
" Hari ini aku masih bertemu Asri kau tidak keberatan ? " tanya Pak Satrio ketika hendak berangkat.
" Apa masalahnya belum selesai ?"
" Dia tidak mau mengembalikan semua hadiah dan pemberian dari perusahaan media tanaman. "
" Apa sangat banyak ?"
" Melebihi yang ditawarkan ketika bertamu di rumah kita ?"
" Apa kau tak keberatan jika aku membayar ganti rugi dan mengembalikan semua yang sudah diberikan ke Asri ? "
" Bukankah tinggal mengambil dari Mbak Asri apa yang sudah diberikan ?"
" Itulah kesulitannya, dia tidak mau mengembalikan semua kecuali aku mau datang kerumahnya untuk mengambil semua,"
" Bukankah tinggal datang dan mengambil ?"
" Apa kau mau suamimu datang sendiri ke rumah mantan istrinya ? " pekik Pak Satrio sambil memandang tajam padaku, seolah tidak percaya aku berkata dengan santai.
" Bukankah itu keinginan mas ? Berkunjung dan bertemu dengan Mbak Asri ?" jawabku bersengit mengikuti arus marah yang dibawa oleh Pak Satrio
" Kau masih marah soal Family Gathering ?" tanya Pak Satrio dengan mengerutkan alisnya
" Iya dan ketika mas di rumah sakit. " jawabku ketus berpaling dari tatapan netra Pak Satrio yang seolah-olah mengajak untuk berdamai.
" Dik Rin, iya aku akui salah soal itu. Tapi tidak ada orang lain yang menunggu Asri. Adrian kuliah, Adry belum datang dari kegiatannya." ungkapnya dengan nada menyesal.
" Dan mas dengan suka rela membasuh badan dan menyuapi Mbak Asri ? " tanyaku lagi masih tetap bersengit pada Pak Satrio.
" Aku.....ah sudah aku jelaskan. Tidak ada orang dik Rin, hanya ada aku saja. Apa kau tahu dari Sebastian ? " tanya Pak Satrio suaranya melunak dan merendah padaku. Tatapannya tetap bersorot tajam
__ADS_1
" Iya dari Sebastian. "
" Kau lebih percaya Sebastian daripada aku suamimu ? "
" Iya.....,"
" Tukang bikin obat. Teman kantor datang ketika aku membasuh badan Asri karena akan bertukar pakaian."
" Mas melihat semua milik Mbak Asri ?"
" Aku sudah terlambat dik Rin, berdebatnya di lanjut sepulang kerja atau kau bisa datang ketika jam istirahat siang. " jawab Pak Satrio seperti tanpa beban padaku.
" Apa karena mas takut menjawab pada pertanyaan berikutnya ? " tanyaku dengan mengikuti Pak Satrio yang hendak keluar dari kamar.
Pak Satrio berbalik berhadapan denganku ketika aku juga melangkah mengikutinya. Kami saling beradu sehingga aku tidak stabil berdiri terbentur dengan badan Pak Satrio yang tinggi dan besar, tapi dengan sigap Pak Satrio melingkarkan tangannya pada pinggangku menghindarkan aku untuk jatuh ke lantai.
" Apa yang ingin kau dengar dariku ? " tanya Pak Satrio sambil memandang padaku. Menundukkan wajahnya karena jarak tinggi kami yang mencolok.
" Semuanya......semuanya yang saya tidak tahu mas. Saya ingin mas jujur, bukankah mas bilang kita harus jujur ? " pintaku memelas pada Pak Satrio. Posisi kami masih berhadapan tanpa jarak karena Pak Satrio mendekat katakan tubuhku pada tubuhnya dengan sekali gerakan.
" Apa ada hal yang mas sembunyikan ? " tanyaku dengan berusaha melepaskan dari pelukan Pak Satrio
" Tidak ada. Rumah tangga kita tidak ada masalah dik Rin. Sudahlah, aku berangkat dulu." kembali Pak Satrio melangkah keluar dari kamar.
"Mas tolong jujur padaku ! " cegahku dengan tangan yang aku rentangkan di depan Pak Satrio untuk menghalangi ya tidak beranjak dari kamar ini.
" Kau yang meminta sendiri. Yah semuanya lebih baik Asri. Aku tidak pernah sekalipun memintanya tapi Asri yang selalu datang padaku, mengerti keinginanku, memainkannya dengan gairah, aku selalu merasa puas untuk urusan itu."
" Cukup mas. Mas ingin bilang saya tidak mengerti mas dalam urusan itu. Apa dalam pikiran mas hanya itu yang menjadi prioritas ?"
" Sudahlah dik Rin, kita masih dalam tahap pengenalan. Kita memang sudah menikah hampir empat tahun, tapi sekarang ini kita masih belum mengenal satu sama lain."
__ADS_1
" Tolong jangan jadikan ini sebagai pertikaian. Aku juga tahu kau kecewa menikah denganku dan selalu membandingkanku dengan Henry. Tapi sekali lagi aku minta, ayo kita bina bersama rumah tangga kita dengan menutup masa lalu. "
" Saya sudah menutup masa lalu saya mas. Tapi mas yang masih selalu bersinggungan dengan masa lalu mas. Bahkan sampai detik ini," suaraku sudah samar hilang dan timbul karena sesak yang mendera karena tangis yang tertahan.
" Apa saya tidak pernah mengerti mas ? Apa mas merasa menyesal menceraikan Mbak Asri ? "
" Ya kau tidak mengerti apa yang aku inginkan. Aku laki - laki, sudah aku katakan bagiku itu penting, karena aku hanya akan melakukan dengan pasangan sahku. Jika kau tanya apa aku menyesal menceraikan Asri. Aku tidak pernah menyesal sama sekali. Aku ingin memulai semuanya dari awal denganmu. "
" Sayang dengar ! hubungan kita masih belum stabil, kita masih berusaha berdiri. Kita masih menyesuaikan kebiasaan, sikap dan sifat kita. Aku minta jangan sampai ada orang ketiga diantara kita. Jika itu ada, rumah tangga kita yang masih belum kokoh ini akan tumbang."
Pak Satrio menunduk kemudian berlutut mensejajarkan ( maaf ) kepalanya dengan perutku.
" Adek.....sayang.....jaga mama ya nak. Mama emosinya masih tidak stabil. Adek yang kuat ya." ucapnya sambil mengusap dan mencium perutku.
" Kau mau aku bawakan apa ? Nanti aku ada pertemuan di hotel ........... ,"
" Saya ingin kolak ronde mas," jawabku pelan. Ya Tuhan aku bertengkar hebat dengan Pak Satrio suamiku, tapi ketika sampai makanan yang dibahas aku luluh juga. Ternyata kehamilanku benar - benar membuat aku suka sekali dengan makanan.
Pak Satrio tersenyum mendengar jawabanku yang mulai menetralkan nada suara kembali seperti semula.
" Iya akan aku bawakan untukmu. " jawab Pak Satrio berdiri dekat denganku. Menunduk memandang wajahku.
" Dik Rin, walau kau tak percaya padaku. Aku tetap akan berjuang demi rumah tangga kita. Cukup Adrian dan Adry yang menjadi korban perceraianku. Aku ingin Tangguh, Thavisa dan bayi kita mendapatkan kebahagian karena orang tuanya hidup bahagia. "
" Aku ingin percaya mas, tapi hatiku selalu berkata tidak," jawabku pada Pak Satrio.
" Ubahlah pola pikirmu dari berkata tidak menjadi yakin. "
" Nanti siang tolong bawakan aku makan siang. Yang perlu kau tahu juga keinginanku akan semakin tinggi jika aku banyak pekerjaan. Karena itulah aku memintamu untuk ikut denganku, dekat denganku. " Ucap Pak Satrio dengan mencium puncak kepalaku.
Pak Satrio menyempatkan bermain dengan Tangguh dan Thavisa sebentar sebelum berangkat. Menciumi dengan gemas dan berkali - kali memeluk Tangguh dan Thavisa.
__ADS_1
Jika dilihat seperti ini, rumah tanggaku sangat bahagia. Lebih dari yang aku harapkan. Tapi kenapa selalu ada Mbak Asri diantara kami ? Jika sekarang kehidupan Mbak Asri tidak sesuai dengan harapannya, bukankah aku ataupun Pak Satrio tidak harus bertanggung jawab atas semua takdirnya ? Walau perceraiannya atas tuntutan dari Pak Satrio, bukankah aku tidak pernah meminta Pak Satrio melakukan semua untukku ? Pak Satrio datang padaku ketika sudah terpuruk dengan Mbak Asri. Tapi ketika aku dan Pak Satrio ingin bangkit dan bersama kenapa Mbak Asri datang kembali seolah menyalahkan aku yang merusak hidupnya ?
Bersambung........