
Notif tanda pesan WA di HP ku berbunyi. Dita mengambil dan menyerahkan padaku. Aku bergetar dan sangat kecewa dengan semua jawaban dari beliau. Jika semua istri melihat jawaban suaminya seperti ini. Apakah masih bisa tenang ? Apalagi dalam situasi seperti yang aku hadapi sekarang. Aku kuatkan hatiku dan tetap tangguh membaca tiap tiap baik dari kata - kata beliau. Dimana tiap kata mengandung seribu jarum yang mampu menusuk - nusuk hatiku tanpa meninggalkan celah sedikitpun. Air mataku tidak menetes di pipi hanya jeritan yang bergaung di dada hingga menimbulkan nyeri yang seperti di sayat serpihan batang bambu. Lembut tapi sangat tajam. Kata - kata beliau yang halus tapi mampu meruntuhkan siapapun yang membacanya. Sekali lagi, aku kuat..........aku kuat.....aku tangguh......aku tangguh dalam masalah ini. Aku coba tersenyum dan membacanya dengan keras sebagai ungkapan rasa kecewaku. Ku baca seperti membaca syair karya pujangga ternama.
Pak Satrio
Dik Arin, Aku hanya punya satu tubuh dan satu nyawa yang tidak bisa terbagi dua.
Walau Dik Asri tidak berkata apa - apa tapi tatapan matanya iba memohon padaku agar aku tidak beranjak dari kamar rawatnya. Dik Asri sakit, hanya aku kekuatannya. Maaf, saya tidak bisa menemani Dik Rin. Tapi aku yakin Dik Rin dan bayinya akan sehat.
Pak Satrio.
Aku selalu tidak bisa menolak setiap keinginan dik Asri, karena akulah masa muda dik Asri terenggut. Karena akulah hilang masa belianya dengan mengurusku dan anak - anakku.
Pak Satrio.
Soal keuangan. bukankah adik sudah ikut BPJS ? lebih baik sesuai jatah saja jangan naik kelas. Tidak baik berlebihan dalam soal keuangan. Kita merawat anak masih lama sangat banyak kebutuhan. Lebih baik di tabung. kalau pakai BPJS sesuai kelas saya yakin tidak ada biaya tambahan.
Pesan WA yang panjang seperti sebuah narasi aku baca sampai dua kali. Untuk mengobati rasa amarah yang mulai menjalar halus di nadiku. Aku memandang tapi tidak tahu apa yang aku pandang. Aku melihat isi ruangan kamar ini tapi tak terlihat apa isi kamar ini. Aku mendengar Dita bersuara tapi aku tidak tahu makna yang terkandung dari kalimat yang Dita sampaikan.
Aku banyak mendengar seorang istri melahirkan tanpa ditunggui suaminya karena alasan tugas, bukan alasan menunggui madunya. Apakah ini drama baru kehidupan ? Apa memang takdir yang harus aku jalani ? Tapi kenapa harus aku yang terpilih ? Bukankah masih banyak perempuan lain yang mungkin lebih kuat menjalani skenario ini ? Aku..........Aku........merasa tidak mampu membawa peran ini. Aku ingin bahagia. Aku ingin seperti wanita lain. Menikah, punya anak dan bahagia. Apa terlalu sulit untuk diwujudkan ? Apa ini semua salahku karena tidak mau ikut beliau ? Tapi jika aku ikut beliau, bukan hanya perasaanku yang aku korbankan mungkin juga fisikku yang akan ikut menderita karena kelelahan menahan rasa sakit hati. Mungkinkah ini memang rencana yang kuasa. Aku sudah terbiasa sakit hati. aku sudah terbiasa menjadi yang kalah. Hari ini adalah ujian bagiku untuk yang kesekian kalinya. Aku harus kuat dan lebih kuat lagi.
Kenapa Pak Satrio selalu merasa menyesal dengan masa lalu beliau dengan mbak Asri . Sampai beliau lupa, beliau juga membuat kesalahan padaku. Menyeret ku dalam masalah yang seharusnya aku tidak ikut, yang aku tidak terlibat. yang aku tidak tahu.
Dita berjalan ke arahku kemudian mengusap rambutku. Titik air matanya mulai jatuh seperti hujan di musim kemarau. Rasa iba nya padaku melebihi apapun rasa yang dia miliki saat ini. Berkata lirih dengan bibir yang menyentuh daun telingaku.
" Mbak Arin yang sabar ya......."
" Aku yakin rasa cinta Om Satrio suatu saat akan tumbuh dan melebihi rasa cinta beliau pada Tante Asri"
Aku mengangguk pelan dan sangat pelan tanpa terasa kami berpelukan dan menangis bersama.
__ADS_1
" Maaf Mbak Arin............."
Kalimat berulang - ulang keluar dari bibir Dita.
Kami melepas pelukan karena beberapa perawat sudah datang untuk membawaku keruang operasi. Dita mengikuti ku dari belakang. Demikian juga mbak Ayun dan bapakku yang barusan datang bersamaan dengan perawat.
Aku memasuki ruangan operasi yang dingin tapi lebih dingin hatiku. ruangan operasi ber-AC ini hanya mendinginkan badanku tapi hatiku jauh lebih dingin dengan kata - kata dari Pak Satrio yang tersusun santun dalam kalimat.
" Assalamualaikum ibu, saya Dr Farhan. dokter Anastesi " Sapa dokter dengan lembut. Dokter Farhan terlihat sangat berwibawa dan berkarisma. Usianya yang menjelang senja tampak jelas terlihat. Janggut beliau tampak rapi. mengucapkan salam dengan menangkupkan kedua tangan beliau.
" Maaf. saya akan memberikan suntikan di punggung bawah ibu"
" ibu bisa melingkar seperti janin dalam kandungan ? tanya beliau lembut padaku.
" iya dokter......" Jawabku dengan mencoba mengatur posisi seperti yang dokter Farhan perintahkan.
" Ibu, ditahan ya.....jangan bergerak...." Perintah dokter Farhan lagi padaku.
Sebuah suntikan beliau berikan di punggung bawahku. Kalau bilang tidak sakit aku bohong, tapi lebih sakit kata - kata Pak Satrio.Aku menghela nafas panjang bukan karena suntikan dokter Farhan tapi berposisi lama seperti janin membuat aku agak jengah.
" Alhamdulillah sudah ibu..." kata dokter Farhan dengan tersenyum. Selang beberapa menit Dokter Farhan bertanya lagi.
"Ibu....maaf saya mencubit kaki ibu, apakah terasa ? tanya beliau padaku
" Tidak dokter..." jawabku
" Ibu maaf coba diangkat kakinya...."
Aku mencoba melakukan apa yang disarankan dokter Farhan. Ternyata tidak bisa kakiku berat.....ah bukan itu. Aku merasa tidak memiliki kaki. Sungguh ajaib kekuatan obat anastesi.
__ADS_1
" Saya tidak bisa dokter" Jawabku menyerah karena memang tidak bisa.
"Alhamdulillah obatnya bekerja dengan baik" Jawab beliau kemudian duduk di kursi di samping ranjang operasi ku
" Dokter......saya takut........dokter........"
Rintihan ku pelan dengan menoleh pada dokter Farhan. Ketika mendengar suara Dokter Niken untuk memulai operasi. Aku mengadu seperti anak kepada ayahnya. Dokter Farhan seperti memahami keadaanku. Membiarkan aku memegang tangan beliau. Lantunan ayat suci Alquran mengalun dari bibir beliau. Sangat merdu........membuat aku merasa tenang.
" Dokter saya sesak saya kesulitan bernafas"
pintaku lagi. Dengan telaten para perawat memasang alat oksigen padaku. Tadi aku menolaknya karena merasa bertambah sesak tapi sekarang aku membutuhkannya. Genggaman tanganku semakin erat mencengkram tangan Dokter Farhan, tapi beliau tetap tenang membaca lantunan ayat - ayat suci Alquran. Seperti seorang ayah yang benar - benar menjaga dan mendoakan putri tercintanya. Aku merasa sangat bersyukur disaat aku merasa sendiri, disaat aku merasa terluka team dokter yang menangani persalinan ku sangat baik.
Suara tangis bayi yang sangat kuat mengendorkan dan melepaskan genggaman ku pada Dokter Farhan. Aku menangis....Aku seorang ibu sekarang.......Aku seorang ibu sekarang......Aku memiliki bayi laki - laki.....tidak terasa Air mataku menetes bahagia.
" Alhamdulillah operasinya sudah selesai dan berjalan baik" Seru dokter Farhan ke arahku.
" Dokter maaf. saya memegang tangan dokter," permintaan maaf ku di balas senyuman hangat seorang ayah.
" Tidak apa - apa ibu. Mudah - mudahan ibu dan adik bayinya di beri Rahmat dan Kesehatan yang berlimpah"
Kata beliau lagi sebelum pamit.
Kemudian Dr Niken memperlihatkan bayi kecilku.
" Bayi ibu sempurna.......Tangisnya juga kencang."
Tangis ku semakin menjadi. Aku bertemu dengan nyawa yang sembilan bulan ada dalam tubuhku.........yang menjadi satu denganku...........
Bersambung..........
__ADS_1