
Diagnosis Dr Niken masih membuat aku tidak percaya. Kalau detak jantung bayiku lemah. Berat badan bayiku kecil. Makanan tidak sampai ke bayi, karena plasenta ku kecil. dan air ketubanku sedikit keruh. Aku memang sedikit atau bahkan sering tidak mengharapkan dia ada di dunia ini. Aku sering tidak makan atau makan sesuai keinginanku tanpa memperdulikan diriku kalau aku hamil. Kalau ada nyawa dalam rahimku yang juga butuh nutrisi. Bahkan aku melewatkan dua bulan kontrol kandungan ke Bidan Esti.
Dua bulan ini, bulan terberat untukku. Aku sering menganggap tidak akan berfaedah jika aku tetap melahirkan anak ini. Ayahnya tidak mengharapkannya bahkan semakin menjauh dari kami. Tapi ketika aku kembali pada asaku lagi. Aku kuat, aku harus kuat. Bagaimanapun dia adalah harapanku. Aku juga menginginkan anak ini. Hanya saja yang aku sesali, seandainya dia lahir karena perasaan cinta. curahan perasaan kasih sayang. Bukan karena perasaan dendam. Mungkin aku bisa melapangkan dadaku menerima dia. Tapi kembali aku tersadar mungkin sudah ditakdirkan dia jadi milikku. Aku sudah ditakdirkan untuk menjadi ibunya.
Sekarang.......ya baru di detik ini aku merasa sangat sayang pada anakku. Aku sangat menyesal dengan apa yang aku lakukan pada bayiku. Aku menjadi takut kehilangan dia. Sangat takut, bagaimanapun ada darahku dalam bayi ini walaupun ayahnya tidak pernah menginginkan dia ada. Tak pernah perduli dengan keberadaannya.
Aku mencoba menghubungi Pak Satrio tapi tidak terangkat. aku mengirimi beliau pesan. Mengabarkan kalau aku harus SC malam ini juga.
Aku.
Assalamualaikum. Mas menurut Dr Niken saya harus SC krn banyak kendala dalam kandungan saya saat ini.
Dalam situasi seperti ini Dr Niken mau dengan sabar menunggu jawabanku, yang juga masih menunggu jawaban WA dari Pak Satrio. Selang lima menit berlalu karena tidak ada jawaban atau call balik dari Pak Satrio. Aku merasa tidak nyaman karena masih banyak pasien menunggu antrian.
" Ibu Arin, saya tidak berani tanggung jawab kalau SC di lakukan besuk"
Terang Dr. Niken yang menjawab pertanyaanku apa bisa menunggu besuk. Aku sangat ingin melahirkan ditunggui Pak Satrio.
" Baiklah dokter kalau itu yang terbaik buat kami. " hanya kata - kata klise itu yang sanggup aku berikan.
Dr Niken tersenyum lembut dan menulis catatan yang diberikan padaku.
" Ibu Arin saya sarankan langsung ke instalasi bersalin"
" Dokter saya boleh pulang dulu ? tanyaku ragu pada Dr Niken.
" Saya ingin persiapan dulu dokter. Saya belum tahu siapa yang menjaga saya selama perawatan" Sambung ku lagi sebelum dokter Niken menjawab pertanyaanku.
" Kalau ibu pulang dulu. masuknya lewat IGD. Nota yang saya tulis tolong diserahkan ke perawat dan dokter jaga" Jawab Dokter Niken dengan sabar.
__ADS_1
" iya dokter baik. " kemudian aku berdiri dari dudukku dan pamit pada dokter Niken.
Aku sangat bingung hingga aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Lamunanku terhenti setelah Dita menepuk pundakku dan berbisik lembut
" Mbak Arin, saya bisa kok bantu Mbak Arin."
" Aku bisa minta tolong Mbak Ayun menjagaku, Dit." tolak ku halus pada Dita.
" Mbk Ayun kan rumahnya jauh. Kalau Mbak Ayun datang, saya pulang. Setuju ?"
Kelopak mata Dita yang di kedip - kedipkan berkali - kali membuat aku tak bisa menolak tawarannya.
Dengan cepat aku mengabari adikku Arsita untuk menjemput Jhoji. Mengabari Mbak Ayunda untuk minta tolong menjagaku selama aku perawatan di rumah sakit.
Aku harus benar - benar kuat. Ku tepis rasa sentimentil yang mungkin lekat sekali dengan wanita hamil.
Aku berjanji pada diriku sendiri aku harus tangguh dalam keadaan seperti ini. Hingga tidak ada air mata yang jatuh membasahi pipiku. Tidak ada rasa memelas dalam lubuk hatiku karena keadaan ku yang tidak ditemani suamiku.
Setelah semua persiapan sudah siap. Aku kembali ke rumah sakit di temani Dita. Sesuai petunjuk dokter Niken, aku masuk melalui IGD. Agak lama di IGD karena melalui beberapa proses. Setelah selesai aku dan Dita sudah di ruangan kamar. Tinggal menunggu jam untuk masuk ruangan operasi.
" Mbak gak coba telepon atau WA Om Satrio ?" Dita bertanya padaku saat semu sudah tenang.
" Apa beliau mau ?" tanyaku balik dengan menatap wajah Dita.
" Dicoba Mbak, mudah - mudahan Om Satrio mau datang," bujuk Dita menyakinkan aku yang masih enggan memberi kabar lagi pada beliau.
Aku sangat takut untuk sakit hati dengan jawaban dari beliau. Tapi Dita dengan sabar meyakinkan aku. Tanganku yang enggan untuk menggerakkan mengetik setiap huruf untuk merangkai suatu kalimat begitu kaku terasa. Seperti hatiku yang terasa kaku. Bukan karena aku tidak menghargai beliau tapi dari awal hamil aku selalu memberi beliau kabar tapi tidak pernah ada respon yang membuat aku senang. Tadi pun sebelum aku masuk, aku sudah memberi beliau kabar tapi tidak ada jawaban Sampai sekarang.
" Aku yang tulis ya ?" Dita menawarkan bantuan untuk menulis pesan pada pak Satrio. Aku hanya menggeleng. Sesaat kemudian aku mulai mengerakkan jari - jariku mengetik huruf demi huruf.
__ADS_1
Aku
Mas, apa mas tidak ada keinginan untuk melihat anak kita ?
Aku
Apa mas tidak ingin memberi aku semangat ?
Aku menunjukkan hasil rangkaian kata - kataku pada Dita dan pesan sudah terkirim pada Pak Satrio. Dita tersenyum membacanya.
" Ada yang kurang mbak"
" Kurang bagaimana Dit ?" tanyaku yang tidak mengerti maksud Dita.
" Mbak coba tulis minta biaya melahirkan,"
usul Dita dengan mata bulatnya.
" Gak enak aku Dit....." jawabku tegas
" Di coba saja," tangan Dita secara cepat mengambil HP ku dalam genggamanku.
" Dit.....jangan......" cegah ku tapi tidak bisa berbuat lebih banyak.
" Maaf mbak. Setidaknya Om Satrio gak mau datang beliau harus tanggung jawab. Memberi mbak biaya rumah sakit atau apalah"
" Om Satrio kan ayah bayi mbak dan suami mbak"
Dengan cekatan Dita menulis kalimat yang aku tidak tahu rangkaiannya bagaimana. Dita meletakkan begitu saja HP di meja yang jauh dari ranjang. Beberapa saat berlalu tetap tidak ada jawaban dari beliau. Hatiku mulai gusar tidak menentu. Pikiranku entah berada di mana. Bukankah seharusnya aku senang. Apakah ada seorang istri selain aku. Ketika melahirkan tidak di beri support suaminya ? Apakah Pak Satrio tidak melihat HP beliau sepanjang senja dan malam hari ini. Sekarang sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Perasaan antara takut dan gelisah dengan dua hal. SC dan Pak Satrio. Apa beliau tidak mendengar ada notif WA berbunyi.
__ADS_1
bersambung........