
Lamunanku terhenti dengan suara nada panggil di HP ku. Kuangkat panggilan dari seorang yang juga aku sayangi.
" Dik Rin............," suara tangis tersayat dari layar HP ku. Wajah Mbak Ayunda meratap disana.
" Iya mbak.....Kenapa Mbak Ayun menangis ?" tanyaku ikut memilu bersimpati pada Mbak Ayunda kakakku.
" Rumah Mbak Ayun banyak yang bocor karena hujan angin malam ini," cerita Mbak Ayunda sambil tak berhenti menangis.
" Kalau semua bocor Mbak Ayun tidur dimana ?" tanyaku kemudian.
" Mbak Ayun tidur dirumah tetangga. Mbak bingung biaya renovasi rumah dik ? Tadi Mbak sudah telepon Dik Arsita juga tidak ada biaya lebih. Mbak bingung harus cari ke siapa ?"
" Arin ada mbak. Besuk Arin transfer," spontan aku menjawab kegelisahan Mbak Ayunda
Aku ada sedikit dana tabungan yang aku simpan dari gajiku sendiri. Selain itu aku juga ada uang belanja yang aku simpan dari Pak Satrio. Tidak aku ambil tetap dalam rekening beliau karena aku ambil hanya untuk keperluan anak - anakku saja. Agar anak - anakku tahu ayah mereka juga berjuang untuk menghidupi mereka.
" Iya Dik Terima kasih banyak. Tapi bagaimana Mbak belum bisa membayar dalam waktu dekat ? tanya Mbak Ayunda ragu padaku.
" Tidak usah dipikirkan dulu Mbak. Arin ada uang dari Pak Satrio."
" Oh...syukurlah, Mbak Ayun lega mendengarnya,"
" Mbak jangan khawatir Arin masih ada. Arin gak keburu ,"
...................
" Dita......pinjam uang di akhir bulan apa masih bisa ? tanyaku pada Dita yang sibuk membetulkan make up sehabis makan siang.
Aku mengambil pinjaman di kantor karena tidak memiliki tabungan sama sekali. Empat bulan yang lalu aku meminjamkan uang tabunganku pada Mbak Ayunda untuk renovasi rumahnya. Lebih parahnya lagi uang di rekening Pak Satrio diblokir tanpa alasan. Aku sudah berkali - kali menghubungi beliau tapi tidak bisa. Sudah aku putuskan tidak akan mengejar beliau lagi. Aku ingin hidup dengan anak - anakku saja. Aku sudah tidak mau tahu lagi tentang Pak Satrio. Karena beliau juga tidak perduli pada kami. Sudah cukup perasaan sakit hati yang beliau buat untukku dan anak - anakku.
" Mbak Arin mau pinjam uang ke kantor ? " Dita balik bertanya.
__ADS_1
" Iya...Apa pinjam ke kamu saja. Ada ?"
" Buat apa Mbak Arin pinjam ? Biaya lahiran ? Kan ada Om Satrio ? tanya Dita seperti polisi yang sedang menginterogasi cepat dan banyak pertanyaan.
" Ya buat persiapan saja."
" Om Satrio ?"
" Tidak usah ngomong Pak Satrio lagi Dit. Sudah tamat." ucapku berusaha tenang walau sakit di hati sungguh luar biasa.
" Iya mbak, aku tahu dari Om Rudi. Om Satrio menikah lagi sama mantan Istrinya. " Dita terdiam setelah berucap. Kemudian dia mencari buku kas pinjaman yang ada di tumpukan buku di mejanya.
" Apa mbak Arin tidak berusaha menemui Om Satrio ? Mungkin Om Satrio mau memenuhi kewajibannya," sambung Dita tangannya masih saja sibuk membuka lembaran - lembaran di buku catatannya.
" Kalau aku gak bisa pinjam disini. Gak apa - apa Dit, aku cari yang lain. " jawabku kesal karena Dita terus saja berusaha mengingatkan aku pada Pak Satrio.
" Bukan begitu mbak, Aku cuma memberi saran. " jawab Dita dengan gugup karena terlihat jelas aku tidak suka dengan pernyataannya.
" Sudah empat bulan kartu debit yang diberikan padaku di blokir. Aku juga sudah berusaha menghubungi beliau tapi tidak dihiraukan," ceritaku pada Dita.
" Apa Mbak mau aku bantu menyampaikan pada Om Satrio ? " saran Dita padaku. Intonasi bahasanya halus agar aku tidak tersinggung dengan kalimatnya.
" Tidak usah Dita......Aku akan berusaha hidup sendiri tanpa beliau," sahutku. Air mata yang sudah penuh ternyata tak mampu aku tampung. Lincah bergerak turun membasahi pipiku. Dita yang melihatku berdiri dari tempat duduknya berjalan dan memelukku.
" Mbak.....kalau kita berusaha. Mungkin perasaan Om Satrio tergerak."
" Aku tidak mau mengemis perasaan apalagi uang pada beliau Dit," jawabku sambil menggeleng pelan dalam pelukan Dita.
" Mbak Arin kita bukan mengemis, kita meminta tanggung jawab Om Satrio sebagai kepala keluarga. Sebagai ayah dari anak - anak Mbak Arin," Dita memberi penjelasan padaku, agar aku mau menerima usulnya.
Tidak untuk kali ini aku sudah bertekad apapun itu, aku tidak mau berhubungan lagi dengan beliau. Ini hidupku dan anak - anakku. Aku yang menginginkan mereka ada di dunia ini. Sepatutnya aku yang bertanggung jawab atas anak - anakku.
__ADS_1
" Mbak Arin, Om Satrio sering main ke rumah Om Rudi. Memang sekali waktu datang bersama dia ( yang dimaksud Dita adalah Mbak Asri ). Apalagi hari ini mulai panen di lahan tebu milik beliau. Aku yakin Om Satrio datang mbak." Sambung Dita meneruskan usulnya.
" Tidak ....Dit....jangan. Biarkan ini menjadi urusanku dengan beliau saja. Aku tidak mau ada campur tangan orang lain. Aku yakin beliau juga tidak mau," jawabku berusaha menolak saran dari Dita.
" Baiklah kalau itu memang keputusan Mbak Arin. Aku hanya berusaha membantu Mbak Arin dengan semampuku. Tapi kalau Mbak Arin membutuhkan bantuanku, aku selalu ada untuk Mbak Arin," Dita melepaskan pelukannya dengan pelan. Suaranya tenang dan menyejukkan hatiku. Diusapnya air mataku dengan tisu yang Dita ambil di mejanya.
" Mbak Arin yang kuat yach....." semangat Dita sambil menangis. Air matanya yang berusaha dia bendung mengalir juga karena tak mampu menahan desakan aliran dari dalam.
" Iya Dit.... terima kasih. Aku berusaha dan yakin kuat dengan semuanya," ucapku optimis dengan apa yang aku ambil dan aku lakukan.
Dita kembali duduk di kursinya semula. Berhadapan denganku dibatasi oleh mejanya yang penuh dengan tumpukan - tumpukan buku catatan keuangan. Di perusahaan yang dimiliki keluarga Henry, Dita lah yang memegang catatan keuangan. Semua toko menyerahkan laporan keuangan pada Dita di akhir bulan. Demikian juga dalam hal pinjam meminjam uang, Dita yang mengurus semuanya dengan persetujuan keluarga Henry.
" Mbak Arin pinjam untuk keperluan melahirkan ?"
" Iya," jawabku sambil menganggukkan kepalaku.
" Mbak rencananya mau pinjam berapa ? "
" Kalau sepuluh juta, apa bisa Dit ? tanyaku ragu pada Dita. Takut kalau terlalu banyak pinjaman yang aku ajukan.
" Mudah-mudahan bisa Mbak. Aku konsultasikan ke Ko Dion dulu. Kemarin Ko Dion mengambil sedikit untuk angpao pernikahan Dokter Dandy atas nama toko, " jelas Dita.
" Mbak jangan khawatir, kalau kantor tidak bisa nanti sebagian aku yang bantu," sambung Dita menyakinkan aku.
Ya aku lupa, bukankah besuk pernikahan Dokter Dandy. Pernikahan Dokter Dandy adalah perayaan pernikahan pertama di keluarga besar nya. Dokter Dandy akan menikah dengan teman seprofesinya, begitu yang aku dengar.
" Kapan Mbak Arin mau SC ?"
" Dua hari lagi. Aku juga mau menyerahkan surat cuti melahirkan karena besuk aku mulai cuti," jelasku pada Dita.
" Aku telepon Ko Dion dulu ya mbak. Sebentar lagi akan saya kabari," urai Dita padaku.
__ADS_1
Salahku memang baru mengajukan pinjaman hari ini. Bukan karena apa, walau aku sudah tidak mengharapkan Pak Satrio tapi dalam hati kecilku yang terdalam. Aku tetap berharap Pak Satrio datang dan mengurus semuanya. Sampai tadi malam sebelum aku putuskan untuk pinjam uang di kantorku.
Bersambung..............