
" Apa kau sudah mempersiapkan diri untuk nanti malam ? " tanya Pak Satrio renyah melalui sambungan telepon.
" Bukankah mas ada meeting ? Kenapa bisa menelepon ?"
" Partner kerja belum datang terjebak macet,"
" Apa yang ada di pikiran mas hanya masalah ranjang ? " tanyaku kesal
" Bukankah masalah ranjang kunci utama dalam rumah tangga ? Pak Satrio berbalik bertanya padaku.
" Kunci utama rumah tangga adalah komunikasi, bukan masalah ranjang," jawabku ketus dan setengah berbisik khawatir terdengar oleh kedua mertuaku.
" Bagiku kunci utama rumah tangga ya.....masalah ranjang. Kalau di ranjang kita selalu hangat, yang lain akan mengikuti. " ulas Pak Satrio santai dan jelas.
" Kunci utama hubungan menurut saya ya.... komunikasi yang lain bisa dibicarakan dengan komunikasi," argument ku pada Pak Satrio.
" Komunikasi saja ? Tanpa hubungan s** ? Ya terasa hampa Nyonya," suara Pak Satrio setengah meledek padaku.
" Sebaiknya persiapkan dirimu, karena nanti malam adalah tugasmu. Aku sudah tidak sabar menunggu malam."
" Apa mas tidak mendengar suara Tangguh menangis ? Mungkin dia meminta dibuatkan susu ?" Aku berusaha memberitahu Pak Satrio tentang Tangguh sebagai pengalihan pembicaraan. Terus terang aku merasa risih dengan pembicaraan seperti ini.
Tawa kecil Pak Satrio terdengar. Pak Satrio hari ini sangat senang menggodaku untuk masalah ini.
" Yang kita lakukan sekarang ini adalah seperti katamu, Nyonya. Komunikasi, berbicara ! " Tegas Pak Satrio dibarengi dengan tawa yang semakin jelas.
" Aku tutup teleponnya, Partner sudah datang. Jangan lupa nanti malam kerjakan yang bagus sesuai keinginanku. Bayu ( yang dimaksud adalah sekretaris pribadi Pak Satrio dikantor ) mengatakan setelah rapat melanjutkan acara di....... tempat karaoke milik.....( Pak Satrio menyebutkan salah satu nama publik figur ternama di negara ini ). Setelah acara makan malam selesai, aku akan menemuimu," tawa Pak Satrio kembali terdengar renyah dan santai. Kemudian menutup telepon.
__ADS_1
Pesan Watsapp tanpa nama masuk di HP ku. Kubuka dari Mbak Asri. Terlanjur kubuka sehingga pesan Wastapp ku baca.
Mbak Asri
( Apa kau merasa senang sekarang ? Sejak kehadiranmu Mas Satrio berubah sikap padaku.)
Mbak Asri
( Suatu hari nanti, Mas Satrio pasti akan kembali padaku, Dasar Pelakor ).
Mbak Asri
( Apa tidak ada laki - laki yang mau denganmu ? Sampai suami orang yang kau rebut ? )
Aku tutup kembali HP dan ku masukkan dalam saku daster yang ku kenakan. Walau aku tidak mengerti maksud Mbak Asri. Aku tidak pernah merebut Pak Satrio dari siapapun. Pak Satrio datang padaku saat status beliau sudah menduda. Tampaknya Bu Elly mengetahui kalau aku sedang memikirkan sesuatu. Tangguh berkali - kali jatuh saat berlari walau dalam pengawasanku.
" Maaf ma....Arin......Arin....," air mata yang ku bendung langsung tercurah begitu saja.
" Kau kenapa menangis ? Apa kau bertengkar dengan Satrio ? " Air mataku semakin deras.
Aku sangat tidak terima dengan kata - kata yang Mbak Asri tulis untukku. Aku tidak pernah mencuri Pak Satrio dari Mbak Asri, tidak.....! Kalaupun Pak Satrio dan Mbak Asri tetap menjalin hubungan bahkan telah menikah siri sebelum Pak Satrio menikah denganku, benar - benar di luar dugaanku .
" Tidak apa ma, Arin hanya....." Aku hentikan kalimatku karena suara panggilan HP terdengar, Mbak Asri yang mencoba menghubungiku. Tampaknya Bu Elly melihat juga karena jarak kami sangat dekat. Untuk hari ini bukan kali pertama Mbak Asri mencoba menghubungiku namun selalu tidak aku terima. Dengan cepat Bu Elly mengambil HP yang ada dalam genggamanku dan menerima panggilan dari Mbak Asri.
" Untuk apa kau menelepon Arin ? Ingin menghasut ? " tanpa dikomando sambungan telepon langsung terputus dari Mbak Asri.
" Kalau dia ( Mbak Asri ) telepon lagi, langsung bilang mama. Sudah lebih dari cukup dia membuat Satrio sakit hati. Mama tidak ijinkan dia masuk di kehidupan kita lagi," gerutu Bu Elly sambil mengangkat kemudian menggendong Tangguh untuk di bawa masuk ke dalam rumah. Aku mengikuti beliau dari belakang. Mencoba menenangkan diriku kembali. Ya.....aku tidak pernah merebut Pak Satrio dari Mbak Asri. Ku yakinkan hatiku untuk itu, selebihnya tergantung orang yang menilai dari sisi yang mana ?
__ADS_1
Pak Satrio datang dengan senyum ceria dan membawa masakan sesuai yang beliau janjikan. Tangguh menyambut beliau dengan senang, tawa Tangguh kembali terdengar ceria karena Pak Satrio menciumnya dengan gemas di dada Tangguh. Setelah bermain dengan Tangguh beliau menghampiriku yang sedang duduk bersebelahan dengan Bu Elly. Thavisa sudah dalam buaian mimpi, sejak selepas magrib tadi. Sekarang jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
" Biarkan Tangguh dengan mama layani dulu keperluan suamimu ! " Perintah Bu Elly padaku. Aku berdiri mengikuti anjuran Bu Elly.
" Maaf, aku baru datang tidak sesuai janjiku pulang selepas Magrib. Tadi aku masih melihat Adrian dan Adry dirumah. Aku mengajak mereka untuk pindah kesini tapi mereka menolak. " Cerita Pak Satrio sambil memandangi wajah Thavisa yang terlelap di box bayi.
" Kenapa ? " tanyaku ingin mengetahui lebih lanjut.
" Aaahhh sudahlah tidak perlu dibahas lagi. Mereka sudah besar bisa menentukan pilihannya sendiri. Aku sebagai ayahnya hanya bisa mengawasi saja, kalau mereka tidak mau mengikuti anjuranku."
" Yang saya khawatirkan omongan orang mas, Anak - anak dari pernikahan sebelumnya selalu menjadi korban ketika orang tua mereka mempunyai keluarga baru. Saya khawatir mas mendapat omongan seperti itu," jelasku Pada Pak Satrio.
" Aku sudah meminta mereka untuk menginap disini, tapi menolak karena Khawatir Asri datang. Kalau mereka menginap disini, Asri tidak akan bisa menemui mereka. Selain itu.....," Pak Satrio tidak melanjutkan kalimatnya.
" Selain itu.....," aku mengikuti kalimat terakhir dari Pak Satrio.
" Apa kau tak akan marah ? " tanya Pak Satrio dengan menatap mataku. Aku menggeleng pelan tanda setuju.
Pak Satrio menghela nafas sebelum kembali berbicara," Rumah itu penuh kenangan dengan Asri. Mereka menolak untuk pindah karena tidak ingin melupakan kenangan bersama mama mereka."
" Apa mas sebaiknya tidur disana saja, saya disini dengan Tangguh dan Thavisa ? usulku pada Pak Satrio.
" Aaaaah kau ini, jadi mentah lagi pikiranku. Aku serba salah untuk menentukan pilihan. Kau, Tangguh dan Thavisa adalah istri dan anakku Demikian juga Adrian dan Adry juga darah dagingku. Aku ingin memeluk semuanya, kenapa begitu sulit ? suara memelas dan pasrah Pak Satrio ungkapkan dengan nada yang rendah. Raut wajah cemas tergambar. Netra beliau menerawang jauh tidak berada di tempat ini, walau raga beliau ada di sampingku.
" Aku ingin bersandar di pangkuanmu, boleh ? tanya Pak Satrio menuntunku untuk duduk di sisi ranjang, kemudian beliau berbaring menyandarkan ( maaf ) kepala beliau di pangkuanku.
" Aku benar - benar lelah dengan semua. Aku tidak membayangkan aku akan mengalami permasalahan yang rumit seperti ini. Terus terang hidupku bahagia mulai dari aku lahir." Pak Satrio memejamkan netra beliau sesaat kemudian mulai terhanyut dalam tidur.
__ADS_1
Bersambung...........