakan juga mengalir di hati dan sanubari Dita.
," Mbak Dita harus bangkit. Harus....untuk Mbak Arin sendiri, terlebih untuk anak Mbak Arin. Aku dukung Mbak cerai dari Om Satrio. Hilang rasa hormat dan simpatikku pada Om Satrio," kobar Dita memberi dukungan lewat ungkapan - ungkapannya yang berapi - api. Seperti seorang pemimpin perang yang memberi semangat pada laskar - laskarnya. Percakapan kami terhenti karena notif panggilan di HP ku berbunyi. Indah dengan suara nada dari penyanyi favoritku. Dita menoleh ke arahku setelah melihat Pak Satrio yang memberi panggilan di HP. Memberi kode agar aku menerima panggilan telepon beliau.
Pembicaraan yang didengar juga oleh Dita membuat Dita harus kembali terheran - heran. Membelalakkan mata dan menutup mulutnya dengan tangannya sendiri.
" Aku sudah menyusun draf gugatan cerai, tapi aku ajukan setelah pernikahanku dengan Dik Asri," Ucap Pak Satrio melalui sambungan HP. Suara beliau sangat dingin dan kaku. Seolah aku adalah orang asing bagi beliau.
," Iya......"
__ADS_1
," File nya aku kirim lewat WA. aku juga fotokan untukmu. Agar kau bisa pelajari. Mungkin ada kata yang tidak berkenan atau menurutmu terlalu menyudutkan dirimu."
" Ya akan saya pelajari."
," Ibu dan bapak sudah merestui aku menikahi Dik Asri lagi. Besuk kami akan menikah, kalau hatimu ikhlas dan berlapang dada kau boleh datang."
" Saya tidak bisa.....,"
" Tidak apa tenangkan pikiranmu dulu. Mudah-mudahan kau masih bisa berubah pikiran agar kita tidak bercerai."
"Aku tetap ingin bercerai mas."
" Iya terserah kamu saja. Saya sudah menurunkan egoku untuk memohon padamu, agar kita tidak bercerai. Usahaku sudah cukup untuk mempertahankanmu sebagai istriku," tanpa ucapan salam Pak Satrio langsung menutup telepon. Notif WA berbunyi beberapa saat kemudian. Aku membuka file salinan gugatan cerai dari Pak Satrio. Dimana aku menjadi pihak tergugat. Ada beberapa poin disana untuk pengajuan cerai. Aku keluar dari rumah selama hampir delapan bulan. Aku terlalu menuntut ekonomi yang berlebihan, Kurang komunikasi dengan pasangan, dan beberapa poin yang lain. Aku langsung memberi emoticon jempol tanpa memberi kalimat pembahasan. Aku sudah siap dengan perceraian ini. Dita tidak berkata apa - apa hanya memandangku dengan tatapan nestapa yang pilu. Gurat - gurat wajah ceria yang biasanya hadir seketika hilang tanpa sisa, wajahnya pucat pasi. Mungkin Dita merasa bersalah karena kehidupanku yang jauh dari kata bahagia. Tangannya terus saja menggenggam tanganku tanpa suara, bibirnya keluh bergetar tanpa kalimat yang bisa dia ucapkan.
Flash off.
Tolong beri komentar, kritik dan sarannya.....
Jangan lupa beri like. Terima kasih sudah membaca novel saya.
__ADS_1