Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Bab 60


__ADS_3

Aku


( Mas....besuk Jadi antar saya ke dokter ? )


Ketikku pada layar HP dan ku kirim pada beliau.


Besuk adalah hari yang beliau pilih untuk memeriksa kandunganku. Seperti bulan - bulan kemarin. Berturut-turut beliau selalu mendampingiku ke dokter kandungan.


Flash on


Satu bulan yang lalu.


" Benar Dok, bayinya cewek ?" tanya Pak Satrio masih belum percaya dengan hasil USG 4D yang ditampilkan di layar dan penjelasan dokter Niken.


" Yakin Dok ? Gak akan berubah kelamin kan ?"


Dokter Niken tersenyum dengan pertanyaan Pak Satrio.


" Ah lengkap sudah kalau bayi ini cewek," Seru Pak Satrio senang sambil mencium keningku berkali - kali. Wajah beliau bersinar karena senang mendapatkan apa yang selama ini beliau inginkan.


" Adikmu Cewek, Nak .....," semangat Pak Satrio berujar pada Tangguh yang berada dalam gendongan beliau. Kaki kami, Pak Satrio terasa ringan melangkah keluar dari kamar periksa milik dokter Niken. Bibir beliau tak henti tersenyum.


" Ayo cari baju Thavisa ! " Aku ingin dia bernama Ardhiona Thavisa Adi Panengah. Baguskan ?"


" Iya bagus. Apa Artinya ? "


"Orang yang kuat, tangguh dan bertanggung jawab dari surga. Baguskan ? Dari dulu aku ingin anak perempuan, baru kesampaian sekarang. Aku ingin segera bertemu dengan Thavisa. " sambung beliau lagi sambil mengusap lembut perutku.


" Bulan depan kapan periksa lagi ? Aku antar, Aku pasti datang. Tanggal dua puluh satu bagaimana ? Ya aku pasti datang untuk mengantarmu. Aku sudah tidak sabar bertemu dengan bayi cantik kita."


Aku mengangguk mengiyakan pertanyaan beliau.


Flash off


Ku pandangi jam tangan yang melingkar manis di tangan kananku. Jam tangan ini pemberian Pak Satrio sebulan yang lalu ketika kami berbelanja keperluan bayi kami. Sudah setengah jam berlalu, beliau belum membalas atau membaca pesan dariku.

__ADS_1


Sebelum pulang dari tempat kerjaku. Ku ketik sebuah pesan lagi untuk beliau.



57


Aku


Assalamualaikum Wr Wb.


Mas, Maaf apa mas besuk jadi antar saya ke dokter ? Kalau mas tidak berkenan, tidak apa saya berangkat sendiri.



Lama berselang, dua pesan WA yang aku kirim tidak juga beliau baca. Perasaan diantara marah dan kekhawatiran yang mendasar lirih bergerak merambat menjalar memenuhi ruang hatiku. Sakitkah beliau ? Akankah beliau lupa dengan janji beliau? Ku ulang lagi jari tanganku mengetik huruf membentuk kalimat untuk beliau.


18.45


Aku


Kubiarkan waktu berjalan dengan rasa yang lambat sekali serasa perputaran waktu tidak bergerak dari detik ke detik. Kusapa lagi beliau lewat pesan di WA.


21.29


Aku


Apa mas berkenan mengantar saya ke dokter ? Apa mas tidak bisa mengantar saya ?


Ku coba bertahan dengan semua kesabaran yang ada. Melewati malam dengan semua rasa cemburu dan gelisah bagai api - api kecil yang siap membara menghanguskan kesabaran. Bagai belati yang siap untuk diasah menyaring - nyaringkan gelombang untuk menikam diri karena keputusasaan.


Jam sudah duduk manis di pukul 22. 41 ketika ku tekan nomor beliau. Sebuah suara manja merayu terdengar elegan. Menyapa dengan lembut padaku," Assalamualaikum, dik Arin yach......"


Debar jantungku memulai memacu dengan cepat melebihi biasanya. Kerongkonganku kering seketika. Bukan suara yang aku inginkan. Bukan suara beliau yang menyapaku.


" Iya mbak saya Arin. Apa Mas Satrio ada ? "

__ADS_1


tanyaku dengan ragu dan gugup. tak menyangka Mbak Asri yang menerima panggilan telepon ku.


" Mas Satrio sudah istirahat dik. Kasian kalau dibangunkan. Apa ada pesan ? Besuk saya sampaikan ke Mas Satrio," tanya Mbak Asri lembut. Aku tidak bisa menguasai keadaan. Suaraku bergetar menahan sesak yang menyerbu tiba - tiba.


" Gak ada mbak. Besuk saja saya telepon lagi." sahutku dengan suara yang lemah. Lemah dalam segala hal, kalah dalam segala hal dengan mbak Asri.


Malam ini, beliau benar - benar menguasai semua isi di kepala ku dan perasaan berdebar ku. Mulai menjamah ramah apa yang dinamakan rindu. Perasaan rindu yang membuat aku sakit karena cemburu. Aku cemburu dengan wanita lain yang setiap hari bisa memandang beliau dan berbicara dengan beliau. Aku benar - benar iri dengan wanita lain yang setiap saat dan setiap malam ada dalam dekapan beliau. Mengantarkan aku pada kepahitan malam yang aku rengkuh sendiri.


Malam ini aku memeluk diriku sendiri dengan seribu tangis. Aku benar - benar cemburu. Bukankah seharusnya aku yang ada disisi beliau setiap saat. Bukankah aku istri pertama beliau. Kenapa drama ini terbalik ? Aku seperti istri simpanan beliau yang bertanya kabar kapan beliau datang.


Bukankah aku sendiri yang memilih risau dan gelisah ini ? Kenapa aku tangisi ? Bukankah aku sendiri yang menantang melawan apa yang dinamakan mengikuti arus air ? Ternyata sampai dititik ini aku sudah mulai goyah. Terreka - reka dalam anganku apa yang sekarang beliau lakukan, sedang apa beliau. Gambaran - gambaran rumah Pak Satrio terpampang jelas di pelupuk mataku. Bagaimana kamar beliau. Tentu saat ini akan terlihat cantik dengan nuansa soft kesukaan Mbak Asri. Hiasan bunga Segar yang dirangkai oleh tangan Mbak Asri.


Suara Tangis Tangguh semakin membuat aku tersayat sendiri. Ku gendong anakku dalam rintihan yang juga ku miliki bersamanya. Mata Tangguh manatapku dengan iba seakan ikut merasakan apa yang aku rasakan. Kami bersama terlelap dengan tangis yang dalam.


Saat ini pagi sudah datang menyambut dengan suasana yang terang. Tak ada embun yang menempel di pucuk - pucuk daun sisa kabut dini hari tadi. Kering, gersang seperti gambaran hatiku saat ini


Apakah aku salah jika berulang kali menelepon suamiku ? Kucoba menekan nomor beliau kembali. Kembali kecewa menabur tertumpah di hatiku. Beliau tidak menjawab panggilanku. Ku ulang lagi dan ku ulang lagi. Diri dikuasai oleh emosi atau lara ? aku sendiri tidak mengerti tapi hari ini jariku merespon lebih dulu dari perintah otakku. Jariku seakan sigap mencari dan menemukan nomor beliau. Kenapa terulang lagi, bukan suara beliau yang menyapa dan menyambutku.


" Dik Arin, HP Mas Satrio terbawa oleh saya. Apa ada pesan ? Nanti, kita ada janji makan siang bersama." Sapa Mbak Asri santun padaku. Ku kuatkan hatiku. Tegas..... walau bimbang menyelimuti.


" Mbak Asri, bisakah mbak sampaikan apa Mas Satrio jadi mengantar saya ke dokter ?"


" Apa dik Arin sakit ?" tanya Mbak Asri penuh selidik. Suara Mbak Asri tetap tenang. Di pelupuk mataku, seakan terpampang wajah Mbak Asri. Wanita cantik dengan rambut ikal bergelombang berdiri sambil menerima teleponku.


" Tidak mbak." jawabku merendah


" Lantas kenapa ke dokter ?"


" Pe......periksa kan....dungan mbak," suaraku terbata - bata menjawab pertanyaan Mbak Asri. Aku sendiri kurang mengenali diriku. Kenapa aku harus takut ? Tapi itulah yang terjadi. Aku ternyata juga kalah dan takut terhadap Mbak Asri. Tidak bisa setenang dan sesantun Mbak Asri.


" Dik Arin hamil ? Kenapa Mas Satrio tidak cerita ? Bahkan tadi malam kami berbincang sangat lama sekali, Mas Satrio tidak menyinggung sedikitpun tentang dik Arin." Sebuah kalimat pemberitahuan atau sebuah cerita yang disengaja oleh Mbak Asri dia katakan padaku. Tapi.....suara Mbak Asri tetap memukau seperti biasanya. Suara wanita yang terdengar sempurna, manja dan anggun.


Ku gigit bibir bawahku menahan semua sakit di hatiku. Kalimat Mbak Asri membuat aku terperosok jatuh ke dasar genangan air yang berlumpur. Aku ingin berteriak nyaring, nyaring sekali memekakkan telinga semua orang dengan rasa galauku. " Tadi malam kami berbincang sangat lama." Kenapa penggalan kalimat itu sangat membuat aku tersiksa. Hanya berbincang kah ? tidak lebih ? di kamar ? di ruang tamu ? Diteras rumah ?


Ya Tuhan aku tak kuasa dengan rasa cemburu yang menjadikan aku sakit, sakit dan sakit lagi.

__ADS_1


Bersambung.........


__ADS_2