
Sebuah pernikahan pada dasarnya dua orang yang saling mencintai dan dicintai. Kadang takdir seseorang tidak sama ada yang bahagia dalam rumah tangganya dan ada yang berjuang meraih cintanya. Sering kali anak - anak sebagai pemberat hati kita untuk mengatakan cerai. Memilih bertahan dengan rumah tangga yang sangat rapuh. Bertahan hanya karena status sosial. Bertahan karena suami lah sandaran finansial satu - satunya. Mengorbankan kebahagiaan yang seharusnya mereka dapatkan. Setiap wanita berhak bahagia. Berhak dicintai pasangan hidup mereka. Ada juga wanita yang berani mendongkrak cibiran sosial bagi mereka. Berani memegang status ( maaf ) janda cerai. Tapi...... semua kembali pada diri kita sendiri. Setiap orang mencari jalan sendiri - sendiri untuk kebahagiannya. Semangat untuk wanita - wanita seperti Arin kalian perempuan hebat. Bersyukurlah untuk wanita - wanita yang berbahagia dalam rumah tangganya karena kehidupan rumah tangga anda, adalah rumah tangga yang diimpikan oleh wanita - wanita seperti Arin.
Jika kekerasan secara fisik dapat dengan mudah kita laporkan. Tapi tidak dengan kekerasan secara maaf ( seksual ) dan kekerasan psikis dalam rumah tangga. Mengadu ke siapa ? Sebagian dari mereka memilih memendam dalam hati. Berpura - pura bahagia sebagai jalan alternatif. Sebagian lagi memilih curhat pada teman dan saudara ? Terjamin amankah cerita mereka ? Kadang sebagai bumerang dan memercik air dalam tempayan bagi yang menceritakan.
Kekerasan seperti yang Arin alami jarang terjamah dan mencuat kepermukaan sebagai studi kasus. Kehidupan rumah tangga yang mereka jalani sebenarnya lebih sakit dari pada perceraian. Mudah-mudahan kita, anak - anak perempuan kita terhindar dari kekerasan rumah tangga yang Arin alami. Love you perempuan - perempuan hebat.
Tetap Semangat dan tersenyum adalah kunci sukses sebuah kebahagian.
*
*
*
*
*
__ADS_1
" Aku gak sarapan dik...."
" Aku ingin sarapan di rumah ibu, "
( yang dimaksud pak Satrio adalah rumah orang tua mbak Asri ).
Sapa pak Satrio sambil menciumi pipi Tangguh dengan gemas. Tanpa menoleh padaku.
" Ada uang di meja untuk belanja, "
Sambung beliau. Aku hanya mengangguk pelan.
" Aku ingin sarapan bersama Dik Asri "
Awal hariku yang sudah penuh dengan sarapan kata dari Pak Satrio. Andai saja beliau tahu aku sudah menyiapkan sarapan pagi untuk kami semua. Tapi..... yaaaah sudahlah mau bagaimana lagi keinginan beliau berlawanan arah dengan apa yang aku inginkan. Pak Satrio berdiri dan mencium puncak kepalaku.
" Aku usahakan sebelum maghrib sudah pulang,"
__ADS_1
" Aku ingin membelikan baju Tangguh,"
Ujar beliau lagi. Aku menengadahkan wajahku menatap netra beliau yang hitam. Ada sebersit sinar harapan untuk aku dan Tangguh. Aku tersenyum manis. Mungkin senyum termanis yang pernah aku berikan pada beliau.
" Iya mas, Arin tunggu ya.....," jawabku renyah.
Tak terasa kedua tanganku memeluk pinggang beliau. Aku meletakkan kepalaku pada dada bidang beliau. Kami saling berpelukan. Sangat hangat. Aku seperti seseorang yang mengalami hepotermia mendapatkan kehangatan. Seperti seseorang yang senang melihat hujan karena pelangi akan datang. Setidaknya itu yang aku rasakan. Kalau perasaan beliau terus terang aku tidak tahu. Karena wajah beliau selalu tentang dalam segala suasana. Baik beliau sedang marah atau sedang senang. Wajahnya selalu berwibawa dan berkharisma.
" Arin tunggu........," ku ulang lagi jawabanku. Sebagai isyarat. Aku benar - benar berharap beliau memenuhi janjinya untukku. Terlihat sepele janji yang beliau ucapkan. Tetapi bagiku seperti sebuah hujan yang diharapkan pada musim kemarau. Seperti menunggu hari terang saat musim hujan pada puncak - puncaknya. Perasaan bahagia dan terharu tidak dapat aku sembunyikan. Jika aku melukiskan melalui kata - kata mungkin aku seperti cuaca yang memiliki awan stratus. Sangat terang dan hangat tapi memiliki awan - awan tipis yang siap untuk hujan. Ya hari ini aku sangat senang tapi aku menangis. Menangis karena bahagia. Walau hanya sebuah janji yang beliau ucapkan tapi mampu mengubah hatiku menjadi kuncup - kuncup bunga yang akan bermekaran. Tanpa terasa aku mendongakkan wajahku dan mencium lembut pipi beliau. aku menjinjit untuk mencapai pipi beliau. Pak Satrio tertawa perlahan dengan suara lirih melihat apa yang aku lakukan. Kemudian mengacak rambutku. Kembali beliau menghampiri Tangguh yang masih pulas tertidur. Mendaratkan ciuman - ciuman gemasnya.
Aku berjalan mengayutkan tanganku di lengan beliau. Mengantar beliau keluar rumah. Sampai beliau berlalu pergi dengan mobil hitamnya. Aku tetap berdiri mematung memandang arah jalan beliau. Ternyata.................kembali aku pada gundah yang terselimuti bahagia semu. Senyuman yang tadi mengembang indah di bibirku begitu cepat berubah membentuk garis tipis. Beliau keluar untuk mencari cinta sejatinya. Beliau keluar untuk mencari seorang wanita yang tidak pernah bisa aku kalahkan. Beliau keluar dengan perasaan senang karena bisa bertemu dengan seorang wanita yang memberi beliau buah cinta. Aku berjalan pelan dengan buah pikiran yang aku timbulkan sendiri. Seandainya aku bisa seperti mereka yang mempunyai prinsip. " Yang penting hidup dijalani saja". Aku bukan ....aku tidak bisa. Aku selalu memikirkan masalahku. Seandainya aku boleh berdoa jelek. Aku ingin Pak Satrio tidak bertemu dengan mbak Asri. Aku ingin Pak Satrio bersikap manis kepadaku saja seperti yang barusan beliau lakukan. Apa aku salah, jika aku mempunyai pikiran seperti itu? Aku benar - benar berharap aku bahagia dengan rumah tanggaku. Memiliki anak dan hidup tenang dengan suami yang mencintai aku. Berdosa kah aku, jika aku menginginkan mbak Asri tidak akan kembali lagi pada Pak Satrio ?
Sesampai di kamar aku mengambil uang dari beliau yang diberikan padaku. Uang yang mungkin bagi sebagian orang tidak seberapa tapi sangat berarti bagiku. Untukku ini sebuah langkah dari satu ke dua. dari yang tidak mau memberi nafkah padaku. Mau memberikan aku uang. Uang dengan jumlah dua kali lipat dari gaji ku ini, aku simpan kembali. Seperti baru mendapatkan surat cinta. Aku cium berkali - kali amplop coklat ini sambil tersenyum. Seperti dunia terbalik bagiku dalam sekejap. Tadi malam suasana kami masih memanas. Hari ini hanya dengan satu kalimat sakti sudah bisa membuat hubungan kami menjadi lebih baik.
Hari ini terasa jam berputar sangat lambat. Kalau aku boleh berpendapat hari ini sepertinya jumlah jam bertambah banyak. Jika hari lain dua puluh empat jam. Hari ini sepertinya memiliki empat puluh delapan jam. Lebih dari sepuluh......dua puluh bahkan lebih aku mengarahkan pandanganku ke jam dinding yang bergantung di dinding rumahku. Ketika hari menjelang senja bibirku terus saja berdoa, semoga Pak Satrio memenuhi janji yang beliau ucapkan. Seperti klise tapi begitulah yang terjadi. Walau hanya keluar membelikan baju untuk Tangguh, sudah membuat aku gundah sepanjang hari.
Suara deru mobil yang berhenti di depan rumah terdengar jelas di telingaku. Aku ingin bersorak senang. Aku ingin lari menyambut beliau. Aku ingin menari kegirangan seperti anak kecil yang mendapatkan mainan. Tapi sekuat hati aku tahan. Aku tidak ingin beliau tahu, aku sangat mendamba. Aku sangat bersuka cita dengan kedatangan beliau. Aku berpura - pura mengantuk mengedip - ngedipkan mataku sambil menyusui Tangguh.
__ADS_1
Kakak.....tolong beri dukungannya setelah membaca novel saya. Mudah-mudahan cerita yang saya tulis mampu menghibur kakak pembaca.