
Harap bijak dalam membaca ! Bab ini mengandung konten dewasa.
Belum lima menit......oh bukan bahkan aku dan bapak masih berdiri di halaman mengantar Henry pulang. Kami masih menatap mobil Henry yang belum lama bergerak pergi meninggalkan tempat parkirnya di depan rumahku. Pak Satrio datang berlawanan arah dengan mobil Henry. Aku dan bapak saling menoleh gugup. Tiga menit .......ya kurang lebihnya, kalau Henry tidak beranjak pergi pasti akan bertemu dengan Pak Satrio.
Flash black.
" Henry kau tidak sarapan ?" tanya bapak dengan menyantap nasi pecel yang dibawakan Henry
," Biar nanti saja. Sudah jam setengah sepuluh. Aku pamit dulu ada panen buah naga di Agro. Mbak mau ? Kalau mau nanti aku ambilkan. " tawar Henry.
" Tidak, terima kasih, sebentar lagi mungkin kami berangkat. " jawabku.
" Iya....baiklah akan aku bawakan untuk bapak dan Jhoji. Apa Mbak tidak ingin rangkaian bunga mawar merah dan Daisy ? Kami sedang mengerjakan pesanan untuk acara pertunangan." tawaran Henry sebenarnya sangat menggoda. Dalam benakku sudah terbayang buah naga yang besar dan segar.
Flash off
" Bukankah itu mobil mantan pacarmu ?" tanya Pak Satrio dingin padaku tapi netra beliau ke arah bapak.
" Iya itu mobil Henry, dia barusan datang kemari untuk memberitahu bapak agar tidak usah datang lagi nanti malam ke tokonya," jawab bapak dengan diplomatis.
Badanku sudah bergetar hebat dan bibir yang serasa membiru. Sulit untuk membukanya apalagi mengeluarkan suara. Kedua kakiku serasa tidak kuat menopang tubuh lemahku karena ketakutan. Pak Satrio menyadari itu, beliau langsung menggendongku karena melihat aku sudah tidak stabil berdiri.
" Nak.... Satrio. Henry kemari bertamu pada bapak, bukan pada Arin. Mungkin besok dia juga akan kemari untuk mengantar uang pesangon bapak. Tolong percaya kami," jelas bapak pada Pak Satrio dari belakang mengikuti Pak Satrio berjalan dan menggendongku menuju kamar.
" Iya saya percaya bapak," suara dingin sedingin dan seberat nada paling rendah dalam alunan nada beliau dengungkan dengan datar, tanpa ekspresi. Wajah Pak Satrio memerah seperti menahan amarah tapi beliau tahan. Meletakkan tubuhku perlahan di pembaringan kemudian berjalan ke arah pintu.
" Beri saya waktu berdua saja dengan istri saya tiga puluh menit atau lebih ! Hanya berdua ! " Perintah Pak Satrio dengan datar tapi tegas pada bapak yang iba melihatku. Bapak melangkah keluar kamar tetap mengarahkan pandangan padaku yang terbaring lemah karena ketakutan yang luar biasa.
Mataku sudah sayu tak kuat menahan silau sinar matahari yang menembus di kamar ini. Apa yang akan terjadi padaku ? Jika aku ingat kembali cerita Bik Ina tentang Pak Satrio yang tega memangkas rambut Mbak Asri dengan luapan emosi yang membabi buta. Aku ingin memejamkan mataku sejenak karena silau atau karena rasa ketakutan yang menyerang melebihi dahsyat. Tapi suasana gelap sudah menjelma cepat di mataku, masih ku dengar suara Pak Satrio yang memanggilku lembut seperti sebuah sanjungan untuk beliau hempasan agar aku tersungkur tertelungkup di tanah.
__ADS_1
" Kau ketakutan sayang ? Sampai lemas dan pingsan seperti ini ? " tanya Pak Satrio dengan membelai pipiku yang berjejal dengan keringat dingin.
Bau khas minyak kayu putih membuat samar hitamku sedikit memudar. Kubuka perlahan kelopak mataku yang masih terasa silau dengan pancaran sinar matahari dari jendela kamar ini.
Kucoba menggerakkan bibirku dan berkata, " Mas.......ini tidak seperti yang mas pikiran," dengan terbata dan berusaha memeluk Pak Satrio. Pelukan dariku di tolaknya dengan mengibaskan kedua tangannya pada tanganku
Kemudian dengan gerakan cepat membungkam mulutku dengan ciuman untuk menyatakan " Aku suamimu, aku yang berhak melakukan ini padamu, aku yang berkuasa atas tubuhmu."
" Yang seperti barusan dia lakukan padamu saat aku bekerja mencari nafkah untuk kita ? " Pak Satrio menarik tubuhku dari berbaring ke posisi duduk dengan menggoncang - goncangkan keras bahuku dengan kedua tangannya.
" Tidak mas.....Tidak seperti itu.....Tidak mas.....," ucapku sambil menangis dan menggelengkan pelan kepalaku tanda itu tidak benar, tapi perkataanku membuat Pak Satrio semakin menjadi dikuasai amarah tak terkendali.
" Lebih dari itu....? Katakan ! Lebih dari itu ? Katakan ! " Suara bentakan Pak Satrio kembali keluar dan tetap menggoncangkan bahuku.
" Tidak.....bahkan kami tidak bersentuhan sama sekali," aku berkata dengan uraian air mata. Sungguh aku masih lemas dan merasa tak kuat dengan kondisi fisikku sekarang.
" Aku muak dengan perempuan sepertimu dan Asri yang bersedia ditiduri oleh laki - laki yang bukan suaminya." tangan Pak Satrio melepaskan pegangan di pundakku.
" Tidak mas.....kami tidak seperti itu. Ada bapak sebagai saksi," ucapku menghiba pada Pak Satrio.
" Aku tidak percaya dengan kalian berdua. Bapak dan anak. Bagaimana kalau bapak merestui tindakan amoral kalian ? "
" Tidak mas.....itu tidak terjadi. Sungguh mas ! "
" Kau ! Sudah berapa banyak laki - laki yang tidur denganmu ? "
Aku menggeleng tidak terima dengan pertanyaan Pak Satrio padaku.
" Katakan ! Selain Henry siapa lagi yang pernah tidur denganmu ? tanya Pak Satrio keras dan berusaha melepaskan baju yang aku kenakan.
__ADS_1
" Katakan ! Kau tahu aku ingin menelanjangimu bukan untuk membuatku bergairah tapi untuk menghinamu karena sudah berkhianat padaku," ucapan Pak Satrio dibarengi dengan tindakan. Benar - benar melakukan apa yang dikatakan.
Tanganku kuat memeluk diriku sendiri agar tidak terlepas apa yang menempel pada tubuhku, kehormatanku, baju yang aku kenakan.
" Jangan mas ! ..... Tolong ! Jangan mas ! Saya sedang mengandung anak mas,"
" Jangan menghiba dengan alasan mengandung anakku. Dengar ! Andai kau tidak mengandung anakku, sudah kuusir kau dari rumah ini. Ingat rumah ini milikku, aku yang membeli walau atas namamu. Apa kau tahu isi surat rumah ini ? Rumah ini, hibah dariku untukmu dan aku bisa membatalkan hibahku padamu. Ingat itu ! Ada syarat yang harus kau lakukan jika tetap ingin memiliki rumah ini. Kau harus setia padaku sampai kapanpun," Pak Satrio menghentikan tindakannya padaku dan mendorongku hingga tersandar pada sandaran ranjang. kemudian tangannya sudah berada dikedua saku celana jeans hitamnya.
" Berapa kali kau berhubungan badan dengannya ? " pertanyaan yang menyakitkan Pak Satrio lontarkan dengan suara rendah dan datar. Netranya bukan hanya menghunuskan pedang ke jantungku tapi sudah menembus tubuhku.
" Apa kau menjaga kesucianmu selama kita menikah ? " Pertanyaan kedua yang Pak Satrio berikan padaku. Semua tak aku jawab, aku lemah bersandar di sandaran ranjang. Nafasku seakan tersendat - sendat dan sulit untuk ku kembalikan menjadi normal.
"Jawab aku ! " atau masalah ini akan semakin melebar pada keluarga besarnya ! bentak Pak Satrio.
" Jawab ! "
" Du.....dua kali mas,"
" Kapan ? "
" Se....sebelum kita menikah,"
" Juga setelah menikah ? "
" Tidak......kami tidak pernah melakukannya. "
" Dengar ! Kau itu perempuan, aku saja yang laki - laki tidak pernah berganti pasangan secara acak. Aku melakukan semua dengan istri sahku. Sudah aku ceritakan padamu, aku pernah sekali membeli perempuan tapi tidak kulakukan karena aku tidak sudi masuk dalam daftar list pelanggannya," mulai melemah dan wajar suara Pak Satrio saat bertutur padaku.
Bersambung..........
__ADS_1
Mohon memberi like, Vote dan komentarnya.