Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Bab 85


__ADS_3

" Mas mau mengajak kemana ? Ke kota.......untuk melihat lahan ? tanyaku Pada Pak Satrio melalui sambungan telepon.


Bu Elly menoleh padaku. Beliau mengajari aku membatik sesuai pola gambar yang sudah ada. Bu Elly bercerita usaha beliau sedang lembur karena ada pesanan dari sebuah kantor yang harus selesai dalam waktu dua minggu.


" Tidak apa, Pergilah kalau suamimu yang meminta." usul Bu Elly padaku.


" Baik ma....Arin bersiap menunggu Mas Satrio menjemput. Titip Tangguh dan Thavisa ma....,"


...........


" Aku tidak bisa datang jangan memaksa," jawab Pak Satrio tegas di telepon menolak permintaan Mbak Asri.


Aku hanya diam mendengarkan perbincangan Pak Satrio dan Mbak Asri melalui sambungan telepon.


" Apa mas lupa, kalau mas sangat mencintaiku. Sekarang aku menggenakan lingerie kesukaan mas. "


Pak Satrio melirikku ketika Mbak Asri berucap menggunakan lingerie kesukaan Pak Satrio.


" Aku bukan suamimu lagi, kenapa kau tak berhenti mengusikku. Apa daun mudamu pergi lagi ? suara ketus keluar dari bibir Pak Satrio.


Sekarang suara tangisan terdengar, jujur aku iba mendengar Mbak Asri sedemikan menyukai Pak Satrio dan terus saja berusaha menghubungi Pak Satrio dengan segala cara.


" Apa sebaiknya mas menemui Mbak Asri ? " tanyaku dengan ragu. Aku mengingat diriku sendiri, aku juga setengah mati menahan siksa dan luka batin berharap Pak Satrio mau datang menemui ketika dulu kami bertengkar. Pak Satrio menggeleng pelan.


" Masaku dengan Asri sudah habis. Pilihannya sendiri menjalin hubungan dengan pria itu. Apa aku salah jika menjatuhkan talak untuknya ? Aku sudah berkali - kali memberinya kesempatan, tapi tidak untuk sekarang dan seterusnya. Aku laki - laki, bisa mendapatkan wanita yang lebih dari dia walau ku beli dengan uang," geram Pak Satrio seolah mengerutu sendiri dan dilampiaskan dengan kata -kata.


" Kita mau makan dimana mas ? tanyaku mengalihkan pembicaraan agar suasana menjadi tenang.


" Aku akan mengajakmu makan soto langsung di kota asalnya,"


" Kita mau ke kota ......... hanya untuk makan soto ," tanyaku keheranan.


" Ada tempat yang enak, aku dapat rekomendasi dari rekan kerja. Hanya satu jam perjalanan, lewat jalan tol."


" Hanya untuk makan soto ? Apa disini tidak ada cabangnya ? tanyaku masih tidak percaya dengan usul Pak Satrio.

__ADS_1


" Bukankah sensasinya disana. Mengejar kuliner ? senyum Pak Satrio melebar. Hati beliau sudah kembali semula tanpa amarah.


Aku masih tidak percaya, seperti sesuatu yang konyol. Makan soto dimana saja bisa, kenapa jauh - jauh hanya untuk mencari makan ?


" Itu rumah makan soto legendaris, setidaknya begitu kata Pak Husni. Aku ingin membuatmu senang." tutur Pak Satrio tanpa beban.


" Iya....mas terima kasih banyak," ucapku dengan tersenyum. Aku yang masih kebingungan tidak mengerti maksud Pak Satrio mengiyakan saja usul beliau.


Notif Pesan Watsapp Pak Satrio berbunyi. Dari Mbak Asri, beliau langsung menggesernya. Layar HP yang terpampang di layar mobil ini memudahkan aku untuk melihat juga.


Mbak Asri mengirim lagi sebuah foto dirinya yang sedang menggunakan lingerie berwarna merah menyala, semua milik Mbak Asri terlihat jelas. Aku palingkan wajahku ke arah jendela tak ingin melihatnya. Aku akui lekuk tubuh Mbak Asri sangat bagus. Tidak ada timbunan lemak disana dengan perut yang rata, semua bagian - bagian tubuhnya sangat sensual. Apalagi pose fotonya sangat menggoda. Pak Satrio melirik ke arahku tanpa berbicara, Wajahnya tampak kebingungan dan malu padaku. Sesaat kemudian Pak Satrio Menggeser tanda merah, tanda HP di Off kan.


" Aku terlalu jauh dibanding Mbak Asri," suaraku lirih, tetiba saja keluar air mata di pipiku.


" Apa artinya tubuh yang bagus kalau dimiliki beberapa laki - laki," jawab Pak Satrio berusaha fokus mengemudikan mobil.


" Apa karena ada saya di samping mas. Mas berkata demikian ?"


" Tidak akan, lebih baik aku membeli wanita lain yang tidak menuntut hubungan dariku," Tegas Pak Satrio.


" ya......... aku pernah membeli sekali, tapi yang kulakukan hanya sebatas ciuman. Selebihnya logikaku masih terpakai. Ketika hendak melangkah lebih jauh, aku membayangkan berapa banyak pria yang datang untuknya dalam sehari, seminggu ? Apa menjamin kebersihan dan kesehatannya ? Aku lebih baik bermain solo ketika tidak denganmu atau Asri." cerita Pak Satrio.


Sungguh cerita yang membuat aku harus olah raga jantung di dalam mobil. Mengapa Pak Satrio begitu jujur bercerita tentang sisi lain dari diri Pak Satrio. Bukankah itu hal yang tidak masuk akal ?


............


Pak Satrio menghentikan mobil ketika kami masuk halaman rumah Bu Elly mertuaku.


" Aku sudah membuatmu senang siang ini, nanti malam giliranmu membuat aku senang," ucap beliau tanpa malu padaku.


" Membuat mas senang ? Maksudnya ? " aku balik bertanya.


" Jangan pura - pura bodoh, anakmu sudah dua. Kau harus tahu apa yang aku mau. Tepati janjimu," suara Pak Satrio tegas tanpa merasa malu membicarakan hal yang menurutku sedikit.....ah, entahlah aku sendiri sulit menuliskannya dengan kalimat.


" Bukankah tadi malam kita sudah....? "

__ADS_1


" Tadi malam aku yang bekerja, nanti sepenuhnya kau yang bekerja. "


" Saya.....? " tanyaku gugup. Pak Satrio tersenyum melihatku yang salah tingkah karena pembicaraan ini.


" Kalau tidak......," Pak terhenti berbicara. Tangan Pak Satrio menyentuh bibirku


" Kalau tidak.....kenapa ? " tanyaku terbata.


" Kalau tidak aku yang memaksamu. Bahkan lebih dari paksaan." senyumnya yang lebar memperlihatkan gigi putih berjajar semakin membuat aku mengerti maksud Pak Satrio.


" Aku ingin melihat Tangguh dan Thavisa dulu," ucap Pak Satrio membukakan pintu untukku kemudian berjalan menuju ke dalam rumah.


" Tidakkah kau makan siang dulu ?" tanya Bu Elly pada Pak Satrio.


" Iya ma....aku menantikan makan siang dengan masakan mama yang lezat," jawab beliau.


Aku terbelalak. Bukankah kita, aku dan Pak Satrio satu jam yang lalu sudah makan siang.


" Anak mama.....selalu pandai memuji mama," Bu Elly tersenyum ceria karena Pak Satrio sudah duduk dengan tenang di kursi meja makan.


" Makanlah.....Papa dan mama barusan sudah makan siang. Maaf tidak menunggu kalian, karena kami pikir kalian akan datang sore hari," urai Bu Elly dengan nada sedih di samping Pak Satrio.


" Mama......bagaimana Satrio tidak pulang untuk makan siang. Masakan mama selalu mengajak Satrio untuk selalu lapar. " Puji Pak Satrio untuk Bu Elly. Bu Elly tampak tersenyum ceria dengan puji - pujian yang Pak Satrio lontarkan.


" Ayo dik Rin, makan yang banyak agar kuat, dan bagus untuk stamina," ucap Pak Satrio sambil tersenyum melihatku.


" Apa perlu aku belikan multivitamin ? Agar kau semakin kuat dan sehat ? tanya Pak Satrio lagi hanya untuk menggodaku. Selama makan Pak Satrio terus saja tersenyum. Aku yang salah tingkah karena tahu maksud Pak Satrio mengarah kemana.


Sementara Bu Elly semakin mengiyakan saja ucapan Pak Satrio dengan berkata," Betul itu Rin, makan yang banyak agar staminaku terjaga. "


" Iyaa ma Arin lakukan," jawabku singkat dan pelan. Aku membelalakan mataku pada Pak Satrio yang terus saja tersenyum sengaja ingin membuatku kesal.


" Persiapkan dirimu untuk nanti malam dan penuhi janjimu, aku pulang selepas magrib ! " ucap Pak Satrio berbisik di telingaku sebelum berangkat kembali ke kantor.


Bersambung..........

__ADS_1


__ADS_2