Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Episode Spesial 1


__ADS_3

Sidang perkara perdata antara Pak Satrio dan Mbak Asri dimenangkan sepenuhnya oleh Pak Satrio. Tapi aku tidak ingin merusak kenangan Adrian dan Adry tentang rumah mereka. Rumah yang pernah mereka tempati bersama. Aku meminta Pak Satrio memenuhi keinginan Mbak Asri untuk memberikan rumah itu atas nama Adrian dan Adry.


" Mas, kita bisa membeli aset baru tapi tidak dengan kenangannya. Saya tidak apa rumah di ..........diatas namakan Adrian dan Adry. Untuk Tangguh, Thavisa, Zeeshan dan Ziancha kita bisa menabungnya," usulku pada Pak Satrio.


" Kau..... bersungguh-sungguh mengucapkan ini ?" tanya Pak Satrio terkejut hingga otomatis duduk dari pembaringannya.


Aku mengangguk.


" Aaah tidak ! Aku hanya ingin adil pada anak - anakku," jawab Pak Satrio kembali merebahkan badannya di tempat tidur.


" Bukukankah rumah itu banyak kenangan indah bagi Adrian dan Adry. Saya tidak ingin merampas kenangan itu dari Adrian dan Adry. "


" Terima kasih banyak atas semua pengertianmu. Besuk aku ke kantor advokat Pak Raharjo untuk membahas masalah ini,"


Pak Satrio memandangiku kemudian memelukku. " Apa ini tidak menyakitimu ? Aku tidak ingin kau terluka sedikitpun dengan sikap dan tindakanku. Aku sudah banyak menyakitimu. Aku tidak ingin kau kembali terluka. " suara lirih terdengar menyuarakan kalimat yang disampaikan padaku.


" Tidak.......biarkan Adrian dan Adry tetap memiliki kenangan atas rumah itu. Bagiku itu juga menyenangkan asal bukan mas Satrio yang masih mengenang masa lalu,"


" Nah....kata - kata seperti ini yang aku tidak suka. Kau selalu mengungkit masa laluku. Ketika aku membicarakan dia ( yang dimaksud adalah Mbak Asri. Pak Satrio acap kali tidak menyebut nama Mbak Asri melainkan menggantinya dengan sebutan " Dia ") , kau yang merasa teraniaya. " ucap Pak Satrio sambil memencet hidungku.


" Bukankah mas yang bilang ke Mbak Asri," Mudah-mudahan kita bertemu lagi bukan dalam keadaan berselisih dan bertikai seperti ini. Ya....dalam suasana penuh kekeluargaan," ucapku menirukan Pak Satrio ketika berjabat tangan dengan Mbak Asri di akhir persidangan yang di menangkan oleh Pak Satrio.


" Aaah kau mulai lagi. Setiap kau merasa kesal padaku selalu saja kalimat itu yang kau ucap. Kalau dihitung lebih dari seribu kali kau ucapkan itu. Dari twins belum lahir sampai mereka berusia dua bulan. " Ucap Pak Satrio sengaja mengolok-olokku dan semakin erat memelukku.


" Itu menandakan mas Satrio ingin bertemu lagi dengan Mbak Asri," jawabku singkat dan ketus pada Pak Satrio.


Pak Satrio tersenyum dan bertanya," Apa ini juga diajarkan Sebastian ? "


" Emmmmm," jawabku mendekatkan wajah Pak Satrio padaku dengan kedua tanganku. Kami sudah beradu dalam wajah, sedikit lagi sentuhan itu terjadi. Pak Satrio hendak meraih bibirku, suara tangis Zeeshan menghentikan Pak Satrio.


" Zeeshan menangis, giliranmu ! " perintah Pak Satrio sambil menepuk keningku dan mengabaikan ciuman yang hendak diberikan padaku.


" Tidak ," tolakku


" Tidak ? "


" Tidak . .....saya capek, mas saja ! " jawabku sambil menutup tubuhku dengan badcover.

__ADS_1


Pak Satrio menoleh ke arahku kemudian melihat kearah box bayi tempat Zeeshan dan Ziancha berada.


" Bukankah kau sendiri yang menentukan pilihan aku mengurus Ziancha dan kau mengurus Zeeshan," protes Pak Satrio padaku.


Kami, aku memang memutuskan untuk merawat sendiri bayi kembar kami, toh aku tidak bekerja. Dan aku mengusulkan membagi tugas jika malam hari. Pak Satrio mengurus Ziancha dan aku mengurus Zeeshan, sementara Tangguh dan Thavisa tetap tidur dengan ibu mertuaku.


" Tapi saya capek mas ......nih.....coba lihat kaki saya sampai pegal - pegal semua karena capek," rengekku pada Pak Satrio.


" Aaah kau selalu saja begini. Menentukan sendiri, dilanggar sendiri," jengkel Pak Satrio sambil berdiri menuju box bayi tempat Zeeshan berada, mengganti diapers Zeeshan dengan telaten.


Rasa manjaku ternyata sangat berlebihan pada Pak Satrio. Memang benar kata Pak Satrio, tak jarang aku berpura-pura tertidur pulas saat Zeeshan yang menangis walau tugasku yang merawat Zeeshan. Mengusik dan membangunkan Pak Satrio yang sedang terlelap saat Ziancha yang menangis walau aku dalam keadaan terjaga.


" Maaaaasssss," seruku lirih pada Pak Satrio ketika sudah berbaring di sampingku.


" Hemmmmm," jawab Pak Satrio dengan netra terpejam.


" Maaaaasssss," ulangku lirih dan manja memanggil Pak Satrio.


" Iya .......Apa dik Rin," masih dengan terpejam mengangkat kedua tangannya untuk di jadikan sandaran ( maaf ) kepala Pak Satrio.


" Maaaaasss kaki saya capek," rengekku dengan menopangkan kakiku pada perut rata pak Satrio.


" Capek maaassss. ....Tidak kasihan istri mas ? " rengekku lagi sambil meraih tangan Pak Satrio untuk segera memijit kakiku yang berada di atas perut rata Pak Satrio.


Pak Satrio walaupun di usia awal lima puluhan masih memiliki postur tubuh yang bagus dengan tinggi seratus delapan puluh lima dan wajah tampan yang beliau miliki. Tentu saja hal ini tidak terlepas dengan pola hidup sehat Pak Satrio yang selalu dilakukannya. Rajin berolah raga dan menjaga pola makan, berbeda denganku yang selalu tergiur melihat makanan enak.


" Iya....baiklah......daripada rengekanmu melebihi twins," jawab Pak Satrio kemudian memijit kakiku dengan kedua tangannya dan netra yang redup menahan kantuk.


" Sudah lima menit, sekarang kau memijit punggungku ! perintah Pak Satrio menghentikan pijitannya pada kakiku.


" Tidak belum lima menit, masih tiga menit,"


" Sudah.... bahkan ini lebih jadi enam menit," ucap Pak Satrio sambil meraih jam Beker di nakas sebelah ranjang kami.


" Aaah mas curang......mas putar sendiri barusan saya lihat," seruku berusaha mengambil jam beker yang berada dalam genggaman Pak Satrio


" Tidak....aku tidak memutarnya, memang sudah enam menit. "

__ADS_1


" Iya saya lihat mas memutar jarum menitnya," ucapku sambil memutar kembali jarum menit ke arah semula bahkan lebih awal.


" Sayang ! Tidak boleh curang tadi jam sepuluh lebih empat puluh menit kenapa kau putar sepuluh menit lebih awal. "


" Iya berarti mas harus memijit lebih banyak lagi,"


" Aaah tidak ! Sekarang giliranmu yang memijit punggungku,"


" Tidak mau ! Mas Satrio curang memijit saya belum lima menit,"


" Kalau begitu kita pakai alarm saja, harus sportif." usul Pak Satrio sambil memutar tombol alarm pada Jam Beker.


" Ok. Kita alarm,"


" Berarti mulai dari awal. Mas Satrio yang memijit kaki saya dulu ! "


" Kau memperolokku curang, kau sendiri yang curang. Aku tidak mau, sekarang giliranmu !" sambil bersendekap tangan Pak Satrio tetap kekeh tidak mau memijit kakiku.


" Aaahhh aduh sakit.....seperti nyeri sayang ! " teriak lirih Pak Satrio padaku.


" Yang mana....."


" Lengan."


" Mas terlalu banyak bekerja, jadinya capek semua," nasehatku pada Pak Satrio dengan memberikan pijatan - pijatan lembut.


" Iya.....sayang ! Demi keluarga kita..........."


Hening.


Aku masih memijit lengan Pak Satrio. Sesaat kemudian dengkuran halus terdengar dari bibir Pak Satrio.


" Mas......Mas Satrio !" panggilku pada Pak Satrio yang sudah pulas dengan tidurnya.


Sekali lagi aku tertipu dengan ulah Pak Satrio.


Begitulah hari - hari yang aku lalui dengan Pak Satrio walau waktu yang kami miliki sedikit setiap harinya, tapi kami meluapkannya dengan kasih sayang.

__ADS_1


Mohon like komentar dan votenya.


Ditunggu Bab berikutnya kakak.....


__ADS_2