Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Bab 45


__ADS_3

Assalamualaikum Wr Wb


Mudah-mudahan cerita Arin jadi pelajaran untuk saya untuk anda pembaca setia dan untuk kita semua. Sebuah kebahagian bukan dicari tapi dirasakan dengan apa yang kita miliki. Jodoh adalah takdir yang tidak bisa kita pilih. Tapi bahagia untuk diri kita sendiri dengan keadaan kita adalah pilihan kita.


Tetap tersenyum walau ada banyak luka di hati. Walau hari ini tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan.


*


*


*


*


Pak Satrio meletakkan Tangguh kecilku dengan hati - hati. Kemudian tersenyum hangat kepadaku yang duduk di tepi ranjang kamarku. Aku membalasnya dengan senyuman yang penuh makna dan tanda tanya.


" Maaf....... maaf baru bisa sekarang melihatmu.....…"


Netra beliau yg terang berkaca - kaca. Aku masih terdiam dengan memandang beliau.


" Mamanya Adrian selingkuh lagi..........."


Dengan tangis tertahan yang tidak terbendung pak Satria langsung memelukku.


" Katakan ........ aku kurang apa ?. Semua sudah aku lakukan untuk mamanya Adrian '.


" Tapi kenapa aku masih mencintainya dan merasa semua masa remajanya yang hilang karena menikah denganku" Seduh sedannya dengan intonasi yang lembut.


Aku hanya terdiam. Aku melihat netra Pak Satrio memerah karena sedih. Aku tidak memberinya komentar apapun karena aku memang tidak tahu harus berkata apa - apa. Seperti prosa bisu tanpa tema. Seperti Narasi tanpa isi.


" Aku akan mencarinya di sini. Aku mendengar kabar, ibunya Adrian pulang ke kota asalnya karena selingkuhannya juga dari kota ini"


Kata beliau lagi dengan melepas pelukannya.


Aku tersenyum sudah tidak ada lagi perasaan dalam hatiku yang bisa membuat aku sakit karena beliau. Tidak ada lagi serpihan - serpihan sedih yang bisa membuat aku terjungkal dalam kegelapan karena beliau. Hanya sesal ku, aku menerka di awal kedatangan beliau datang kerumah ku karena ingin melihat aku dan Tangguh kecilku.


Aku ......harus kuat laki - laki tampan dan dewasa di depanku ini bukan milikku walau secara hukum dan agama beliau suamiku. Tapi lebih dari setahun, aku bersama dalam ikatan yang jauh dari kata cinta ini membuat aku sadar. Kami bertahan hanya karena punya keinginan masing - masing. Aku yang enggan dan ketakutan memikul sebutan janda beranak satu. Beliau yang menutupi kisah cintanya dengan mbak Asri. Aku sudah terbiasa tersakiti oleh beliau. Seperti belati yang sudah tumpul tidak dapat menusuk tapi membawa racun karena berkarat. Helaan nafas beliau terdengar keras dan kasar beliau hembuskan.


" Apa aku harus menceraikan ibunya Adrian ?"


" Apa aku harus meminta maaf karena kesalahanku menikahi dia terlalu muda ?"


" Apa yang harus aku lakukan dik Rin ?"


Pertanyaan bertubi - tubi terus meluncur dari bibir beliau. Tapi tetap tak mampu aku jawab. Aku harus menjawab apa dengan cinta buta yang beliau miliki untuk wanita lain. Aku juga istrinya..... Aku juga punya perasaan.

__ADS_1


" Mas sudahlah.....lebih baik istirahat dulu besuk kita bicarakan lagi". Hanya kalimat yang menyimpang dari materi yang aku ucapkan pada beliau.


Jika menjadi aku. Aku harus bagaimana ? Apa yang akan kalian katakan ?.Apa yang akan kalian lakukan ?


Impianku terlalu tinggi pada beliau. Aku berharap dan berharap setiap hari beliau akan datang dengan suka cita, karena merindukan Tangguh. Tapi ternyata salah yang ada di benak beliau hanya mbak Asri dan anak - anak dari mbak Asri saja. Aku yang sedari tadi ingin sekali berteriak keras pada beliau. Aku yang sedari tadi ingin berkata semauku. Ternyata tertahan di kerongkongan, sampai pada akhirnya kembali ke dasar hatiku. Terpendam lagi. Tertutupi lagi. Seperti yang sudah - sudah.


Apa karena aku sudah malas berdebat dengan beliau? Apa karena aku sudah terbiasa tanpa beliau ? Aaah......entahlah aku tidak tahu.


Pak Satrio mengikuti apa yang aku sarankan. Beliau membaringkan badannya di sebelah Tangguh. Dengan tangan kirinya ingin memeluk Tangguh.


Netra pak Satrio tidak bisa terpejam. kembali menoleh ke arahku sambil berkata dengan kalimat - kalimat yang sama.


" Besuk aku akan cari ke rumah ibu "


diam sesaat


" Kalau tidak ada, aku bisa tanya ke rumah teman - temannya "


terdiam lagi.


Aku yang berusaha tetap tenang seakan beriak didasar dan menumpah seketika. Seperti erupsi gunung Merapi yang datang tiba - tiba. Seperti badai yang mampu menerjang karang - karang kokoh di tebing pantai.


" Apa mas Satrio tidak lelah dikhianati terus menerus ?"


Kalimat yang tidak seharusnya aku katakan, berurai begitu saja dari bibirku. Kalimat yang selama ini aku simpan rapat - rapat di dalam hatiku terucap lugas begitu saja tanpa terkontrol.


" Bukankah ada aku dan Tangguh ? "


" Apa itu belum cukup melengkapi hidup mas Satrio ?"


Tanyaku terbata - bata dengan menatap netra beliau. Seolah aku bangkit dari keterpurukan di sudut bumi dan menjulang tinggi ke langit. Aku harus berjuang untuk mendapatkan hakku dan anakku. Aku harus sadar sekarang ada Tangguh yang juga butuh ayahnya.


" Semua ini salahmu ....."


Jawabnya lantang dan arah netra beliau yang ditujukan padaku semakin tajam.


" Salahku ? "


" kenapa ? "


" tidak ada hubungannya denganku. Kenapa aku yang disalahkan ?"


Berusaha aku membela diriku dengan semua pertanyaan yang aku lontarkan pada beliau.


" Kalau kita satu atap. tidak mungkin aku masih mencintai Dik Asri"

__ADS_1


" Kalau kita satu atap. Aku bisa berusaha mencintaimu "


" Kalau kita satu atap kita bisa intens bertemu"


Sambil berkata beliau berdiri dari pembaringan. Menarik tubuhku untuk berdiri dari tempat dudukku. Dengan keras berusaha mendekatkan wajah beliau pada wajahku. Tanganku dengan keras menolak dan menjauh. Aku faham betul apa yang akan beliau lakukan. Aku mundur dua langkah menjauh lagi dari tempat beliau berdiri.


" bukankah mas yang bilang tidak bisa mencintai aku ?"


" bukankah mas yang bilang tidak bisa melakukan denganku, karena mas mencintai mbak Asri ? "


" Aku ingat betul bagaimana mas berkata, menikah denganku membuat mas semakin mencintai mbak Asri" Jawabku tidak mau kalah.


" Ohhhh ya satu lagi. Bukankah mas bilang, menyesal menikah denganku ?


Pak Satrio dengan mudah meraihku dan mendekap ku. Bukan pelukan kasih sayang. Bukan pelukan ingin mencapai kebahagiaan suami istri.


Pak Satrio semakin menenggelamkan aku dalam pelukannya. Bibir beliau menyentuh telingaku kemudian berkata lirih tepat di telingaku.


" Aku juga merindukanmu, walau aku menyakitimu "


Suara beliau menggema sampai dasar dan tulang ku.


" Aku juga merindukanmu ....... walau aku menyakitimu "


Berkata lagi beliau dengan tangan terus mendekap ku dengan kuat. Aku berusaha keluar dari pelukan beliau. Tapi semakin aku berusaha semakin keras beliau mendekapku.


' Bagaimanapun kita tetap suami istri. Dimana tanggung jawabku sebagai seorang istri ?"


" Apa kau pernah melakukan kewajiban mu sebagai istri ?"


" Apa kau pernah tahu makanan kesukaanku ?


" Apa kau pernah tahu baju favoritku ?


" Dan apa kau melakukan kewajiban mu di ranjang ? "


................


bersambung.............


Haloooo kakak..... mudah - mudahan terobati rasa kangennya dengan novel saya. Tolong beri masukan kritik dan sarannya.


Author menggambarkan Pak Satrio berwajah tampan seperti atlet yang juga aktor dari Filipina Ian Veneracion.


__ADS_1


Ini foto yang lainnya. Mudah-mudahan cocok. Karena tiap pembaca mempunyai pandangan tokoh masing-masing.



__ADS_2