
Waktu berjalan begitu lama bagiku. Jangan ditanya apa Pak Satrio menghubungiku selama masa kehamilanku yang sudah memasuki bulan ke sembilan dan tinggal menunggu hari di mana anakku lahir ke dunia. Sudah berulang kali aku memberi kabar pada beliau kalau kandunganku baik - baik saja. Setiap hari selalu aku memberi beliau kabar.
Aku
Mas, saya sudah makan sayur bayam dan ikan tuna untuk kesehatan anak kita.
Pak Satrio
👍
Tidak ada jawaban yang lebih dari gambar emoticon tangan yang memberi tanda jempol.
Atau aku memberi kabar perkembangan kehamilanku.
Aku
Assalamualaikum. Mas kata bidan bayi kita sehat.
atau seperti ini
Aku
Mas, bayinya ingin minum jus jambu dingin walau sekarang hujan.
Tetapi tetap jawabannya selalu sama.
Jangan pernah membayangkan bagaimana perjuanganku mulai hamil muda sampai sekarang berusia sembilan bulan. Aku harus tetap bertahan diantara kenangan yang menyakitkan bagaimana dia hadir dan tumbuh dalam rahimku. Sering perasaan ini tidak menentu. Kadang kala aku senang aku akan mempunyai anak. Ya anakku sendiri yang lahir dari rahimku. Tapi ada kalanya aku harus membencinya. Karena dia ada di saat tidak tepat. Harusnya dia hadir membawa kebahagiaan untukku. Jika rasa sesal dan kecewa mulai melanda. Aku mulai menyiksa diriku sendiri dan bayiku. Bisa sampai sehari penuh aku tidak makan apapun. Bukan karena mual atau masalah kehamilan, tapi aku ingin dia menghilang dengan tidak sengaja. Di saat rasa keibuanku muncul aku menangis merasa kasian dengan apa yang aku lakukan pada diriku dan dia. Merasa, akulah ibu paling kejam di dunia ini.
Bayi ini seperti mengerti dengan keadaanku. Dari awal kehamilan sampai sekarang aku belum pernah mengalami apa yang dirasakan perempuan perempuan hamil pada umumnya. Aku belum pernah merasa mual bila makan atau mencium bau yang tidak disukai. Aku bisa makan apa saja. Aku bisa bekerja setiap hari tanpa ada kendala. Bahkan mungkin aku tidak pernah mengalami apa itu ngidam seperti yang lain. Bayi ini seakan mengerti dan dia juga harus berjuang untuk hidupnya sendiri. Apakah sejak di dalam rahimku dia sudah menyesal ditakdirkan sebagai anakku dan pak Satrio ? Seolah dia ingin menunjukkan kalau dia tidak ingin membebaniku. Setiap kali aku periksa kandunganku ke bidan selalu dengan ceria bidan Esti memberi penjelasan kalau dia bayi yang sehat dan banyak gerak.
__ADS_1
Kenapa aku periksa ke bidan bukan ke dokter ? Mungkin itu yang ada di benak semua orang. Bukankah pak Satrio orang berada ? Beliau tidak mau membiayai sepeserpun tentang aku dan anakku selama aku tidak mau ikut beliau. Harga diriku lebih tinggi daripada uang. Perasaanku lebih aku pilih daripada harus sakit hati. Aku yakin aku akan kuat walau hidup dengan uangku sendiri. Aku juga sudah berusaha untuk mencoba semampuku agar beliau tergerak. Melalui pesan - pesan yang selalu aku kirim.
Tampaknya Dita mulai menyadari keadaanku dan pak Satrio yang tidak harmonis. Aku tidak pernah cerita pada Dita. Mungkin Dita menilai sendiri selama aku hamil Pak Satrio tidak pernah berkunjung. Dan aku juga tidak pernah menyinggung sedikitpun tentang Pak Satrio.
" Mbak Arin......... mbak maaf apa om Satrio tidak pernah datang ke rumah mbak ?"
Tanya Dita ragu - ragu ketika kami hendak pulang.
Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaannya. Senyum yang harus terlihat tegar walau rapuh di dalam.
" Mbak......jadi benar om Satrio gak pernah ke rumah Mbak Arin ?" tanyanya lagi dengan mendekat padaku.
" Seminggu yang lalu juga gak ke rumah mbak Arin ?" kali ini Dita dengan tegas bertanya. Aku hanya mengerutkan keningku.
" Seminggu yang lalu beberapa kali om Satrio main ke rumah om Rudi" imbuhnya dengan pelan.
Jantungku berdebar keras mendengar apa yang dikatakan Dita. Ingin sekali aku tidak mempercayai apa yang di ceritakan Dita. Tapi, sulit aku melakukannya. Seminggu yang lalu.....? Seminggu yang lalu bukankah aku memberi kabar pada beliau kalau dalam minggu- minggu ini bayi ini akan lahir. Dan beliau tidak memberi jawaban apapun padaku.
elakku mengalihkan pembicaraan pada Dita tanpa mampu memandang wajah Dita.
"Aku temani mbak, Mas Rian hari ini ada lembur gak bisa jemput"
Sorot mata Dita dengan iba melihatku tanpa berkedip. Tapi aku tepis dengan tersenyum.
" ha.....ha... gak usah Dit, ntar kamu kemalaman pulangnya" Tegasku menolak tawaran Dita.
" Gak apa - apa mbak."
" Kok mbak Arin ambil poli yang sore ?"
__ADS_1
" Tadi kenapa gak ijin. ?"
suara Dita bertanya sangat halus seakan takut menyinggung perasaanku.
" Sengaja ambil sore, kan mau cuti melahirkan" balasku dengan tersenyum pada Dita.
Kami berjalan bersama menuju tempat parkir. Aku tidak bisa menolak keinginan Dita mengantar aku kontrol ke Dokter Niken.
Pasien poli kandungan ketika jam sore dan malam tidak begitu ramai seperti pagi hari. Aku baru tiga kali ini kontrol ke dokter kandungan. Ketika bulan ke tiga, ke tujuh dan sekarang. Selebihnya aku memilih ke bidan. Aku duduk bersebelahan dengan Dita yang dengan tetap antusias menemaniku. Kami berbincang - bincang. Arah mata kami langsung tertuju pada pasangan yang sangat bahagia. Perbincangan kami terhenti dengan tegur sapanya yang familiar.
" Hai.....mbak Arin, mbak Dita."
" Pak Ravi....antar istrinya ? Dita dengan akrab juga menyapa. Hanin tersenyum ceria memandang kami. Aku terdiam seakan tidak percaya apa yang aku lihat. Kenapa disaat aku terlilit kesedihan yang tampak di wajahku. Aku bertemu dengan mas Ravi yang dulu melarangku menikah dengan pak Satrio dan menawarkan untuk menunggunya. Aku melihat sekilas kearah perut Hanin yang belum begitu jelas terlihat.
" Iya kontrol, masih empat bulan" jawab mas Ravi dengan arah netra ke arahku seakan penuh selidik memandang ke arahku yang hamil besar dan kenapa ditemani Dita. Kami bertatapan mata. Aku kuatkan netra ku menatap tajam netra mas Ravi. Menutupi apa yang aku alami, berpura - pura keadaanku baik - baik saja. Berpura - pura hubunganku dan pak Satrio sangat bahagia.
" Sudah berapa bulan mbak ?" Sapa Mas Ravi padaku
" Sembilan mas, tinggal nunggu hari" berusaha aku untuk tenang dengan pertanyaan mas Ravi.
" Suaminya.......?
" Ada urusan masih di luar kota mas"
Dita dengan cepat memotong pertanyaan mas Ravi padaku. Aku hanya diam. Pertanyaan mas Ravi padaku seakan ingin menyatakan kebenaran tentang hubunganku dan Pak Satrio. Senyum tipisnya sebagai simpulan dari jawaban Dita. Walau Dita berdalih aku dapat menerka mas Ravi tahu keadaanku.
Jika aku boleh jujur aku iri melihat kemesraan Mas Ravi dan Hanin istrinya. Bukan karena aku masih mempunyai perasaan pada Mas Ravi, tidak. Sudah pupus perasaanku pada Mas Ravi. Aku hanya iri, aku juga ingin seperti mereka. Aku juga ingin sekali saja diantar suamiku seperti yang lain. Tapi pertanyaan - pertanyaan itu kembali padaku. Bukankah aku yang tidak bersedia untuk ikut Pak Satrio ? Bukankah aku yang menolak tawaran beliau untuk satu atap beliau. Aku menghela nafas panjang. Aku harus kuat dengan pilihanku sendiri. Tapi tidak bolehkah terlintas di benakku walau sekilas saja. Andai aku yang berada di posisi Hanin. Mungkin aku senang. Dan Bayi kami adalah bayi yang benar - benar lahir karena buah cinta.
Beruntungnya aku, karena tidak lama aku masuk ke ruangan dokter Niken. Wajah cantik manis dokter Niken tersenyum melihat kedatanganku. Mempersilahkan aku duduk untuk menanyakan keadaanku.
__ADS_1
Bersambung.........
Mohon Likenya ......