
" Rin........ suami mu telepon bapak, katanya telepon kamu gak bisa," Seru bapak membangunkan aku dari tidur. Aku menoleh ke arah jam dinding, sudah larut jam 23. 45.
" Bilang saja saya sudah tidur Pak. Kamar dikunci," jawabku kembali merebahkan badan di samping Tangguh. Terdengar percakapan antara bapak dan Pak Satrio. Aku tidak perduli, aku abaikan saja bapak berbincang dengan Pak Satrio melalui sambungan telepon. Aku benar - benar lelah seharian, dan aku ingin tidur.
" Rin.......kasian suamimu mau dengar Suara Tangguh ! " seru bapak lagi membangunkan aku.
" Tangguh tidur pak, Kasian kalau dibangunkan. ," jawabku sambil melihat Tangguh yang terlelap.
Suara Pak Satrio terdengar jelas memanggil namaku, ingin mendengar suara Tangguh." Biarkan aku mendengar suara Tangguh, jangan kau halangi Dik Rin......."
Bapak menyodorkan HP milik beliau padaku
" Tangguh tidur mas, kasian."
," Aku dari tadi telepon dan VC tidak kau hiraukan. Aku mau dengar suara anakku. Aku mau lihat Tangguh, bukan melihatmu. Jangan besar kepala kau."
" Iya tapi Tangguh tidur."
" Kau sakit hati karena besuk aku menikah ? Bukankah pilihanmu sendiri ingin cerai ? Tidak mau ikut aku ?
" Tangguh masih tidur besuk saja."
" Katakan kau cemburu dan sakit hati !"
" Ya aku membenci mas......sangat."
" Bukan hanya kau yang mempunyai rasa seperti itu. Aku juga, Aku mencintaimu dan anak kita. Aku juga merindukanmu tapi menanggung dendam yang sangat dalam."
" Aku yang paling mendendam....... sangat. Aku tidak ingin bertemu mas lagi selain di pengadilan."
" Ya aku juga mendendam, tapi ada Tangguh anakku. Aku cuma memastikan keadaanmu sehatkah ? sakitkah ? karena Tangguh masih tergantung padamu."
__ADS_1
," Kalau mas mencintai aku kenapa menikah lagi? Pernikahan yang benar itu hanya ada kita mas. Aku dan mas, tidak ada orang ketiga walaupun itu mantan mas, walau itu perempuan yang lebih baik dari aku."
Suara tangisanku memecah di malam ini. Membelah malam hening dengan suara keputusasaan. Menampilkan diri - diri yang tidak terkendali oleh rasa dendam dan cinta. Menampilkan sosok - sosok Srikandi dengan sisi lain, bukan yang gagah berani di tempat laga, melainkan menampilkan sosok - sosok Srikandi yang juga ingin dimanja dan dicintai oleh suaminya. Deru nafas Pak Satrio terdengar. Seakan menahan amarah yang kuat mengalir membawa arus tenang tapi menenggelamkan. Seakan ingin mengatakan semua yang terjadi pada diri beliau adalah karena aku.
Bapak hanya diam memandangiku dengan wajah tua beliau. Senyum yang mengembang tipis membuat aku semakin terluka. Akulah yang membuat beliau menangis dihari tua beliau.
" Ibu ingin bicara denganmu, tolong ijinkan ibu sepatah dua kata menyampaikan apa yang ingin beliau sampaikan padamu."
," Ya baiklah......pakai HP saya saja, jangan HP bapak. Tunggulah sebentar, saya yang menelepon ibu."
," Ya......"
Aku memberikan HP pada bapak. Bapak memandangi wajahku seakan ingin menyusun kata untuk menghiburku. Bibir beliau bergerak akan membuka suatu kalimat, tapi aku penggal dengan suara yang tegar dan halus. ," Arin baik pak, sangat baik. Arin tidak akan sedih hanya karena pernikahan Arin seperti ini."
," Yang sabar ya nak....semuanya pasti akan berlalu, sekarang mendung besuk pasti terang. Tidak akan kita berpuasa terus tanpa hari raya."
Kurengkuh dan kupeluk tubuh renta dihadapanku dengan tangisan yang kembali mengalir, seperti air bah yang datang tanpa permisi. Seperti erosi karena kemiringan tanah, langsung melesat jatuh....jatuh dan menghancurkan semua tak terkendali.
Kami menangis dalam pelukan kasih sayang antara seorang ayah yang ikut merasakan kesedihan putri tercintanya. Tangisan seorang anak perempuan yang mengadu pada ayahnya, karena rumah tangganya akan karam di tengah perjalanan. Aku menoleh dan memandangi uang mahar berbentuk kapal layar yang masih menggantung kokoh dengan bingkai emas. Kapal ini bukan kapal dalam cerita sejarah yang berlayar karena arah angin. Kapal ini dinahkodai oleh suamiku, Pak Satrio dan aku yang berada di samping beliau membawa navigator. Kenapa harus karam ditengah laut yang tak bergelombang tapi berbiak di dalam.
HP bapak berbunyi lagi, tanda panggilan dari Pak Satrio. Aku melepas pelukanku pada bapak dan segera mengambil HP ku. Aku on kan kembali, kemudian menekan nomor kontak Pak Satrio. Tertera jelas disana di deretan nama kontak teleponku. Sebuah nama yang aku berikan pada Pak Satrio " Ayah Tangguh".
" Dik....Rin kenapa lama sekali, kasian ibu sedari tadi ingin menelepon mu tapi tidak bisa. Ini sudah larut, sudah sepatutnya beliau istirahat malam. "
," Maaf...," Hanya kata itu yang aku ucapkan pada beliau. Terdengar suara gemerisik sepertinya HP sudah berpindah tangan.
," Nak Arin.........," suara penyebutan namaku dengan gemetar lirih dalam tangisan terdengar dari suara ibu mertuaku, Ibu Elly. Aku kuatkan agar aku tidak goyah dan menangis.
," Iya ibu, ini Arin anak menantu ibu."
," Kenapa jadi seperti ini ? ibu tidak mengerti, ibu harap Arin yang menjadi obat buat mas mu, anak ibu. Tapi, kenapa tidak mau ? Apa anak ibu kurang layak untuk seorang Arin ? Seandainya Arin mau pindah dan ikut Satrio kesini tidak akan Satrio beralasan menikah lagi karena tidak ada perempuan yang berada disampingnya. "
__ADS_1
"Maaf ibu...., tapi mas Satrio yang.....," kalimat - kalimat pembelaanku terpatahkan oleh suara beliau.
," Ibu tidak akan menyalahkan mas mu Satrio, sudah seharusnya seorang istri ikut suami. Sudah seharusnya seorang istri melayani suami. Sudah seharusnya mematuhi suami. Ibu percaya nak Arin tapi tidak pada akhirnya...tidak pada akhirnya. ,"
" Mas Satrio juga salah Bu, beliau mengatakan tidak pernah mencintai Arin."
," Itu tugasmu nak, membuat suami mencintaimu itu tugasmu. Kalau kau tidak bisa ya seperti ini akhirnya, lari ke pelukan wanita lain, jangan seperti ini malah ditinggal dan tidak mau ikut Satrio."
" Ibu maaf....ini sudah larut, ibu istirahat." ku putus sambungan telepon dari ibu. " Klik" , sangat keras. Biarlah beliau mengatakan aku tidak sopan, tidak pantas, tidak sepatutnya, bertindak lancang, tidak menghormati, dan semuanya..........Aku benar - benar ingin mengakhiri sambungan telepon dengan beliau, ibu mertuaku. Hatiku seakan semakin sakit dengan semua nasehat beliau yang hanya membela putra tunggal beliau saja. Apa semua salahku ? Jika aku juga mempunyai ibu yang ada di sampingku, tentu beliau juga lebih membela aku Putri tercintanya, curahan kasih sayangnya.
Suara nada panggilan berbunyi lagi, tetap dari Pak Satrio. Aku terima panggilan dari beliau.
," Dik Rin kenapa kau......,"
," Ya....saya lancang, saya tidak sopan. Apalagi nama - nama jelek untuk saya mas ? Tidak bisa membuat mas mencintai saya ? Tidak mau melayani mas ?" tantangku memenggal kalimat yang beliau katakan.
" Dik.....Rin, istirahatlah....sekarang sudah sangat larut, bahkan menjelang dini hari. Pasti kau lelah."
" Ya.... sangat lelah saya ingin tidur tanpa ada suara panggilan telepon dari mas."
" Baiklah..... istirahat. Jaga Tangguh anak kita."
" Anak saya, bukan anak mas Satrio."
" Jangan katakan Tangguh anakmu saja, Tangguh anak kita. Tangguh buah cinta kita."
............
Bersambung.......
Terima kasih sudah membaca novel saya. Tolong diberi like dan komentar.
__ADS_1