
" Jangan pernah berharap bisa cerai dariku,"
" Jangan pernah bermimpi bisa selingkuh dariku,"
" Jagan pernah berhalusinasi laki - laki lain dalam pikiranmu,"
"Jangan pernah berhasrat memiliki laki - laki lain selain aku suamimu,"
Netra pak Satrio menatap kasar padaku yang masih terdiam membisu karena amarahnya.
" Saya bukan wanita seperti itu"
" Jangan samakan saya dengan mbak Asri"
Aku juga memandang netra pak Satrio. Tatapan kami beradu dalam bara api. Siap menyulut satu sama lain.
" Saya tidak seperti mas yang sewenang - wenang berkata kalau tidak bisa mencintai saya,"
" Saya juga punya laki - laki yang saya cintai,"
" Apa pernah saya berkata pada mas, kalau saya tidak bisa mencintai mas,"
" Saya berharap penuh dengan pernikahan kita,"
Aku menatap beliau dengan menantang. Aku juga bisa seperti beliau yang menatap angkuh tanpa berkedip.
" Oh jadi kau ingin berselingkuh dariku ?"
" Aku pastikan kau tidak akan mendapatkan selingkuhan mu "
Netra hitam pak Satrio memandangiku dengan penuh amarah. Terus dan terus menatapku tanpa berkedip.
Hanya dengan sekali dorongan aku sudah terjatuh di tempat tidurku. Netra beliau menatap penuh kebencian ke arahku. Aku menghindar dari tatapan netra beliau. Mengarahkan pandangan ke arah lain. Aku tidak menyangka pak Satrio yang biasanya lembut berubah seratus delapan puluh derajat. Marah dan kebenciannya semakin bertambah padaku. Nafas beliau menderu menahan amarah. Tangan beliau di kepal dengan kuat - kuat. Aku gemetar ketakutan melihat beliau. Hanya dengan dua langkah beliau mendekat ke arahku yang masih terbaring karena dorongan tadi. Seperti kilat, kedua tangan pak Satrio mengkoyak daster yang aku pakai. Kembali, hanya dengan satu gerakan. Aku berusaha menutupi dengan tanganku. Berusaha melindungi diriku dari beliau. Dengan tangan dan baju yang tetap tersisa semakin erat menggenggam. Tanganku jelas terlihat kalau gemetaran. Keringat dingin mulai bercucuran. Mungkin wajahku sudah pucat pasi. Wajah yang datar dan tanpa malu pak Satrio berkata
" tanpa.........."
Bibirku bergetar kelu tak bisa berbicara. Tak ada suara yang mampu keluar. Hanya tatapan memohon ketika beliau mendekat padaku. Cengkraman tangannya yang kuat pada diriku. Bukan untuk menimbulkan g****h, tapi ingin membuat aku menderita dan menjerit kesakitan .Bukan senyum kebahagiaan yang beliau tunjukkan padaku, tapi senyum kemenangan atas diriku. Perbuatannya padaku bukan untuk suatu kenikmatan, tapi lebih mengarah pada rasa yang membara. Karena pelampiasan suatu dendam. Perbuatannya seolah ingin menunjukkan kekuasaannya atas tubuhku. Ingin menyakinkan aku kalau beliaulah pemilik ragaku.
__ADS_1
Di luar sana di manapun itu. Apakah ada perempuan lain selain aku yang mengalami hal sama denganku ? Bukan kekerasan fisik atau kekerasan psikis yang aku dapatkan. Apakah ini juga di sebut kekerasan rumah tangga ? Bukankah yang barusan beliau lakukan adalah pe*****an atau hubungan suami istri pada umumnya ? Kalau aku mengadu, mengadu pada siapa ? Diterima kah ceritaku ? ditertawakan kah ceritaku ? Aku meringkuk seperti bayi. Lebih dari hinaan yang aku dapatkan. Lebih dari cacian yang aku dapatkan. Sakit di tubuhku belum seberapa dengan sakit di hatiku. Memar yang aku dapatkan lebih memar lagi di memori ku. Aku terjungkal dan tertindih oleh kata " ikatan pernikahan ". Begini kah perlakuan seorang suami yang sangat membenci istrinya ? Aku bukan wanita yang ada di hati beliau. Aku bukan wanita yang beliau cintai. Aku bukan wanita yang beliau inginkan. Tetapi kenapa beliau tega secara membabi buta melakukan semua padaku ? Bukan karena rasa cinta. Bukan karena ingin memenuhi rasa haus biologisnya. Bukan karena kewajiban seorang suami. Tapi karena ingin menyamakan aku seperti perempuan yang bisa di beli. Perempuan yang bisa di gunakan dengan bebas karena sudah tergadai. Perempuan yang hanya untuk menghangatkan ranjangnya, tanpa ikatan. Jeritanku seakan tak memberikan rasa iba di hati beliau. Tangisanku tak mampu menggerakkan hati beliau untuk menghentikan semuanya......semuanya yang beliau lakukan padaku. Kamar ini menjadi saksi bisu betapa aku sudah mempertahankan harga diriku. Betapa aku terhinakan oleh suamiku sendiri. Betapa aku ternistakan bukan tersayang.
Aku menggenggam erat bad cover dengan tangan di dadaku. Di tarik dengan kasar oleh pak Satrio. Seakan muak dengan pemandangan yang ada pada diriku.
" Bukan hanya kau yang menyesal dengan pernikahan ini. Aku juga menyesal"
" Setidaknya Dik Asri masih suci dan polos ketika menikah denganku. Tidak seperti kau"
Netra pak Satrio berkilat - kilat seakan tidak puas beliau menghina diriku. Menginjak - injak diriku.
Aku sudah di dasar...... akan dikemanakan lagi oleh beliau ? Aku juga tidak mampu berkata apa - apa. Benar kata pak Satrio aku memang tidak suci lagi. Air mataku menetes hingga membasahi semua. Sengaja tidak aku hapus. Sengaja tidak ku usap kubiarkan air mata ini jatuh seperti pemiliknya jatuh.......jatuh.....agar bisa mengekpresikan kesedihannya, kegundahannya, kepahitannya.
" Aku...... Satrio sangat menyesal menikahi mu"
Wajahnya di dekatkan pada wajahku. Netra beliau berkilat - kilat seperti cahaya yang menandakan akan adanya petir. Tajam menatapku penuh kebencian, setelah mengetahui ketidaksucianku.
"Kau lebih hina dari pe****r. Setidaknya mereka punya harga ketika melakukan"
" Tidak seperti kau yang di pakai secara gratis"
Wajahnya semakin mendekat padaku. bibir beliau tepat berada di depan telingaku ketika berkata demikian.
" ceraikan saya"
" ceraikan saya kalau mas menyesal menikahi ku"
Wajah kami beradu tak berjarak. Suara rendah beliau menggema di telingaku. Tangan beliau yang masih mencengkram kuat pada pundak ku.
" Aku memang menyesal menikahi mu,"
" Tapi tidak akan menceraikan mu,"
" Kau harus membayar karena sudah menipuku,"
Posisi kami tetap tidak berpindah. Saling beradu dalam wajah yang saling membenci, yang saling bertikai.
" ceraikan saya, "
__ADS_1
" kita bisa hidup dengan jalan sendiri - sendiri,"
Tanpa menjawab pak Satrio membaringkan tubuhnya di sebelahku. Hanya dalam hitungan detik suara dengkuran halus terdengar. Tidurnya tampak pulas. Wajah beliau tampak puas sudah melakukan berbagai penghinaan padaku. Tak ada beban tergurat diwajahnya. Walau sudah berusia di penghujung empat puluhan wajah tampan beliau masih jelas terlihat.
Pagi ini setelah selesai melakukan sholat subuh aku memasak seperti biasanya. Membangunkan Jhoji yang tetap tertidur di depan TV. Semalam aku sangat letih untuk membangunkan Jhoji agar pindah ke kamar tidur. Pak Satrio memanggilku untuk ke kamar.
" Ini uang makan ku selama dua Minggu aku disini, sambil menyodorkan lima lembar uang ratusan padaku.
" Aku lebih suka makan di rumah dari pada di luar,"
Aku hanya diam tidak menggerakkan tanganku untuk mengambil uang yang beliau berikan. Aku tidak mengerti jalan pikiran beliau. Bukankah tadi malam beliau mengatakan tidak akan memberi uang padaku ? Tanpa menunggu jawabanku beliau meletakkan di atas meja riasku.
" Aku rasa uang segitu sudah lebih dari cukup untuk aku makan disini bukan ? "
"Aku selalu makan dirumah kecuali ada pertemuan," Jelas beliau lagi padaku.
Aku hanya menggigit bibirku. Menelan saliva ku sendiri. Tidak berani menatap beliau. Bukankah rumah asal mbak Asri juga di kota ini ? Kenapa beliau memilih menginap di rumahku ?
" Dik Asri ada kepentingan ke luar negeri untuk butiknya,"
Seakan Pak Satrio mengerti apa yang ada dalam pikiranku dan pertanyaan ku di jawab walau aku tak bertanya langsung pada beliau.
" iya..... baik,"
jawabku pelan bukan ingin menunjukkan aku wanita lemah, bukan. Tapi aku letih berargumen dengan beliau.
" Berangkat bersama,"
" nanti aku jemput," perintahnya tanpa menoleh padaku.
" Ta......tapi........" Aku terbata tidak mengerti. Kalimatku terpotong dengan perintah beliau lagi.
" cepatlah mandi. aku sarapan dulu. "
Aku enggan berada di dekat beliau perasaan takut karena beliau masih membekas di hatiku. Aku mengabaikan luka di tubuhku tapi tidak di hatiku. Aku lelah menghadapi beliau yang selalu unggul atas diriku.
Dua minggu bukan waktu yang singkat. seandainya istilah pro memoria dalam kehidupan nyata. Aku lebih suka memilih kesempatan itu. Walau Dita sering memuji wajah tampan beliau seperti aktor Ian veneracion. Tapi aku tetap enggan berada di dekatnya. Aku sangat ketakutan dengan apa yang beliau lakukan tadi malam dan khawatir terulang lagi.
__ADS_1
Bersambung...................