Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Episode Spesial 5


__ADS_3

Aku


( Sungguh mas tidak mau pulang sekarang ? )


Pak Satrio


( Sayang aku tidak nyaman dengan mas Yusuf ( Ayah Sebastian ) dan rekan lainnya. Kami masih berbincang )


Aku


( Ini sudah jam sepuluh malam mas )


Pak Satrio


( Iya sayang. Sudah selesai rapatnya hanya tidak nyaman saja, tuan rumah pulang dulu sementara tamu belum pulang. )


Aku


( Yakin tidak mau pulang sekarang. Aku sekarang pakai daster tidak pakai .............)


Pak Satrio


( Sayang tunggu aku, ini aku mau pulang jangan tidur dulu. Aku tidak mampir beli tahu Tek ya. Langsung pulang )


" Sayang ! Anak - anak sudah tidur semua ? " Sapa Pak Satrio tanpa mengetuk pintu langsung masuk ke kamar.


"Iya sudah barusan," jawabku sambil menyambut Pak Satrio dengan tersenyum.


" Yesss ! ! "


Aku melingkarkan tanganku pada pinggang Pak Satrio.


" Tamunya sudah pulang ? "


" Belum. Ada Tian dan Mas Yusuf yang menemani. Aku pamit pulang dulu beralasan anak - anak menangis."


" Apa mas kangen ? "


" Iya selalu."


" Mas mau puding atau salad buah ? Aku sudah siapkan untuk mas." sambil melepas pelukanku aku melangkah.


Pak Satrio tampak kebingungan aku melangkah meninggalkannya keluar kamar. Sehingga ikut menyusulku ke dapur.

__ADS_1


" Kau sengaja menggodaku ? Tadi kau bilang ingin ......,"


" Aku hanya ingin mas cepat pulang, aku kewalahan dengan empat anak mas kalau mas terlalu lama keluar," sahutku memotong kalimat Pak Satrio.


" Ah itu tidak benar, kau banyak alasan. " ucap Pak Satrio sambil berusaha memelukku


" Mas.....jangan disini kalau mama atau yang lainnya bangun bagaimana ? "


" Kau lebih memilih mama yang bangun atau anak - anak ? " jawab Pak Satrio sambil memelukku dari belakang. Aku hanya mengangkat bahu.


" Sayang ! Kalau mama dan lainnya yang bangun mereka akan malu sendiri dan segera berlalu, tapi kalau anak - anak rencana kita bisa gagal," urai Pak Satrio dengan mengekplorasi semuanya.


" Mas Satrio tidak malu dilihat mama atau yang lainnya ? "


" Tidak, apa perduliku. Kita suami istri,"


" Tapi aku perduli mas. Aku yang malu,"


" Kalau kau malu, ayo lekas keburu mereka bangun,"


Sebuah ciuman diberikan Pak Satrio dengan lembut. Menghantarkan rasa hangat menjalar seperti aliran infus pada pembuluh darah. Memutar dan memberi energi baru


" Mas.....Ziancha menangis ! "


" Mas .... Zeeshan juga menangis. Twins menangis."


" Biarkan dulu ! Biar turnamen sekalian."


" Tapi mas tangisan mereka semakin kencang ! " kali ini aku mulai berontak dengan aktivitas Pak Satrio yang sudah tidak terkendali dan semakin mendekapku.


Pintu kamar Bu Elly dan Pak Hardian terbuka dengan tergopoh - gopoh Bu Elly dan Pak Hardian lari ke kamarku. Letak kamar beliau berada di samping kiri kamarku. Beruntung mereka tidak menoleh kearah dapur dimana aku dan Pak Satrio berada.


Pak Satrio yang tetap rapi dengan piyama yang dikenakan menghentikan aktivitasnya dengan memasang wajah masam kemudian berjalan cepat menuju kamar. Sementara aku masih harus menggenakan pakaian yang luruh di lantai.


" Apa harus ke dapur semua untuk mengambil salad. Bukankah bisa salah satu saja diantara kalian," amarah Bu Elly pada kami. Amarahnya tak tertutupi dengan wajah ningratnya yang biasanya ayu gemulai.


Tampak Zeeshan dalam gendongan Bu Elly dan Ziancha dalam gendongan Pak Hardian. Kami, aku hanya terdiam. Pak Satrio juga tidak berkata apa - apa selain duduk terdiam di sofa kamar tidur ini. Sementara aku berdiri bersandar di daun pintu kamar ini. Tatapan netra Pak Satrio dan aku saling beradu, sesekali tersenyum ke arahku sambil mendengarkan omelan ibundanya.


" Anak kemarin sore, tukang bikin onar. Kalau kita langsung pada inti tidak akan seperti ini," umpat Pak Satrio padaku ketika twins sudah berhenti menangis dan kembali pulas dalam tidurnya. Bu Elly dan Pak Hardian juga sudah kembali ke bilik peraduan mereka.


" Mas yang bikin onar, kenapa harus di dapur. Bukankah lebih tenang di kamar,"


" Kenapa kau pura - pura ke dapur mengambil salad kalau kau menggodaku untuk itu."

__ADS_1


" Pikiran mas yang mesum."


" Kau yang memulai dulu mengirim pesan kalau kau tidak memakai b** dan c***** d****."


" Saya kan bicara jujur mas," jawabku sambil tersenyum memandang ke arah Pak Satrio.


Pak Satrio bergerak mengurungku dengan kedua tangannya untuk memulai dari awal aktivitasnya yang belum terselesaikan. Kami berpagutan.


" Pa.....papa.......papa.... Tanggung mau tidur sama papa dan mama," suara Tangguh menangis dan mengetuk pintu dengan keras dan berkali - kali.


" Ya Tuhan cobaan apalagi ini," gerutu Pak Satrio sambil bergerak membaringkan badannya yang semula mengungkung tubuhku. Aku tersenyum pada beliau kemudian berjalan kearah pintu membuka pintu untuk Tangguh yang ingin tidur dengan kami.


" Ma ayo bernyanyi sama Tangguh " ajak Tangguh dengan suara yang masih cadel. Kami bernyanyi bersama sementara Pak Satrio mendengarkan dengan netra yang berpura - pura terpejam.


" Sayang ! Nak Papa sudah bobok. Ayo Kak Tangguh juga bobok ! perintahku lembut pada Tangguh. Tangguh mengangguk tanda setuju. Mata kecilnya berusaha dipejamkan dengan kuat.


Sesaat kemudian Pak Satrio mengangkat badannya sedikit untuk memastikan Tangguh tidur sambil bertanya ragu dan lirih padaku," Apa Tangguh sudah tidur ? "


Aku memberi kode dengan telunjukku yang aku tempelkan di bibirku.


" Papa kok belum bobok ? Kata mama sudah bobok " kalimat tanya Tangguh begitu saja keluar dari mulut kecilnya membuat Pak Satrio terbelalak dan serta merta berpura-pura tidur kembali.


"Papa bohong, papa gak bobok," kata Tangguh sambil memalingkan badannya kearah Pak Satrio.


" Iya sayang, maaf papa barusan terbangun. Yuk tidur besuk main lagi ! sekarang sudah malam sayang ! " Mereka, Pak Satrio dan Tangguh saling memeluk satu dengan yang lainnya. Sangat erat berkali - kali Pak Satrio mencium puncak kepala Tangguh dengan lembut dan membelai rambutnya agar tertidur.


Aku memandangi saja kegiatan bapak dan anak di sampingku. Mereka saling sayang dan saling membutuhkan satu sama lain.


Aku hanya berharap dan berdoa semoga selalu seperti ini di setiap hari yang aku lalui dengan Pak Satrio.


Tangguh sudah terlelap dalam dekapan Pak Satrio. Wajah Tangguh milik Pak Satrio sepenuhnya, tersenyum dalam tidurnya.


" Mas......Mas.....Mas Satrio Tangguh sudah tidur," aku berusaha membangunkan Pak Satrio dengan lirih agar tidak membangunkan Tangguh dan juga twins.


" Heeeemmmm ," sahut Pak Satrio dengan netra tetap terpejam.


" Mas.....ayo, selagi anak - anak sudah tidur," ternyata aku juga bisa meminta pada Pak Satrio. Pak Satrio tak mampu membuka netra beliau.


" Sayang, keinginanku sudah hilang dua puluh menit yang lalu, aku sekarang mengantuk. Sebaiknya kita istirahat saja untuk melepas penat," ucap Pak Satrio.


" Mas......," ucapku lagi beralih di samping Pak Satrio dengan gerak yang sangat pelan agar Tangguh tidak terjaga.


" Sayang......," Pak Satrio terkalahkan oleh rasa kantuknya hingga tak mampu berkata lagi tapi memelukku dengan erat.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2