
" Apa kau bisa setia denganku ?" tanya Beliau tiba - tiba padaku. Wajah beliau yang sembunyi menengadah padaku. Mencari suatu jawaban yang masih beliau ragukan. Menelusuri dan mencari jawaban lewat tatapan mata. Kami beradu berpandangan beberapa detik. Membiarkan Beliau tetap menafsirkan setiap mili meter bagian yang ku punya, memerangi garis kornea mata milikku. Mencari kebenaran disana. Ada banyak keraguan dalam netra beliau. Bagai sungai - sungai yang kering di musim kemarau menampilkan dasar - dasar sungai yang gersang. Tanah tandus terbelah, tak satupun rumput tumbuh disana. Aku tak bisa menerka bagaimana sakit hati beliau. Ketika hati beliau yang sederas sungai perlahan - lahan mulai mengering sedikit........., sedikit tapi pasti air sungai dalam hati beliau surut hilang karena terik matahari. Menjadikan hati beliau ragu akan kehidupan asmara. Menjadikan beliau kering walau di musim hujan. Menjadikan beliau sepi di keramaian. Menjadikan beliau hidup dengan rasa yang hampa pada siapapun.
" Apa suatu hari nanti kau akan berpaling dengan laki - laki yang lebih muda dariku ?” suara merendah berkeping - keping terdengar sumbang di telingaku. Memberikan pertanyaan yang membawa kami pada pertikaian.
Hendak ku jawab apa yang beliau tanyakan. seketika Beliau berujar lagi, " Ya....tentu kau masih muda, kau bisa melakukan semua saat aku tidak bersamamu," seakan mempersendakan beliau sendiri. Seakan merasa muak atas apa yang terjadi selama ini. Tapi kenapa padaku ? bukan aku yang berperilaku demikian.
" Jangan lakukan itu walau aku tidak disisimu, karena bisa membuat aku mati rasa walau kita tetap bersama."
Tangan beliau kembali memeluk pinggang ku dengan kuat. Jemariku menyusup, menyusuri helai demi helai rambut hitam lebat beliau. Membiarkan beliau masih dalam dekapanku. Kembali menyembunyikan wajah beliau di dadaku. Sesaat berlalu hening tak bersuara diantara kami. Jemariku masih menari - nari membelai rambut beliau, memberikan rasa yang mungkin kurang pada beliau. Beliau bergerak pelan mengubah posisi, membaringkan ( maaf ) kepala beliau di pangkuanku. Tangan kiri beliau menggenggam tangan kananku, sangat erat.
" Kau wanita kedua setelah ibu yang melihat aku menangis. Betapa lemahnya aku dihadapanmu," sesal Beliau tetap dengan wajah yang bersembunyi dan berbaring di pangkuanku. Seolah menertawakan keadaan yang beliau buat sendiri. Seperti seorang perwira yang gagal di Medan perang. Menangis tersedu karena laskar - laskarnya hanya tinggal nama. Ingin pulang tapi malu karena menanggung kekalahan yang telak. Tak pulang akan kemana membawa diri melangkah, sementara kaki berpijak di tanah lawan.
" Sejak kecil aku tidak berani menangis dihadapan bapak karena bapak bertambah marah jika melihat aku menangis. Hanya pada ibu aku menangis, itupun ketika hari raya. Aku akan puas menangis dalam pelukan beliau,"
" Kenapa ? " tanyaku yang tetap memberikan pangkuan untuk beliau menyandarkan ( maaf ) kepala.
" Tidak pantas laki - laki menangis." jawab Beliau memperjelas semua cerita. Tangan beliau melepas genggamannya pada tanganku dan beralih membelai wajah Tangguh.
" Dia kelak akan jadi laki - laki yang kuat dan tidak tersakiti dalam menjalin hubungan dengan siapa pun," puji Beliau pada Tangguh
" Maksud mas ?"
__ADS_1
" Aku tidak ingin anak - anakku kelak mengalami yang aku alami, dikhianati orang yang kita cintai," suara berat dan tertekan kembali terdengar. Netra Beliau terpejam dalam tangisan. Sudut - sudut netra beliau dibiarkan terlihat jelas olehku, butiran - butiran bening setetes demi setetes jatuh.
Kenapa aku juga sakit dan rawan hati melihat beliau seperti ini. Sosok lain yang baru aku tahu tentang beliau. Beliau yang aku lihat adalah laki - laki dengan sejuta kharisma dan berwibawa.
" Aku ingin tidur sebentar. Aku benar - benar lelah. Maukah kau tetap seperti ini menidurkan aku seperti anak kecil dalam dekapanmu ?" pinta beliau melepas rasa wibawa beliau. Tangan beliau menjamah tanganku lembut disandarkannya pada pipi beliau.
" Aku ingin tetap seperti ini. Jangan kau lepas.....Aku benar - benar letih dengan semua, tapi aku tidak tahu mengadu pada siapa."
Dengkuran halus bersuara dari bibir beliau. Sepulas Tangguh yang tertidur, Pak Satrio tak beranjak dan merubah posisi. Lelaki malang dengan topeng kharisma ini terlelap dalam pembaringan di pangkuanku. Tertidur dengan netra yang tetap mengalirkan air mata. Menggigil karena merasa terlindas oleh hiruk pikuk yang membuat beliau harus tetap terlihat tegar walau banyak anak panah menusuk badan beliau.
Menjelang subuh Beliau terbangun. Aku terjaga karena beliau menarik diri dari dekapanku. Beliau beranjak dari pembaringan secara perlahan. Tetap kupejamkan mataku, bukan karena apa aku lelah dan mengantuk semalaman menjaga Tangguh dan Pak Satrio yang bergantian mengigau karena mimpi mereka masing - masing. Serasa hilang rasa sakit dalam rahimku karena merawat mereka.
Pak Satrio berdiri bergantian mencium keningku dan Tangguh. Membenarkan posisi tidurku, perlahan merebahkan tubuhku di ranjang bersebelahan dengan Tangguh. Melangkah tak bersuara agar kami tak bangun.
" Bangun anak papa, jangan seperti mama habis sholat subuh tidur lagi," Sindir Beliau padaku melalui Tangguh.
" Sarapan sudah siap. Aku buatkan Capcay, cah kangkung dan jus alpukat kesukaanmu."
Aku hanya menggeliat membuka sedikit mataku yang tidak kuat menahan kantuk, sementara Tangguh sudah tersenyum bahagia melihat wajah ayahnya. Rona wajah Pak Satrio sudah seperti sedia kala, tampan dan berwibawa. Tidak ada sisa tangisan semalam, mungkin beliau sudah bisa tenang dan ceria. Seperti hukum alam, dimana malam hari hujan lebat maka pagi hari akan ada kesejukan dan kedamaian.
Beliau pagi hari ini, sudah rapi dengan kaos berwarna abu-abu dibalut kemeja coklat muda lengan panjang dan celana jeans berwarna hitam. Rambut hitam lebat disisir rapi kebelakang.
__ADS_1
" Aku mau antar Jhoji ke sekolah dan ke lahan sebentar. Kau mau ikut ke lahan ?" ajak beliau padaku. " Kau tak ingin tahu asal uang suamimu darimana ?"
" Maaf saya masih lelah lain waktu saya pasti ikut," sahutku menolak ajakan beliau.
Beliau tersenyum dengan jawabanku. Mudah-mudahan Beliau memahami keadaanku, aku masih lelah dan khawatir dengan kehamilanku.
" Mau dibawakan apa untuk makan siang ? "
" Bukankah mas sudah masak ? " aku balik bertanya heran pada beliau.
" Aku......"
" Terserah mas mau makan apa, saya ngikut saja," jawabku memangkas perkataan beliau. Aku lupa ada perbedaan cara di antara kami. Di keluargaku, masak sekali untuk makan sehari. Berbeda dengan keluarga beliau setiap makan selalu berganti menu.
" Atau nanti kita keluar cari makan bersama ? Aku antar kau mau makan apa ? Bersiaplah pukul setengah dua belas aku akan menjemputmu,"
Beliau berdiri dari tempat duduk di meja makan kami. Berjalan ke kamar untuk mencium Tangguh yang kembali tidur sehabis mandi pagi tadi. Ku ikuti dan ku lihat apa yang dilakukan Beliau, sebuah senyuman perlahan hadir di sudut bibirku. Sungguh ku lalui pagi hari ini dengan penuh keceriaan seperti yang ku impikan selama ini.
" Aaaahhhh.....aku lupa, aku akan mengirimkan uang belanja tiap bulan lewat ini. Pin nya tanggal pernikahan kita," tutur beliau sambil menyodorkan kartu debit padaku.
Tak terasa menetes air mataku karena terharu, lebih dari setahun pernikahan kami. Dihari ini, beliau berjanji akan memberikan uang belanja padaku. Hampir lengkap kebahagiaan yang aku rasakan. Walau tidak sempurna, tapi sudah cukup membuat aku bahagia. Selangkah demi selangkah aku dan beliau akan meniti di mana kebahagian disebut.
__ADS_1
Bersambung......
Terima kasih sudah membaca novel saya. Jangan lupa like dan komentar.