Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
bab 20


__ADS_3

" Iya mbak.......ada apa...." Dita datang padaku dengan sedikit berlari.


"Dit.........Pak Satrio......." kataku sambil menyodorkan HP ku pada Dita. Dita langsung mengambilnya dan membaca pesan Wastapp dari Pak Satrio. Tidak hanya sekali Dita membacanya. Dita terperangah sampai membelalakkan matanya kemudian menggoncang - goncangkan tubuhku.


" Diterima saja Mbak. Om Satrio orangnya baik banget, saya jamin mbak happy sama dia,"


Aku hanya tersenyum datar pada Dita. Sesaat kemudian Dita merubah sikapnya karena melihatku yang kurang begitu antusias.


" Maksudku Mbak Arin pikirkan baik - baik dulu dech. Jangan keburu - buru, kalau bisa jodoh sampai tua mbak," saran Dita seperti seorang ibu menasehati putrinya.


Aku hanya mengangguk perlahan. Sejujurnya aku tidak tahu langkah apa yang harus aku ambil. Memilih Pak Satrio yang menawarkan pernikahan atau menunggu Henry.


" Apa Pak Satrio orangnya sabar ? tanyaku ragu - ragu pada Dita.


" Sangat sabar Mbak. Bayangkan dia tidak pernah nuntut istrinya walau sudah lari sama laki - laki lain dan membawa uang Om Satrio"


" Kenapa dia cerai ?"


" Mbak kan udah saya beritahu istrinya kabur sama brondong"


" Anaknya berapa ?"


" Dua cowok semua yang pertama kuliah yang kedua masih SMA kelas X," jawab Dita diplomatis.


" Apa sudah lama bercerai ?"


" Belum lama sih cuma tidak serumah lagi hampir satu tahun, begitu cerita Om Rudi," Dita menjelaskan dengan mimik yang serius.


Sampai larut aku tidak juga membalas pesan Wastapp dari pak Satrio. Apa yang harus aku lakukan. Disisi lain aku ingin menunggu Henry, disisi lainnya aku tidak mungkin bisa menunggunya dengan banyak ketidakpastian. Status sosial dan perbedaan agama yang tidak mungkin dijangkau. Seakan Henry tahu perasaanku. Sebuah pesan masuk di HP ku


Henry


( Mbak maaf. Mbak yang sabar ya demi masa depan kita. Aku yakin mama suatu hari pasti bisa menerima hubungan kita.)


aku


( Iya aku akan sabar...........

__ADS_1


Maaf kalau aku terlalu berharap. )


Aku off kan HP ku untuk merenung. Lelah rasanya hatiku selalu diberi janji - janji. Lelah hatiku untuk berharap aku sudah berharap lebih ketika dengan mas Ravi. Aku tidak ingin berharap lagi dan sakit hati lagi. Mungkin sudah saatnya aku bangkit dari mimpi. Aku tidak ingin bergantung lagi pada harapan - harapan kosong.


Jujur aku ingin terus dengan Henry, karena dengan Henry lah aku melakukan segalanya pertama kali. Tapi aku takut melawan takdir. Aku sangat takut sekali berperang melawan norma tentang status sosial, status ekonomi dan perbedaan agama yang menjadi topik utama masalahku dengan Henry. Juga perbedaan umur yang sangat mencolok diantara kami. Yaaah Aku lebih tua sepuluh tahun dari Henry. Lengkap sudah faktor pemisah antara aku dan Henry. Apa aku masih harus berharap pada Henry ? Sedangkan Henry sendiri tidak tahu sampai kapan kesehatan ibunya membaik. Ya Allah aku hanya hamba - Mu yang engkau takdirkan menjalani kehidupan ini. Mudah - mudahan pilihanku adalah pilihan yang terbaik untuk kami. Aku dan Henry, maafkan aku Henry. Tidak terasa air mataku jatuh dan semakin deras bersamaan dengan aku mengetik balasan pesan Wastapp untuk pak Satrio.


Aku


( Iya bapak saya menerima lamaran bapak.


Saya tunggu kedatangan keluarga bapak hari Minggu ini.)


Pak Satrio


( Terima kasih banyak dik Arin. Sampai ketemu hari Minggu. )


Aku


( Iya bapak sama - sama.)


Pak Satrio


Aku


( Iya mas Satrio. )


Pak Satrio


( Begitukan lebih akrab ? )


Pak Satrio


( Sudah malam sekarang waktunya istirahat.)


Aku


( Iya......)

__ADS_1


Aku tidak tahu langkahku ini benar atau salah. Tapi yang aku tahu inilah satu jalan yang aku ambil. Bahagia atau sedih aku kedepannya aku juga tidak pasti, tapi jawaban inilah yang akan memisahkan aku dan Henry. Aku harus menyerah dengan keadaan yang memang tidak bisa berpihak padaku. Aku hanya berharap hidupku akan bahagia. Henry akan bertemu dengan jodohnya yang sesuai dan pantas untuknya. Mudah - mudahan Henry mengerti keputusan yang aku ambil.


...........................


Hari Minggu seperti yang disepakati, keluarga Pak Satrio datang ke rumah. Tidak banyak tamu yang datang ke rumahku untuk acara lamaran ini. Hanya kedua orang tua Pak Satrio dan Om Rudi. Bingkisan yang dibawa untuk buah tangan pun tidak terlalu mencolok. Hanya seperangkat alat sholat dan buah - buahan. Kami saling berkenalan dengan keluarga masing - masing. Ayah dan ibu Pak Satrio sangat baik, terlihat sekali mereka dari kalangan priyayi. Kami kemudian membahas masalah rencana selanjutnya. Tidak ada balasan untuk acara lamaran ini seperti pada umumnya. Kami sepakat pernikahan diadakan bulan depan. Tidak ada acara resepsi pernikahan hanya acara ijab kabul saja dan mengundang beberapa tetangga.


" Maaf dik, ini pernikahan saya yang kedua, rasanya tidak pantas saya menggelar acara resepsi lagi. Selain itu aku tidak enak dengan anak - anakku. Aku menjaga perasaan mereka dan mamanya." Begitu alasan pak Satrio ketika kami hanya berdua saja. aku hanya terdiam.


Tidak mengerti aku harus berkata apa dan membalas kalimatnya dengan kalimat apa. Seakan otakku kosong dan beku. Aku memilih diam dan membiarkan Pak Satrio melanjutkan lagi pembicaraannya


" Uang untuk resepsi bisa kita tabung"


" Ini untuk acara yang dirumah dik Arin. Kita kan hanya ijab kabul saja. Satu juta sudah lebih dari cukup," kata beliau lagi dengan menyodorkan amplop putih padaku. Aku menerima pemberian Pak Satrio dengan bingung. Aku tidak tahu apa - apa masalah pembiayaan pernikahan.


" Dik Arin setelah menikah saya boyong ke kota asal saya, mau ?


" Iya mas saya bersedia, tapi saya ada keponakan yang saya rawat mulai dari kecil"


" Tidak pa pa di bawa saja, bisa menemani Adry anak saya.


" Baik mas terima kasih." jawabku pelan pada Pak Satrio


Mudah - mudahan benar kata Dita. Pak Satrio orang yang baik bisa menerima keadaanku dan keluargaku. Setelah menikah memang aku putuskan untuk ikut Pak Satrio berada. Berusaha menjadi istri yang baik dan melupakan semua kenangan yang ada di kota ini. Saat ini pikiranku fokus untuk pernikahan dan bersikap baik pada Pak Satrio sebagai calon suamiku.


flash black.


Setelah aku memutuskan pilihanku untuk memilih Pak Satrio sebagai pendamping hidupku. Aku menelepon kakakku mbak Ayunda dan adikku Arsita untuk berkumpul dirumah. Tidak aku beritahu untuk apa hanya meminta mereka datang.


" Apa................ " teriak bapak, Mbak Ayunda dan dik Arsita bersamaan ketika aku beritahu kalau aku menerima pinangan dari Pak Satrio.


" Besuk keluarga Pak Satrio datang ke rumah untuk acara lamaran," jelasku pada bapak, Mbak Ayunda dan adikku Arsita.


" Syukurlah mbak Arin bisa move on dari mas Ravi," kata adikku yang memang tahu hubunganku dengan mas Ravi disaat - saat terakhir hidup ibu.


" Apa kamu sudah memikirkan masa depanmu ? Apa anak - anaknya bisa menerima kamu Rin ?" pertanyaan mbak Ayunda tepat mengenai titik permasalahan ku.


Aku benar - benar tidak tahu dengan masa depanku. Disisi lain ada permasalahan yang aku takutkan. Apa Pak Satrio bisa menerima kekuranganku ? Aku sudah tidak suci lagi ?

__ADS_1


" Iya mbak. Arin sudah siap dengan masa depan Arin" jawabku pasrah dengan semua apa yang akan aku hadapi.


Bersambung..........


__ADS_2