Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
bab 27


__ADS_3

Mohon pengertian dan bijak dalam membaca........


Author takut saja kehabisan kata - kata untuk dirangkai karena Tokoh Arina sudah dalam fase menikah.................


Selamat membaca........


Tolong beri Likenya .............


Mobil hitam milik Pak Satrio memasuki perumahan kawasan elite di kota yang terkenal panas ini. Aku menatap kagum bangunan rumahnya yang mirip di sinetron - sinetron yang tayang di televisi swasta di negeri ini. Bangunan besar berlantai dua dengan gaya minimalis yang di padu dengan ornamen klasik menambah kesan mewah rumah ini. Rumah bercat putih ini tampak sepi atau mungkin karena saat kami sampai sudah menunjukan pukul sembilan malam. Perjalanan dari kotaku ke kota Pak Satrio yang biasa kami tempuh dengan lima jam, harus kami tempuh dengan delapan jam perjalanan. Sepanjang jalan mobil seperti merayap karena macet. Mungkin karena besuk hari Senin, dimana hari mulai bekerja setelah akhir pekan. Aku diam berdiri di depan pintu tidak berani melangkah masuk ketika turun dari mobil. Ada perasaan takut menjalar di hatiku, aku tidak menyangka pak Satrio memiliki rumah semewah ini.


" Ayo masuk..........kok diam disitu."


" Iya mas........."


Perasaanku galau bercampur jantung yang berdegup kencang tiba - tiba hadir tanpa diminta. Aku mengikuti Pak Satrio masuk kerumahnya. Kembali terkejut ruangan dalam rumah ini sangat luas tanpa ada sekat sekat pemisah antara ruangan satu dengan yang lain sehingga menambah kesan luas dan mewah. Ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan dan dapur yang di konsep seperti mini bar membuat aku terus membelalakkan mataku tanpa berkedip. Di ruang keluarga ini ada yang menarik perhatianku ada piano putih dan diatas piano ada biola tampak baru saja di mainkan oleh si empunya. Pak Satrio seperti mengetahui rasa penasaranku karena mataku memang tidak bisa lepas dari piano dan biola tersebut. Piano dan biola tersebut mengingatkan aku kembali pada Henry, dua alat musik itulah yang sangat Henry kuasai. Ketika kami di Villa Henry selalu saja menyempatkan memainkan piano atau biola. Aku tidak tahu apa yang Henry mainkan, tapi musiknya sangat bagus dan menyayat. Aku selalu duduk mendengarkan Henry memainkan biola atau piano sambil sesekali memandangiku dengan tersenyum.


" Itu pasti Adryan yang memainkannya, dia lebih menyukai musik klasik berbeda dengan Adry yang mengikuti musik zaman sekarang"


" Kalau studio Adry ada diatas di lantai tiga"

__ADS_1


Penjelasan pak Satrio membuyarkan lamunanku tentang Henry. Aku hanya mengangguk - angguk dan kikuk dengan pikiranku sendiri.


Pak Satrio membuka satu kamar di lantai satu ini. Ada dua kamar disini yang saling bersebelahan dan satu lagi saling berhadapan. Aku mengikutinya masuk dikamar yang menurutku cukup mewah. Ranjang yang berukuran king size dengan tirai putih dan sprei bed cover dengan warna senada akan menambah betah untuk merebahkan tubuh di ranjang ini. Aku yang seperti orang desa hanya mampu terkagum - kagum saja melihatnya.


" Tidak ada TV di kamar ini. Kami memang punya dua TV yang ada di ruang keluarga dan di kamar tamu."


dan kembali aku hanya mengangguk berupaya mengerti penjelasan beliau.


" Mandi dan tidurlah ! Kamu pasti capek ! "


" I......iya......Pak "


" Maksud saya mas."


Pak Satrio tersenyum kemudian berdiri dan mencium puncak kepalaku. Seperti salah tingkah aku dengan apa yang beliau lakukan. Pak Satrio keluar dari kamar ini menutup pintu dengan perlahan. Jantungku yang berdebar aku pegang dengan tangan kiri ku berusaha menenangkan diriku sendiri dengan merebahkan badanku. Aaaahhhhh ranjang ini memang sangat empuk.


Setelah mandi dan berpakaian kembali aku merebahkan diriku di ranjang ini. Seperti anak kecil aku menguling - gulingkan tubuhku dengan ceria tanpa beban. Tidak aku sadari entah berapa lama Pak Satrio sudah ada di dalam kamar dan memandangiku. ku hentikan dan mengambil posisi duduk karena aku sangat malu dengan tingkahku yang seperti anak kecil. Piyama putih bergaris hitam kecil yang beliau kenakan senada dengan yang aku pakai malam ini.


Kembali aku gemetaran mengingat malam ini adalah malam pertama bagi kami. Pak Satrio duduk di sampingku, membuat aku semakin gugup. Jika aku perhatikan wajahnya sangat bersih dan beliau juga tak tampak terlalu tua. Bukankah bagi laki - laki usia empat puluh delapan adalah usia yang matang dalam segala hal ? Karier dan kehidupan percintaannya ?

__ADS_1


Pak Satrio memandangiku dengan tatapan yang sulit aku artikan. Aku menggeser dudukku yang memang agak terlalu dekat dengan beliau. Aku sangat gugup......jika ditanya bagaimana perasaanku sulit aku untai menjadi suatu kalimat indah, tapi yang pasti aku sangat gugup dan perasaanku campur aduk antara takut dan bingung karena keadaanku yang tidak suci lagi. Selama ini aku memang tidak pernah sekalipun membicarakan masalah ini dengan beliau. Pak Satrio perlahan meraihku memegang tengkukku dan mendekatkan padanya. Memberikan sentuhan - sentuhan lembut. Aku memejamkan mataku, berusaha menahan apa yang aku rasakan. Kenapa wajah Henry yang ada saat aku pejamkan. Ku gigit bibirku sendiri setelah pak Satrio melepasnya. Hanya wajah Henry yang semakin jelas terlihat di dalam mataku seakan tidak mau lepas. Tanpa aku sadari beliau sudah melepaskan apa yang aku kenakan, tapi dengan gerakan yang tiba - tiba pak Satrio menutupiku kembali dengan bad cover


" Tidur lah kamu pasti capek ! Aku tidur di kamar sebelah."


Suaranya yang parau tertekan di tenggorokan membuat aku terkejut beliau tidak melakukan apa - apa padaku hanya sebuah ciuman. Setelah berkata demikian beliau pergi dari kamar meninggalkan aku dalam keadaan tidak ada kepastian. Aku meringkuk dalam bad cover ini, antara sedih, kecewa dan .......ahhhh aku tidak tahu. Kenapa dia mencampakkan aku begitu saja sebagai perempuan ? Aku menangis, aku menangis dan menangis antara aku senang karena tak tersentuh olehnya dan sedih karena merasa terhina dengan sikap beliau. Aku sudah terbuka tanpa sehelai benangpun tapi ditinggalkan begitu saja.


" Ibu........aku kangen ibu......... Henry aku ingin kembali padamu......."


Menjerit tak bersuara aku dalam rengkuhanku sendiri. Ku rangkul tubuhku sendiri dalam selimut ini, harus berbuat apa aku dengan masa depanku ? Apalagi setelah mendengar dengan jelas ucapan Pak Satrio sebelum berlalu pergi meninggalkan aku dikamar ini sendiri.


" Aku tidak bisa..........Aku tidak pernah melakukannya selain dengan Asri istriku. Maaf..........."


" Ya Allah cobaan apa yang berikan pada hamba. Akankah kesedihan ini berlaku terus dalam hidupku ? Ibu......... Henry.............aku kangen kalian berdua."


Aku terlelap dalam tidurku, dalam tangisan yang aku tidak tahu untuk apa ? Untuk siapa aku menangis ? Tapi dalam hati ini ada rasa sedih yang mendalam yang tidak bisa aku terjemahkan dengan kata - kata. Sebait demi sebait aku untai kalimat indah untuk diriku sendiri. Ku puji diriku sendiri,aku harus kuat apapun yang terjadi.


Suara musik itu..........suara biola itu.............itu irama yang sering Henry mainkan. Apakah aku bermimpi ? Apakah itu Henry yang memainkan musik untukku ? Henry........ ya itu Henry. aku sangat hafal alunan irama itu, walau aku tidak tahu judul lagunya. Bergegas aku berlari menuju asal suara biola, membuka kamar dengan selimut yang masih menjadi pakaianku. Aku menangis........karena bukan Henry yang aku lihat. Seorang pemuda hampir sama tingginya seperti Henry memainkan musik yang sama dengan Henry. Tanpa merasa terganggu dan tanpa menoleh ke arahku dia terus memainkan biola, memainkan irama yang sangat aku rindukan. Aku terus saja masih menangis.


Setelah menyelesaikan permainannya dia memakaikan piyama panjang yang dia kenakan sebagai pelengkap piyama celananya. tidak berkata apa - apa dia menuntunku kembali ke kamar membantuku merebahkan badanku.

__ADS_1


bersambung...................


__ADS_2